Gramedia Pustaka Utama · Resensi

99 Cahaya di Langit Eropa – Hanum Salsabiela Rais

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa; Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa
Pengarang:  Hanum Salsabiela Rais & Rangga Almahendra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Nilai: 3.5/5

Aku mengucek-ucek mata. Lukisan Bunda Maria dan Bayi Yesus itu terlihat biasa saja. Jika sedikit lagi saja hidungku menyentuh permukaan lukisan, alarm di Museum Louvre akan berdering-dering. Aku menyerah. Aku tidak bisa menemukan apa yang aneh pada lukisan itu.

“Percaya atau tidak, pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah, Hanum,” ungkap Marion akhirnya.

Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendar berhasil menciptakan perasaan ingin tahu yang besar dalam diri pembaca dari sinopsis di kover belakangan novel nofiksi ini. Sepenggal paragraf yang membuat pembaca akan berbisik tidak percaya. Bagaimana tidak, Hanum dan Rangga dalam karya ini sudah menyuguhkan suatu pengetahuan tentang lukisan Bunda Maria berhiaskan kalimat tauhid.

Dalam paragraf selanjutnya, pasangan suami-istri ini menekankan bahwa buku yang Anda pegang adalah sebuah buku pencarian, perncarian jejak Islam di benua Eropa. Dan memang begitulah adanya. 99 Cahaya di Langit Eropa adalah sebuah novel perjalanan yang dikemas dengan cara yang tidak biasa, unik, dan berfokus pada perjalanan spiritual.

Dibuka dengan sebuah prolog yang menyimpulkan semua data perjalanan sang pengarang sebelum dilanjutkan dengan sepenggal kisah masa lalu tentang tempat yang didiami pengarang, Wina. Perjalanan pencarian dalam novel ini bermula dari Wina, ibukota Austria.

Meskipun buku ini merupakan nonfiksi dan novel travelling, Hanum dan Rangga menyajikannya dalam balutan kalimat sastra. Untaian perjalanan mereka dituliskan selayaknya sebuah novel, penyajian yang unik dari sebuah buku travelling. Pengarang yang juga melakoni sebagai tokoh utama dalam karya ini menceritakan perjalanannya dalam alur selayaknya sebuah novel, meski jelas saja tidak ada konflik yang dalam seperti novel-novel pada umumnya.

Perjalanan Hanum menyusuri jejak Islam di tanah Eropa bermula dari pertemua dengan Fatma, seoarang muslim Turki, di kelas les bahasa Jerman, di Wina. Perkenalan dengan Fatmalah yang melatari kisah dalam buku ini sebagai sebuah perjalan spiritual Hanum dan Rangga sebagai muslim, perjalannya yang memikat dan membuat pengarang semakin mencintai Islam.

Wina – Paris – Cordoba – Granada – Istanbul

Dalam buku ini, pengarang memberikan informasi tentang keagungan Islam pada masa silam serta masa kini. Hanum bercerita tentang Wina, tentang masa lalu Islam di Austria, tempatnya menetap. Juga tentang betapa Fatma, saudara seimannya di sana sudah membuka hatinya tentang menjadi agen muslim yang baik di negeri minoritas.

Selanjutnya perjalanan mereka berlanjut ke Paris, di mana sebuah kenyataan mengejutkan terungkap. Bahwasanya banyak inkripsi kalimat-kalimat Allah menghiasi artefak sejarah di Musim Louvre Paris. Cordoba dengan Mezquita dan Granada dengan Al-Hambra adalah destinasi selanjutnya. Melewati padang-padang Andalusia dan rumah-rumah yang memamerkan daging babi, pengarang menelaah peninggalan kejayaan Islam di masa lampau.

Dan perjalanan tersebut ditutup dengan kisah di Istanbul, Turki. Tentang sejarah serta kisah yang terkandung dalam bangunan-bangunan Hagia Sophia, Blue Mosque, dan Topkapi Palace. Sebelum akhirnya, Hanum menutup kisah perjalanannya dengan perjalanan ke tanah suci Mekah, tempat di mana ia menemukan destinasi perjalanannya, tempat ia menemukan jawabannya akan perjalan yang ia lakukan di tanah Eropa. Tempat Hanum menemukan kebenaran abadi.

Buku ini bukan menekankan pada perjalanan sang pengarang, tidak seperti buku perjalan lain yang mengungkapkan kisah suka-duka travelling atau semacam laporan perjalanan. Tidak. Hanum dan Rangga mengemasnya dalam balutan sastra novel, membuat kisah perjalan mereka seperti sebuah kisah novel fiksi. Dan semua kisah perjalanan yang mereka tuturkan lebih berfokus pada pencarian spiritual yang mereka lakukan.

Tentang perspektif atheis dan sekuler yang hidup di tanah Eropa sejak lembaran hitam yang ditawarkan agama, sejak kepedihan dan luka masa lalu atas perang antaragama. Pengarang menceritakan bagaimana luka yang ditimbulkan itu tidak bisa sembuh dan melahirkan luka-luka baru. Hikmah besar yang terkandung dalam novel ini adalah: Jadilah Agen Muslim yang Baik.

Bahwa agama mana pun mengajarkan kedamaian, sebagaimana kondisi Eropa—khususnya Cordoba—beberapa abad silam. Dan bahwa perbedaanlah yang membuat hidup itu indah. Hanum dan Rangga juga menyiratkan dalam buku ini tentang pentingnya memaafkan, pentingnya belajar dari sejarah masa lalu, dan pentingnya tidak fanatik atas sesuatu—bahkan agama.

Ada begitu banyak pelajaran yang dapat dipetik dari karya ini. Sungguh, ini karya yang luar biasa! Membuka mata kita—sebagai muslim—untuk tidak menyerah dan berusaha maju. Bukankah Islam pernah mengalami masa gemilang? Lalu, kenapa Islam tidak bisa menjadi gemilang lagi?

Kekurangan buku ini bagi saya pribadi adalah pengarang terlalu menceritakan dengan detail hal yang sebenarnya tidak perlu. Selain itu gaya bahasa yang dipakai sederhana dan sedikit monoton, sehingga kesan itu semakin terlihat jelas. Itulah alasan kenapa saya baru menamatkan buku ini setelah sekian lama terpajang di rak buku.

Namun, bagian menjelang akhir buku ini sungguh membuat saya merinding. Karya yang luar biasa!

Yogyakarta, 13 April 2012
[masih terus belajar menulis resensi dengan baik]

Advertisements

One thought on “99 Cahaya di Langit Eropa – Hanum Salsabiela Rais

  1. Wah, setelah baca resensinya rasanya novelnya lebih bagus dari filmnya, padaal menurutku filmnya udah bagus banget, keren! Awalnya aku gak minat pas liat buku ini pertama kali di pameran buku, kesannya ‘paling ya gitu-gitu aja ceritanya’ tapi pas nonton filnya, wuih, keren banget! mashaallah, gak nyangka bisa disajikan sebagus itu, nah mulai dari situ deh penasaran sama novelnya, tapi gak pernah keturutan baca sampai sekarang

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s