Partitur Dua Musim – Farrahnanda

20140531_121754Judul: Partitur Dua Musim
Penulis: Farrahnanda
Penerbit: deTEENS
Sinopsis: Delapan tahun lalu,si kembar Laroux pindah ke Montreal karena dua buah biola bernilai tinggi. Tapi kehidupan mereka berbuah dengan kehadiran M.Barnabe. Sosok itu mengejutkan The Red dengan dua permintaan yang di luar dugaan. Salah satunya adalah permintaan untuk sebuah simfoni dengan harga sangat tinggi. SImfoni pun berujung pada cinta seorang perancang terkenal dan Monique Barnabe pada dua musisi muda itu. Hingga membuka identitas Scarlet sebagai seorang aseksual. Merasa cintanya ditolak,si perancang busana pun mengincar Crimson yang memang menantikan momen itu.

Tapi siapa sebenarnya sosok M.Barnabe?Ada sesuatu yang disembunyikannya termasuk obsesi untuk mendapatkan dua biola milik sikembar.

_______________________

“Ini tidak wajar. Kau pianis, aku composer, dan kita tidak punya orkestra.”

Crimson mengerang, menjambaki rambutnya. Aku sedikit takut karena kupikir dia mengalami migraine mendadak dan aku khawatir helai-helai rambutnya akan rontok banyak. Tapi, syukurlah kemudian wajahnya berangsur-angsur tenang.

“Pantas aku merasa ada yang janggal.” Suara Crimson terdengar lesu.

“Kenapa?”

“Pesanan simponi itu. aku lupa kalau simponi umumnya dimainkan orkestra.” Crimson terdiam. Aku masih mengamati bibirnya, menanti kalimat lain keluar. Dia menambahkan, “Aku terlalu ceroboh. Vraiment fucke!” (Scarlet, hlm. 14)

Itu adalah awal mula segala kisah di Partitur Dua Musim, sebuah kontrak simponi tanpa orkestra!

Partitur Dua Musim bercerita tentang kembar Laroux yang terkenal dengan nama The Red dalam dunia musik klasik, Crimson dan Scarlet. Keduanya dikontrak membuat dan menampilkan simponi untuk pesta ulang tahun ke-18 anak gadis Monsieur Barnabé, lelaki misterius yang akan membayar jasa mereka 500 dolar. Untungnya mereka bisa mengatasi masalah simponi yang harus dimainkan orkestra itu pada akhirnya.

Di pesta ulang tahun tersebutlah Crimson bertemu dengan Elena Dvorakova, seorang perancang busana terkenal yang memikat hatinya. Akan tetapi, Elena sudah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Scarlet sehingga menolak Crimson mentah-mentah. Crimson pun beralih ke Monique, yang menawarkannya untuk menghabiskan malam berdua. Di sisi lain, Scarlet tidak menolak kehadiran Elena. Sejak saat itu, Crimson mulai menjadi kekasih Monique dan Elena selalu mengejar Scarlet.

Konflik dimulai ketika Scarlet yang mengidap asperger syndrome menepis sentuhan Elena. Elena yang sakit hati akhirnya melampiaskan hasratnya kepada Crimson, mengajak pemuda itu dalam sebuah permainan berbahaya. Sebuah permainan yang mengantarkan Crimson, Scarlet, dan Elena dalam konflik dan rahasia lain. Alasan sebenarnya Monique mendekati Crimson, dosa yang dilakukan si kembar delapan tahun lalu, hingga misteri dibalik biola Stradivarius.

Begitulah cerita Partitur Dua Musim yang ditulis oleh Farrahnanda. Dari awal membaca novel ini, saya sudah membayangkan akan adanya sebuah misteri. Hal-hal yang harus dipecahkan dalam kehidupan penuh dengan musik klasik.

Untuk cerita dan plot sendiri, cukup baik. Saya yakin cerita ini ditulis dengan hati-hati. Terlebih penulis juga telah melakukan riset yang begituuu mendalam dari ucapan terima kasih yang dituliskannya. Dengan ide cerita yang sebenarnya biasa (kisah cinta segitiga), tapi penulis menghidupkan sesuatu yang berbeda (karakter para tokoh, masa lalu mereka, hingga latar belakang musik klasik yang diangkat).

Saya sendiri sangat menikmati kehidupan Scarlet. Saya selalu punya ketertarikan tersendiri pada tokoh yang nerd (well, Scarlet bukan seorang nerd, tapi dia tergolong “aneh” karena menderita asperger syndrome dan saya suka itu). Crimson sendiri bagi saya terasa sangat “biasa” (atau mungkin dia memang didesain seperti itu?). Meski demikian, baik Crimson maupun Scarlet kurang terasa “cowok” dalam penulisan yang dituturkan dari sudut orang pertama ini. (Penulis berganti-ganti antara Scarlet, Crimson, dan Elena dalam menceritakan Partitur Dua Musim.)

Akan tetapi, penulis sudah cukup berhasil memberikan perbedaan menonjol antara Crimson, Scarlet, dan Elena.  Meskipun di awal-awal, saya merasakan Scarlet dan Crimson adalah sosok yang sama. Saya sedikit sulit membedakan mana yang Crimson dan mana yang Scarlet jika penulis tidak membubuhkan nama tokoh yang menjadi “aku” dalam novelnya. Tapi, lama-lama keduanya mulai terasa semakin berbeda.

Untuk Elena sendiri, dia sejak awal sangat berbeda. Meledak-ledak dan arogan—terlalu annoying bagi saya hingga saya melepaskan novel ini sejenak, yang akhirnya saya tahu alasan Elena seperti itu. Dia adalah pengidap kelainan bipolar. Cara bercerita Elena yang membuat sakit kepala itu ternyata ketika dia berada di kondisi “maniak”. Lalu, ketika dia memasuki kondisi “depresi”, dia langsung terasa  sangat berbeda.

Saya harus memberikan acungan jempol untuk penulis yang sudah berhasil menghidupkan kelainan bipolar dan asperger syndrome dalam tokoh-tokohnya. Menjadikan Partitur Dua Musim sebagai sebuah novel dari sudut berbeda.

Meskipun begitu, ada beberapa hal yang tidak saya mengerti.

1. Kenapa si kembar menjadi The Red jika mereka berusaha menyembunyikan keberadaan mereka (karena peristiwa di Lyon delapan tahun lalu)? Mereka pindah karena ingin bersembunyi dan agar tidak bisa terdeteksi, kan? Lalu, kenapa mereka mencari sumber penghidupan lewat sesuatu yang bisa cukup dikenal luas orang?

2. Ketika Elena begitu terpuruk karena sudah mengecewakan Scarlet, kenapa dia masih “main serong” dengan Crimson? Bukankah hal ini berbeda dengan saat pertama dia menawarkan Crimson sebuah permainan? Saat itu dia begitu penuh hasrat dan well saya cukup bisa memaklumi, tapi yang ini? Duh, saya jadi kelas dengan Elena. 😐 (Saya tidak terima sebagai penggemar Scarlet!)

3. Sejujurnya peningkatan hubungan Scarlet dan Elena terasa hanya satu pihak, yaitu di pihak Elena. Saya tidak merasakan peningkatan perasaan Scarlet dalam sisi “aku” Scarlet. Segalanya diungkapkan dari sisi Crimson atau Elena. Mesikpun di akhir Scarlet terasa menyayangi Elena, tapi yang penting kan di bagian awalnya. Pertemuan di pesat Monique, kunjungan Elena ke apartemen mereka, dan scene berikutnya tidak menunjukkan kepada saya bagaimana pendapat Scarlet soal Monique. Lalu, tiba-tiba ditanya Scarlet menjawab bahwa Monique begini dan begitu.

Oya, satu hal pasti yang tidak saya suka dari Partitur Dua Musim adalah desain sampulnya. Jelek. Dua orang yang ditampilkan sangat tidak menggambarkan si kembar, terlebih Scarlet. Di sana salah satu menjadi pemain piano dan satunya seorang konduktor. Oke, Crimson memang pemain piano, tetapi Scarlet bukan konduktor. Scarlet seorang komposer.

Ah, bagian sinopsis juga mengganggu. Di bagian sinopsis saya mendapat tulisan “Scarlet adalah seorang aseksual”. Nah, selama saya membaca Partitur Dua Musim, saya sama sekali tidak mendapatkan tanda-tanda yang mengarah ke sana. Pengertian aseksual yang saya dapatkan:

Seorang aseksual adalah orang yang tidak punya ketertarikan seksual sama sekali dalam bentuk apapun, baik terhadap pria maupun wanita.

Nah, Scarlet memang lebih tertarik pada musik, tapi dia menerima kehadiran Elena, kan? Dia juga berdansa dengan Elena, mengantar gadis itu, bahkan membiarkan Elena masuk dalam hidupnya. Meski dalam deskripsi Scarlet tidak menceritakan soal ketertarikannya, sih.

Ah, satu hal lain yang sangat tidak saya suka, ending. Novel ini sejak awal sudah dikatakan memiliki akhir yang menggantung, tetapi ini bukanlah sebuah akhir yang menggantung. Ini akhir yang tanggung! Bagaimana mungkin saya menerima jika sebuah misteri besar baru diungkapkan di akhir cerita dan … lalu novel ini berlabel “tamat”. Duh. -_-

Saya harap aka nada sekuelnya. Karena, saya yakin saya akan lebih menikmati eksplorasi misterinya ketimbang cinta segitiga yang ada di novel ini. Semoga saja akan ada lanjutannya.

Anyway, saya merekomendasikan novel ini buat mereka yang ingin tokoh-tokoh unik! Serta buat mereka yang menikmati cerita berlatar luar negeri (yang ditulis dengan baik). Selamat datang di dunia Scarlet! ❤

PS. Saya juga masih tidak mengerti kenapa diberi judul “Partitur Dua Musim”. Partitur yang mana yang dimaksud, ya?

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s