de TEENS · Resensi · Thriller · Young Adult

Imaji Dua Sisi – Sayfullan

20140706_063902

Judul: Imaji Dua Sisi
Penulis: Sayfullan
Penerbit: de TEENS
Sinopsis: “Lin, mana mungkin kita bisa melalui satu tahun lebih bersama tanpa ada cinta? Mana logis ikatan kita ini hanya karena hanya feromon yang sampai sekarang pun masih tersimpan di lemari pendingin laborat!” 
“Bohong! Aku tak lagi mempercayaimu, Bum! Atau, minyak itu sekarang telah habis hingga aku merasa tidak ada lagi cinta antara kita!”
“Kamu kenapa, Lintang? Karena sikapmu berubah?” 

Sebagian orang percaya, ada hal lain yang membuat hati merasakan cinta pada orang lain. Bukan perkara dari mata turun ke hati, tapi sesuatu yang misterius melalui sebuah eksperimen kimiawi yang tidak mudah….


Imaji Dua SIsi bercerita tentang Lintang, Bumi, dan Bara. Lintang, seorang gadis yang terluka sehingga bersikap begitu defensif di hadapan laki-laki, Bumi, seorang pemuda cupu dengan impian-impian gila dan kenangan-kenangan buruk, serta Bara, seorang pemuda supel yang ternyata menyimpan penderitaan. Ketiga orang ini dipertemukan dalam sebuah kelompok ospek saat menjadi mahasiswa baru. Selayaknya kisah dengan tiga orang tokoh, Imaji Dua Sisi juga berkisah tentang cinta segitiga dan persahabatan.

Ide cerita Imaji Dua Sisi sudah sangat sering diangkat dalam novel roman. Hal yang belum pernah sebelumnya saya saksikan dari novel ini adalah unsur kimianya yang kental. Bukan sekadar menjadi “kesukaan” tokoh, melainkan menjadi hal-hal yang digunakan untuk membangun tokoh Bumi. Iya, mimpi-mimpi Bumi adalah sesuatu yang kental hubungannya dengan kimia.

“Terkadang, saya punya ide untuk bisa mengekstrak rasa cinta, Lin.” (hlm. 157)

Benar sekali. Ide tentang ekstrak cinta inilah yang membuat saya terus membaca Imaji Dua Sisi. Oh tentu saja tidak mudah dipercayai, bukan?

“Mana bisa sesuatu perasaan yang tulus dalam hati yang disebut oleh umat manusia dengan cinta sanggup diekstrak? Coba katakan, apa pelarut yang digunakan?” (hlm. 159)

(Oya,penggunakan kata “sesuatu” di kutipan di atas itu tidak tepat. Sebaiknya menggunakan kata “suatu”, deh. Ada beberapa kalimat yang juga seperti ini, tidak klop atau sedikit ambigu. Namun, tidak cukup mengganggu jalan cerita.)

Akan tetapi, Bumi punya caranya sendiri. Penasaran dengan cara Bumi melakukan ekstrak rasa cinta? Silakan baca dalam novel ini. Meski, saya belum pernah dengar tentang ini sih jadi kebenaranya saya juga tidak tahu. Mungkin ada yang ingin mencoba? 😀 #EH

Bagian prolog, bagi saya adalah bagian yang luar biasa memikat. Membaca bagian prolog membuat saya tidak merasakan bahwa ini adalah novel roman—terlebih sinopsisnya juga lebih ke penggalan adegan. Saya justru berpikir Imaji Dua Sisi akan berakhir menjadi novel thriller menegangkan yang berbau kriminalitas. Apalagi dituliskan dari sisi Bumi yang rada psycho. Duh, jadi makin terasa menegangkannya.

Sekarang, jiwa bejat saya hanya memberi dua pilihan pada diri saya sendiri. Mati… atau perempuan ini harus menjadi milik saya. Dengan kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan, sepertinya pilihan kedua adalah takdir saya.

Motif saya itu membuat otak harus bekerja serta kembali bercinta dengan teori-teori dan bahan kimia. Dengan cermat, saya pun mengumpulkan rencana demi rencana. Satu rencana percobaan telah saya genggam. (hlm. 10)

Namun, akhirnya saya harus puas dengan lebih banyak kisah yang dituturkan dari sisi Lintang. Yah, Imaji Dua SIsi ini memang menggunakan sudut pandang orang pertama yang berganti-ganti. Kata ganti “saya” untuk Bumi, “aku” untuk Bara, dan “gue” untuk Lintang. Semuanya ditulis dengan alur maju. Ah, meski ada bagian penceritaan masa lalu sedikit sih.

Seperti mayoritas novel cinta segitiga, Bara dan Bumi berakhir mencintai Lintang. Keduanya dengan cara mereka sendiri. Lintang sendiri masih belum jelas memilih siapa. Meski demikian, setelah kegiatan ospek berakhir, Lintang berkata bahwa dia telah menentukan pilihannya setelah dia harus menelan kenyataan pahit dengan orang yang dia cintai sebelumnya. Lintang punya masa lalu yang dramatis, ditinggal menikah kekasihnya.

“Setiap orang di sini pasti pernah merasakan patah hati, kan? Tapi, bukankah itu tak lantas membuat seseorang harus berhenti berjalan? Mengakhiri hidupnya, meraih mimpinya? Mungkin juga cinta barunya yang sebanarnya telah disediakan oleh Tuhan?” (hlm. 252)

Nah, setelah itu konflik demi konflik pun terjadi. Bara berkata mendukung Bumi dan meminta Bumi mengungkapkan perasaan pada Lintang. Akan tetapi, saat itu, Lintang juga tengah meminta bantuan Bara untuk mengakhiri masa lalunya dan mereka pergi bersama. Momen yang juga dilihat oleh Bumi dan membuat Bumi bertekad merealisasikan impian gilanya, membuat ekstrak cinta—untuk merebut Lintang dari Bara.

Lalu, setelah perjalanan Lintang dalam menyelesaikan masa lalunya, Bumi dan Bara seketika hilang dalam kehidupannya. Lintang mendapati Bumi sedang berusaha mewujudkan impian gilanya dan gadis itu berusaha mencegah. Akhirnya, konflik pun terselesaikan. Bagian ini, menurut saya, seperti kejar-kejaran. Ada banyak momen dramatis yang tidak cukup terkeksplorasi.

Ah, akan tetapi, ternyata itu tidak berakhir. Pada halaman-halaman semakin akhir, Sayfullan membuat satu konflik baru. Konfilk yang akhirnya membuat saya justru membenci Bara. Sejak awal saya memang tidak simpati dengan Bara—meski dia memiliki penderitaan yang cukup berat. Akan tetapi, saya masih tidak mengerti kenapa dia harus membuat novel itu. Untuk menghancurkan segala hal antara Bumi dan Lintang?

Saya juga sebenarnya jadi tidak mengerti dengan Lintang. sebenarnya siapa yang gadis itu pilih? Bara atau Bumi? Karena, duh, gimana, ya, kalau saya lanjutin nanti malah spoiler. D:

Ah, sudahlah, yang pasti ending-nya bagi saya menjadi kurang memuaskan karena ada bagian-bagian yang akhirnya masih menjadi rahasia. Apakah penulis ingin memunculkan kesan misterius? Duh, tapi sebagai pembaca saya justru merasa “duh” banget.

Novel ini sendiri bagi saya menarik. Karena ada analogi teori kimia dengan kehidupannya. Ini nih yang paling ngena. :’D

“Begitulah harusnya kita menghadapi masalah hidup. Cobaan hidup ini layaknya asam asetat yang pekat. Masam dan bau. Tapi, jika hati kita bisa seluas sungai dalam menerima atau mau untuk belajar ikhlas, cobaan itu tak akan pernah terasa.” (hlm. 242-243)

Lalu, juga ada tokoh geek seperti Bumi—maaf, ya, saya memang penggemar geek. Sayangnya, Bumi terlalu pengecut. Meskipun, sisi psycho Bumi dalam prolog juga sih yang membuat saya penasaran dengan novel ini. (Tapi saya kecewa karena sepanjang jalan cerita, Bumi hanya kebagian sedikit tempat jadinya masa lalu Bumi kurang tereksplor. Bagian Bara juga kurang. Justru punya Lintang yang “kebanyakan”. Padahal pas baca prolog, saya pikir tokoh utamanya Bumi, bukan Lintang. Dan padahal lagi, masa lalu Bumi atau penderitaan Bara bisa lebih digali supaya Imaji Dua Sisi menjadi lebih kaya.)

Imaji Dua Sisi menawarkan kisah cinta segitiga yang sedikit berbeda dengan novel kebanyakan. Diselingi teori-teori kimia, impian-impian gila, aura psikopat, dan masa lalu dramatis (well, “kelewat” dramatis, sebenarnya), Imaji Dua Sisi cocok menjadi bacaan roman dengan nuansa gelap. Selamat membaca!

PS. Saya yakin bakal lebih suka novel ini jika aura psikopatnya lebih dalam. ._.

 

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s