Antologi · DIVA Press · Horror · Resensi

Ground Zero

20140331_141427

Judul: Ground Zero
Penulis: Chandra Widayanthi, dkk
Penerbit: DIVA Press
Sinopsis: Kuletakkan pistol di pinggir wastafel, lalu kugulung lengan kaus yang panjang. Belum sempat kubasuh wajah, kurasakan punggung dingin. Udara berdesir dekat telinga. Aku mengutuki cermin yang dipasang di kamar mandi. Memantulkan seraut wajah kacau yang lelah. Kupandangi kumis yang mulai tumbuh liar. Seharusnya aku ke Kuta untuk berlibur, bukan untuk hal-hal menjemukan. Tiba-tiba seraut wajah wanita terpantul di cermin. Aku terkejut. Dengan spontan meraih kembali pistol, dan mengacungkan dengan liar ke sekelilingku. Kuatur napas. Aku tidak percaya bahwa aku merasa takut. Siapa wanita itu? Apa yang ia mau? 

Kudengar bunyi berdecit. Kupandangi sekeliling. Kutemukan ada sesuatu tertulis di cermin kamar mandi, seolah-olah ada yang menuliskannya di atas selapis embun yang menggenang di sana. 

M A R I A

————————————

Buku ini merupakan kumpulan cerpen dari event menulis #HororKotaNusantara yang diselenggarakan DIVA Press. Terlihat jelas bahwa genre buku ini adalah horor. Genre yang baru kali pertama ini saya baca. Sekaligus genre yang paling saya hindari. (Seharusnya saya minta judul lain saja, sama Mba Minsi. Bodohnya saya adalah baru benar-benar melihat buku ini begitu sudah meninggalkan kantor Diva. T_T)

Syukurlah, dengan penuh pemaksaan diri saya berhasil menamatkan buku ini. Ground Zero terdiri dari 22 judul cerpen horor. Menurut redaksi DIVA, cerpen terbaik adalah yang dijadikan judul buku ini, Ground Zero. Menurut saya? Duh, ini kali pertama saya membaca genre horor, jadi entahlah apakah penilaian saya tepat atau tidak, tetapi judul terbaik bagi saya adalah Jembatan “Merah” Tak Berdarah.

Baiklah, berikut ini ulasan singkat saya untuk setiap judul:

Hantu di Ambarukmo Plaza

Cerita dibuka dengan kalimat,

Banyak hantu di Ambarukmo Plaza.

Selanjutnya, Vita yang hendak menonton film bersama dua orang temannya tidak membatalkan rencananya meski telah mengetahu fakta itu. Setelah menunggu lama pun Vita mendapatkan tiket tersebut, tetapi untuk midnight. Nah, di saat menunggu kedua temannya datang inilah kisah horor Vita dimulai.

Tata bahasa yang digunakan serta pendetailan dalam deskripsi yang dituliskan dalam cerpen ini cukup membuat saya enggan membayangkan (oh, ya, siapa juga yang senang membayangkan mahluk-mahluk horor khas Indonesia dalam kepalanya? :|). Yang paling bagus mungkin twist yang dihadirkan dalam cerpen ini. Bukan jenis twist yang baru, tetapi cukup membuat pembaca bernapas normal kembali setelah membaca pengalaman Vita. Akan tetapi, ternyata ending-nya sedikit di luar perkiraan.

Malam di Rumah Sakit Kartika

Kisah satu ini juga dibuka dengan penjabaran yang langsung membuat pembaca yakin bahwa ini kisah horor. Tentang Arga dan Doni yang ditugaskan datang ke RS Kartika oleh Pak Bram, atasan di percetakan koran, sebagai hukuman karena sering terlambat. Alasan ini sedikit tidak logis bagi saya. Saya pikir awalnya mereka datang untuk meliput kisah mistis di tempat tersebut.

Karena alasan kedatangan yang membuat saya sedikit terganggu ini, saya tidak terlalu menikmati pengalaman horor yang dihadapi Arga. Meskipun ending dari cerpen ini sama sekali tidak buruk, pengembangan suasana horor rumah sakitnya menurut saya sedikit kurang.

Onggo Inggi

Onggo Inggi daripada disebut cerpen horor mungkin lebih menjurus supranatural. Ceritanya tentang Kipli dan dukun bernama Ki Onggo yang ditenggelamkan di Bengawan Solo dan bisa menjadi siluman ular beberapa tahun lalu. Bagi pecinta cerita horor, saya rasa cerpen ini tidak begitu seru untuk dibaca, karena suasana horornya hanya saya rasakan di paruh awal cerpen. Memasuki paruh akhir, saya tidak merasakan bulu kuduk berdiri.

Cara perceritaanya sendiri sama sekali tidak buruk, meskipun ada beberapa plot hole. Lalu, ada penggunaan kata “aku” yang juga membuat rancu serta heran. Cerpen ini kan ditulis dari sudut pandang orang ketiga.

Pengantin Pasar Bubrah

Saya lumayan menikmati yang satu ini. Bercerita tentang Okta dan Joel yang berniat bermalam di Pasar Bubrah ketika mendaki Gunung Merapi serta perihal hantu pengantin wanita, sesuai judulnya. Cerpen dibuka dengan kejadian yang langsung membuat penasaran. Lantas, cerita di-flashback dari sudut tokoh yang berbeda. Meskipun demikian saya tidak begitu mengerti maksud keberadaan Mbah Petruk dalam cerita ini.

Kalimat singkatnya barusan berdegung berulang kali. Aku tak sempat mencerna. Tiba-tiba kurasakan aliran darah ini tersedot keluar seiring kami bercumbu mesra. Cincin emas yang melingkar di jari manis kiriku terlepas jatuh. Itulah bunyi yang kudengar terakhir kali. (hal. 54)

Jembatan “Merah” Tak Berdarah

Sampai dicerita ke-5 ini, ini cerita favorit saya. Selain karena tidak ada penggambaran mahluk horor penuh darah yang sama sekali tidak ingin saya bayangkan, cerita ini penuh dengan twist bahkan hingga ke penghujung cerita! Sayangnya, pembukaan cerpen ini tidak begitu menarik.

Inggris

Membaca cerpen yang satu ini saya jadi teringat novel-novel Goosebumps. Tipe-tipe ceritanya mirip. Dengan tipe ending yang juga serupa.

Sayangnya cerpen ini terlalu banyak narasi sehingga ceritanya menjadi tidak begitu hidup. Serta konklusi yang diberikan kenapa Winda, gadis tokoh utama yang kembali ke dalam Benteng Fort Malborough untuk mencari kameranya, juga sangat mendadak sehingga tidak terlalu memberikan jalan terang kepada pembaca. Dan dari pada horor, saya lebih mendapatkan suasana thrill dalam cerpen yang satu ini.

Rumah Kos 666

Cerpen ini bercerita tentang Key yang sedang sendirian di indekosnya (yang ternyata angker). Adegan demi adegan horornya disajikan dengan bahasa yang lumayan asyik. Selain itu, pembukaanya membuat saya penasaran. Eh, tapi, ternyata hingga peghujung cerpen sama sekali tidak ada kejelasan dari pembukaan cerpen tersebut. Sayang sekali.

“Mbak,” kata Key sambil memegang tangan Laksmi. “Kamar mandi, Mbak, kamar mandi.” Rupa Key sudah pucat pasi sambil bicara yang belum dipahami Laksmi.

“Kenapa kamar mandi?”

“Ada cewek yang disiksa sampai berdarah-darah dikapak,” lanjut Key. (hal. 104)

Boneka

Aku berharap dia segera menghilang seperti tadi. Namun aku tahu harapanku itu tidak menjadi kenyataan saat aku mendengar suaranya dari belakangku yang bertanya, “Kak, mau main boneka sama aku?” (hal. 116)

Ide cerita yang menarik dan alur cerita yang tak kalah menarik. Cerita horor yang melibatkan anak kecil itu … selalu membuat merinding sendiri.

Ketika Jarum Pendek Menyentuh Angka XII dan Jarum Panjangnya Menyentuh Angka III

Judulnya membuat saya mengernyit. Kok, IIII dan bukan IV? Oh, ternyata itu ada hubungannya dengan cerita horor di cerpen ini.

Cerpen dengan judul yang sangat panjang ini bercerita tentang kisah seram Jam Gadang. Berhubung saya tidak pernah tinggal di daerah sana, mungkin cerita ini diangkat dari mitos setempat. Ceritanya lumayan membuat saya enggan membayangkan bagaimana bentuk visual dari kalimat yang ditulis penulis. Meskipun demikian, Sonia yang begitu bodoh masuk melewati gerbang serta respons (lambat) para tokoh menghadapi peristiwa horor yang mereka alami membuat saya tidak begitu merasakan suasana horornya.

Tiyuh Beriyut

Ini salah satu cerpen dengan gaya penceritaan yang beda dalam buku ini. Sederhana namun menyenangkan untuk dibaca. Meskipun suasana horornya tidak begitu kentara, cerpen ini bisa menghadirkan ketegangan tersendiri. Tiyut Beriyut alias Nergi Silop adalah ide utama yang diangkat dalam cerpen satu ini.

Wah, Negeri Silop ya? Sudah sering orang Kayuagunghilang di sana. kebanyakan kalau orang bisa masuk nggak bisa keluar lagi, tapi ada beberapa orang yang bisa keluar dari sana kok. (hal 137)

Djengkol

Membaca judulnya saya pikir cerpen horor satu ini berhubungan dengan jengkol, eh ternyata sama sekali tidak. Djengkol itu ternyata nama desa yang menjadi latar belakangan cerpen ini. Saya baru tahu bahwa ada desa bernama Djengkol. :V

Suasana horornya lumayan terbangun. Latar belakang dan alasan kedatangan para tokoh ke tempat angker itu juga masuk akal. Meskipun demikian, saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali teror yang dirasakan oleh para tokoh dalam cerpen ini.

Cantik adalah Luka

“Herlina, Herlina, di mana kau? Kupasang sandal di sini agar kau mau menunjukkan diri.”

Mereka terus memanggilku, menggodaku dengan memasang jebakan sandal yang diam membisu.(hal. 160)

Cara penceritaan cerpen horor ini unik, karena ditulis dari sudut yang tidak biasa, dari sudut hantu! Penggalan-penggalan yang diberikan antara cerita juga pilihan tepat, seperti petikan di atas. Sayangnya, saya langsung merasa kecewa ketika mengetahui kisah di balik itu semua. Well, kurang … dramatis lagi mungkin?

Bungaya

…. Saya tidak mengerti cerpen yang satu ini. D:

Ide cerita dan latar belakang dalam cerpen ini sebenarnya menarik, karena berangkat dari mitologi Lapangan Karebosi. Akan tetapi, entah karena banyaknya unsur daerah yang tidak saya ketahui, atau alur bercerita penulis, saya sama sekali tidak paham. Terlebih, saya juga tidak merasakan suasana horor dalam cerpen ini. Daripada horor, mungkin fantasi dengan subgenre myth/urban legend lebih pas. *berniat membaca cerpen ini lagi nanti*

Akulah Sang Pengantin

Cerpen yang satu ini mengingatkan saya pada film-film mahluk manusia-ular dan teman-teman yang sering tayang di TV. Seharusnya bisa lebih baik jika dieksekusi dengan lebih menonjolkan pada sisi kehororannya, mungkin. Yang pasti, sampai saat ini, saya tidak tertarik dengan cerpen ini.

Malam Maut di Mentira

Mahluk itu mendekati Adit. Sebelum Adit sempat bereaksi, mahluk itu menggigit pergelangan tangan Adit, mengoyak sedikit dagingnya, lalu pergi berbalik arah secepat kilat.

“Aaarrrrggghhhh!” Adit menjerit keras, kesakitan. Ia langsung terjatuh. (hal. 212)

Bagi yang suka cerita horor yang melibatkan dunia lain yang bisa dikunjungi serta memiliki pelajaran moral yang baik, cerpen ini mungkin memenuhi selera.

Sanur, 327

Cerpen yang ini berbeda dengan cerpen-cerpen horor lainnya dalam buku ini. Idenya tidak jauh berbeda, erat hubungannya dengan mitos kepercayaan tentang penunggu serta pengalaman horor dibawa (atau tersesat) di dunia lain. Akan tetapi, baru cerpen inilah yang memiliki ending yang sudah lama saya harap ada ketika membaca buku ini. Sebuah ending yang mengajarkan bahwa selalu ada kesempatan kedua.

Dia mengangkat kepala, dan menoleh ke belakang mencari kedua temannya. Matanya nyalang. Desiran ombak bersusulan bersama gemerisik dedaunan kamboja terdengar sangat jelas. Birunya air kolam, bulatan-bulatan cahaya putih di permukaannya memantul ke lapisan mata Tina. Tapi tidak ada orang di sana.

Cici dan Mira lenyap tanpa bekas.

“Cici, Mira?!” Tina meraung, berpusing di tempat mencari kedua temannya. (hal.223)

Jarum Gantung

Bercerita tentang Rana, seorang dokter kandungan, yang baru saja dipindahkan ke rumah sakit baru. Di rumah sakit itu, pasiennya selalu kehilangan nyawa sag bayi. Setelah diusut, ternyata kegagalan Rana menyelamatkan nyawa sang bayi ada hubungannya dengan kejadian lima tahun lalu.

Begitu membaca cerpen ini dan ada hubungannya dengan bayi, saya langsung wasapada akan adanya hantu bayi. Akan tetapi, untungnya hal yang saya khawatirkan tidak ada. Terlebih, cerpe ini berakhir dengan cukup membahagiakan untuk ukuran cerpen horor.

Darah Vietnam di Nusantara

Jujur, saya tidak mengerti jalannya cerita dalam cerpen ini. Saya tidak menangkap apa yang dialami Sophie dan Jeni di sini. Terlebih lagi, saya juga tidak paham hubungannya dengan gadis Vietnam serta penghuji penjara itu. 😐

Meskipun begitu, suasananya cukup horor. Ceritanya juga berakhir dengan membuat jantung pembaca kembali mencelos.

The Curse of The Twins

Yang sangat aneh dari cerita ini adalah betapa bodohnya Fitri, Anna, dan Rika. Apa mereka tidak curiga pada Marcus dan Marilyn?

Saya sempat berharap banyak dari cerita ini begitu melihat judulnya. Eh, tapi ternyata cerita horornya tidak begitu sesuai dengan judul yang mebawa-bawa kata kutukan anak kembar ini. Well, overall, ini cerita horor yang lumayan (serta memiliki pelajaran yang juga baik).

Perjalanan Malam

Saya suka akhir ceritanya! Si tokoh utama ini memiliki kebiasanya berjalan sendirian di hutan pada tengah malam. Sayangnya, asalan hobi anehnya ini kurang dikembangkan. Saya pikir akan lebih baik jika pengalaman horor yang dituliskan dalam cerpen ini lebih menjurus ke hobi si tokoh utama oleh pengarang.

Ground Zero

Ini cerpen yang salah satu penggalan isinya menjadi sinopsis buku ini. idenya menarik, diangkat dari peristiwa Bom Bali I. Pembangunan suasana horornya pun sangat baik. Hanya kurang penjelasan tentang tokoh yang menjadi pembawa cerita ini, si Aku.

Satu kalimat yang paling saya suka (sekaligus kalimat yang sangat saya setujui):

Look, Sir. Bom ini yang membunuh banyak orang adalah buatan manusia, bukan buatan hantu. Hantu tidak membunuh sesamanya, tapi manusia iya.”

Tikungan 33

Cerpen yang menarik. Dituliskan dari dua sudut yang awalnya sangat tidak berhubungan. Tetapi, semakin mendekti akhir semakin bisa ditebak arah cerita dari masing-masing sudut. Tingkat horornya juga lumayan. Salah satu cerpen yang saya suka di buku ini.

Tinggal satu kalimat lagi yang perlu diucapkan untuk melepaskan beban di pikirannya.

“Kejadiannya di jalan ini,” bisiknya. Pelang sekali. (hal. 306)

Secara garis besar, ini kumpulan cerpen horor yang lumanan. Meskipun demikian, saya tidak memiliki cukup kepercayaan diri untuk memberikan penilaian karena ini pengalaman saya merasakan horor lewat rangkaian tulisan.

Cukup recommended buat yang sedang ingin membaca cerita horor, yang ringan serta memiliki jenis beragam. Karena semua cerpen dalam buku ini dihadirkan dengan jenis yang berbeda-beda. Selamat membaca! 😀

Advertisements

17 thoughts on “Ground Zero

  1. thanks reviewnyaa 🙂 kenalin saya yg nulis Darah Vietnam di Nusantara 🙂
    tentang gadis vietnam, masalah bermula ketika Jeni sama Sophie foto di depan tugu kemanusiaan (humanity statue) yg dibangun untuk memperingati musibah yg menimpa gadis vietnam itu dulu. Dan.. wajah Jeni kebetulan mirip dengan gadis Vietnam itu.
    Kemudian, penghuni penjara itu awalnya hanya saya sertakan sebagai bentuk teror yg Jeni dan Sophie terima, juga bentuk suasana flashback tentang keadaan penjara itu dulu, sekaligus sebagai penerang konflik kenapa Jeni pingsan mulu’ 😀
    Sekian komentar saya, heheu review juga dums antologi horor judulnya “Lucy Lucifer” terbitan de Teens juga sekitar bulan Desember 2013 lalu 🙂

    1. Sama-sama 🙂
      Salam kenal juga, hehe.

      Iya sih saya juga mudengnya gitu, tapi adegan yang disajikan melompat-lompat dan kurang penjelasan. Lebih tepatnya, potongan-potongannya kurang pas. Jadilah, terasa seperti dua kisah yang tidak sama. Gitu. :/
      Kalo buat yang penghuni penjara, rasanya malah kurang pas terornya gitu deh. Gimana, ya, kayak keberadaan si gadis Vietnam yang harusnya dominan sebagai bentuk kehororan yang diterima Sophie sama Jeni malah tersingkirkan karena si penghuni penjara itu.

      Sebenarnya, horor bukan genre yang saya suka, hehe. Ini review karena kebetulan saya dapat jatah review buku ini dari Diva. Maaf ya. >_<

  2. Sebenarnya, Perjalanan Malam sya tulis secara asal-asalan. Tidak begitu niat untuk ikutan lomba ini. 🙂
    THANKS atas reviewnya.

    1. Duh, alangkah baiknya jika tidak mengatakan bahwa karya tulis Anda dibuat secara asal-asalan. Entah kenapa saya jadi sedih. 😦
      Pasalnya, cerpen yang terpilih di buku ini pasti berasal dari begitu banyak cerpen. Ada banyak selain Anda yang juga mengirimkan karyanya dalam mengikuti event Diva yang satu ini.

      Terima kasih kembali. Maaf jika menyinggung.

            1. haha iya sih tau
              cuma gimana, yaa…. saya rada kaku kalo sama orang yang belum dikenal >_>;;

            2. Kalau begitu, perkenalkan, nama saya Rudy Setyawan. Seorang pria aneh yang sering menggunakan nama pena Ruset69/Franskin/Shole
              Punya cita-cita memiliki buku sendiri yang beredar se-nusantara. mudah-mudahan suatu hari kelak kesampaianhehe [aamiin])
              Dua cerpen saya sebelumnya juga sudah pernah di publish bersama karya teman-teman lainnya di antologi K-pop Koplak dan My Mom My Angel. (eh, malah pemer. -_-‘ )
              Salam kenal. ^_^

  3. Hai, aku baru baca nih, salam kenal. Aku yg nulis cerpen ‘Akulah Sang Pengantin’. Emang enggak menarik, ya? U.u saya kudu belajar nih. Ehm, itu yg jadi pusatnya bukan yg si ular sbenernya, mbak, tp yg siluman buayanya itu. Pasalnya cerita ini saya tulis ‘separuh’ based on true story akhir tahun kmrin wkt saya PSG di mojokerto. Hoho.. 😀
    Tapi dgn reviewnya saya jadi semangat belajar nge-horor yg bener. Makasih yaap 😀

    1. Salam kenal dan terima kasih juga. 🙂

      Iya, saya juga paham pusatnya si siluman buaya. Tapi gimana ya, cara pengeksekusiannya itu lebih menyiratkan ke si siluman-ular begitu saya baca. Hehe.

      Tetap menulis ya. Semangat. ^^

      1. iya juga sih mbak.. Wkwk
        *plak
        saya juga ngerasanya begitu.. :D:D
        yah, makasih kritikannya, bikin saya makin terbakar semangat nulis.

  4. Makasii review dan kritik nya 🙂
    Buat bahan pelajaran untuk bikin suspense yang lebih asik lagi nanti hehe.

    Salam kenal! Melati -Cerpen Pengatin Pasar Bubrah.

  5. Resensinya…ciamik. Aku malah penasarannya sama yang Ground Zero sama Jarum Gantung. Entah kenapa kalo adegan rumah sakit ada “sesuatu” bikin menarik. Aweaee /\ jadi pengin baca. Seru kali ya dibaca pas kamis malam :3 hihi….

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s