[review] You’re Not Funny Enough

20140706_064104

Judul: You’re Not Funny Enough
Penulis: Jacob Julian
Penerbit: PING!!!
Sinopsis: Apa artinya penonton yang tak tertawa saat seorang comic—stand-up comedian melontarkan joke? Itu berarti kariernya tamat!

Itulah yang dialami Jamie. Dia merasa gagal. Gagal menghibur orang. Gagal berkarier sebagai pelawak. Juga gagal dalam urusan bercinta.

Jamie memutuskan hengkang dari kota kelahirannya menuju Pulau Kalimantan. Ia bertekad melupakan stand-up comedy dan mencari pekerjaan yang layak. Namun, di atas kapal, Jamie justru ditodong untuk tampil oleh Fey dan

Luka, pasangan yang sangat menyukai stand-up comedy.

Nah, apa Jamie mesti menolak atau menerima todongan itu?

Ikuti perjalanan titik balik hidup Jamie dalam mencari jati diri dan passion-nya.


You’re Not Funny Enough bercerita tentang Jamie, seorang comic yang kariernya hancur. Apalagi setelah Jamie ditinggal oleh pacarnya, Sonya, yang selama ini terus mendukungnya.

“Kau sudah move on, Bro. Kau sudah sering menjelek-jelekan dirinya di materimu. Apa itu tidak cukup?”

“Belum ketika kota ini masih memberatkan diriku akan kenangan tentangnya.” (hlm. 63)

Berkat bantuan sahabatnya, Beni, Jamie memang masih bisa terus menghibur tapi semakin sedikit tawa yang terdengar ketika Jamie berdiri di atas panggung. Akhirnya, pemuda itu memutuskan untuk menggelar pertunjukan terakhir di kafe Beni. Pertunjukkan yang mengantarkan Jamie pada kesimpulan bahwa stand-up-comedy memang sudah mati di negeri ini dan dia harus mencari peruntungan lain di tempat lain.

Akan tetapi, dalam kapal yang membawanya ke Kalimantan, Jamie diminta tampil oleh Fey dan Luka. Penampilannya ini disambut cukup banyak tawa, tapi belum cukup untuk membangkitkan semangatnya kembali ke dunia stand-up-comedy. Sayangnya, Banjarmasin—kota yang dituju Jamie—ternyata jauh lebih keras. Jamie yang hanya berbekal ijazah SMA harus puas dengan pekerjaan sebagai tukang bersih-bersih di toilet.

“Aku bukannya mau meledek, tapi sekarang ijazah itu hanya kertas berstempel. Yang dibutuhkan itu skill-mu dan keahlianmu untuk mempengaruhi orang.” (hlm. 128)

Pekerjaan itu membuat Jamie mengenal Gaiman, seorang lelaki tua yang dulu pernah dikenal sebagai pesulap handal. Sama seperti Jamie, sulap dan sirkus yang dulu menaunginya dikalahkan oleh hiburan yang lebih berteknologi. Melalui perkenalan itulah Jamie mendapatkan kesempatan demi kesempatan untuk membangkitkan kembali dunia stand-up comedy yang semakin terlupakan. Sebuah cita-cita yang awalnya Jamie buang ketika menaiki kapal menuju Banjarmasin.

Begitulah kisah Jamie dalam You’re Not Funny Enough. Temanya sendiri unik. Ini kali pertama saya membaca novel tentang kehidupan seorang comic. Apa yang dibawa memang sudah biasa, tentang perjuangan meraih cita-cita, tapi karena cerita ini dibawa oleh seorang tokoh comic, You’re Not Funny Enough memberikan cita rasa yang berbeda. Saya sangat menikmatinya.

Banyak sekali quote yang nyentil banget tentang perjuangan meraih impian ini. Serta tentang kesempatan, tentang dedikasi, tentang keseriusan. Duh. :’)

“Ada kalanya kita berada di sebuah posisi di mana kita akan melangkah atau jalan di tempat. “ (hlm. 61)

“Kalau kau ingin mencari hal yang baru, hal yang belum pernah kau temui, jangan pernah pergi ke tempat yang kau bisa menempuh rumahmu selama tiga jam perjalanan.” (hlm. 67)

Dia merasa setiap profesi pasti akan mendapatkan keuntungan bila individu yang menjalani profesi itu benar-benar berdedikasi penuh dengan profesinya. (hlm. 73)

“Dan jangan lupa, yang namanya usaha itu selain ada doa dan juga kerja keras, ada yang lebih penting. Kesempatan.” (hlm. 122)

“Aku terlanjur jatuh cinta dengan duniaku. Dunia hiburan. Melihat orang bahagia sekali lagi… itu sudah cukup.” (hlm. 146)

“Orang yang berusaha tidak akan terlihat lemah dan berputus asa atau mengajak orang lain berusaha untuk merasakan kepedihan dirinya.” (hlm. 158)

“Yang jelas, kesempatan bukan keberuntungan.” (hlm. 160)

“Kau berpikir bahwa dirimu dan duniamu kacau, maka jadilah kekacauan itu.” (hlm. 170)

“Memang sudah saatnya kamu itu berkembang. Pergi ke dunia luar. Walau mereka kejam, setidaknya mereka akan takut padamu bila kau kuat.” (hlm. 251)

Penggunaan sudut pandang orang ketiganya dalam novel ini juga tidak membuat saya jauh dari Jamie. Saya ikut merasakan kegelisahannya, ketakutannya, kegalauannya, kegigihannya, dan segala perasaannya. Bang Jacob Julian sukses! 😀

Plotnya sendiri terbangun dengan apik. Mulai dari awal keterpurukan Jamie, lalu memasuki masa-masa kehidupannya yang sulit, disusul dengan datangnya sebuah kesempatan, dan ditutup dengan akhir yang memuaskan.  Semuanya disusun dengan alur maju sehingga membaca You’re Not Funny Enough itu tidak perlu menengok kenangan di masa lalu. #gagitu

Meskipun demikian, bagian akhir ketika Jamie semakin sukses kata saya terlalu cepat. Ditulis seperti ringkasan. Perasaan Jamie kurang dalam dieksplor, beda dengan bagian-bagian awal.

Oya, saya juga kurang merasakan “kesan” Madiun yang menjadi kota asal Jamie. Deskripsi pada bagian-bagian awalnya itu justru membawa saya pada sebuah kota kecil di luar negeri. Memang sih saya belum pernah ke Madiun, tapi seriusan saya tidak merasa deskripsi latarnya itu “Indonesia banget”. Apalagi ketika banyak percakapan soal “bir”. (Kalau ini mungkin karena saya tidak pernah main ke kafe-kafe seperti kafe Beni. :|)

Tokoh-tokohnya sendiri cukup banyak tapi semua punya karakter. Hanya saja ada cukup banyak yang kurang tereksplor. Seperti, kenapa Fey ditinggalkan begitu saja oleh Luka? Kenapa Gaiman merasa tertekan ketika walikota menjadi penontonnya? Duh, hal-hal itu membuat saya penasaran tapi saya tidak mendapatkan jawabannya. Seolah penulis memaksa agar jalan ceritanya bisa seperti ini tapi tidak ada alasan yang cukup.

Di sisi lain, juga ada banyak kebetulan antara Fey dan Jamie. Pertemuan di kapal dari Samarinda itu yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi, tapi eh terjadi. Bagaimana mungkin mereka bisa berada dalam satu kapal lagi padahal ada banyak jadwal kapal dan ada banyak juga hari-hari yang sudah terlewati setelah pertemuan sebelumnya. Kok Fey masih ada saja di kapal dari Kalimantan sih? Memangnya gadis itu tidak berkenala ke pulau atau tempat-tempat lain? -_-

Lalu, ada cukup banyak kalimat ambigu, kalimat tidak efektif, dan kalimat tidak pas yang saya temui.

“Di kafe ini ada pertama kali orang stand-up siapa?” (hlm. 10)

Mungkin sebaiknya diganti: “Di kafe ini siapa orang yang pertama kali melakukan stand-up comedy?”Atau kalimat-kalimat lain yang lebih membuat kalimat di atas tidak perlu dibaca dua kali untuk paham.

Sambil menikmati sarapan pertamanya di kota ini, Jamie mulai mencari info terbaru di kota ini. (hlm. 116)

Penggunaan kata “kota ini” dua kali dalam satu kalimat.

Dengan menyalakan sebatang rokok dengan korek yang baru dibelinya di kedai tadi, dia menikmati suasana taman kota sampai tak terasa sudah batang kelima yang dia habiskan tanpa bergerak di tempat duduknya. (hlm. 119)

Ada banyak kegiatan yang dilakukan Jamie dalam satu kalimat sehingga terlalu banyak pemakaian kata “yang”. Sebaiknya dipisah menjadi dua kalimat.

Jamie hanya ingin tidak mengecewakan siapa pun. (hlm. 217)

Mungkin sebaiknya diubah menjadi: Jamie hanya tidak ingin mengecewakan siapa pun.

“Saya juga curiga kalau orang ini jarang kena macet, karena di setiap jalan yang ia lewati, dia tidak pernah ke mana-mana selama hidupnya.” (hlm.224)

Nah, ini maksudnya apa ya? Kalimat sebelum tanda koma yang kedua mengungkapkan “di setiap jalan yang ia lewati”, eh lalu setelah koma kalimatnya justru “dia tidak pernah ke mana-mana”. Jadi sebenarnya, si dia dalam kalimat itu pernah lewat jalan atau tidak? 😐

“Lebih banyak kesedihan yang buat untuk menghasilkan tawa, lebih banyak sengsara yang akan kau rasakan pada akhirnya.” (hlm.275)

Kata “buat” di sana membuat kalimat menjadi jangal dan sulit dipahami maksud sebenarnya. Apa maksudnya “dibuat” dan bukan “buat”?

Oh, lalu saya juga menemukan hal aneh. Pada halaman 16, dikatakan “Sekitar hampir sepuluh orang memadati kafe Beni dan itu merupakan kapasitas penuh kafenya” tetapi di paragraf berikutnya ada kalimat “Bahkan, ada yang dari luar pulau dan berhasil mendatangkan sekitar seratus lima puluh orang pada acara itu….”

Jadi, kapasitas kafe Beni berapa orang, ya?

Selain dari hal-hal di atas, You’re Not Funny Enough adalah bacaan menarik. Penuh dengan perjuangan Jamie dalam menggapai impian di dunia yang digeluti, stand-up comedy. Dunia yang tidak sesederhana kelihatannya dan harus dijalani dengan penuh kesungguhan.

Membuat orang lain tertawa adalah sebuah seni yang sulit dan Jamie tahu itu. (hlm. 26)

Comic seperti seniman. Dia butuh waktu untuk memoles karyanya agar saat ditampilkan menjadi sebuah masterpiece yang akan dikenang sepanjang masa.” (hlm. 37)

Petualangan yang patut untuk diikuti, apalagi oleh mereka yang sedang galau dalam meraih cita-citanya. Bacaan yang sangat saya rekomendasikan (apalagi jika sudah lelah dengan novel roman yang belakangan sangat menjamur).

Selamat membaca!

Advertisements

9 thoughts on “[review] You’re Not Funny Enough

  1. Wah, berarti editornya kurang teliti ya? Hehehe…
    Tapi sepertinya menarik. Pijem dong~ (gimana cara?) Hahaha

    • Masih butuh banyak latihan lagi sebenarnya, Mbak. >_<
      Tapi makasih, hehe.

      Yang ditulis benar-benar emang punya Diva. Habis saya anggota Klub Resensor Diva, Mbak.

  2. Perjalanan dalam menggapai impian ya? sepertinya buku ini menarik 🙂 dalam review juga dijelaskan dengan detail isi bukunya, mulai dari kutipan, alur, hingga koreksi tentang kalimat yang mengganjal 🙂

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s