Lentera Dipantara · Resensi · Sastra

Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

Judul: Bumi Manusia
Pengarang:
Pramoedya Ananta Toer
Penerbit:
Lentera Dipantara

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

Adalah pembuka sinopsis pada kover belakang Bumi Manusia. Bumi Manusia merupakan buku pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Sebuah novel roman sejarah yang mengantarkan setiap pembacanya dalam dunia Minke, sang tokoh utama, pribumi keturunan priyayi yang mengagumi ilmu dan pengetahuan Eropa. Kalimat itu jugalah yang selama dalam buku ini, dipegang erat oleh Minke dalam menjalani harinya.

Sepanjang kisah ditulis dari sudut orang pertama, dari sudut Minke, yang semakin lama semakin terkuaklah misteri tentang pemuda pribumi ini. Mulai dari latar belakang keluarganya yang seorang bupati, sekelebat masa kanaknya, perjalanan sekolahnya yang penuh prestasi hingga jenjang H.B.S., dan bagaimana sebenarnya karakter Minke. Meski hingga kisah ditutup, nama asli Minke masihlah menjadi misteri.

Bumi Manusia menuturkan tentang kisah cinta antara Minke dan Annelies Mallema, gadis Indo putri pemilik perusahaan pertanian besar di Wonokromo. Pertemuan mereka dimulai ketika teman Minke, Robert Suurhof menantangnya untuk datang berkunjung ke Istana Wonokromo, sebuah kediaman yang dijauhi sebagian besar masyarakat. Suurhof menantang Minke untuk menaklukan Annelies, sang purti.

Karena ketertarikan Annelies pada pribumi, Minke dengan mudah akrab dengannya. Sejak pertemuan pertama itu, keduanya saling tertarik. Annelies lebih karena tidak ada satu pun pria yang mendekatinya. Dan Minke karena memang gadis itu teramat cantik parasnya.

Dengan cepat, kisah berputar dan berlalu. Semakin lama, hubungan Minke dan Annelies semakin dekat. Banyak rahasia yang selanjutnya terkuat. Pun banyak jalan cerita yang kemudian tak pernah disangka. Tentang sakit Annelies Mallema, tentang kecelakaan di antara glagah, tentang rumah pelesir Babah Ah Tjong dan kematian Herman Mallema—Tuan pemilik perusahaan pertanian besar itu, tentang Robert Mallema—abang Annelies, tentang Mama—Nyai Ontosoroh; wanita pribumi yang sanggup mengurus perusahaan pertanian dan penguasa sebenarnya istana Wonokromo, tentang Robert Suurhof dan maksud di balik tantangannya kala itu, tentang Max Tollenar dan perjuangannya lewat tulisan, tentang keluarga de la Croix dan assosiasi Snouck Hurgronje, tentang kebahagiaan singkat pernikahan Minke dan Annelies, tentang pengadilan Amsterdam yang merenggut segalanya, tentang meskipun perbudakan telah lenyap kekuasaan orang putih tetaplah di atas segalanya, tentang kebahagiaan, perjuangan, kehilangan, luka, sakit hati, dendam, memaafkan, dan masa lalu.

Bumi Manusia menceritakan roman yang teramat indah dalam balutan sejarah. Mengajak pembaca untuk mengenal sejarah menggunakan kacamata yang berbeda. Benar-benar berbeda!

Pramoedya Ananta Toer benar-benar membawa pembaca melewati waktu dan mengembalikan ke masa kolonial. Menarik pembaca terlibat langsung dalam pergulatan batin dan fisik Mingke. Mengikutsertakan pembaca dalam jalinan cerita yang tersusun rapi dalam Bumi Manusia. Sungguh, suatu karya sastra yang luar biasa! Tak heran nama Pramoedya Ananta Toer bergema sebagai kandidat Penerima Nobel Sastra.

Meskipun banyak kata yang kurang familiar dengan kata di masa ini dan diksi yang digunakan juga terbilang susah serta tinggi, Bumi Manusia sama sekali tidak kesulitan dipahami. Pun alur waktu Bumi Manusia kurang jelas—sehingga di beberapa kejadian saya sempat membolak-balik halamannya—keindahan roman sejarah karya Pramoedya ini tidak mungkin dilewatkan bagi siapa pun yang mencintai sastra, sejarah, dan ilmu pengetahuan!

Bumi Manusia mengajarkan tentang begitu banyak hal, terutama tentang terpelajar dan berbuat adil serta tentang perlawanan—perjuangan! Mingke dalam Bumi Manusia mengajarkan pembaca untuk berani belajar dan belajar berani, serta melakukan perlawanan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya. Seperti penutup kisah Bumi Manusia ini:

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Penutup Bumi Manusia ini, bukan sekedar penutup, tapi juga meninggalkan berbagai pelajaran berharga (bagi siapa pun pecinta sejarah maupun sastra dan mereka yang tidak takut untuk ‘menunduk’). Sebuah catatan singkat yang dibubuhi pemilik buku ikut menggelitik saya:

“Kini, penjajah kolonial itu tidak ada…
beralih pada penjajahan lain,
dengan pemerkosaan hak yang terselubung dalam ‘kebebasan’…
kiri tak selamanya kiri….
kanan tak selamanya kanan….”

Teramat banyak pelajaran dan keindahan dan misteri yang saya rasakan dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer ini. Sebuah karya yang tidak boleh dilewatkan oleh seorang pun penerus bangsa.

Yogyakarta, “Rumah”
19 November 2012

Advertisements

6 thoughts on “Bumi Manusia – Pramoedya Ananta Toer

  1. Tetralogi Bumi Manusia memang nggak boleh dilewatkan oleh anak bangsa, terutama yang mengaku suka membaca dan mengaku cinta Indonesia. Saya pribadi lebih suka Anak Semua Bangsa, Pram jadi lebih ambisius di sana, dan kaa-kata banyak yang menohok, panggilan terhadap semua anak bangsa untuk menulis bagi bangsanya sendiri, bukan bagi bangsa orang lain.

    “Karena kalau bukan orang Melayu yang menulis untuk bangsa Melayu, siapa lagi?”

    1. Ah, jangan spoiler, please, kak.
      aku belum baca yang anak semua bangsa, jejak langkah, maupun rumah kaca. baru berhasil menamatkan bumi manusia aja nih ;w;

      –> parah banget

  2. Nama asli Minke itu RM. Tirto Adhi Soerjo. Pahlawan pers Indonesia, org indonesia pertama yang menggugah mata bangsa melalui media cetak, beliau mendirikan Medan Prijaji surat kabar pribumi pertama yang berbahasa melayu. Baca deh keempat bukunya. aku baca buku2 itu waktu sma sekitar tahun 2004.

    quote “Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

    itu quote favoritku sampai hari ini.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s