de TEENS · Resensi · Romance

Morning, Gloria – Devi Eka

22045276Judul: Morning, Gloria; Destiny of Twilight and The Dawn
Penulis: Devi Eka
Penerbit: de TEENs
Sinopsis:  Gloria, ia tak menyukai senja. Baginya, senja hanya akan memadamkan semua harapannya. Namun, kini seorang lelaki senja hadir dan menelusup ke dalam hatinya.

Avond, seorang lelaki yang mencintai masa lalunya. Segenggam cinta yang tak tersampaikan. Sebongkah rindu yang tak pernah usai. Tapi, itu dulu, sebelum gadis fajar itu muncul di hadapannya.

Kisah gadis fajar dan lelaki senja. Ke mana cinta mereka bermuara? Ataukah mereka akan seperti fajar dan senja yang tak pernah bertemu?

________________________________

“Ini bungamu.”

Morning glory?”

“Ya. Bukankah kau menyukai fajar dan membenci senja, Kau mirip dengan bunga ini.”

Gloria masih mengunci mulutnya rapat. Seolah, ia ingin mendengar kelanjutan kalimat lelaki itu.”

“Kau tahu kan, morning glory hanya mekar di pagi hari, saat fajar datang. layu di sore hari dan mati di malam hari.”

Gloria menekuk kepalanya dalam. “Ya.” Memang benar, bunga morning glory hanya tumbuh di pagi hari, dan pukul tujuh pagilah saat yang paling tepat untuk melihatnya, saat bunga mempesona itu mekar dengan indahnya.  Namun, bunga itu akan layu ketika hari beranjak sore.

I bring you clarity. Pernah dengar? Bunga morning glory seperti itu. menurutku, kau juga seperti itu, Gloria. Kau …, bunga fajar yang cantik. Kaulah penyemangatku.” (hlm.93)

Morning, Gloria karya Devi Eka adalah novel pertama yang saya baca untuk klub Resensor Diva bulan ini. Bercerita tentang Gloria, gadis pecinta fajar, dan Avond, seorang pemuda penganggum senja. Sinopsis pada buku ini lumayan menggambarkan seperti apa isi dari Morning, Gloria.

Saya akan mengulas Morning, Gloria secara bertahap.

1. Sampul

Cakep dan lucu. Akan tetapi menurut saya kurang cocok untuk novel roman. Desain sampul ini lebih mengingatkan saya pada dongeng.

2. Cerita

Morning, Gloria bagi saya tergolong mainstream romance. Seorang gadis dan seorang pemuda yang akhirnya menjadi pasangan di akhir cerita dan hidup bahagia (selamanya). Meski begitu, ada yang menyenangkan dalam novel ini, yaitu teka-teki.

Begitu mencapai bab 4 kening saya langsung berkerut karena perkembangan hubungan Gloria dan Avond sangat cepat (serta terlalu terburu-buru sehingga saya sama sekali tidak merasakan chemistry antara keduanya). Saya lantas heran karena novel ini setebal 310 halaman.

Saya pun mengintip halaman-halaman terakhir novel ini dan saya sama sekali tidak mengerti. Oke, baiklah akhirnya saya kembali melanjutkan membaca. Ternyata benar saja masih ada banyak misteri dalam novel ini. Konflik-konflik yang sama sekali tidak muncul di bab-bab awal. Yang kesemuanya sangat erat hubungannya dengan para tokoh pendukung.

Secara keseluruhan, ide cerita novel ini cukup unik dan kompleks. Akan tetapi, terlalu banyak kebetulan di novel ini. Kebetulan-kebetulan yang tidak lagi bisa ditoleri meski dalam novel mainstream romance.

3. Tokoh

Well, bagi saya semua tokohnya standar. Tidak ada yang cukup menarik atau membuat saya tertarik. Tidak menimbulkan simpati atau membuat sebal juga. Baik para tokoh utama maupun tokoh pendukung. Mungkin yang sedikit (sedikit, ya) menarik itu Bara.

Jujur, sampai akhir saya masih bingung. Gloria itu asli Indonesia kan? Lantas sebenarnya siapa Gloria Agostini, si pemain harpa terkenal asal Kanada itu? 😐

4. Gaya bahasa dan bercerita

Saya sama sekali tidak bisa menikmati gaya bahasa Devi Eka. Bagaimana menempatkannya ya….

Penulis sepertinya sangat ingin menuliskan novel ini dengan puitis. Penulis juga sering menggunakan kata yang … tidak cocok di novel remaja (menurut saya), seperti penggunaan “pula”, “meggugah”, dan lainnya (yang tidak saya catat). Akhirnya, saya mendapati banyak kalimat yang justru menjadi sulit dipahami, membuat kening berkerut, terasa tidak nyaman, dan akhirnya kurang pas untuk novel bersegmen remaja (menurut saya).

Mungkin tidak begitu masalah jika hanya terdapat pada bagian narasi. Namun, gaya puitis ini juga ada dalam percakapan! Uh, saya rasa sangat tidak logis. Memang ada orang yang bercakap-cakap dengan bahasa puitis (kecuali berniat seperti itu?). Gaya ini juga tidak konsisten sehingga ada percakapan yang biasa saja atau mengerang.

Contoh: “Baiklah aku pinjam jaketmu supaya kau bisa pulang sebelum senja merangkak dan mengubah langit menjadi kelam.” (hlm. 54)

“Bolehkah aku memelukmu? Berebah sebentar akan meredakan ketakutkan. Dan sedikit menghangatkan tubuhku yang kaku. Karena, aku yakin, dingin ini akan lumer di pelukanmu.” (hlm. 68)

Di sisi lain, saya juga merasa banyak percakapan dalam Morning, Gloria yang kopong. Tidak ada isinya sama sekali dan sangat tidak penting. Mungkin hanya perasaan saya. 😐

Jadi, secara keseluruhan, saya tidak cukup menikmati dan menyukai novel ini. Alasannya sesuai dengan apa yang saya cantumkan di atas. Tapi, novel ini cukup recommended bagi mereka yang mencari cerita roman dengan penuh teka-teki.

Selamat membaca! 🙂

PS. Saya ngiri banget pas tahu ini buku kedua penulis (yang lahir di tahun sama dengan saya). T_T *meratap*

Advertisements

3 thoughts on “Morning, Gloria – Devi Eka

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s