Drama · MAZOLA · Resensi · Romance

The Dancer – Arthasalina

20141018_134504

Judul: The Dancer
Penulis: Arthasalina
Penerbit: MAZOLA
Tebal: 236 halaman


“Lu bukan bidadari yang selendangnya dicolong cowok kampung terus ditinggal balik ke kahyangan sama temen-temen lu, kan?” –hlmn. 46

Begitulah kesan Deden terhadap Ajeng di pertemuan pertama mereka, dua tokoh sentral yang membawakan The Dancer dari sudut pandang orang pertama secara bergantian. Wajar saja Deden berpikir seperti itu, karena dia bertemu Ajeng yang baru saja selesai menari dan masih mengenakan kostum lengkap di rumah Mas Karyo—di salah satu desa wisata Sleman.

Ajeng adalah seorang sarjana kedokteran yang memutuskan tidak mengucap janji sebagai dokter dan menapaki jalan sebagai penari—sebuah impian yang harus dikuburnya karena paksaan ayahnya untuk menempuh pendidikan di fakultas kedokteran. Sedangkan Deden, seorang pemuda berdarah Sunda yang memutuskan cuti kuliah di tahun terakhirnya untuk berkeliling Jawa—atau begitulah seharusnya sebelum pertemuan dengan Ajeng terjadi.

Setelah pertemuan itu, keduanya justru tinggal di desa yang sama—salah satu desa di Solo. Deden tinggal di sana karena ikut Mas Bayu, kenalan Mas Karyo yang akan menemani penjelajahan Deden selanjutnya. Sedangkan Ajeng tinggal di sana karena dikirim oleh ayahnya, setelah sang ayah dengan berat hati akhirnya membiarkan Ajeng menjadi penari (setelah keduanya berkonflik untuk ke sekian kalinya), dan diminta Dewi (murid ibunya yang juga penari) mengurus Sanggar Pawestri.

Sanggar Pawestri adalah sanggar milik ibunya. Dalam cerita-cerita yang Ajeng dengar, sanggar itu sudah lama mati bersama ibunya. Akan tetapi, di desa ini, sanggar itu hidup. Sanggar itu terus hidup seperti impian Ajeng menjadi penari. Ajeng tidak tahu kenapa sang ayah akhirnya mengirimkannya ke sini, apakah ayahnya ingin Ajeng meneruskan impian ibunya (yang juga impiaannya setelah selesai berkuliah) di sanggar ini?

Sungguh hal ini penuh dengan teka-teki. Pertama, sang ayah akhirnya mengalah akan impian Ajeng menjadi penari. Dan sekarang, sang ayah justru mengirimkan Ajeng pada hal-hal yang membantu karirnya sebagai penari.

Di sisi lain, Deden, pemuda yang katanya ingin menjelajah tanah Jawa itu, malah betah sekali di rumah Mas Bayu. Kenyataan itu membuat banyak kesempatan bagi Ajeng untuk merasa nyaman. Padahal, jam terbang gadis itu menjadi penari semakin lama semakin tinggi.

Seperti The Banker, salah satu seri novel profesi penerbit DIVA (dengan imprint yang berbeda, tentu saja), The Dancer membuat saya berdecak kagum. Kali ini bukan karena cerita yang dibawakannya, tapi karena betapa “hidup” profesi dalam novel ini.

Sungguh, saya salut kepada Arthasalina (btw, nama penannya susah ya…) yang sangat-sangat berhasil menuliskan profesi penari dalam wujud Ajeng. Pengetahuan penulis tentang tari juga tidak main-main, ada begitu banyak jenis tari di sini. Mulai dengan tari golek, tari dengan lakon Srikandi, Roro Jonggrang, sintren, dan lainnya yang saya tidak ingat.  Cara mendeskripsikan ketika menari (beserta segala riasannya) juga sangat detail. Salut!

Selain itu, penulis juga berhasil menyelipkan pemikirannya tentang budaya.

Menurutku, di sebut penari karena tubuhnya yang bercerita. Bekerja sama dengan musik menginterpretasikan penggalan-penggalan kisah di setiap gerakan yang tercipta. –hlmn. 109

“Sebenarnya budaya itu nggak melulu tentang kesenian kuno atau tradisi orang-orang zaman dulu. Kalau menurut aku, dibilang budaya karena hal tersebut dilakukan terus-menerus sama sekelompok orang di satu tempat tertentu.” –hlmn. 153

Penulis juga memberikan kritik sosial yang ngejleb.

Aku harus siap menjadi minoritas ketika aku memilih menyuarakan budaya di tengah keterpurukan moral pemuda bangsa. –hlmn. 30

Bayangkan jika semua ingin menjadi penari atau budayawan. Lalu, siapa yang akan pentas di panggung politik memimpin negeri? –hlmn. 60

Dari sisi Deden sendiri penulis dengan sukses menceritakan budaya Jawa (meski kata saya sih terlalu ideal di zaman seperti ini) dan pemikiran soal alam.

Alam adalah tempat yang menurut gue paling ngerti apa yang baik buat manusia. –hlmn. 33

Semua cowok yang gue temui di sini harus gue panggil Mas. Mau lebih muda atau lebih tua dari gue. Ini Jawa, men. Tempat di mana kesopanan lu menentukan seberapa tinggi harga diri lu. –hlmn. 51

Hal lain lagi yang sangat membuat saya salut adalah Deden. Penulis sangat-sangat-sangat berhasil menjadi “gue” ketika bercerita dalam sudut Deden. Deden benar-benar hidup sebagai seorang laki-laki yang humoris dan tengil. Novel ini benar-benar diceritakan oleh seorang perempuan bernama Ajeng dan laki-laki bernama Deden. Dua tokoh yang sangat berbeda. Kedua karekter utama berhasil dibawakan dengan sangat baik oleh penulis sebagai individu yang berbeda dalam The Dancer. Keren banget!

Untuk alurnya sendiri sudah cukup bagus. Penulis berhasil membangun cerita The Dancer setahap demi setahap, mulai dari pekerjaan Ajeng sebagai penari hingga hubungan Ajeng dengan Deden. Bahkan konflik-konflik yang terjadi juga mendukung konflik utama yang ada.

Well, meski jujur saja saya merasa konflik utamanya justru hambar. Tanggapan Ajeng kurang greget dan eksplorasi (kepada karakter, perasaan mereka, pikiran mereka, suasana yang ada, dan lainnya) yang dilakukan penulis ketika titik konflik utama itu kurang berkesan.

Selain itu, ada banyak sekali kebetulan yang dirancang dalam novel ini (dan penulis pun mengakuinya dari sudut Deden). Tapi untuk yang satu ini, saya bisa memaafkannya. Semua ini karena gaya penceritaan Deden yang asyik.

Lain hal lagi, penceritaan latar belakang justru menjadi hal yang membuat saya kecewa dalam novel ini. Menurut saya pribadi, tidak ada perbedaan yang berarti antara Sleman dan Solo. Bahkan Semarang dan Bandung pun terasa tidak nyata dalam novel ini. Penulis hanya mengatakan, tidak memberikan kenyataan dalam narasi. Rasanya ada di mana pun Ajeng atau Deden, sama sekali tidak berpindah tempat.

Lompatan waktu yang dilakukan penulis juga cukup membuat saya kelimpungan karena penjelasan waktu ketika sebuah peristiwa terjadi bagi saya kurang. Kadang saya suka bolak-balik halaman buat memastikan ini sebenarnya terjadi setelah peristiwa yang mana, apalagi dalam sudut pandang Ajeng. (… Atau hanya saya yang kesulitan? D:)

Saya memang senang dengan karakter Deden, tapi saya juga dikecewakan olehnya. Saya pikir, saya akan menemukan pikiran-pikiran menarik Deden soal alam (berhubung lelaki itu cuti kuliah untuk menjelajah). Eh, tapi cerita dari sisi Deden malah diisi soal Ajeng. Meskipun gaya penceritaan dalam sudut Deden itu keren banget. Saya tidak bisa melepas novel ini dan berhenti tertawa jika sudah mulai diceritakan dari sudut Deden.

Sedikit pertanyaan saja, bukankah Bandung itu juga Jawa, ya? Entah kenapa saya merasa tidak nyaman karena sampai halaman terakhir pun penulis masih mengatakan bahwa Jawa itu hanya bagian tengah ke timur. Mungkin dari sisi Deden masih bisa ditoleri, nah dari sudut Ajeng kok juga sama, ya? 😐

Secara keseluruhan, The Dancer itu sangat menyenangkan untuk dibaca. Dibawakan dengan gaya bahasa yang lugas dan berisi begitu banyak pengetahuan (khususnya soal tari tradisional). Dilengkapi juga dengan kritik sosial dan karakter yang humoris, The Dancer terasa sangat lengkap. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang ingin membaca sesuatu yang Indonesia banget!

Terakhir, saya suka banget sama kutipan ini:

“Takdir itu ga pernah ada, Bray. Takdir itu apa yang kita usahakan.” –hlmn. 228

Selamat membaca!

Advertisements

9 thoughts on “The Dancer – Arthasalina

  1. Mungkin maksudnya bukan “Pulau Jawa” tapi Jawa as in suku Jawa? Awal baca reviewmu, tertarik pengin baca, Dah. Tapi lama-lama surut. Hehehehe….

    1. Sebenarnya aku juga paham sih, Ru
      Cuma rasanya gimana gitu lho sama penggunaan “Jawa” ini
      Rasanya kayak segitu pengennya memisahkan diri 😐

      Haha? Kenapa ga tertarik lagi Ru?
      Lumayan bikin ketawa lho :))

      1. Hahaha… Ya, umumnya pemahaman orang begitu sih…

        Masih banyak buku2 yang udah diincer tapi belom kesentuh, jadi ga mau nambah2in _(:3」

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s