Penerbit Haru · Resensi · Young Adult

People Like Us – Yosephine Monica

 

20141013_204729

Judul: People Like Us
Penulis: Yosephine Monica
Penerbit: Haru
Tebal: 325 halaman


“Kau mau melihatnya?”

“Tidak.” Ben menghela napas, menggeleng. “Nanti saja.”

“Kenapa?”

“Aku belum siap.”

“Untuk melihat mayatnya?”

“Bukan.”

“Jadi?”

“Untuk menangis lagi.” (hlm. 295-296)

Bagian ini benar-benar membuat saya terenyuh—sakit, sedih, mengharu biru—meski saya tahu hal seperti ini akan ada dalam novel People Like Us.

People Like Us bercerita tentang Amy, seorang gadis penderita kanker, dan Ben, seorang pemuda yang selalu merasa bukan bagian dari dunia.

Sejak masa middle school, Amy jatuh cinta pada Ben. Mereka bertemu di lembaga kursus musik. Akan tetapi, Ben tidak ingat siapa Amy. Ben bahkan tidak ingat pernah bertemu Amy sebelumnya. Yang Ben tahu, sekarang, di masa high school mereka, gadis itu mencintainya dan membuat seluruh sekolah membicarakan mereka dan menguntitnya! Alasan itu sudah cukup untuk membuat Ben membenci Amy.

Namun, setelah berita penyakit kanker Amy menyebar dengan cepat dan Lana, sahabat baik Amy, memaksa Ben menjenguk ke rumah sakit, segalanya berubah. Ben menemukan sosok yang akhirnya mengerti dirinya, setelah sekian lama Ben merasa bukan bagian dari dunia.

Dan dunia nyata adalah musuh Ben setiap saat. (hlm. 97)

Sosok itu adalah Amy, seseorang yang selama ini Ben harap lenyap dari hidupnya.

“Kau pikir kau punya banyak sekali masalah. Dan aku yakin, 75%-nya hanya ada di kepalamu—sebenarnya masalah itu tak pernah ada. Kadang, kaulah yang membuat hidupmu menderita, Bung.” (hlm. 168)

Begitulah. Amy menyadarkan Ben bahwa dunia tidak pernah memusuhinya, justru Benlah yang terlalu berburuk sangka pada dunia.

Kedekatan keduanya dimulai karena Ben mengungkapkan rahasianya pada Amy. Rahasia yang sudah lama Ben lupakan tapi terangkat ke permukaan karena tulisan-tulisan Amy. (Gadis itu adalah seorang penulis dan cerita Amy cukup populer di sekolah mereka.)

“Apa pendapatmu, jika cita-citaku adalah menjadi penulis?” (hlm. 99)

Tidak seperti orang-orang yang selama ini ada di sekitar Ben, Amy tidak menertawakan impian Ben. Amy justru mendukungnya.

Setelah itu, keduanya menjadi semakin dekat. Dan semakin lama dekat bersama Amy, dunia Ben perlahan berubah. Hal-hal yang selama ini dipermasalahkan Ben, seperti adiknya Madge yang membencinya, ibunya yang mengkhianatinya (dan menghkhianati ayahnya yang telah meninggal karena kanker), ayah tirinya yang tidak bisa dia terima, neneknya yang pilih kasih, mantan pacar yang masih dia sukai, dan segala masalah lain dalam hidup Ben selama ini, perlahan-lahan terselesaikan—meski banyak juga yang terselesaikan ketika Amy telah tiada.

Kedekatan itu sendiri seperti sebuah berkah dalam hidup Amy. Gadis itu tidak sedih atau menderita karena usianya terenggut kanker, Amy bisa menerima dengan lapang. Tetapi, kehadiran Ben dalam hidupnya yang tidak lagi panjang membuat hidupnya terasa lebih indah. Meski dia harus menghadapi kenyataan bahwa Ben tidak mencintainya—dan semacam memperalatnya untuk membantu Ben menulis.

Cerita dalam novel People Like Us sudah bisa ditebak. Amy tidak akan selamat. Gadis itu akan pergi bersama penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

“Kau tidak bisa menyalahkan siapa pun untuk ini semua.  Kau tidak bisa menghentikan dunia yang berputar, kau tidak bisa memarahi burung-burung yang terbang melewati atas kepalamu. Kadang itu hanyalah takdir, atau kebetulan. Kadang, hal-hal seperti ini disalahartikan sebagai cobaan, padahal sebenarnya itu hanya… pelajaran. Dan kadang, yang harus kau lakukan hanyalah melepaskan. Kadang, melepaskan itu sama gampangnya seperti tertidur. Sama gampangnya seperti mati.” (hlm. 274-275)

Akan tetapi, cara Yosephine Monica menuliskan People Like Us itu yang membuat novel dengan ending sangat tertebak ini tidak lepas dari tangan saya. Yosephine Monica menuliskannya dengan begitu mengalir, perlahan-lahan, hati-hati, seakan-akan Ben dan Amy sendiri yang menceritakan hal tersebut (meski menggunakan sudut pandang orang ketiga).

Gaya bahasa yang digunakan juga sangat nyaman dengan latar tempatnya yang di luar negeri. Saya seperti membaca novel terjemahan. Ben dan Amy (dan yang lainnya) seakan hidup dalam kenyataan bersama saya.

Alurnya juga dikemas dengan baik. Yosephine menuliskan secara runtut alasan di balik hubungan Amy dan Ben. Masa lalu mereka, dari sudut pandangan keduanya, serta kehidupan yang mereka jalani setelah kenyataan penyakit Amy diketahui. Meskipun perasaan Ben kurang tereksplor (apalagi perasaan Amy), tapi novel ini cukup membuat emosi saya naik-turun.

Bagian favorit saya itu ada di halaman 281-282. Ketika Ben menelepon Amy yang baru saja sadar setelah kolaps di bilik toilet sekolah mereka dan mereka bermain truth or dare.

“Jika aku menyuruhmu datang ke rumah sakit sekarang juga, kau takkan bisa melakukannya. Jadi—“

“Sekarang juga?”

Amy terkesiap. “Ben?”

Sambungan telepon diputus. (hlm. 281-282)

Saat itu rasanya saya gemes sekali dan pengen memeluk Ben sama Amy. Duh, duh. :””>

Sayangnya, People Like Us lebih terpusat pada Ben. Saya padahal ingin membaca bagaimana pemikiran Amy, bukan hanya bagaimana Ben menatap dunia.

Dan sayangnya lagi, Amy terlihat terlalu … sempurna. Gadis itu seperti malaikat, begitu menerima kenyataan tentang sakitnya, begitu baik hati, begitu bijak (apalagi ketika menjadi teman mengobrol Ben). Memang sih ketika adegan pesta dansa itu, “kejelekan” Amy terlihat. Tapi, saya tetap tidak melihat cacat dalam karakter Amy. Beda dengan karakter lain (apalagi Ben, yang I don’t know why, so adorable, lol).

Kekuatan yang paling besar dalam novel ini terletak pada pesan moralnya yang begitu banyak. Yosephine Monica menyelipkan pelajaran-pelajaran hidup dalam interaksi Amy dengan Ben, dalam percakapan Ben dengan Madge, dalam kehidupan di sekitar Ben dan Amy, dalam seluruh baris yang dituliskannya di People Like Us. Sumpah ada banyak sekali kutipan yang saya tandai dan ngena di diri saya. Keren. Salut! :”)

People Like Us, bagi sebagian orang akan terkesan membosankan karena gaya penceritaannya yang cenderung bertele-tele dan alur cerita yang sudah bisa ditebak. Akan tetapi, bagi para pembaca yang mencintai drama, kisah melankolis yang lembut, dan penuh pesan moral, People Like Us pasti sangat menyenangkan untuk dibaca.

Selamat membaca! 🙂

PS. Sejak saat ini saya memasukan Yosephine Monica sebagai salah satu penulis yang harus saya baca karyanya. Entah kenapa favorit saya itu selalu penulis dengan gaya bercerita yang lembut seperti ini, lol.

Advertisements

5 thoughts on “People Like Us – Yosephine Monica

  1. Cerita standar yaa kalo baca dari review kamu, hehe. Tapi yg bikin suatu cerita standar jadi beda emang cara penulisnya itu buat cerita sih alias gaya bahasanya 🙂

    1. iya standar Mbak
      tapi sangat bisa dinikmati kok
      apalagi kalo suka tipikal cerita yang lembut, kayak karya Prisca Primasari 😀

      1. Aku kalo baca buku suka ga ngeh penulisnya. Kecuali kalo bukunya suka tema sejarah dan bagus kaya sinta yudisia, afifah afra, tasaro, hehe

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s