DIVA Press · Resensi · Romance

Carrying Your Heart – Pia Devina

20140627_195555Judul: Carrying Your Heart
Penulis: Pia Devina
Penerbit: DIVA Press
Terbit: Juni 2014


Carrying Your Heart diceritakan oleh Kirana Evalia, sang tokoh utama perempuan. Kirana Evalia, atau yang lebih sering dipanggil Kira, adalah seorang chef yang terbang ke Rotterdam untung menemui ayahnya. Ayah yang tidak pernah ditemuinya sejak kecil.

Berbekal dengan alamat yang didapatkan Kira dari buku harian mendiang ibunya dan seorang bernama Iwan Danutirta—yang mengaku sebagai teman ayahnya—Kira nekat terbang ke Rotterdam. Ah, diserta juga dukungan penuh dari sang kekasih sejak zaman SMA, Rendi Wiryawan. Rendi yang selalu ada bagi Kira terlebih sejak gadis itu kehilangan sang ibu.

“Tapi Papa nggak cinta sama Mama atau aku,” balasku ketus. “If he loves us, he wouldn’t run away.”

“Papa kamu nggak lari. Papa kamu mungkin punya alasan kenapa lebih memilih untuk mengikuti keinginan orang tuanya untuk dijodohkan dan berkarier di Belanda.”

“Itu karena Papa cuma mikirin masalah finansial dan gimana statusnya di keluarga dia yang kaya itu!” Suaraku naik dua oktaf.

Rendi tersenyum, tidak tersinggung dengan tingkahku barusan yang seperti cewek galak sedang marah-marah kepada pacarnya.

“Kenapa kamu ketawa?” sentakku.

Rendi semakin merengkuh tanganku. “Aku suka sama kamu yang seperti ini. Kamu yang selalu bicara apa adanya. You don’t have to hide your feeling. Jangan berubah, ya.” (hlm.35)

Di sana, Kira bertemu dengan Nathaniel Atmadja, seorang fotografer asal Indonesia yang menemani kehidupannya di kota yang asing. Sembari memantapkan hati untuk menemui sang ayah, Kira mengisi hari-harinya dengan menjadi koki di La Angelique. Gadis itu sangat menikmati hari-harinya dengan kesibukan koki dan kebersamaan Nathan.

“Suka dengan brown bean soup-nya tadi?”

Nathan yang malam ini datang ke restoran, tepat lima belas menit sebelum tempat kerjaku tutup, menyunggingkan senyum untukku.

Sous-chef terbaik yang pernah aku kenal.”

Oh, ya. Tepat tiga bulan yang lalu, aku naik pangkat menjadi sous chef. Akhirnya, setelah bekerja selama setahun dan mencoba melakukan semaksimal mungkin apa yang kubisa, pemilik restoran memilihku untuk mengisi posisi ini.

Aku terkekeh, lalu menepuk pelan lengan kanan Nathan. “Masa semua makanan yang aku buat, kamu bilang suka. Jangan-jangan kalau aku masakin air mendidih doang, kamu bakal bilang suka juga.”

Dengan gerakan cepat, Nathan menganggukan kepala. “I will,” sahutnya.

Kami membiarkan tawa kami terurai, hingga menghilang perlahan dengan sendirinya karena interupsi di kepala kami masing-masing.

Beginilah aku dan Nathan. Kami sering kali menghabiskan waktu bersama, sebagai teman baik. (hlm.50-51)

Lalu akhirnya, Om Iwan mengajak Kira untuk bertemu dengan sang ayah. Pertemuan yang membuat Kira ingin berhenti dan melupakan lelaki itu, tapi dia tak bisa. Di sisi lain, dia sadar bahwa perasaannya untuk Nathan tidak lagi berada dalam garis pertemanan sementara Rendi akan segera menyusulnya ke Rotterdam sesuai janji!

Begitulah inti cerita dari Carrying Your Heart karya Pia Devina. Sinopsis di sampul belakangnya benar-benar menggambarkan apa yang akan didapatkan dari novel ini. Oya, berbeda dengan novel-novel DIVA Press sebelumnya yang saya review, novel ini memiliki kesan yang lebih dewasa. Dengan tokoh yang lebih dewasa dan aura kehidupan yang getir.

Meskipun tema yang diangkatnya cukup klise, yaitu cinta segitiga, penyajian di Carrying Your Heart membuat karya ini cukup menyenangkan untuk dibaca. Gejolak batin yang dihadapi oleh Kira tersampaikan dengan baik. Gadis itu jelas tidak ingin mengkhianati perasaan Rendi, lelaki yang telah begitu setia dalam hidupnya, lelaki yang selama ini menjadi rumahnya.

Momen ini, saat lelaki di hadapanku kemudian memelukku sedetik berikutnya, aku menyadari… inilah rumahku yang kupunya selama ini. selama ini, Rendi-lah yang menjadi rumahku. Bukan Nathan. (hlm.91)

Akan tetapi, gadis itu juga tidak kuasa menolak perasaannya yang semakin dalam buat Nathan. Apalagi setelah dia tahu bahwa lelaki itu pernah kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup sebelum ini.

“Kamu. Seseoang yang selalu hadir di dalam hari-hari aku, pelan-pelan harus pergi ninggalin aku. Untuk kedua kalinya, aku ngalamin ini. pertama Tiffany dan sebentar lagi kamu yang pergi.” (hlm. 87)

Kira belum sanggup menghilangkan keberadaan Nathan dari hidupnya. Lalu, seperti yang biasanya terjadi, ketiganya bertemu. Pertemuan yang akhirnya memecahkan konflik dalam novel ini. Padahal saat itu juga Kira baru memutuskan untuk menemui ayahnya sekali lagi. Gabungan antara cinta segitiga dan pencarian ayah ini dituturkan dengan cukup baik. Meski jelas porsi paling besar terdapat di cinta segitiga, sayang sekali karena saya pikir akan lebih seru jika bagian pencarian ayah diperbanyak.

Latar tempatnya sendiri digambarkan dengan sangat baik. Saya merasakan bagaimana kehidupan Kira di Rotterdam. Saya juga meraskaan suasana ketika Kira berada di kota-kota yang lain. Ah, meski kadang deskripsi latar tempatnya itu justru mendistraksi dari cerita utama, seperti pada paragraf di halaman 79. Halaman 79 itu bercerita cukup banyak tentang latar tempat di tengah-tengah percakapan yang cukup penting antara Kira dan Nathan. Rasanya tidak pas dan sangat mengganggu.

Untuk alur sendiri yang digunakan adalah alur bolak-balik. Di tengah-tengah perjalanan kehidupan Kira, penulis menyelipkan kejadian-kejadian di masa lalu. Kejadian yang menceritakan tentang hubungan Kira dengan Rendi serta tentang Kira dengan ayahnya. Ah, hanya kadang-kadang saya merasa transisinya tidak cukup jelas. Lalu, petunjuk waktunya itu justru entah kenapa membuat saya tidak fokus pada cerita dan selalu berpikir, tunggu, ini kejadian setelah yang mana ya? (Atau mungkin saya saja yang sedang lemot ketika membaca novel ini? -_-)

Plotnya sendiri cukup membuat saya berdebar karena memikirkan akan berakhir dengan siapakah Kira. Penulis dengan cakap memainkan perasaan pembaca mengikuti gejolak Kira yang dihadapkan pada pilihan antara Rendi atau Kira. Apalagi dengan dihiasi kutipan-kutipan yang bikin perasaan makin tidak jelas.

“Tapi aku tahu, aku bakalan baik-baik aja asalkan seseorang itu bahagia dalam hidupnya. Walaupun tanpa aku.” (hlm. 87)

“Tapi, dari salah satu novel romance yang aku baca, pulang itu bukan berbicara tentang tempat… tapi tentang dengan siapa kita berada.” (hlm. 93)

“Apa … sekarang adalah waktunya untuk aku ngelepasin tangan kamu biar kamu bisa lebih bahagia, Ra…?” (hlm. 228)

Ah, sayangnya, kejutan di akhir itu membuat saya merasa novel ini justru menjadi terlalu … sinetron. Oke, twist-nya memang memberikan warna menarik, tapi jenis twist hubungan Kira dan Nathan yang seperti ini malah membuat saya tidak lagi terkesan. Saya juga jadi kehilangan rasa simpati pada Nathan. Apa maksud lelaki itu tetap menyimpan rasa pada Kira jika sebenarnya seperti itu? Nathan jadi terasa begitu egois.

Meskipun demikian, saya cukup suka dengan twist perihal Om Iwan. Sayangnya, saya tidak mendapatkan penjelasan yang cukup banyak. Bukan tentang kenapa, melainkan tentang bagaimana. Well, mungkin bukan informasi yang cukup penting untuk disampaikan, ya? Dan mungkin rasa penasaran ini lebih kepada karena ini mirip-mirip dengan trik misteri, haha. :DD

Soal ending­-nya juga saya cukup puas. Kurang dieksplorasi lagi, sejujurnya, tapi cukup memuaskan. Yah, secara keseluruhan novel ini cukup baik dan asyik untuk dinikmati.

PS. Rendi buat saya aja dong kalo begini ceritanya! Sayang banget ada cowok kayak gitu terus malah dibuang. T^T

Advertisements

3 thoughts on “Carrying Your Heart – Pia Devina

  1. pia tuh karya2nya slalu punya ciri khas ya… saya blum baca buku ini sih… tp beautiful sorrow & lovelock mirip2 jg tipenya… slalu menggunakan alur bolak-balik…

  2. Aku juga udah baca novel ini kak..
    Sebenernya kurang puas juga sih, soalnya pencarian ayah Kira belum banyak di eksplor, tokoh Om Iwan juga memiliki rahasia dengan Nathan.
    Tapi salut juga sih dengan penggambaran Rotrerdam, risetnya detail. Dan tokoh favoritnya adalah Rendi. Oh my man! 😀

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s