PING!!! · Resensi · Romance

Cherry – Iit Purnama Asri

20140917_200934

Judul: Cherry
Penulis: Iit Purnama Asri
Penerbit: PING!!!
Tebal: 200 halaman


 

“Aku akan ke Jepang dan mengambil sekolah maskot pada ahlinya, Choko Oohira.” (hlm.18)

Itulah impian Lee So Young, sang peraih nilai terbaik ketika ujian kelulusan SMA—juga dari SMA terbaik di Korea Selatan. Berlawanan dengan semua teman-temannya yang sibuk dengan persiapan masuk universitas, So Young justru mengejar mimpinya menjadi seorang maskot. Iya, orang didalam kostum binatang yang selalu bergoyang-goyang untuk menghibur itu.

Untuk mengejar mimpinya, So Young harus meninggalkan ayah, ibu, dan adik satu-satunya, So Ra. Sebelum keberangkatan ke Tokyo, So Young bertemu dengan Seung Ho, guru bimbingan belajar yang masih menggunakan metode belajar abad ke-18 (menurut So Young). Selama ini So Young selalu berselisih dengan Seung Ho—juga semua guru lain, So Young terkenal sebagai pemberontak (meski kemampuan akademiknya luar biasa). Pada pertemuan itu, pendapat Seung Ho soal So Young mulai berubah. Ternyata So Young bukanlah sekedar gadis kasar yang suka memberontak.

Pada pertemuan itu pula, So Young mendapatkan boneka lebah dari Seung Ho. Boneka yang nantinya selalu mengingatkan So Young untuk pulang.

“Ketika kau di Tokyo, kau harus melihat ini sering-sering. Seekor lebah tidak akan lupa dengan sarangnya.” (hlm. 35)

Lalu, berangkatlah So Young ke Tokyo. Gadis itu pergi tanpa diantar sang kekasih, Dae Chun. Hubungan keduanya cukup merenggang sebelum So Young meninggalkan Seoul. Bahkan selama ia berusaha meraih cita-citanya, Seung Ho yang selalu ada untuk mendukung dan mendengarkannya, bukan Dae Chun.

Di sisi lain, So Ra (yang sekarang seorang diri) bertemu dengan Jun Yong, pemuda yang dulu pernah memberikan mereka ceri ketika kecil. Jun Yong tidak ingat siapa ia berikan ceri, apakah So Young ataukan So Ra. Sedangkan So Ra sangat percaya bahwa gadis itu adalah So Young. Hal inilah yang kemudian mengantarkan mereka pada salah satu konflik besar dalam novel berjudul Cherry.

“Dalam hidup ini, keadaan yang paling kutakutkan adalah saat aku bersaing dengan kakakku sendiri.” (hlm. 186)

Ada cukup banyak konflik dalam novel setebal dua ratus halaman ini. Konflik-konflik yang berjalan cukup cepat dan akhirnya membawa pada perubahan hubungan karakter-karakter dalam novel Cherry. Plot ceritanya sendiri cukup baik dan tersusun rapi. Meski banyak juga hal yang dimulai dengan sesuatu yang mainstream, seperti berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas.

Satu hal lagi yang menajdi catatan saya, banyak hal yang “ditinggalkan” oleh penulis dalam novel ini. Seperti Ren Ae (adik Seung Ho) yang tidak terlihat lagi padahal “konflik” dengan So Young belum selesai. Lalu, masa depan Dae Chun yang diceritakan dengan sangat nanggung sehingga karakter ini terlihat begitu menyedihkan. Ada juga Hyun Il (senior kerja Jun Yong) yang dipukul Seung Ho tapi lalu tidak ada pembahasan kenapa ada lebam di wajahnya ketika ia bertemu karakter lain. Kemarahan kedua orang tua So Ra padanya yang tidak jelas pangkal dan ujungnya ini sangat mengganggu saya. Penulis seakan memasukan bagian itu supaya tercipta kondisi “So Ra terpuruk”. Itu saja.

Yang terakhir, banyak karakter yang tidak jelas kejelasannya (hidupnya, masa depannya, karirnya, rencananya, kabarnya) di bagian-bagian akhir (yang hanya berisi konflik antara Jun Yong-So Ra-So Young). Saya jadi merasa sedikit kesepian karena penyelesaian yang disajikan penulis dalam novel ini hanya untuk So Young, So Ra, Jun Yong, dan Seung Ho.

Gaya bahasa penulis sendiri sangat ringan. Saya menyelesaikan Cherry dalam sekali baca karena gaya bahasa penulis ini. Akan tetapi, “keringanan” itu tidak membuat novel ini kosong. Saya mendapatkan banyak sekali pendapat dan pemikiran menarik dalam novel ini.

Mulai dari pendapat yang sangat saya setujui.

Selalu saja orang yang ditemui So Young menganggap bahwa seorang dokter, insinyur, arsitek, pengacara lebih terpandang dari profesi lainnya. Bahkan mereka seakan membedakan cara bicara dengan “golongan profesi atas” itu dengan golongan profesi lain. (hlm. 29-30)

“Kalau begitu, beri waktu muridmu untuk menikmati dunia mereka sejenak.” (hlm. 32)

Hingga ada pendapat yang menunjukkan betapa materialisnya manusia dan betapa sempitnya cara berpikir mereka.

“Apa dia kurang waras? Mengapa ia ingin menjadi maskot, yang kerjanya menghibur anak-anak dan pengunjung?” (hlm. 101)

“Kau tahu, aku seorang dokter. Mana mungkin dokter seperti aku bersama guru yang berpenghasilan tidak seberapa. Apalagi hanya guru bimbingan belajar. Aku cantik, pintar, dan mapan. Tidak seorang pun laki-laki di dunia ini yang menolakku.” (hlm. 134)

Selain itu, ada cukup banyak kutipan yang bikin hati serasa meleleh dan tersentuh—terlebih ketika berkaitan dengan mimpi dan orang yang disayangi.

Meninggalkan orang-orang yang dicintai demi menggapai cita-cita di negeri orang, bukanlah hal yang mudah. (hlm. 70)

“Aku tidak mudah menyerah secepat itu. Sudah susah payah kupertahankan cita-citaku, tidak akan aku biarkan lepas.” (hlm. 96)

“Pasti dia akan menunggumu jika ia benar-benar mencintaimu.” (hlm. 98)

“Jika kau tidur nanti, peluklah boneka lebah yang kuberikan, So Young. Aku takut jika kau semakin melupakan Korea dan tidak ingin kembali.” (hlm. 116)

“Pokoknya yang terpenting adalah kau harus jujur dengan dirimu sendiri. Kau tidak perlu menjadi orang lain agar bisa seperti orang lain. Setiap manusia memiliki jalan hidup sendiri.” (hlm. 161-162)

“Kau harus ingat pepatah ini, semua organ dalam tubuhmu bisa berbohong, kecuali hati. Kau tidak akan bisa membohongi hatimu, Nak.” (hlm. 175)

Ini kali pertama saya membaca novel Korea, jadi ini pengalaman saya mengingat nama Korea (yang susah dan panjang dan kok mirip semua ya) itu. Berbeda dengan drama Korea yang jelas-jelas ada aspek visual sehingga tokohnya lebih mudah diingat, saya cukup kesulitan mengingat si tokoh ini tuh siapa atau apakah sebelumnya dia pernah muncul. Well, meski demikian pada akhirnya saya tahu hubungan antara semua tokoh. Syukurlah, ya.

Soal desain sampulnya sendiri, warnanya manis. Meskipun terasa sedikit … kosong karena gambarnya, mungkin. Desain halaman pertama tiap babnya juga cakep dan tidak mengganggu. Keren!

Yang mengganggu saya justru sinopsis di belakang karena mengesankan bahwa Jun Yong adalah tokoh utama (padahal bukan). Sejak membuka novel ini saya menunggu kemunculan Jun Yong ataupun reka adegan masa lalu mereka itu, eh tetapi baru muncul (bahkan kehadiran Jun Yong baru terasa) setelah memasuki pertengahan. -_-

Secara garis besar, saya cukup menikmati Cherry. Novel ini memberikan kisah romantis yang semanis ceri dan perjuangan seperti memanjat pohon ceri. 😀

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s