Resensi · Romance · Senja

Queen; Demi Menghapus Bayangmu – Niena Sarowati

20141018_134448

Judul: Queen, Demi Menghapus Bayangmu
Penulis: Niena Sarowati
Penerbit: Senja
Tebal:  
300 Halaman


“Setiap manusia pasti punya masalah. Dan, masalah itu ada untuk kita hadapi. Kita cari jalan keluarnya, bukan kita hindari. Jika satu masalah kamu hindari, maka akan muncul masalah baru.” (hlm. 176)

Begitulah, Alfira Queenza, atau yang lebih biasa disapa Queen, akhirnya mencoba menghadapi masalah yang membuatnya “lari” dari Jakarta ke Bandung. Gadis itu sudah berada di Bandung lebih lama dari janjinya kepada kedua orang tuanya. Dia bukan hanya meninggalkan Jakarta untuk mengobati hatinya, tetapi juga untuk berbagi kebahagiaan.

Awal mula kepergian Queen dari Jakarta adalah penemuannya akan hubungan gelap Davin, pacarnya selama tiga tahun ini, dengan Milly, sahabat baiknya. Gadis itu menemukan keduanya tengah bemesraan di kamar indekos Milly. Bertekad tidak akan “tenggelam” dalam sakit hatinya, Queen memilih untuk pergi ke Bandung dan meninggalkan segala kenangannya di ibukota.

Di Bandung, Queen menetap di Kos Cemara, sebuah indekos yang dihuni cowok-cowok. Queen menjadi cewek pertama yang berada di sana, selain Cilla, gadis kecil cucu pengurus indekos. Akan tetapi, justru dengan lingkungan berisi cowok-cowok itu Queen belajar kehangatan, kebersamaan, dan kasih sayang. Di kota ini jugalah Queen mengenal Panti Asuhan Bayi Sehat dan Komunitas Rumah Singgah Keluarga Anak Jalanan, tempat di mana gadis itu mengubah emosi negatifnya menjadi kegiatan berbagi senyuman.

Dengan keberadaan teman-teman di Kos Cemara—termasuk pacar para cowok itu—khususnya Obit, dan keluarga barunya di panti serta komunitas, Queen berhasil mengobati lukanya. Atau begitulah yang dia pikirkan, sebelum masalah-masalah itu ikut mengejarnya ke Bandung dalam bentuk Davin dan Milly.

Novel berjudul Queen ini ditulis dengan bahasa yang mengalir. Niena Sarowati meramu Queen dengan gaya bahasa yang cenderung “gaul” sehingga sangat ringan. Meskipun demikian, cerita yang terkandung dalam novel ini tidak “seringan” itu. Penulis berhasil menyelipkan banyak sekali pelajaran yang cukup berat dan membuat berpikir dalam novel ini.

Tema yang diangkat dalam novel Queen sendiri terbilang klise, tentang gadis yang dikhianati pacar dan sahabatnya. Akan tetapi, solusi yang dilakukan Queen (dalam rangka menyembuhkan hatinya) terbilang unik! Mungkin ada banyak yang akan “lari”, tapi berapa banyak sih yang akhirnya terjun ke dunia sosial (yang memberikan pengaruh positif) seperti Queen? Niena Sarowati membuat pelarian Queen menjadi sebuah perjalanan yang menyentuh (dan sangat bisa dijadikan contoh).

Dengan alur yang cukup baik (memang secara keseluruhan sudah dapat ditebak meski ada banyak juga kejutan yang diberikan dalam novel ini), Queen mengalir dengan pasti. Walaupun, banyak juga keterangan waktu yang tidak cukup jelas dalam novel ini. Saya kesulitan mengetahui kapankah kejadian ini berlangsung dan sudah berapa lamakan Queen di Bandung. Ini kekurangan pertama.

Kekurangan lainnya adalah penulis terlalu banyak menggunakan metode tell (dengan sangat padat) di saat yang justru tidak saya inginkan. Seperti misalnya ketika Queen berjalan-jalan bersama anak-anak dari Panti Asuhan Bayi Sehat, yang hanya diceritakan dari halaman 141 sampai 144.

Kini anak-anak panti bermain di kolam renang anak-anak. Mereka tampak senang saat berenang, sambil ciprat-cipratan. Dua jam lebih mereka main air. Begitu selesai renang, mereka banyak yang ngantuk. Agar tidak repot menggendong satu-satu karena pada tidur, maka panitia segera membagikan snack. Mereka yang tadinya ngantuk jadi girang.

Begitu sampai di panti, Pak Mul dan beberapa pengasuh panti mengucapkan beribu ucapan terima kasih kepada Queen dan kawan-kawan. Berkat sumbangan tenaga, waktu, dan materi mereka, anak-anak panti dapat menikmati hari yang istimewa. (hlm.144)

Nah, ada banyak kegiatan yang terjadi tapi hanya diceritakan dalam dua paragraf. Sementara di lain kesempatan, ada kejadian yang cenderung tidak penting tapi diceritakan dengan panjang. Saya jadi merasa banyak bagian dalam novel ini yang tidak dibagikan dengan pas.

Selain itu, ada begitu banyak karakter. Karakter yang banyak ini membuat mereka tidak cukup dieksplor. Akhirnya, karakter-karakter yang ada jadi terkesan “tempelan” untuk menunjukkan Queen (untungnya, Queen tidak sebegitu perfect-nya jadi saya tetap bisa menikmati novel ini).

Saya bahkan merasa Obit, sebagai tokoh cowok utama (atau ini menurut saya saja?), hanya terlihat seklai lalu dan eng-ing-eng jadilah dia tokoh yang berperan penting dalam hidup Queen. Padahal saya tidak merasakan perjalanan hubungan Queen dan Obit. Padahal (lagi), ada banyak momen yang bisa digunakan untuk membuat Obit lebih terlihat.

Penulis seakan berusaha mengeksplor semua tokoh yang ada dalam novel ini tapi justru tidak melakukannya dengan porsi yang pas. Selalu saja Queen yang diceritakan, baik pemikiran, kegiatan, kesukaan, maupun kepribadian. Queen seolah-oleh tidak membiarkan karakter lain untuk menjadi lebih berkembang. Bukan hanya Obit, bahkan Cilla, yang saya pikir akan punya peran cukup penting, berakhir sedikit terlupakan ketika memasuki bagian pertengahan cerita.

Selain itu, penulis terlalu banyak menggunakan latar tempat “beken”. Latar tempat yang diberikan kebanyakan adalah kafe, restoran, tempat wisata, atau tempat nongkrong anak muda. Entah kenapa, latar tempat ini justru tidak ikut membangun sisi sosial yang dikerjakan Queen. Akan lebih baik jika penulis menceritakan sudut-sudut Bandung yang jarang terjamah, supaya kegiatan sosial Queen lebih terasa nyata dan kritik sosialnya lebih menonjol.

“Cinta itu nggak mengajarkan kita akan penyesalan. Tapi, cinta mengajarkan untuk memilih yang terbaik dengan hati, bukan dengan pikir atau logika.” (hlm. 68)

Kutipan di atas adalah salah satu kutipan yang berkesan dalam novel ini. Meskipun seharusnya “pikiran” dan bukan “pikir”. Sesuai dengan tema patah hati yang diangkat, Niena Sarowati berusaha menyampaikan pendapatnya soal cinta. Lewat cerita Queen juga, penulis berusaha memberikan contoh “pelampiasan patah hati” yang sangat baik.

“Ternyata obatnya ya itu, lihat senyum anak-anak.” (hlm. 224)

Ini dirasakan oleh Queen—dan semua yang pernah terlibat kegiatan sosial bersama anak-anak. Saya sangat mengerti perasaan Queen. :’)

(Anyway, Queen ini “kelewat” luar biasa, menurut saya. Dari latar belakang yang diceritakan oleh penulis, Queen tidak pernah terlibat dengan anak-anak. Gadis itu adalah pegiat komunitas fotografi dan anak tunggal. Lantas, kenapa saya tidak merasakan usaha yang sangat berarti dari Queen ketika mulai mengurus panti? Bahkan lama-kelamaan Queen dituliskan jauh lebih terbiasa menghadapi anak-anak daripada para pengurus panti. Ini salah satu hal tidak logis yang saya temukan dalam novel ini.)

“Aku percaya kamu nggak seperti orang tua Aditya, yang tega nitipin anaknya yang baru lahir ke tempat ini dengan alasan belum siap ngurus.” (hlm. 267)

Nah. Kutipan ini sangat dalam. Terlebih untuk cerita dengan latar kegiatan sosial seperti novel ini. Penulis berhasil memberikan kritik sosial terhadap keadaan yang semakin lama ini semakin sering kita temui di sekitar kita. Salut!

Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan untuk dibaca. Ditambah bumbu kritik sosial dan bertebaran kisah kreatif generasi muda (dalam diri Queen dan teman-temannya), novel ini menjadi novel ringan yang cukup membuat pembaca berpikir. Saya merekomendasikan novel ini kepada mereka yang ingin membaca cerita patah hati dengan konsep yang berbeda.

Selamat membaca! 🙂

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s