[review] Haseki Sultan

 

20141128_213444Judul: Haseki Sultan
Penulis: Zhaenal Fanani
Penerbit: Diva Press
Tebal: 480 halaman


 

“Kalau tidak mau jadi biarawati, kau ingin jadi apa?”

“Cleopatra.” –hal. 13

Sejak kecil, Alexa ingin menjadi seorang Cleopatra. Begitu menginjak usia tujuh belas tahun, satu tahun lebih muda ketika Cleopatra menjadi Ratu Alexandria, Alexa justru ditinggal ayahnya, anggota keluarganya yang tersisa. Sejak saat itu, ia mulai melupakan mimpinya sebagai Cleopatra dan menjalani hari-harinya yang suram seorang diri.

Hingga suatu malam yang gelap menculik Alexa dari kota kecilnya menuju pasar budak di kota Kaffa. Di tempat di mana hak asasi diinjak-injak dan perikemanusiaan dipertanyakan itulah pintu masa depan terbuka bagi Alexa. Seorang kasim (laki-laki yang telah dikebiri dan bekerja di Istana Harem Topkapi) mengantarkan gadis itu ke depan pintu menjadi seorang Cleopatra.

Haseki Sultan bukanlah jenis novel yang akan saya ambil dari rak buku di toko buku. Dengan latar sejarah dan tebal lebih dari 400 halaman (untuk novel berlatar sejarah), novel ini jelas bukan jenis yang akan saya baca. Akan tetapi, begitu saya mulai membacanya—awalnya dengan enggan—novel ini justru memerangkap dan mengenggelamkan saya di antara tiap lembarnya.

Tidak seperti bayangnya saya pada awalnya bahwa:

  1. novel ini mengandung unsur “harem” yang kental maka nanti saya akan menemukan satu lelaki-banyak wanita, dan hal seperti itu bukan favorit saya
  2. novel ini berisi drama roman penuh perasaan dalam perebutan hati seorang lelaki, yang terkesan bodoh bagi saya pribadi (saya lebih suka cerita drama yang fluffy atau cerita roman yang naif semacam cerita putri-putri Disney—yang justru lebih bodoh, ya? XD).

Akan tetapi, Zhaenal Fanani justru menyuguhkan kisah penuh misteri yang menengangkan. Memang unsur drama dan roman dalam novel ini kental, tetapi saya justru merasakan ketegangan (seperti ketika membaca novel misteri detektif) ketika menyusuri kisah Alexa. Memang juga unsur harem dalam novel ini sangat mencolok, tetapi tidak sesederhana makna harem yang banyak terpatri di benak kita.

ha.rem n 1 bagian rumah terpisah khusus untuk kaum wanita di negeri Arab; 2 kelompok wanita yang dikawini satu pria (kbbi)

Dua definisi yang ditawarkan KBBI cukup menjawab definisi “harem” dalam novel ini. Meskipun demikian, hal menonjol yang diceritakan penulis dalam Haseki Sultan ini justru intrik, persengkongkolan, konspirasi, dan sifat-sifat yang menunjukkan “manusia”. Semuanya diceritakan melalui perjalanan Alexa, yang mengubah namanya menjadi Roxelana ketika memasuki istana, di novel ini.

Seperti tradisinya, selain masih gadis cantik, dan bertubuh sensual, syarat tak resemi seorang calon selir adalah berani dan cerdik. Dan, ia melihat semua persyaratan itu pada diri Roxela. –hal. 85

Menurutnya, Roxela adalah gadis sempurna. Samiye sudah ratusan kali membawa gadis-gadis dari pelosok wilayan Ottoman. Tapi tidak pernah menyaksikan gadis seperti Roxela. Ketika pertama kali melangkah memasuki istana, Roxela begitu percaya diri. –hal. 86

Tinggal menunggu waktu bagi Roxela untuk melayani sultan, itu kata Samiye, kasim pelayan Roxela selama di Istana Harem. Akan tetapi, gadis itu tidak sabaran. Ketidaksabaran yang membuatnya terlibat dengan pihak-pihak yang selama ini mengambil untung dan bermain di bayang-bayang istana. Ketidaksabaran yang membuatnya terlibat masalah dengan para pemimpin kasim, Kizlar Agha dan Kapi Agha, bahkan Wazir Agung, dan mengancam berakhir jiwanya.

Untuk alurnya sendiri terbangun dengan rapi. Kejadian demi kejadian diceritakan dengan beruntut. Meskipun demikian, saya cukup kesulitan mengikuti latar waktunya. Penulis kadang menceritakan kejadian di masa lalu dalam novel ini. Akan tetapi, tidak ada pembeda atau pembatas antara kejadian yang tengah berlangsung atau bagian flashback.

Zhaenal Fanani juga memberikan tokoh yang cukup banyak dalam novel ini, seperti halnya dalam novel-novel misteri detektif. Beberapa tokoh berakhir penting, beberapa yang lain hanya sebatas tokoh sampingan (yang memiliki akhir tidak jelas). Akan tetapi, pengembangan karakternya keren. Tokoh-tokoh yang berperan dalam novel ini tidak dua dimensi, latar belakang dan masa lalu mereka diceritakan sehingga terasa lebih nyata.

Di sisi lain, penulis membeberkan misteri dengan cerdik sepanjang alur yang ada. Sedikit dan sebagian, sehingga membuat pembaca penasaran—saya, buktinya—untuk mengetahui apa yang sebenarnya ada di belakang semua ini. Didukung dengan gaya penulisannya, penulis berhasil mengubah novel yang-awalnya-menurut-saya-novel-drama-sejarah menjadi novel drama-misteri.

Satu catatan, di bagian awal, ketika Roxela masihlah seorang gadis kecil bernama Alexa, bagian itu terasa seperti membaca novel karya Paulo Coelho. Selain karena sang ayah adalah seorang pendeta, pembicaraan mereka yang berkisar hidup, Tuhan, keajaiban, dan lainnya itu sangat perlu direnungkan. Lalu, ketika memasuki bagian Alexa-menjadi-Roxela, novel ini seolah berubah dan terasa lebih lugas.

“Aku sudah berdoa, setiap hari. Aku telah bertanya. Tapi Tuhan tidak pernah menjawab.”

“Tuhan sudah menjawab. Tapi kau tidak mendengarnya.” –hal. 15

Catatan lainnya adalah, saya tidak suka bagimana penggambaran Roxela. Okelah, gadis itu cantik dan berani, dan berambisi. Akan tetapi, penulis terlalu sering mengatakannya, dan tidak cukup banyak menunjukkan. Penulis berulang kali mengatakan Roxela berbeda, terlalu banyak hingga membuat saya sedikit muak dan tidak cukup simpati padanya sebagai tokoh utama.

Tapi, Sulayman tidak pernah menyangka, gadis di hadapannya melebihi apa yang pernah dibayangkannya. –hal. 211

Selain itu, saya juga tidak bisa mengerti kenapa Sulayman jatuh cinta pada Roxela (atau terobsesi lebih tepat?). Gadis itu memang cantik, dituliskan lebih cantik daripada semua gadis yang ada di Istana Harem, akan tetapi, alasan “cantik” atau “memberikan sesuatu yang berbeda” tidak bisa membenarkan cinta, bukan?

Sulayman pernah mencintai Mahidveran Gulbahar. Tapi sekarang, ia menganggap cinta lamanya itu bukan sebuah cinta. Ketika itu usianya baru lima belas tahun. Usia Mahdiveran hanya terpaut beberapa bulan. Cinta mereka adalah cinta anak-anak yang sedang mencari jati diri. Bukan cinta agung yang tumbuh karena kedewasaan cara berpikir. –hal. 285

Terlebih Sulayman menyebutkan cintanya untuk Roxela adalah cinta agung yang tumbuh karena kedewasaan cara berpikir. Well, tapi tingkah Sulayman seperti seorang anak SMA puber yang baru jatuh cinta. Sulayman bahkan tidak melakukan tugas kenegaraan karena tidak ingin meninggalkan Roxela. Dari sisi mananya “kedewasaan berpikir” yang dimaksud, ya? Logika saya tidak bisa menerima.

Logika saya tidak bisa menerima bagaimana Sulayman sangat tergila-gila pada Roxela, yang hanya diawali pada pertemuan satu malam. Logika ini banyak saya temui pada novel berlabel teenlit, tapi seharusnya tidak dalam novel yang lebih dewasa.

Akan tetapi, secara keseluruhan, saya menikmati novel ini. Memberikan ketegangan dan membuat penasaran. Selain itu, ternyata diangkat dari sejarah yang benar-benar ada! Roxela benar-benar seorang Haseki Sultan Ottoman.

Selamat membaca! 😀

Advertisements

3 thoughts on “[review] Haseki Sultan

  1. kehidupan di dalam harem memang penuh dengan intrik, persengkongkolan, konspirasi.. bayangkan aja satu sultan di rebutin ama banyak perempuan.. gila, enak banget XD

    review yang bagus 🙂

    salam kenal ya

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s