PING!!! · Resensi · Young Adult

Sebuah Bukit dan Satu Pohon di Atasnya – Aira Arsitha

20140526_091236Judul: Sebuah Bukit dan Satu Pohon di Atasnya
Penulis: Aira Arsitha
Penerbit: PING!!!
Sinopsis:Β Ashlie sudah membuang jauh perasaannya itu. Baginya, mustahil mimpi itu akan terwujud. Siapakah dirinya? Ia bukanlah siapa-siapa di dunia ini. Hanya seorang gadis penjaga domba-domba yang kehilangan ayah dan ibunya, dan kehilangan mimpinya…

Arthur tiba-tiba merasakan hal berbeda dalam dirinya. Ia menyadarinya. Ia sadar apa nama perasaan ini. Tapi, kematian sang ibu mengaburkan semuanya. Bahkan, ketika gadis itu datang dan mencoba menghiburnya, Arthur malah menampik. Kini, ia menyesal…

Damar percaya, tidak semua mimpi akan terwujud. Sebagian telah hancur sebelum teraih, namun sebagian lagi akan tetap menunggunya untuk diraih. Ia sangat yakin itu. Dan, ia akan berusaha mengapainya untuk sahabat-sahabatnya, masa lalu, juga dirinya…

___________________________________

“Hari ini, aku akan menjadi sebatang pohon,” ucapnya, membuatku lemas lantas membuatku lantas memutuskan untuk berbalik dan membuatku bisa melihat dengan jelas sosoknya yang sedang berdiri tegak dengan memegang sebuah payung yang sengaja lebih ia dekatkan ke arah tubuhku.

“Kau sekadang sedang berada di sebuah bukit, dengan sebuah pohon yang rindang, yang melambaikan setiap dahannya untuk menyejukkanmu. Perlahan-lahan, kau merasakan desau angin meniup rambutmu dan mengeringkan setiap tetes keringat yang ada di wajahmu…”

Ia terus saja berucap panjang, membuatku seolah benar-benar sedang berada di bawah sebuah pohon besar yang rindang. (hlm. 46-47)

Membaca novel ini mengingatkan saya pada …. kisah-kisah lama. Well, mungkin karena latar tokoh-tokohnya. Atau juga karena temanya.

Novel ini bercerita tentang Ashlie, seorang anak penjaga peternakan, yang berusaha hidup setelah kehilangan kedua orang tua dan sosok teman semasa kecilnya, Arthur (sekaligus anak majikannya). Sudah lama sekali saya tidak melihat novel roman di masa kini yang menggunakan majikan-bawahan sebagai salah satu unsur cerita. Tipe-tipe seperti ini, yang mengangkat perbedaan kasta, lebih banyak saya temui di novel (atau telenovela) dulu.

Dalam perjalanannya melupakan kehilangan orang tua, Ashlie meninggalkan Matamata dan hidup di Auckland. Selain untuk mendapatkan suasana baru, dia berharap bisa bertemu Arthur, yang menempuh kuliah di sana. Namun, Ashlie justru bertemu Damar, pelajar asal Indonesia. Dari Damar, Ashlie belajar kembali untuk bermimpi. Suatu hal yang sudah dibuang Ashlie sejak dia kehilangan segalanya.

Novel ini lumayan menarik. Dengan hubungan majikan-bawahan yang sudah sangaaaat lama tidak terdengar serta latar belakangan perkebunan serta peternakan. Latar kehidupan yang belum pernah saya dapatkan di novel roman masa kini. Saya jadi ingat film kartun zaman dulu yang sering saya tonton, hihi.

Meski cukup menarik, ada beberapa hal yang menjadi catatan.

1. Peningkatan hubungan Arthur dan Ashlie kurang terasa. Memang hubungan mereka sekarang merenggang, tapi hubungan mereka di masa lalu pun kurang banyak untuk menutupi itu. Saat hubungan mereka merenggang pun saya masih merasa “Lho?”. Habisnya proses merenggangnya pun kalau dari sisi Ashlie karena kesibukan Arthur, tapi jika hubungan mereka sebaik itu semasa kecil harusnya ada adegan Arthur pamit meninggalkan Ashlie atau adegan lain apalah gitu. Dalam novel ini lebih terasa betapa egoisnya Arthur dan betapa berubahnya dia menjadi sosok yang dingin. Selain itu, terlalu sedikit interaksi Ashlie dengan Arthur. Ashlie lebih banyak bersama Arvin atau Damar. Atau dengan dirinya sendiri, merenung, meningat masa lalu. Ini sangat erat kaitannya dengan poin satu. Rasanya sayang sekali dengan begitu sedikit interaksi mereka.

2. Kematian Nyonya Alexander itu kok rasanya gimana ya? Mendadak muncul ketika akhirnya Ashlie bisa bertemu dengan Arthur. Padahal ketika Ashlie pindah dari Matamata, Nyonya Alexander kan masih baik-baik saja. Setelah itu kematiannya baru dijelaskan lebih detail di akhir cerita. Terasa sedikit dipaksakan….? Karena ini juga akhirnya tidak menjawab perubahan sikap Arthur kepada Ashlie. Anyway, selama membaca novel ini saya selalu mencai kapan Nyonya Alexander meninggal? Serta satu pertanyaan lain: memangnya sudah berapa lama Ashlie tinghal di Auckland? 😐

Secara garis besar, ceritanya cukup menarik dan berbeda. Membaca novel ini cukup membawa saya keluar dari arus mainstream masa kini. Ada peternakan, perkebunan, kehidupan di pasar, duh benar meningatkan saya pada keadaan rural area yang tenang serta rindang. Novel ini mirip sekali dengan judulnya. Yang ternyata cukup menyimpan misteri serta terasa manis. Meskipun saya merasa sedikit “kering” karena konfliknya yang kurang greget.

Oh ya, ada beberapa kalimat yang membuat bingung. Contohnya:

“Hari ini, aku akan menjadi sebatang pohon,” ucapnya, membuatku lemas lantas membuatku lantas memutuskan untuk berbalik dan membuatku bisa melihat dengan jelas sosoknya yang sedang berdiri tegak dengan memegang sebuah payung yang sengaja lebih ia dekatkan ke arah tubuhku. (hlm. 46)

Selain itu juga ada lagi, tapi tidak cukup mengganggu secara keseluruhan cerita.

Soal desain sampul, bagi saya kurang manis. Padahal cerita di balik pohon dan bukit itu sangaaat manis. Kalau desain sampul di dalamnya yang berwarna biru cukup saya suka dan tidak mengganggu kegiatan membaca. πŸ™‚

Di sisi lain, ada beberapa kalimat yang terasa jleb banget.

“Dan aku meyakini, dalam hidup kita, dalam satu waktu, sangat sulit mewujudkan semua mimpi dengan sempurna sesuai keinginan kita.” (hlm. 88)

“Aku ingin membuktikan padamu bahwa apa yang kau bayangkan tidak selamanya ada dalam bayanganmu saja.” (hlm. 206)

“Ibuku bilang, ketika kita melakukan sesuatu untuk orang lain hingga membuat orang itu tersenyum, maka kita baru saja melakukan sebuah kebaikan besar dan aku ingin melakukannya.” (hlm. 210)

“Aku membayangkan sebuah bukit dan sebatang pohon sebagai lambang kesetiaan. Bagaimana pohon itu begitu setia pada bukit hingga ia memutuskan untuk meneduhi bukit itu seumur hidup.” (hlm. 215)

Saya merekomendasikan novel ini kepada mereka yang menginginkan sesuatu yang berbeda, baik tokohnya maupun latar kehidupan tokoh. Juga kepada mereka yang merindukan suasana pedesaan di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Bukit dan Satu Pohon di Atasnya – Aira Arsitha

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s