Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk – Tere Liye

Pengarang: Tere-Liye
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Skor : 5 dari 5

Sebenarnya ini sedikit bias, biar bagaimanapun karya Tere-Liye yang satu ini adalah favorit saya. Sejak pertama kali membaca Negeri Para Bedebah, saya langsung jatuh cinta dengan tulisan Tere di sini. Negeri Para Bedebah berbeda dengan semua karya Tere yang selama ini saya baca. Novel ini jelas berbeda dengan Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Moga Bunda Disayang Allah, apalagi Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Novel Tere-Liye ini lebih liar! Lebih imajinatif, lebih menegangkan, lebih membius, lebih seru, lebih indah, lebih menawan, lebih-lebih-lebih dari semua karya Tere yang lain.

Sederhananya, Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk itu novel fiksi luar biasa yang begitu mencerminkan kondisi Negeri ini. Dua karya ini adalah karya yang wajib dibaca siapa saja—tidak peduli latar belakang atau jenis bacaan kesukaan—yang masih peduli dengan bangsa ini.

Tere-Liye sanggup dengan sangat luar biasa cantik mengemas fakta sejarah (tentang ekonomi, politik, sosial, dan segala aspek lainnya) dalam kehidupan masyarakat Indonesia dalam Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Banyak kasus-kasus yang diungkapkan dalam novel ini merujuk pada kasus sebenarnya di dunia nyata. Meski, Tere telah menegaskan bahwa seluruh kisah ini fiksi.

Well, bukan itu poinnya. Poinnya adalah dua karya ini bisa menggambarkan dengan sangat baik kondisi bangsa dan negeri ini. Mulai dari kalangan bawah hingga tingkatan elite. Tere berhasil dengan sangat sukses mengemas tokoh-tokoh dalam dua karya ini. Dan di tengah segala kekisruhan itu, Thomas, sang tokoh utama, hadir dengan begitu berkarakter.

Thomas sendiri sedikit terlalu perfect. Kenyataan bahwa dia adalah anak muda yang sukses, kaya, pintar, bahkan tampan mengesankan tokoh yang nyaris sempurna, mirip dengan semua karakter Tere dalam karyanya yang lain—karakter-karakter Gary-Stu. Akan tetapi, Thomas jelas lebih manusiawi dan punya masa lalu yang menyedihkan memberikan kesan berbeda dalam tokoh Tere di karya ini. (Dan entah kenapa saya tidak bisa tidak naksir Thomas lol)

Selain Thomas, ada banyak tokoh-tokoh luar biasa lain. Saya harus mengakui bahwa semua tokoh dalam kedua novel ini memilki daya tariknya masing-masing. Mulai dari Meggie, sekretaris kepercayaan Thomas, Kadek, Opa, bahkan hingga Julia atau Maryam, gadis wartawan yang tidak sengaja terjebak bersama Thomas. Tokoh-tokohnya yang lain juga jelas memilki karakter yang khas. Bahkan karakter yang tidak begitu banyak tampil dalam cerita seperti Theo misalnya.

Soal cerita, Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk tidak bisa dinafikan. Dua novel ini bisa dibaca terpisah, walaupun tetap lebih seru jika dibaca sebagai rangkaian. Masing-masing novel menceritakan petualangan Thomas yang berbeda—dan keduanya dalam jangka waktu yang teramat sempit!

Satu hal yang sedikit membuat saya kecewa adalah alurnya yang sedikit mirip. Di Negeri di Ujung Tanduk ,Tere seperti mengulang apa yang terjadi pada Negeri Para Bedebah, khususnya bagian seorang gadis wartawan terlibat dan seorang tokoh—lawan Thomas di Klub Bertarung—yang datang membantu bak pahlawan. Alur cerita kedua novel ini, bagi saya pribadi, sedikit terlampau mirip. Ketika membaca Negeri di Ujung Tanduk saya mendapatkan déjà vu dan sudah bisa menebak bahwa nanti apa yang akan terjadi pada Thomas. Dan bagian inilah yang saya sayangkan, karena saya seakan tidak mendapatkan kejutan lagi.

Terlepas dari itu semua, cara penceritaan dan diksi Tere-Liye memang telah mendewa! Novel ini tetap menyuguhkan kehebatan dan kemampuan Tere-Liye yang sudah tak perlu lagi dipertanyakan. Ketegangan kedua novel ini sama-sama terasa—hanya saja saya lebih merasakan ketegangan di Negeri Para Bedebah. Tere-Liye, pada kedua novel ini benar-benar seperti mencurahkan segala pemikirannya tentang negeri ini. Kritikan, kepedulian, pandangan, perasaan, segalanya. Membuat kedua karya ini lebih hidup dan terasa begitu dekat.

Karakter Thomas serta orang-orang di sekitarnya digambarkan sebagai karakter yang dibutuhkan—yang diharapkan—untuk menyelamatkan negeri ini. Para Petarung sejati. Yang tidak akan gentar, mundur, apalagi bersembunyi meski musuh menghadang dengan begitu banyak kelicikan. Yang begitu berani dan memilki kehormatan sebagai petarung. Karakter yang menunjukan bahwa sebuah perbedaan itu ditentukan oleh ‘kepedulian’.

Ada begitu banyak hal yangbisa didapat dari Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk. Telalu banyak sampai saya sendiri bingung apa yang harus saya sampaikan terlebih dahulu. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari petualangan Thomas. Terlampau banyak sampai saya sendiri terlalu terpesona pada karakter yang satu ini. Ada sangat banyak. Sangat. Saking banyaknya saya sampai bingung harus memulai dari mana. (Kesimpulannya: saya telah terlalu terbias)

Bahkan masing-masing orang memilki hal berbeda yang bisa ditarik dari kisah ini. Semua orang berhak memilki bagian favorit. Dan semua orang berhak atas pemikirannya masing-masing. Jadi, akan jauh lebih baik jika membaca dua karya ini sendiri daripada membaca tulisan ini.

Jadi, selamat membaca! Selamat bertualang dalam dunia Tere-Liye! 🙂

PS. Dan meskipun tulisan ini sangat tidak layak dikategorikan sebagai resensi, semoga rambling-an saya lumayan membantu bagi siapa pun yang penasaran dengan dua karya ini.

_____________________
dalam kelas, 15 Mei, 14.23

Advertisements

16 thoughts on “Negeri Para Bedebah dan Negeri di Ujung Tanduk – Tere Liye

    • iyup lebih seru
      mungkin karena Negeri di Ujung Tanduk itu sekuelnya kali ya
      mayoritas buku yang bersambung kan buku pertamanya yang terasa keren banget
      yang berikutnya masih keren, tapi ga sebanget yang pertama
      atau itu cuma aku ya? :/

  1. setuju sm km dlm beberapa poin : alurnya sangat sangat mirip, aku sendiri sampe bosen di akhirnya soalnya pasti gitu gitu aja nanti. walau sy tetep ga bisa berenti baca ini sampe akhir haha

    but i love maggie :3 gila keren banget etos kerja nya!! “kau bos nya ,thom” 😀

  2. Tertarik membaca buku ini, apalagi tema yang diangkat seputar ekosospol negara ini. Setelah aku membaca 86 – Okky Madasari jadi ingin membaca yang mengangkat tema “agak” berat. Kalau alur ceritanya sama diantara dua buku itu sepertinya lebih baik coba membaca Negeri Para Bedebah dulu ya kalau suka baru baca lanjutannya. Great review 🙂

    • Negeri di Ujung Tanduk itu butuh dibaca jika penasaran siapa dalang di balik segalanya. Kalo ga penasaran, ga dibaca juga gapapa. 😀

  3. Aku rasa ini masih bisa disebut resensi, walau banjir pujian, hahah. Tapi dari membatja resensi ini, aku ngerasa Thomas ini terasa holiwut sekali ya :)))

    Buku Negeri Para Bedebah ada dalam daftar wishlistku. Satu-satunya buku Tere yang masih aku pertahankan dan tidak kuhapus dalam daftar harapan karena da hal: membahas negeri ini dan sempat masuk nominasi penghargaan buku di Indonesia.

  4. Sebenarnya saat dulu saya membaca negeri para bedebah saya merasa kecewa karena tidak sesuai dengan harapan saya. Entahlah, dulu saat saya membaca negeri di ujung tanduk saya merasa bener-benar jatuh cinta dengan buku itu, jadi saat tahu jika akan ada novel kedua saya sangan bahagia. tapi ya…

    saat saya membaca review ini saya seolah mengulang kembali kisah perjalanan thomas. saya menyukai cara me-review tidak spoiler namun berhasil menceritakan dengan baik bagaimana buku ini sekaligus mengugah hati orang untuk membacanya.

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s