The Violinist – D. S. M. Dedelaidae

20140617_090504Judul: The Violinist, My Heart Will Go On
Penulis:
D. S. M. Dedelaidae
Penerbit:
Mazola
Sinopsis: 
“Leff, banyak rindu yang ingin kusampaikan padamu. Terlalu banyak, sampai aku tidak tahu harus bagaimana lagi menyampaikannya. Sulit. Kau tahu itu, kan? Setiap saat, bahkan kau tahu itu, wajahmu terus membelengku tatapanku.”

Vio punya dunianya sendiri. Kepergian Aleffra membuatnya jadi pemuda tertutup. Ia sibuk dengan biola dan nada-nada sedih. Kehadiran Alla, si pemain biola amatir, sama sekali tidak mengusik kesendiriannya. Permintaan Alla untuk menjadi pengajar biolanya pun hanya dianggap angin lalu.

Alla yang semakin penasaran, meminta sahabatnya, Ale, untuk menceritakan semua hal tentang Vio. Dari sanalah ia sedikit demi sedikit tahu alasan di balik semua sikap dingin Vio. Ia ingin mengubah Vio meski caranya tidak akan mudah. Tidak mudah baginya membuat Romeo memalingkan cinta sejati dari sosok sang Juliet….

————————————

Yak, saya bakal mencoba mengulas novel ini lebih dalam. Semoga berhasil membuat mbak-mbak tim editor Diva puas, hehe.

Cerita

Well, sejujurnya jelas kisah roman bukan tema baru dalam dunia pernovelan(?) Indonesia. Terlebih novel roman ber-setting luar negeri. Pada tahun ini, saya banyaaak sekali membaca novel dengan setting luar negeri (sampai saya merasa bosan T_T).

Novel ini bercerita tentang perjuangan Alla membuat Vio meninggalkan masa lalunya bersama Allefra. Vio benar-benar tidak bisa melupakan Leff. Pemuda itu mengabaikan kuliahnya dan selalu bermain violin (dengan alunan yang menyedihkan dan menyayat hati) di mana pun—di kamar, di atap rumah, di Stasiun Termini (tempat kematian Leff). Begitulah Vio, pemuda yang membuat Alla jatuh hati dengan alunan violinnya. Saat itu, Alla tengah menunggu jemputan Ale, sahabat baiknya yang pindah ke Roma. Gadis itu datang ke Roma untuk berlibur dan ternyata dia justru bertemu pemuda yang membuatnya jatuh cinta.

Akan tetapi, Vio jelas tidak membiarkan Alla masuk dalam hidupnya. Pemuda itu benar-benar hidup dalam masa lalu, masa di mana kekasihnya masih hidup dan tersenyum di sisinya.

“Kamu selalu seperti ini, permainanmu benar-benar mengiris. Aku tidak suka. Kalau kamu masih mau bermain violin, atur perasaanmu dulu!” ucap Mbak Rea.

“Ah…!” rutukku.

“Kau benar-benar hidup dalam bayang Allefra!” Mata tajamnya langsung menikampandanganku.

“Dia tidak akan kembali,” tambahnya.

“Mbak tak usah mengingatkanku. Aku lebih tahu!” (Vio, hlm. 73-74)

Pada awalnya Alla tidak tahu, gadis itu hanya tahu Vio bersikap dingin padanya. Pada akhirnya, berkat Ale, penjaga Stasiun Termini, dan Kak Rea (kakak Vio sekaligus guru les violin Alla), Alla tahu mengapa Vio begitu tertutup, dingin, dan tidak peduli. Sejak itulah dia ingin membantu Vio keluar dari masa lalu, serta membuat pemuda itu beralih hati kepadanya. Tapi, pada akhirnya tidak ada yang mengalami hal yang sama seperti Vio.

“Anda salah kalau menganggap dia bodoh. Baginya, tidak ada hal bodoh.” (hlm. 156)

Yup, yang lain hanya tidak mengerti bagaimana rasanya kehilangan yang dialami Vio. Selain itu, bagi Vio menunggu Leff kembali (meski dia juga tahu itu mustahil) bukan hal bodoh. Pemuda itu hanya ingin terus mengabadikan Leff.

Oleh sebab itu, Alla berusaha keras mendekati Vio, meskipun selalu dihardik. Gadis itu juga selalu diusir pergi oleh Vio. Alla tidak menyerah, dia terus berusaha mengeluarkan Vio dari masa lalunya. Karena tidak ada artinya terjebak dalam masa lalu. Sebuah pesan yang penting. :”)

 “Apa ada cara lain untuk menjaga kenangan kalian? Selain kamu larut dalam masa lalumu.”(hlm. 98)

Kamu menegerti, kan, saat seserang terlalu terpaku pada masa lalunya, dia akan berbuat apa? Ya, dialah contohnya. Dia tidak tahu kalau dunia ini luas, juga indah. (diary Alla, hlm. 186)

“Seseorang bilang, larut dalam masa lalu hanya akan membuatku gila.” (hlm. 245)

Alur dan Setting

Novel ini dituliskan dengan alur bolak-balik. Meskipun lalu secara konsisten menggunakan alur maju sepenuhnya di paruh akhir. Meskipun demikian, kadang saya tidak merasakan “keterhubungan” antara kejadian di masa kini dan di masa lalu tersebut. Seperti pada akhir bab 2 dan bab 3.

Pada akhir bab 2, Alla mendapatkan pesan agar segera mendatangi Kak Rea. Lalu, bab 2 berakhir dan memasuki bab 3. Bab 3 dibuka dengan cerita pertemuan Kak Rea dengan Alla, yang saya bingung apakah itu pertemuan pertama atau tidak. Habisnya saya tidak cukup menemukan petunjuk latar waktu yang jelas. Hanya ada di paragraf terakhir sebelum memasuki bagian kejadian yang lain.

Alunan violin Kak Rea di ruang musik les ini berhasil memutar memoriku pada lima bulan yang lalu saat aku berkenalan dengannya. (hlm. 39)

Saya merasakan transisi yang diberikan penulis atas kejadian masa kini dan masa lalu sangat kurang. Seringkali saya mendapatkan diri saya sedang terbingung-bingung sembari berpikir, “Sek, ini lagi di mana dan kapan ya?”

Penggambaran latar tempatnya juga terasa kurang. Saya  tidak merasakan perbedaan ketika Alla berada di kota kelahirannya atau di Roma. Semua terasa sama. Bahkan pada bagian cerita dituturkan dari sudut Vio (seperti pada bagian pertama bab 1), saya tidak tahu bahwa Vio itu tinggal di Roma (kecuali dari kata Stasiun Termini yang muncul kemudian). Terlebih setelah itu masuk ke penceritaan dari sudut Alla, saya sama sekali tidak merasakan antara cerita dari sudut Vio dan Alla dikisahkan dari tempat yang berbeda.

Penggambaran penulis soal keadaan Roma dan bangunan di Italia sana juga … dangkal.

Aku mengedarkan mata ketika sampai di rumah ini. ketakjubanku tak berhenti. Interiornya sungguh mempesona. Mewah. Dan, menarik. Aku menyempatkan diri untuk melihat-liha isi rumah Kak Rea. Suasananya benar-benar terasa. Ornamen-ornamen rumahnya seperti kebanyakan ornamen di Roma pada umumnya. (hlm. 170-171)

Saat itu saya pikir akan ada penjelasan lebih jauh tentang “seperti ornamenn di Roma pada umumnya” eh tapi ternyata tidak ada. D:

Plotnya sendiri berjalan sangaaat lambat. Saya tidak merasakan peningkatan kedekatan antara Alla dengan Vio. Banyak momen mereka yang habis hanya dengan Vio menolak keberadaan Alla. Lalu, mendadak di halaman 190-191, Vio lebih bersikap “terbuka”. Vio mengajak Alla pulang! Oh, mungkin sebentar lagi akan klimaks (lagi pula novel ini hanya setebal 264 halaman).

Akan tetapi, saya segera kecewa kecewa. Tidak ada yang berubah. Vio masih menolak Alla. Bahkan sampai halaman 214 dari buku setebal 264 halaman ini, saya masih merasa berada di tahap menuju klimaks.  Hubungan Alla dengan Vio tidak berubah seperti perkiraan saya di halaman 190-191.

Lalu, penulis memberikan penyelesaian secara sangat … singkat. Dengan cepat segalanya berakhir (dan dengan cara yang membuat saya kecewa karena terlalu cepat). Padahal Alla mengenal sosokVio saja butuh lebih dari setengah novel, eh kok berakhirnya cuma lewat beberapa halaman? Rasanya mengecewakan. 😦

Yah,begitulah kurang lebih pendapat saya tentang The Violinist. Oh, sebelum saya mengakhiri review ini ada beberapa hal yang yang jadi catatan saya. 🙂

1. Dita, sosok yang mengatakan bahwa Alla adalah my dearest enemy-nya itu terasa hanya seperti tempelan. Saya masih bingung kenapa Dita menganggap Alla musuhnya, padahal kemampuan Alla jauh di bawahnya. Saya juga tidak mendapatkan “keintiman” hubungan Alla dengan Dita itu.

2. Guru les violin barunya Alla. Sejak Kak Rea pindah, Alla jelas punya guru les baru. Di halaman 46, tertulis:

Tak jauh berbeda dengan Kak Rea, guru lesku kali ini pun begitu ramah.

Eh tapi tak lama kemudian, di halaman selanjutnya, tepat halaman 47 tertulis:

Berbeda dengan Kak Rea, guru lesku yang baru ini kurang bersahabat.

Lha maksud e piye iki? -_-

3. Ada beberapa kalimat membuat bingung dan mengganggu, entah karena ambigu, aneh, atau terlalu banyak mengulangi kata yang sama. Contohnya:

Aku harus sudha sampai di kampus lima menit dari sekarang, sementara waktu untuk sampai ke Stasiun Termini saja membutuhkan waktu lima belas menit. (hlm. 9)

Dari arah ruang tamu, ternyata Mama didampingi Papa di sampingnya. (hlm. 17)

Akan tetapi, secara keseluruhan tidak cukup menggangu sehingga novel ini masih layak untuk dinikmati.

Well, selamat membaca!

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s