Weh – Pia Devina

20141128_213428

Judul: Weh; Sebuah Pulau Sebuah Cerita
Penulis: Pia Devina
Penerbit: de TEENS
Tebal: 244 halaman


 

“Kenangan tuh bisa ngebunuh lo.” –hlmn. 45

Dengan sangat bijak Faris menasehati gadis itu, gadis yang dikuntit—oke, sebenarnya hanya dilihat dari jauh—sejak di ruang makan penginapan, gadis yang diselamatkannya ketika mencoba menenggelamkan diri di pantai Iboih, gadis yang mengingatkannya pada Gladys. Sejak melihat raut wajah gadis itu, yang akhirnya Faris tahu bernama Tami karena tidak sengaja mencuri dengar, Faris tidak bisa meninggalkannya begitu saja.

Dua orang gadis yang berarti dalam hidup Faris sama. Sama-sama kehilangan orang yang paling mereka sayangi hingga dunia hancur berantakan. Sama-sama mencoba bunuh diri di hadapan Faris.

“Dia muram. Soliter. Kayaknya buat dia hidup itu udah nggak ada indah-indahnya setelah apa yang terjadi di hidupnya.” –hlmn. 108

Oh, tentu saja awalnya Tami enggan didekati Faris. Pemuda itu baginya adalah sosok pengganggu yang berusaha membuyarkan kenangannya tentang Jeff—orang yang selama ini dicintainya. Pemuda yang berusaha menghancurkan perjalanan impiannya dengan Jeff—dengan mendekatinya, menyapanya, mengajaknya bertualang, membuatnya merasa … nyaman.

Sampai akhirnya Tami tahu kenyataan bahwa Faris masuk dalam bagian orang yang melenyapkan Jeff dari hidupnya.

“Gladys lo yang sangat lo sayangi dan udah bikin orang yang gue sayang kehilangan nyawanya.” –hlmn. 189

Lalu, mereka berpisah. Meninggalkan Tami dengan perasaan aneh yang membuatnya senantiasa teringat Faris—bukan lagi Jeff. Meninggalkan Faris dengan perasaan bersalah yang membuat jiwanya seakan tercerabut.

“Gilirannya punya pacar, belum juga pacaran lama, udah patah hati aja lo, Bos.” –hlmn. 197

Novel seri #Travelove de Teens satu ini, selain membuat pembaca ikut terombang-ambing atas hubungan Tami-Faris, juga menceritakan keindahan Pulau Weh. Pasirnya yang putih, lautnya yang jernih, ombaknya yang bergulung, langitnya yang cerah, hingga matahari terbitnya yang seperti surga dunia. Walaupun bagian alamnya lebih sedikit terceritakan dari pada soal traveling.

Air laut yang biru jernih terlihat seperti lapisan kaca berkilauan tertimpa sinar matahari. Langitnya yang biru sebiru-birunya dengan awan-awan putih yang solid tampak seperti awan-awan di dongeng Oki dan Nirmala di majalah Bobo. –hlmn. 12

Soal latar waktunya sebenarnya tidak masalah. Pembaca mungkin hanya merasa sedikit bingung ketika mendadak dibawa ke masa lalu, lebih seringnya oleh Tami. Semacam tidak ada pembeda antara adegan yang sedang berlangsung dengan yang telah terjadi. Lama-kelamaan akan terbiasa sih, tapi tetap saja saya merasakan ketidaknyamanan.

Alur ceritanya sendiri cukup menarik. Pia Devina berhasil membuat peningkatan hubungan Faris dan Tami dengan rapi. Sangat bertahap dan tidak tergesa-gesa. Jadi, tidak ada kesan “serba kebetulan” dalam hubungan mereka. Well, meski pertemuan Faris dengan Sindy cukup kebetulan sih.

Adegan antara mereka juga manis. Faris yang mau-mau-gamau (?) dan Tami yang mengurung diri dengan masa lalunya. Sampai adegan di mana Faris gigih sekali mendekati Tami—hingga rela membiayai tiket pesawat lima orang untung membuat skenario kebetulan-bertemu-Tami-di-Raja-Ampat.

 “Lo udah sejauh ini buat ngejar dia. Jangan jadi penakut gitulah kalau yakin lo mau deket sama dia.” –hlmn. 222

Meski demikian, saya sedikit menyayangkan Pia Devina yang menjadikan alasan “entah kenapa” dalam tindakan Faris mendekati Tami. Alasan “mengingatkan dengan Gladys” rasanya bakal lebih logis daripada alasan tidak jelas seperti itu. Memang penulis menjabarkan hal itu, tapi alasan “entah kenapa” yang lebih banyak bertebaran ketika cerita dituliskan dalam sudut pandang Faris.

Oh ya, penulis cukup sukses membawakan tokoh Faris. Terbukti dari gaya penceritaan Faris yang berbeda dengan Tami (novel ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama bergantian anara Faris dan Tami). Juga dari karakter Faris yang sangat berbeda dengan Tami, itu jelas. Faris terlihat seperti cowok rada bego yang tidak bisa berhenti memberi perhatian. Naksir saya. ❤

Overall, saya merekomendasikan novel ini bagi mereka yang ingin membaca cerita roman dengan latar Indonesia. Selamat membaca! 🙂

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s