hanya salah “sebelas” saja

Buka facebook karena mau ngecek grup, eh terus lihat pengumuman dari GagasMedia. Ihiy, seru nih apalagi kalo dapat hadiah, pasti makin seruAkhirnya, saya bukannya melanjutkan tumpukan kerjaan, malah lihat rak buku dan berpikir keras. Haha.

Well, berhubung temanya adalah “11 Buku GagasMedia yang Wajib Dibaca”, berikut ini adalah 11 buku GagasMedia yang tidak terlupakan dan abadi dalam ruang favorit saya, hihi. Anyway, semuanya novel nih, habisnya saya tidak begitu tertarik non-fiksi. Hehe.

Lagi pula kalo harus ditambahin non-fiksi, bisa-bisa saya makin pusing buat milih. Milih 11 ini aja udah ruwet sendiri. #yaterus

Ini penampakan 11 buku GagasMedia versi saya.

20140704_125057

Oh, ternyata hanya ada 8, ya? Hm, dua buku belum dikembalikan sih. (Mungkin yang meminjam dan membaca novel ini bakal berkata, “Ih, Wardaaah, kan udah mau dibalikin tapi belum sempat”. :V) Sedangkan yang satunya lagi, saya tidak beli, tapi minjam sih, hehe.

Jadi, yuk, biarkan saya membahas satu per satu buku-buku tersebut. 😀

1. Eclair: Pagi Terakhir di Rusia (Prisca Primasari)

Novel inilah yang membuat saja jatuh cinta sama GagasMedia—serta sama novel-novel karya penulis dalam negeri, khususnya Prisca Primasar. Sebelum-sebelumnya, saya sangat jaraaaang membaca novel dengan nama pengarang dalam negeri. Well, memang sih Eclair itu berlatar luar negeri (meski ada bagian di Indonesia-nya sih), tapi novel ini yang membuat saya akhirnya memburu karya-karya pengarang dalam negeri, khususnya terbitan GagasMedia. Kesimpulannya, novel ini adalah titik-balik kecintaan saya pada GagasMedia.

Semua ini berkat jasa Sacchan yang memperkenalkan saya pada karya Kak Prisca. :”) *jadi inget hari ketika ketemu Sacchan sekitar tiga tahun yang lalu hihi*

2. Unforgettable  (Winna Efendi)

Saya suka setengah mati sama karya kak Winna yang ini. Cakep. Dalem. Indah. Saya nemu buku ini sudah cukup lama sejak diterbitkan. Saat itu saya sedang ingin membaca, tapi saya tidak punya judul buku. Alhasil, saya berkeliling di Gramedia Yogyakarta dan melihat-lihat buku-buku yang sudah terbuka di sana, hehe (lumanya, itung-itung teaser XD eh tapi bukan saya kok yang buka). Lalu, bertemulah saya dengan Unforgettable. Dan … saya langsung terpesona.

Tidak ada nama tokoh yang digunakan sebagai kata ganti orang ketiga di novel ini. Hanya ada “perempuan” dan “lelaki”. Ceritanya sederhana, tapi pengemasannya luar biasa indah. Cakep. Banget.

Habis itu, saya langsung mencari buku ini ditumpukan yang sudah sedikiiiit banget. Berusaha mendapatkan yang masih terbungkus plastik dengan baik. Setelah membayar di kasih, saya keluar deh dari gedung Gramedia. Eh, di depan halaman saya melihat ada setumpuk tinggi Unfogettable yang didiskon (saat itu ada event di Gramedia) dan saya langsung terpaku (maklumlah, cewek #pembenaran). Kalau diingat saya jadi nyesek-nyesek gimana gitu. Tapi, tidak masalah, ini novel yang harus saya punya! :”)

3. Montase (Windry Ramadhina)

Jujur, saya tidak tertarik dengan novel ini. Apalagi GagasMedia tidak mencantumkan sinopsis pada bagian sampul belakang sehingga saya tidak mendapatkan gambaran sebenarnya ini novel apa. Akan tetapi, lantas, saya melihat salah satu novel ini terbuka di tumpukan buku (iya, seperti novel Unforgettable di atas). Dengan iseng, saya membuka halaman tengah dan … saya langsung mengembat satu untuk dibawa pulang (setelah lebih dahulu dibayar tentu saja XD).

Montase adalah judul yang membuat saya jatuh cinta dengan Kak Windry. Ceritanya tidak berakhir bahagia, tapi saya tidak tahu kenapa dan bagaimana Kak Windry bisa mengemasnya sehingga alih-alih merasa kecewa dan sakit hati, saya justru puas. Saya sangat puas dengan akhir Rayyi dan Haru. Ini novel yang paling saya rekomendasiin buat orang yang membenci sad-ending (supaya sadar bahwa ada kon sad-ending yang tidak membuat mewek).

4. Notasi (Morra Quatro)

Saya membeli novel ini dengan dua alasan: 1) ada kata “Pogung” di halaman sampul belakang, dan 2) mengangkat peristiwa 1998. Ini novel yang sangat-sangat-sangat unik bagi saya. Penuh dengan hal-hal yang saya akrabi, Yogyakarta, Fakultas Teknik UGM, Pogung, gedung KPTU (sekarang KPFT), BEM, hingga aktivis mahasiswa.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala ketika membaca cerita Nalia dan Nino yang disuguhkan Kak Morra dalam Notasi. Eh, sambil pengen menjerit sih, “SUMPAH INI IDENYA DARI MANAA!?” #ganyante

Habis itu, saya langsung memburu karya Kak Morra lainnya (yang idenya juga sangat-sangat unik). Ini salah satu novel terbaik GagasMedia karya kak Morra, bagi saya pribadi.

5. Kei (Erni Aladjai)

Ini novel hadiah yang saya pilih sendiri dari seorang teman. Ada cap “Pemenang Unggulan Dewan Kesenian Jakarta 2012”. Novel ini tidak tersentuh sejak saya mengambilnya di September 2013. Baru belakangan ini saya merampungkannya. Dan saya hanya bisa ber-Aduh-ini-keren-pakai-banget.

Saya naksir pada: 1) latar tempat dan waktu yang digunakan, di Pulau Kei saat kerusuhan, dan 2) isinya yang dipenuhi adat, budaya, bahasa, kehidupan di Pulau Kei. Membaca novel ini, saya jadi ikut dalam petualangan Namira dan Sala di tengah kerusuhan itu. Saya seolah berada di sana, menyaksikan sendiri, mengalami sendiri, dan menggigil ketakutan sendiri. Salut banget buat Kak Erni Aladjai yang pasti risetnya tidak main-main untuk menyelesaikan novel ini.

6. Memori (Windry Ramadhina)

Ini novel kak Windry yang paling-paling-paling saya suka. Buat pecinta drama, kisah keluarga, slice-of-life, Memori adalah novel yang paling saya rekomendasikan. Melalui Memori, saya diajak untuk menikmati kisah keluarga Mahoni dan mengeal Sigi. Kisah di sini adalah satu dari sedikit kisah yang membuat saya bercucuran air mata. Novel ini adalah novel GagasMedia yang membuat saya menuliskan fanfiksi! Iya, saking saya sukaaaa sama novel ini, saya lalu menuliskan fanfiksinya di blog ini. :”D

Saya mendapatkan Memori dari seorang teman yang sangat baik. Saat itu, novel ini sudah sangat jaraaang ditemui. Saya sudah mencari ke cukup banyak toko buku hingga ke toko buku online, tapi nihil. Lalu, seorang teman yang sangat baik itu memberikan novel ini pada saya. Ah, sungguh, terima kasih. :”)

Anyway, saya jadi ingat bahwa novel ini sampai sekarang belum dikembalikan. Hm. *siap-siap buat nagih*

7. Forgiven (Morra Quatro)

Iya, Kak Morra lagi! Dan, iya, ini semua karena idenya, lagi!

Forgiven itu juga sangat dekaaat dengan saya, Teknik Fisika, Nuklir, Yogyakarta… Ah, sumpah, kak Morra itu memang jagonya soal membuat novel yang unforgettable. Di sini, saya lagi-lagi dibikin naksir dengan Will. Meskipun hubungan mereka tidak berakhir bahagia, tapi novel ini menyentuh.

Membaca Forgiven itu seperti mendengar cerita dari mulut Karla sendiri. Di dalamnya penuh dengan cerita semasa SMA, menyinggung kekacauan politik Indonesia tahun 1998, hingga mimpi-mimpi anak bangsa. Saya suka banget sama novel ini karena pesan yang disampaikan begitu ngena, tentang memaafkan—sesuai judulnya. Very recommended! :”)

8. Melbourne: Rewind (Winna Efendi)

Saya tidak tahu kenapa karya kak Winna yang satu ini tidak bisa saya lupakan. Ceritanya sederhana—khas Kak Winna. Entah kenapa saya sampai sekarang masih mengingat dengan sangat lekat kisah Max dan Laura. Tentang kecintaan Max pada cahaya. Tentang walkman. Tentang pertemuan-pertemuan di kedai kopi. Tentang peristiwa di pantai. Tentang perpisahan. Tentang pertemuan setelah perpisahan.

Kak Winna berhasil menulis Melbourne dengan gaya tulisan yang terasa berbeda dengan karya-karyanya yang lain. Sumpah, saya salut. Lalu, hal yang paling bikin saya cinta sama novel ini adalah rasa manis yang ditawarkan tanpa adanya adegan romantis. Iya, Melbourne bagi saya tidak berisi adegan-adegan romantis khas novel roman. Akan tetapi, segala hal yang dilewati Max dengan Laura bagi saya sangat-sangat manis serta realistis. ❤

Hm, mungkin itu alasan Melbourne menempel kuat dalam benak saya.

9. Rhapsody (Mahir Pradana)

Nah, kalau yang satu ini, saya suka karena pesan yang dibawanya dan karena latarnya. Rhapsody berisi penuh dengan hal-hal yang Indonesia-banget. Juga berisi penuh dengan perjuangan dan mimpi Al untuk berkontribusi bagi negerinya.

Rhapsody mengajarkan saya bahwa Indonesia itu masih punya pemuda-pemuda luar biasa yang bertekad memajukan bangsanya, seperti Al—serta Bang Mahir yang berhasil memperkenalkan kotanya melalui novel ini. Membaca Rhapsody seperti mendengar Bang Mahir berkata, “Ini salah satu caraku mewujudkan mimpi dan berbakti pada negeri, mana caramu?” #mojok

Salut banget sama Bang Mahir yang menulis Rhapsody. :”3

10. Unfriend You (Dyah Rinni)

Ini novel teenlit yang sangat tidak biasa. Unfriend You adalah salah satu dari sedikit novel teenlit yang realistis. Mengangkat tentang bullying, salah satu kehidupan remaja yang jaraaang saya baca dalam novel-novel. Memang ada bagian yang terlalu “waw, ini seriusan anak SMA?” gitu, tapi tetap saya kak Dyah Rinni menceritakan dengan meyakinkan.

Novel ini cukup tipis. Sangat padat, tapi tidak ada bagian yang terasa bolong. Dalam banget dan butuh mikir juga, berbeda dengan novel teenlit kebanyakan. Karakternya juga nyata dan sangat hidup—serta sangat remaja. Dan yang paling saya suka dari Unfriend You adalah Langit Lazuardi! AAAAAH! Saya memang tidak bisa tahan dengan cowok geek berkacamata yang baik hati gini. Sayang terlalu muda, ihiks. #EH

11. Bangkok: The Journal (Moemoe Rizal)

Novel ini saya letakkan terakhir bukan karena apa-apa, tapi karena saya belum selesai membacanya. Meski belum selesai, saya masukin Bangkok dalam list karena cara penulisan latar yang keren, mendetail, dan bikin bibir saya membulat. Bang Moemoe Rizal (hihi, namanya unyu padahal #EH #dilempar), sukses banget membuat cerita yang jadi seperti perjalanan saya sendiri. Selain itu, sebenarnya saya naksir sama Edvan! Habis dia membawakan Bangkok dengan sangat kocak! Jarang-jarang saya naksir sama cowok narsis gini, padahal. XD

Well, satu hal yang membuat saya menunda menamatkan Bangkok adalah … isu trans-gender yang diangkat. Yah, semoga saya segera bisa menyelesaikan Bangkok. 🙂

—-

Nah, begitulah 11 buku GagasMedia yang wajib dibaca versi saya. Iyap, ini hanya salah “sebelas” saja dari sekian banyak buku GagasMedia lainnya yang menemani hidup saya. :”)

Sungguh, saya bersyukur telah mengenal GagasMedia (sekali lagi, terima kasih Sacchan!). Sejak membawa pulang Eclair, buku terbitan GagasMedia adalah buku yang paling banyak memenuhi rak buku saya—oh, selain buku-buku kuliah yang super tebal sih.

Terima kasih atas buku-bukunya selama ini, GagasMedia. Terima kasih atas cintanya! Semoga suatu hari saya akan melepas titel “Pembaca-GagasMedia” dan naik tingkat menjadi “Penulis-GagasMedia”. Amin, hihi. :”D

Terkhir, Selamat Ulang Tahun! ❤

perfect-slice-of-birthday-cake

Advertisements

7 thoughts on “hanya salah “sebelas” saja

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s