Paris – Prisca Primasari

06022013319

Judul: Paris
Pengarang: Prisca Primasari
Penerbit: GagasMedia
Nilai: (cerita) 4 dari 5, (kover) 2 dari 5

Well, first impression  saya sama kover dan sinopsis di belakang novel Paris ini biasa saja. Hanya sedikit yang menggelitik saya dalam baris: ‘… Sena menyimpan misteri, seperti mengapa Aline diajaknya bertemu di Bastille yang jelas-jelas adalah bekas penjara, jam 12 malam pula?’. Selain itu, biasa saja.

Saya mengincar novel ini lebih karena sang pengarang, Prisca Primasari adalah salah satu penulis kesayangan saya. Dengan gaya menulis yang menggelitik, lugas, menggugah. Dengan padanan kata yang indah, sepadan, pas. Dengan aura ketegangan yang jarang saya temukan dalam karya-karya roman Indonesia. Dengan setting luar negeri yang membius serta detail. Dan juga dengan cerita yang menyedot segalanya dari pembaca untuk segera menamatkan buku di tangan. Deskripsi di atas mungkin terlalu objektif karena gaya Prisca memang salah satu favorit saya.

Setelah Éclair, bagi saya Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa serta Chokoreto dalam Beautiful Mistake itu terlalu … sederhana dan damai dan begitu lembut. Saya tidak lagi menemukan sensasi menegangkan yang ditawarkan Prisca seperti dalam Éclair. Makanya sampai beberapa saat lalu, Éclair tetap menjadi karya Prisca kesukaan saya. Hingga saya bertemu Paris.

Dibalik kesan pertama yang biasa saja. Dan juga dibalik ketidaksukaan saya dengan kover Paris—karena begitu rentan tertekuk dengan tipe kover seperti itu dan saya paling benci buku saya tertekuk terlebih di bagian kover—saya kembali menemukan jiwa thrill yang saya cintai—serta rindukan—seperti dalam Éclair.

Salah satu ciri khas Prisca dalam setiap karyanya adalah setiap tokoh memiliki kisah masa lalu—yang biasanya diisi kematian, kesedihan, keputusasaan, ketakutan, dan perasaan-perasaan negatif manusiawi lainnya. Meskipun begitu, alur yang tenang dan gaya penceritaan yang lugas serta memikat seringnya sedikit menutupi masa lalu itu dan menimbulkan kesan misterius—yang saya pikir entah ini memang gaya Prisca ataukah sudah direncanakan dari awal, yang mana pun tidak masalah. Well, tapinya untuk kasus Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa dan Chokoreto dalam Beautiful Mistake, kesan misterius yang diberikan tidak begitu menggelitik saya. Berbeda dengan Éclair dan Paris.

Ah sungguh, saya langsung jatuh hati pada karakter Sena! Dan saya langsung tersenyum tertarik begitu membaca bagaimana Prisca membungkus Paris! Pertama membuka Paris saya menemukan gaya menulis yang unik dan unik!

Saya disambut dengan hal yang biasa saja yaitu Sévigne menerima surat dari Aline. Namun yang setelahnya itu baru unik! Paris disuguhkan seperti dalam diary! Meski saya yakin, mungkin, jika surat dari Aline yang diberikan pada Sévigne dimaksudkan begitu,maka yang terhampar di hadapan pembaca mungkin adalah versi diary Aline yang sudah diolah Sévigne. Begitulah imajinasi saya.

Yang jelas, Paris terlalu sayang untuk dilewatkan! Kisah pertemuan Aline dengan Sena yang teramat unik. Kesan pertama Aline terhadap Sena. Personalitas Sena yang seketika membuat saya jatuh cinta—pemuda dengan kacamata membingkai, rambut berterbangan, senyum ala Chesire Cat, kerlingan jail di mata, kehebohan unik, syal melilit leher, baju kebesaran, gaya yang seenaknya, penuh misteri, akan mendapatkan apa yang dia inginkan, keren membius. Ah, saya naksir sama Sena. Sungguh!

Meski tetap saja bagi saya Sena itu bodoh—saya sepakat dengan Aline di sini. Sudah teramat jelas Aline rela berkorban sebegitunya karena cinta, eh malah begitu. Saya gemas sekali membacanya. Apa semua laki-laki memang seperti itu, hm?

Tokoh Aline juga awalnya memberikan kesan yang, jujur, saya tidak begitu suka. Mungkin karena dia terlampau memikirkan hal yang tidak perlu pun tidak penting. Atau juga karena Aline—saya lagi-lagi setuju dengan Sena—teralu mengerdilkan dirinya sendiri. Dan itu membuat saya sendiri sebal. Meski kerelaannya berjuang demi Sena, ketertarikannya pada Sena, dan segala hal tentang dirinya yang berkaitan dengan Sena memberikan kesan berbeda sepanjang berjalannya cerita bagi saya.

Dan tokoh favorit saya setelah Sena adalah Ezra! Bagaimana mungkin saya membenci tokoh seperti Ezra! Ya ampun, ya ampun! Meski diawalnya saya salah mengira dia sebagai perempuan—karena saya salah membaca namanya sebagai Erza, kesalahan konyol—namun di bagian DVD itu, saya ga bisa berhenti buat terenyuh. Gila! Saya juga mau sama orang semacam Ezra!

Ah, cukup soal tokoh. Lansung saja soal cerita. Hm, sejak awal memang sudah terlihat bahwa Aline akan bersama Sena—tipikal novel roman. Namun yang tidak bisa ditebak jelas adalah—seperti kata saya kalimat menggelitik di kover belakang—soal pertemuan jam 12 malam. Sempat saya berpikir bahwa Sena adalah pecinta occult atau sebangsanya. Atau malah saat itu Sena sedang mengetes Aline soal apakah gadi itu tulus dan benar-benar ingin mengembalikan porselennya.

Pertemuan dan perjalanan Aline bersama Sena itu sungguh memikat saya. Bagaimana interaksi mereka itu membius saya untuk terus dan terus membaca Paris—seperti yang berhasil Prisca lakukan di karya-karyanya yang sebelumnya juga. Dan sampai di titik bahwa terlalu banyak hal yang tidak jelas soal Sena, saya gregetan. Peristiwa di trotoar pada tanggal 8 Juli itu membuat saya mesem-mesem sendiri—terlalu banyak mengkonsumsi hal-hal berbau roman juga meningkatkan kepekaan saya lol.

Fakta yang terkuak tentang Sena seiring berjalannya cerita itu juga keren! Saya tidak bisa melepaskan Paris hingga mencapai bagian terakhir. Saya juga ikut merasakan kesedihan dan kegamangan Aline ketika ia berhasil membawa Sena menemui kakaknya, Marabel. Bagian akhir, percakapan mereka lewat telepon itu, saya mendadak menitikan air mata. Merasa begitu bahagia dan lega dan bersyukur, perjuangan Aline dan Sena memang harus dihadiahi sebuah kebahagiaan.

Bagian Aline menonton DVD tentang Ezra juga saya begitu terenyuh. Ketika Sena berkata akan menjaga Aline itu rasanya saya bersorak bahagia. Meski kemudian, di kisah yang selanjutnya, bagi saya sendiri Sena ‘kurang’ berhasil menjaga Aline. Yah, memang karena kondisinya tidak memungkinkan sih. Tapi tetap saja saya sedikit banyak sebal sama Sena.

Namun, di bagian permintaan ketiga Aline di bandara itu saya benar-benar merasa ingin menonjok Sena. Saya merasa seperti Marabel saja. Sebal. Gusar. Kesal. Tidak habis pikir kenapa Sena sebegitu tidak yakinnya. Ckck. Tapi yah memang itu bukan urusan mudah sih, hanya saja tetap saja saya sebagai perempuan dan mengerti perasaan Aline merasa sebal.

Ending-nya manis! Saya senang Sena kembali menjadi Sena yang saya kenal di bagian awal Paris. Dan saya juga senang dengan bagaimana Prisca menutup kisah Aline dan Sena dalam Paris ini. Ya ampuuuun, saya ga bisa berhenti squealing nih sama mereka berdua.:///>

Keren! Keren dan keren! Ah, sumpah, saya jatuh cinta lagi dan lagi dan lagi dengan Prisca karena Paris ini!

Dan tidak terasa sudah memasuki kata ke seribu … sedangkan resensi ini justru semakin tidak terlihat seperti resensi. *krik*  Ya sudahlah mau gimana lagi, yang pasti saya sangat merekomendasikan Paris untuk siapa pun yang mencintai kisah romantis yang fluffy namun menyimpan ketegangan tersendiri.

Selamat hunting! Selamat membaca! 😀

Advertisements

2 thoughts on “Paris – Prisca Primasari

  1. Empat bintang, ya? Aku ngasih cuma dua bintang. Alur ceritanya sih rapi dan mulus, khas Prisca. Tapi, ada banyak hal yang terlalu mengada-ada buatku dan penyelesaian konflik Sena dengan siapa-sih-itu-yang-mengurung-dia-di-rumahnya-dengan-mesin-ketik menurutku terlalu mudah. Aku lebih suka Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa meski di novel itu pun ada hal yang mengada-ada.

    • Prisca Primasari itu penulis favorit saya, jadi, yah, penilaian pasti penuh bias, hihi.

      Kastil Es dan Air Mancur yang Berdansa itu full romance sih, jadi yah, saya lebih suka Paris. XD

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s