de TEENS · Resensi

[review] Stronger Than Me

20141107_101430

Judul: Stronger Than Me
Penulis: Jazim Naira Chand dkk.
Penerbit: de TEENS
Tebal: 252 halaman


Ibu adalah tema yang diangkat dalam kumpulan cerpen kerjasama DIVA Press dengan UNSA. Sebuah tema yang tidak akan pernah lekang oleh waktu, seperti keberadaan ibu dalam hidup kita.

Dalam buku setebal 252 halaman ini, terdapat sembilan belas cerita pendek. Masing-masingnya memberikan cita rasa yang berbeda soal ibu. Akan tetapi, ada satu kesamaan, sosok ibu yang digambarkan dalam setiap cerpen adalah sosok yang sangat berarti—tegar, penuh cinta, ikhlas, sesuai dengan lagu kasih ibu.

Beberapa cerpen memiliki premis yang mirip. Cerpen berjudul Estafet Cinta Tak Berujung dan Air yang Mengalir Tak Pernah Berhenti, contohnya. Kedua cerpen tersebut sama-sama mengisahkan perjuangan sang ibu. Tokoh ibu dalam Estafet CInta Tak Berujung mencegah sang “aku” untuk menyentuhnya yang sedang tersambar arus listrik, sedangkan tokoh ibu dalam Air yang Mengalir Tak Pernah Berhenti rela menyelamatkan Dewi (anaknya) yang hanyut di sungai. Mirip, tapi tak serupa.

Aku tahu, Ibu tidak pernah sekalipun mengharapkan terima kasih atau balasan dariku atas segala cinta kasih yang ia berikan padaku.  –hlmn. 30 dalam Estafet Cinta Tak Berujung

“Air yang mengalir mengingatkanku tentang perngorbanan dan kasih sayang ibu.” –hlmn. 110 dalam Air yang Mengalir Tak Pernah Berhenti

Beberapa yang lain menawarkan hal yang berbeda. Seperti cerpen berjudul Lembayung karya Hanif Junaedi Ady Putra. Jujur, cerpen ini adalah favorit saya. Idenya  menarik dan berbeda, Lembayung, tokoh utama dalam cerita membuktikan tidak harus menikah untuk dipanggil “Ibu”.

“Lembayung, kamu ini perempuan.”
“Oh, kau mengatakan itu lagi.”
“Tidakkah kamu ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu?”
“Aku sudah merasakannya sejak lama.”
“Kamu tidak mengandung, kamu tidak melahirkan. Kamu tidak menikah, Lembayung.”
“Lantas?”
“Kamu bukan seorang ibu.”
“SImpan kata-katamu itu.” –hlmn. 49 dalam Lembayung

Eksekusinya juga cantik, dengan percakapan yang dilakukan entah oleh siapa di antara narasi-narasinya. Bahasanya juga sangat mengalir. Sayang format percakapan-narasi terpisah ini justru diruntuhkan menjelang akhir (untuk mengungkapkan jati diri teman bercakap Lembayung). Mungkin memang tidak terhindari untung mengungkapkan moral dalam cerpen ini, tapi akan lebih cakep jika penulis tidak menghancurkan formatnya.

Well, biar bagaimana pun cerita itu tetap salah satu favorit saya. ❤

Sandy Prakasiwi dalam Kunang-kunang dalam Gelas juga memberikan rasa yang berbeda dalam buku ini. Cerpen ini bercerita tentang penyesalan tiga orang anak yang terlalu sibuk dengan kehidupannya hingga membiarkan sang ibu sendirian di akhir hayatnya. Ditulis dengan sudut pandang orang kedua, cerpen ini berhasil dibawakan dengan gaya bahasa yang menarik.

Penulis berhasil mengacak-acak perasaan pembaca dengan emosi para anak yang ditinggalkan oleh sang ibu, terutama Magy, sang tokoh utama. Ketiganya merasa sangat bersalah hingga tidak sadar bahwa ada kunang-kunang di dekat gelas ibunda mereka yang memerhatikan.

“Kalau Ibu mati, Ibu ingin jadi kunang-kunang. Dengan cahaya itu, kalian bisa merasakan kehadiaranku kalau sewaktu-waktu Ibu mengunjungi kalian.” –hlmn. 95 dalam Kunang-kunang dalam Gelas

Cerpen yang sedikit berbeda juga karya Edi Akhiles, Ini Aku, Anakmu, Bu… : Sepasang Burung Kecil yang Tak Kutahu Namanya. Cerita tentang anak yang berziarah ke makam ibundanya di Tanah Suci. Cerita lebih banyak didalami pada latar tempat dan kenangan-kenangan sang anak tentang ibunya.

Sayangnya, dengan latar tempat yang sangat menawan ini (dilengkapi dengan karakter-karakter pendukung khas Tanah Suci), kenangan sang anak yang berziarah ke makam sang ibu terasa sedikit bagi saya. Saya padahal berharap akan ada lebih banyak momen dengan ibu yang diungkapkan dalam kesenduan ziara tersebut. Meskipun demikian, akhirnya sangat menyentuh. Cakep.

“Lelaki itu lalu bertitip amanant pada sepasang burung kecil itu untuk mengabarkan cintanya pada almarhumah ibunya, juga janjinya untuk memeluk kubur ibunya setidaknya setahun sekali, lalu kedua burung kecil itu mematuki pasir-pasing di atas kuburan itu…” –hlmn. 176 dalam Ini Aku, Anakmu, Bu… : Sepasang Burung Kecil yang Tak Kutahu Namanya

Lalu, cerpen terakhir yang berkesan bagi saya adalah karya Zaenal Fanani berjudul Surat. Cerpen terakhir yang menutup buku ini dengan sangat sukses, menurut saya pribadi. Cerpen tersebut bercerita tentang seorang ibu, Emak Tarjah namanya, yang menunggu kepulangan anaknya, Pamor, dalam rumah besar peninggalan orang tuanya.

Baginya, matahari dan bulan diam tak bergerak. Tidak ada perjalanan waktu. tidak ada perubahan, perubahan hanya milik mereka yang tak punya cinta. Ia memastkan, kelak saat Pamor pulang, anak lelakinya itu tetap sama seperti ketika ia melepasnya pergi malam itu.

Pamor belum pulang. Setidaknya hingga senja ini. –hlmn. 248 dalam Surat

Ditulis dengan bahasa yang cantik dan mendayu. Dilengkapi dengan detail perasaan Emak Tarjah yang menanti Pamor pulang. Lalu, Diakhiri dengan ending yang sumpah bikin saya terenyuh. Surat sukses membuat saya tenggelam dalam ceritanya.

Saya juga sangat menyukai cerpen yang satu ini. Sesuka pada Lembayung.

Secara keseluruhan, sembilan belas cerpen dalam buku ini membuat perasaan terkoyak. Beberapa membuat pembaca ikut merasa bersalah, sedih, terpuruk, atau bahagia dan lega. :”)

Sayangnya, saya tidak menemukan sosok ibu yang “jahat” dalam buku ini. Padahal, tokoh ibu seperti ini juga bisa diolah dan dieksekusi menjadi cerpen bertema ibu yang tetap membawa pesan moral yang penting dan dalam.

Baiklah, selamat membaca! 😀

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s