[resensi] Chokoréto

Judul : Chokoréto (dalam Beautiful Mistake)
Pengarang : Prisca Primasari
Penerbit : GagasMedia
Skor: 3.5/5

Chokoréto adalah sebuah karya yang dimulai dari halaman 141 hingga 257 dalam sebuah GagasDuet berjudul Beautiful Mistake oleh Prisca Primasari. Seperti dalam Éclair, Prisca lagi-lagi mengambil latar belakang tempat di luar negeri, kali ini di salah satu negeri empat musim dengan musim semi terindah; Jepang. Chokoréto adalah sebuah judul yang terdengar asing, namun kata itu sebenarnya merupakan pelafalan Chocolate di lidah orang Jepang. Chokoréto juga merupakan nama kafe cokelat (milik sang ayah) di mana Akai bekerja dalam kisah tersebut.

Mengaca pada setting tempat yang diangkat Prisca, Chokoréto sudah menyuguhkan latar warna yang apik. Aura musim semi dan sakura yang kental dengan cerita yang sederhana namun manis membuat Chokoréto menjadi salah satu wacana wajib bagi pecinta roman (apalagi pecinta GagasMedia).

Chokoréto bercerita tentang seorang pemuda bernama Akai Fukue, yang akrab disapa Kai, seorang pianis yang mengakhir impiannya mengadakan konser karena alasan kesehatan orang tua (ayahnya mengidap kanker paru-paru). Cerita yang dikisahkan dari sudut pandang Akai ini membuat pembaca merasa tidak biasa (novel roman dengan sudut pandang dari tokoh prianya? Aneh bukan?), namun justru sudut pandang ini jugalah yang memberikan kelebihan khas di karya ini.

Penceritaan dari sudut pandang Akai membuat cerita yang lebih berfokus pada pencapaian cita-cita dan pewujudan impian ini terasa kuat, mengalir, dan justru manis. Tidak bisa dipungkiri, satu hal yang membuat saya terlena dalam karya ini adalah penceritaan dari sisi Akai-nya.

Akai yang membuang mimpinya menjadi pianis lalu bertemu dengan seorang tetangga baru, Yuki Akihara yang membuatnya penasaran. Yuki adalah seorang gadis pendiam yang antisosial namun bermimpi menjadi untuk menjadi penulis dan ingin menerbitkan karyanya. Berkat pertemuannya dengan Yuki, sekali lagi Akai menyentuh dunia musik, dunia yang dulu ia tinggalkan. Karena saat itu Yuki sedang bermain piano demi medalami karakter baru dalam rencana novelnya.

Meski karakter Akai dan Yuki memiliki kecenderungan untuk menjadi ‘sempurna’ seperti karakter-karakter sebelumnya milik Prisca, namun Prisca berhasil mengisahkan sebuah kisah mewujudkan asa dalam balutan diksi beroman manis di sini. Deskripsi yang membangun alur membuat pembaca fokus mengikuti jalannya cerita di karya ini.

Dikisahkan dengan bantuan Akai, Yuki berhasil menjadikan impiannya menerbitkan buku jadi sebuah kenyataan. Dan Yuki juga berhasil mengatasi kekurangannya dalam tampil di depan umum berkat bantuan Akai. Dan begitu juga sebaliknya, Yuki juga menyadarkan Akai untuk tidak berhenti meraih cita-citanya sebagai pianis. Keduanya, dengan caranya masing-masing, memperhatikan satu sama lain dan mendukung mimpi mereka.

Unsur cinta yang tumbuh dalam karya ini tidak ditunjukan dengan cara yang biasa. Prisca menghadirkan momen-momen manis yang menyatakan bahwa keduanya saling peduli dan keduanya diam-diam saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. Akai, yang saat itu bekerja di kafe cokelat, membuat minuman cokelat Snowflakes dan menulis lagu khusus untuk Yuki karena peduli pada gadis itu. Dan Yuki juga mendorong Akai untuk tidak memutus harapan menjadi pianis.

Prisca menciptakan sebuah karya yang mendorong pembaca untuk tidak berhenti berusaha meraih mimpi. Dan mengungkapkan bahwasannya ada banyak orang yang berdiri di belakang kita dan akan mendorong kita untuk menggapai impian itu.

Meski ada beberapa kesalahan pengetikan dan beberapa istilah Jepang yang lupa dicantumkan catatan kaki oleh Prisca dalam Chokoréto. Overall, Chokoréto adalah sebuah karya luar biasa yang wajib dibaca. Dan meskipun konflik yang diciptakan tidak rumit dan bahwa cerita ini terkesan datar, serta jumlah halaman yang sedikit (sumpah, saya tidak mengira sudah mencapai lembar terakhir), Chokoréto adalah karya singkat yang sarat hikmah dengan penulisan apik.

Serta meski ada satu kekurangan lain yang terasa fatal bagi saya, yaitu ketidakhadiran orang tua Yuki (yang mungkin dikarenakan keterbatasan jumlah halaman) yang membuat cerita ini sedikit terasa datar padahal orangtua Yuki memegang peran penting (di mata saya), Prisca behasil menyembunyikannya dengan baik di balik untaian kalimatnya dalam Chokoréto.

Dihiasi musik klasik, piano, novel, sakura, Jepang, cokelat, mimpi, dan tentu saja Akai serta Yuki menjadikan Chokoréto sebagai bacaan yang mengesankan dan mengasyikan.

(sedang belajar menulis sebuah resensi, maaf atas segala salah)

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s