PING!!! · Resensi · Romance

Spring Sonata – Minn

20140415_192614Judul: Spring Sonata; Seharusnya Tak Kau Biarkan Dia Kesepian
Penulis: Minn
Penerbit: PING!!!
Sinopsis: Seorang pemuda sinis berdarah Ceko, Matthew Dvorak membenci ayahnya dan orang-orang Asia—terutama Rheina Hutabarat, gadis Indonesia yang kelewat berisik dan mengaku sebagai Beethoven addict. Sebaliknya, Rheina malah bertingkah ceria—tapi kelewat rese’ di mata Matt—dan pantang menyerah menjejali lelaki itu dengan musik-musik klasik. Keceriaan Rheina memang hanya di permukaan, gadis itu memiliki hidup yang sesuram Matt. Sama-sama kesepian.

Kesepian yang semakin diperparah rasa rindu yang tak henti menghiasi hari-hari keduanya. Keanggunan kota Praha dan alunan nada-nada Beethoven mewarnai perjalanan dua anak manusia ini hingga menemukan sebuah titik di mana mereka memahami, mereka telah kehilangan sesuatu yang sederhana….

Jangan mengulang kesalahan yang sama dengan ayahmu, Matt. Cinta itu harus diungkapkan agar bisa dimengerti….

__________________________________________

“Matthew punya kemampuan teknik tingkat tinggi, tapi menahan perasaan. Lagu itu harus dimainkan dengan perasaan.” Rheina mendudukan dirinya di lantai. Kelincinya ia pangku. “Semua komposer menitipkan hati dan perasaan dalam setiap karyanya. Matthew harus bisa merasakannya.”

Matt menyipitkan matanya, memandang rendah pada semut yang nyaris tertidur di tempatnya itu. Rambutnya yang panjang dan lebat dibiarkan tergerai, tidak dikucir seperti biasa, membuatnya tampak lebih mungil dari biasanya. Poninya pun jatuh bebas, menutupi sebagian wajahnya yang menunduk menahan kantuk.

“Kau datang hanya untuk berbicara tentang perasaan?”

Kepala Rheina menggeleng, lantas mendongak demi menatap Matt dengan matanya yang setengah terpejam. “Aku melihat video pertunjukkan Matthew berasama Paman Haans. Matthew memang hebat dibandingkan peserta lain. Tapi, mendengar musik Matthew rasanya seperti ada lubang-lubang kecil di dalamnya.”

“Apa maksudmu?”

Rhiena lagi-lagi tidak menjawab. Detik berikutnya, kepalanya sudah rebah di atas kepala kelinci dalam pangkuannya. Matanya sudah benar-benar terpejam.

Matt mendelik. “Hei!”

“Beethoven kesepian.” Rheina mulai meracau.

Matt benar-benar kesal oleh tingkahnya. Rasanya, Matt ingin mengguncang tubuh itu agar segera menjawab pertanyaannya. Matt sudah berdiri dari bangkunya.

Tapi, sebeum anak laki-laki itu sempat mengulurkan tangan untuk benar-benar membangunkan gadis itu, Rheina mulai bersuara lagi. “Matthew juga kesepian….” (hlm. 84-85)

Itu satu cuplikan adegan dalam Spring Sonata karya Minn. Salah satu cuplikan yang saya suka. Novel ini sendiri bercerita persis sesuai dengan sinopsis yang tertera di bagian belakang. Tentang Matt dan Rheina, dua orang yang sangat berbeda tapi memiliki masa lalu yang sama-sama menyedihkan serta saling terikat.

Ada beberapa catatan yang saya buat untuk novel ini.

  1. Ide cerita

Saya suka ide menggunakan musik klasiknya! Sebuah sisi yang sangat jarang saya temui di novel roman dalam negeri.  Novel ini memberikan warna berbeda dalam novel pericintaan yang ada di rak-rak buku. Novel ini juga mengingatkan saya pada Nodame Cantabile hihihi. :))

Ide ceritanya sendiri cukup sederhana, meskipun ada hal unik lain yang saya dapatkan, yaitu hubungan dengan orang tua masing-masing tokoh. Kebencian Matt pada ayahnya yang ternyata berhubungan dengan orang tua sang tokoh wanita utama (alias Rheina) adalah hal yang membuat drama dalam novel ini menjadi cukup menarik.

  1. Plot dan Alur

Well, ceritanya digarap dengan sangat baik. Saya yakin penulisnya memiliki outline yang matang. Saya juga suka membaca informasi seputar musik klasik dan Praha yang sesekali diselipkan. Bab demi bab ditulis dengan cukup memuaskan—meski saya merasa terlalu banyak hal kurang penting sehingga terasa sedikit bertele-tele.

Alurnya sendiri cukup bisa ditebak. Biasalah, novel-novel mainstream romance pasti sudah bisa ditebak sejak awal siapa akan berjodoh dengan siapa. Meskipun begitu bagian dari cerita yang terungkap sedikit demi sedikit (rahasia yang ada, masa lalu mereka, sikap yang diambil, dll) cukup membuat alurnya menyenangkan untuk diikuti.

  1. Karakter

Satu hal yang tidak saya suka dalma novel ini, karakteristik tokohnya. Gimana, ya? Baik Matt, Rheina, Haans, Yvone, Alouy, maupun Kiruna sedikit sulit dinikmati. Rheina terlalu lebay dan dideskripsikan, err, imut, jadi saya justru ikut merasa rese seperti Matt. Matt … tipikal pangeran cool yang kelewatan egois dan annoying, jadi saya sulit untuk bersimpati padanya. Haans, Yvone, dan Kiruna, yang juga egois pun demikian. Alouy pun termasuk tipe gadis yang sedikit menyebalkan—meski saya suka sisi tegarnya ketika menghadapi Matt.

Saya hanya bisa bersimpati pada Nyonya Swolsky yang bijaksana, Lincoln yang begitu baik, Claire yang sayangnya tidak dieksplor (T.T), dan Mr. Craig (meski karakternya cukup kuat dalam hidup Matt tapi rasanya masih kurang). Karena kurang bisa menikmati tokoh-tokohnya inilah saya membutuhkan waktu sedikit lama untuk menyelesaikan Spring Sonata.

Di luar dari tiga poin itu, ada beberapa kalimat yang dtulis berbelit serta ambigu. Juga ada beberapa kesalahan penulisan. Serta entah kenapa warna pink yang digunakan dalam beberapa lembar novel ini justru membuat sakit mata—warnanya terlalu menyolok saya rasa. Cover-nya pun tidak begitu menarik (saya pikir gambar dengan not-not balok akan lebih menarik. :/)

Akan tetapi, secara keseluruahan, Spring Sonata cukup baik. Dramanya memberikan warna yang berbeda (meski saya masih tidak mengerti kenapa Matt mengambil tindakan seperti itu setelah di Bonn -_-). Terlebih musik klasik yang diangkat oleh penulis adalah hal yang sangat jarang ditemui sehingga memberikan warna yang berbeda dalam kisah roman Indonesia. (Saya jadi ingat Nodame Cantabile hihi.) 🙂

Novel ini cukup saya rekomendasikan bagi yang mencari warna cerita romantis berbeda dari pengarang dalam negeri!

Oya, ada beberapa kalimat yang saya suka. Ini saya tuliskan sebagian. :3 (Beberapa juga mereferensikan pada adegan yang saya suka.)

“Setiap orang berhak melakukan kesalahan dalam hidupnya, Matt.” (hlm. 41)

“Tidak ada orang yang mengucapkan permisi untuk masuk ke rumahnya sendiri, Matt. Ini rumahmu.” (hlm. 91)

“Kadang mengenal orang terlalu lama itu tidak baik.” Matt tersenyum lagi, mengembalikan kalimat yang pernah Nyonya Swolsky katakana padanya. “Aku mengenalmu terlalu lama, Nyonya. Kalau tidak benar, Nyonya akan menertawaiku.” (hlm. 93)

“Hanya karena mereka tidak menceritakan bagian akhirnya, jadi kau berpikir kalau cerita-cerita itu berakhir bahagia? Apa kau memang senaif itu?” (hlm. 143)

“Meminta maaf bukan berarti kau menganggapku benar.” (hlm. 169)

“Orang yang jatuh cinta diam-diam akan selamanya jatuh cinta sendirian.” (hlm. 220)

PS. Akhirnya setelah sekian lama saya menyelesaikan penulisan review novel ini. T.T

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s