Friendship · Grasindo · Resensi · Young Adult

Oishii Jungle – Erlita Pratiwi

20140618_230029Judul: Oishii Jungle
Penulis: Erlita Pratiwi
Penerbit: Grasindo
Sinopsis: Terkadang kita memerlukan kehadiran wisatawan asing untuk bisa melihat dan menyadari keindahan negeri kita

Demi menonton drama kabuki di Kabuki-za, Tokyo, Shasa bersusah payah mewujudkan keinginan sekaligus menjawab tantangan Akiko-berpetualang ke tempat yang tidak akan terlupakan seumur hidup.

Dibantu Era, partner in crimenya dan Heru, teman sejak SMP, Shasa membawa Akiko dan Kenji berpetualang melihat kehidupan orang utan di pedalaman Kalimantan. Tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting. Bagi shasa yang terbiasa berlibur ke luar negeri dengan fasilitas bintang lima, liburannya kali ini benar-benar menguji mentahnya. Di pulau Borneo, semuanya serba berbeda.

From a big city to the jungle, apakah sebuah ikatan persahabatan akan mampu menjadi sumber energi bagi Shasa untuk mengatasi semua kesulitannya
_______________________

Akhirnya saya beli Oishii Jungle setelah ngebet habis baca review-nya dan tidak beruntung dari ikut GA dua kali. Akan tetapi, saya tidak menyesal membelinya. Serius.

Oishii Jungle bercerita tentang perjalanan Sasha ke Taman Nasional Tanjung Puting (saya yakin pada banyak yang ga tahu, HAHA #nyombong). FYI, Taman Nasional ini ada di Kalimantan (coba googling aja deh) dengan luas yang semakin terancam karena ulah manusia (ihiks, lagi-lagi).

Awal mula Sasha, sang gadis yang terbiasa hidup serba tersedia ini bisa terdampar di Tanjung Puting adalah karena tantangan Akiko, sahabat Jepangnya, untuk membawanya menikmati petualangan di tempat yang tidak akan terlupakan. Bersama dengan Era, partner in crime-nya, dan Heru, seorang teman SMP-nya, Sasha pun membawa Akiko (yang datang bersama kakaknya, Kenji) menikmati petualangan di Tanjung Puting.

“Mumpung masih muda, ayo, hiasi hidup dengan berbagai macam warna. Biar nanti kalau udah tua, kita punya banyak cerita buat anak cucu.” (hlm. 23)

Saya suka temanya. Well, cerita tentang persahabatan yang dibumbui cinta jelas sudah biasa. Namun, cerita yang membawa keindahan alam plus local wisdom-nya? Nah, jelas tidak biasa. Apalagi yang dibawa-bawa adalah Taman Nasional yang benar-benar hutan gitu sampai datang ke sana harus naik perahu kelotok! AAAH, SAYA PENGEN KE SANA JUGAAA.

Mengapa warga negara asing lebih peka dengan keberadaan hewan-hewan yang nyaris punah itu? Mengapa bukan warga negara ini yang terpikir untuk menyelematkan mereka? (hlm. 138)

Taman Nasional Tanjung Puting pertama kali ada karena jasa warga negara asing yang menyadari bahwa orang utan adalah spesies yang sebentar lagi bisa punah. Bagaimana tidak punah jika warga lokal punya hobi makan daging orang utan (setop, jangan komentar, saya juga bergidik pas tahu ini T_T). Duh, kutipan di atas itu nge-jleb banget. Masa kita yang warga negara ini, besar di sini, hidup dari hasil alam di sini, dididik di sini, eh malah tidak peduli. *meratap*

Membaca Oishii Jungle itu seperti menemukan bunga di padang ilalang. Belakangan semua novel yang saya baca berlatar luar negeri. SAYA BOSEEEEEN. Meskipun dihiasi oleh pernak-pernik serba Jepang (habis si Sasha ini hobinya makan kudapan Jepang dan ada tokoh orang Jepang-nya), Oishii Jungle tetap bercita rasa lokal. Cakep.

Alurnya sendiri juga tidak rumit. Sederhana dan maju terus. Khas novel-novel remaja minus prince charming (yang biasanya Gery Stu). Okelah ada Heru yang begitu perhatian, tapi dia tetep koplak saat bercakap-cakap. Ada Kenji yang katanya cakep banget, tapi dia punya obsesi bikin kenang-kenangan foto di semua tempat yang mereka kunjungi.

Sayangnya, banyak bagian-bagian Oishii Jungle yang terlalu melompat. Seperti ketika Sasha mulai berjualan kudapan Jepang, eh di bab berikutnya ternyata Akiko dan Kenji sudah datang ke Indonesia. Saya jadi tidak tahu bagaimana kabar bisnis Sasha. Oh, seperti juga ketika Heru lupa membawa dompet dan tablet Sasha harus dijadikan jaminan, eh saya tidak menemukan kelanjutannya malah buat yang satu ini.

Rasanya Oishii Jungle terlalu ngebut bagi saya. Masih bisa dinikmati dengan menyenangkan, jelas, tapi saya seperti di bawa ke dunia tanpa petunjuk waktu yang jelas. Hanya pada bagian liburan di Tanjung Puting saya merasakan ceritanya berjalan dengan tempo yang pas.

Tokoh-tokohnya juga menyenangkan. Sasha yang menjadi tokoh “aku” dalam cerita adalah gadis manis yang menyenangkan. Era, sang sahabat yang jail, usil, tapi sangat peduli. Heru yang koplak, tapi begitu baik hati. Akiko yang lucu (apalagi pas bicara dengan bahasa Indonesia baku!). Kenji yang pendiam, tapi hobi sekali meminta semua orang berfoto. Semua tokohnya membuat Oishii Jungle semakin menyenangkan untuk dinikmati. =))

Secara keseluruhan, saya suka dan puas dengan Oishii Jungle. Novel ini benar-benar menghibur tanpa perlu banyak berpikir. Terlebih lagi, novel ini membawa saya ke pedalaman Kalimantan! Sungguh pengalaman yang menyenangkan (meski jelas lebih menyenangkan jika menikmatinya sendiri, hihi).

Saya sangat merekomendasikan Oishii Jungle buat siapa pun yang sedang ingin membaca novel ringan dengan latar khas Indonesia. Selamat membaca!

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s