kastil es dan air mancur yang berdansa – Prisca Primasari

Judul: Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa
Pengarang: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Nilai: 3/5

‘Vinter
Seperti udara di musim dingin, kau begitu gelap, muram, dan sedih.
Namun, pada saat bersamaan, penuh cintaberwarna putih.
Bagaikan salju di Honfleur yang berdansa diembus angin….

Florence
Layaknya cuaca pada musim semi, kau begitu terang, cerah, dan bahagia.
Namun, pada waktu bersamaan, penuh air mata tak terhingga.
Bagaikan bebungaan di Paris yang terlambat bersemi….’

Sebenarnya sudah beberapa pekan berlalu sejak saya menamatkan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa, namun baru hari ini berhasil juga merampungkan resensi yang sudah sejak dulu ingin ditulis.

Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa adalah karya ketiga Prisca Primasari yang saya baca. Kisah yang dibawakan kali ini adalah tentang Vinter dan Florence, dua orang yang berjumpa dalam gerbong kereta menuju Honfleur. Sebuah pertemuan ganjil yang menghantarkan keduanya pada perjalanan bersama yang berujung pada perasaan bernama cinta.

Kisah dibuka dengan Florence yang tergesa-gesa kabur dari rumah, kabur dari kencan buta yang dirancang orang tua untuknya. Dengan tekad bulat, Florence pun menaiki kereka menujur Honfleur. Di sisi lain, Vinter, sang tokoh utama pria dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa juga dalam perjalanan kembali ke Honfleur, setelah janji pertemuannya ditunda dan kabar grup kesenian yang dia panggilkan untuk sahabatnya, Zima, batal hadir.

Dalam satu kompartemen kereta menuju Honfleur itulah keduanya pertama kali bercakap. Percakapan yang membawa Florence tampil di hadapan Zima menggantikan grup yang sebelumnya dipanggil Vinter, lantas berlanjut menjadi kencan mengeliling Honfleur dan makan siang bersama Vinter, diselingi kabur sejauh-jauhnya dari Celine—sang sahabat yang ingin mendesaknya pulang, hingga menghantarkan Florence ke kastil es Vinter yang menawan, dan terakhir berujung pada perpisahan yang merupakan suatu kepastian.

Seperti biasa, Prisca menuturkan Kastil Es dengan jalinan yang indah nan menawan. Kalimat-kalimat yang apik, sederhana, namun di saat bersamaan bergitu menjerat menghiasi seluruh alinea yang merangkai kisah Vinter dan Florence. Gaya penulisan serta diksi khas Prisca benar-benar tergambar dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa, suatu hal yang tidak perlu saya ragukan lagi dari seorang Prisca Primasari. Prisca memang sanggup menyihir pembacanya untuk terus dan terus membaca hingga mencapai kata fin.

Akan tetapi, ide cerita yang klise dan jalan cerita yang teramat mudah ditebak saya temui dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Segala kejadian yang sudah jelas hanya berpusat pada Vinter dan Florence—serta satu-dua tokoh lain—membuat kisah ini terlalu panjang untuk ukuran novel dengan 291 halaman. Atau mungkin karena fokus cerita hanya pada kisah cinta Vinter dan Florence, Prisca seperti kehilangan sentuhan mendebarkan yang saya rasakan lewat Éclair dan Beautiful Mistake?

Akan tetapi itu sedikit-banyak termaafkan oleh jalinan keindahan yang ditawarkan Prisca lewat kata-kata dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa.

Bagi saya pribadi, kelemahan utama dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa adalah ide ceritanya. Terlampau jelas tergambarkan bahwa pria yang hendak dipertemukan orang tua Florence adalah Vinter! Terlampau jelas bahwa gadis yang ingin dihadiahi Vinter sebuah tas adalah Florence! Meskipun memang begitulah seharusnya, namun saya merindukan sensasi yang saya rasakan ketika membaca Éclair—sensasi yang membuat saya berdebar-debar dan penasaran.

Akan tetapi, sekali lagi, segalanya termaafkan dengan irama bercerita Prisca. Indah. Menawan. Memikat. Prisca lagi-lagi berhasil menghadirkan Honfleur dan Paris di depan saya! Prisca juga berhasil mewujudkan Vinter dan Florence di hadapan saya!

Satu hal lagi yang saya sayangkan dari kisah Vinter dan Florence, yaitu epilogyang diberikan Prisca. Kurang mengigit, kurang menyentak, kurang pas menutup kisah mereka. Memang Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa diceritakan dengan kecepatan variatif—dengan kecepatan yang pas untuk setiap momen—namun epilog yang dihadirkan Prisca terasa kurang. Saya sedikit mengharapkan Prisca berbagi lebih dari kisah mereka bedua, tentang buah hati atau sesuatu yang lain, mungkin?

Overall, Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa adalah bacaan wajib bagi pecinta roman—apalagi roman klasik. Prisca sangat lihai mengungkapkan pengetahuannya seputar kesenian klasik dalam Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa. Bahkan, di beberapa kesempatan, saya merasa Vinter dan Florence tinggal bukan di abad ke-21!

Sejak pertama, judul yang diberikan Prisca sudah memberikan nilai plus, belum lagi kover yang teramat cocok dengan judulnya! Aduhai, Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa benar-benar dibungkus seindah jalinan kata yang dirangkai Prisca. Meskipun begitu, bagi saya pribadi, ukuran tulisan dalam Kastil Es dan Air Mancur yang berdansa terlalu besar sehingga proses membaca jadi berkurang sekian persen kenikmatannya.

Terakhir, saya sangat merekomendasikan Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa bagi pecinta novel romantis klasik, terlebih yang berlatar luar negeri. ^^

Oktober 2012
sembari menantikan langit bersemu keemasan

Advertisements

One thought on “kastil es dan air mancur yang berdansa – Prisca Primasari

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s