de TEENS · Resensi · Romance

Melodie der Liebe – Asmira Fhea

20140407_150730

Judul: Melodie der Liebe; A Year Written of Love Song
Penulis: Asmira Fhea
Penerbit: de TEENS
Sinopsis: Ini tahun keempat bagi Aimee, Tami, dan Diana. Semester yang seharusnya menjadi tahun kelulusan bagi mereka. Tapi kenyataannya justru berbeda. Diana tidak tertarik untuk menyusun tugas akhir karena itu berarti ujung kedekatannya dengan Aurich, lelaki yang sejak lama disukainya. 

Kehidupannya banyak berubah setelah mengenal si cewek perfeksionis Tami Hiromasa dan si cewek perebut kekasih orang, Aimee Devona. Di samping ketiganya terlibat sebuah proyek film, ada alur percintaan yang membuat mereka kerap berbenturan. 

Persahabatan itu memang penuh warna, dan nikmatilah selama kau bisa….

[Foto segera menyusul jika saya sudah dapat pinjaman kabel USB #pluk]

————————————————————–

Saya menamatkan novel ini sambil menunggu motor di bengkel. Lumayanlah daripada bengong ga jelas, haha. XD

Novel ini bercerita tentang Diana, Tami, dan Aimee yang menjadi dekat karena ikut satu proyek film yang sama. Juga tentang kisah cinta mereka masing-masing. Standar sih temanya, sahabat, cowok, cinta, kesalahpahaman, dan happy ending.

Cerita di sini berjalan selama dua belas bulan, sesuai judulnya Melodie der Liebe; A Year Written of Love Song. Akan tetapi, setiap bulannya berjalan begitu … cepat—sangat cepat malahan. Terlebih, tidak ada deskripsi pewaktu yang cukup jelas, jadi ceritanya semakin tergesa.

Kedekatan Diana, Tami, dan Aimee juga mendadak banget. Penulis pun hanya menjelaskan dengan kalimat “entah kenapa” dan voila! Mereka bertiga pun dekat seperti sahabat baik. Peningkatan hubungan ketiganya sama sekali tidak terasa, seperti juga peningkatan hubungan mereka dengan dambaan hati masing-masing yang tak kalah dangkal.

Seperti perubahan perasaan Geffrey. Atau sikap Aurich yang mengaku pada Aimee itu. Akhirnya, kisah cinta yang ditawarkan dalam buku ini terasa dangkal, kurang dieksplorasi, semua serba mendadak. 😐

Beberapa kali juga saya menemukan kalimat yang tidak luwes, sangat bertele-tele bahkan cenderung multitafsir. Misalnya,

Sementara di sisi yang lain, pemilik mata sipit dengan segudang kesibukan menyemptkan hari, tak kalah pelik ketika memorinya tak ingin meninggalkan jejak yang terjadi di masa lalu.

Terlalu banyak penggunaan kata berimbuhan “me-“ jadinya membuat kalimat ini begitu janggal. Masih ada beberapa kalimat serupa juga dalam novel ini.

Oh, ada juga kesalahan penulisan nama. Harusnya yang mengucapkan Diana, eh malah tertulis Tami. Harusnya Aimee, eh malah nama yang lain. Tidak banyak sih, tapi cukup mengganggu jalannya cerita secara keseluruhan.

Deskripsi tempat, waktu, dan keterangan yang lainnya belum tergolong cukup buat mendukung kisah dalam novel ini. Padahal setting utama novel ini adalah di luar negeri, yang bisa memberikan keunikan tersendiri. Tapi, sedikit-banyak kekurangan segala narasi tentang latar waktu dan tempat dalam novel ini mengurangi daya tariknya.

Meskipun demikian, Melodie der Liebe; A Year Written of Love Song ini tidak begitu buruk. Karakternya sudah lumayan baik, berbeda-beda, dan terkesan hidup. Hanya kurang dieksplorasi lebih dalam lagi. Konsep dua belas bulannya juga bagus, hanya lagi-lagi kurang dikembangkan dengan maksimal. Saya tidak banyak berkomentar tentang temanya, karena ini bukan tema baru. Sebenarnya secara keseluruhan alur dan plot sudah bagus, hanya masih banyak lubang di sana-sini.

Anyway, saya suka kovernya. Cakep. Pemilihan kertas bagian dalam yang berwarna juga unik, nambah makin cakep aja, hehe.

Terus berikut ini adalah beberapa kutipan bagus yang saya suka. 😀

“Tapi, satu hal yang perlu kau tahu: siapa pun akan merasa lebih aman jika seseorang mencintaimu karena dirimu sendiri, tanpa menyerupakan kau dengan orang lain.” (hal. 94)

“Yang sku tahu, akan lebih menyakitkan ketika kita tidak lagi dipedulikan oleh orang yang kita sukai. Sekalipun hanya sebagai temannya.” (hal. 110)

“Kita tak perlu mengandaikan hal-hal yang tak pernah ada.” (hal. 129)

 “Kalau kau suatu hari sampai pada detik seperti ini, mungkin kau akan setuju pada pendapatku. Bahwa memaafkan dan belajar dari kesalaan adalah dua hal yang berbeda. (hal.145)

“Intensitas melihat Mario Gӧtzes harus kau kurangi. Kini, saatnya kau melihatku.” (hal. 178)

“Jangan membicarakan sesuatu kalau kau sendiri tidak yakin kebenarannya.” (hal. 238)

“Dulu, aku selalu menyimpan baik-baik tiap mimpi. Tidak ada keberanian untuk meaihnya. Tapi, setelah yang kulihat belakangan ini adalah nyata, rasanya sulit dipercaya….” (hal. 246-247)

PS. Satu hal yang bikin saya ngiri, yang nulis kelahiran 94. Sumpah ngiri bangeeet. TwT

Advertisements

7 thoughts on “Melodie der Liebe – Asmira Fhea

    1. dari dulu kok mba :p

      lha kenapa “mumpung di Jogja”? nulis kan ga harus kalo cuma di Jogja sih :pp

      1. ya, sekarang kan lagi d jogja (ungkapan halus untuk bilang : AYO DIMULAI SEKARANG) 😛

        lagipula, di jogja kesempatan banyak terbuka lebar *baru ikut bedah bukunya mbk arkandini leo di KRPH 😀

        1. udah mulai dari lama kok, mba
          cuma punya masalah yang sama: malas #gulingguling #plak

          haha doain aja segera menyusul ya mba :”)

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s