[review] Astilbe

20141231_124151

Judul: Astilbe, Kisah CInta dan Kenangan yang Terlupakan
Penulis: Mufidatun Fauziyah
Penerbit: de TEENS
Tebal: 224 halaman
Terbit: Oktober 2014


 

“Villads terjatuh di kanal Nyhavn … Kepalanya terbentur perahu dan sempat tenggelam. Sempat koma dua hari. Tadi baru saja sadar dan ia mengalami amnesia.” –hal. 40

Kabar yang dibawa Silke, sang ibu, kepada Astilbe di suatu hari itu menumbuhkan keinginan liar dalam diri Astilbe. Keinginan untuk menguasai Villads dengan cara yang tidak benar.

Astilbe adalah seorang gadis cantik yang sayangnya bertubuh lesu dan sering disakiti oleh pemuda yang dicintainya. Dia merasa sangat putus asa hingga bertemu Villads dalam perjamuan makan malam kedua keluarga mereka.

Villads berbeda dan sekejap saja berhasil membuat Astilbe jatuh hati seperti pertemuan pertama keduanya yang masih kanak-kanak di tahun-tahun silam. Sayangnya, di mata Villads hanya ada satu orang gadis, seorang gadis yang selalu ada di sana sejak mereka kecil. Lille Blomst, begitu panggilan kesayangan Villads.

Astilbe lagi-lagi terpuruk hingga akhirnya dia mengambil keputusan besar dalam hidupnya, membohongi Villads yang amnesia bahwa mereka sepasang kekasih.

“Siapa namamu? Apa kita sebelumnya dekat?”

“A-aku…. Aku Astilbe, kekasihmu, Villads.” –hal. 49

Setelah pengakuan yang dipercaya Villads itu, Astilbe akhirnya berhasil mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan, seorang kekasih yang perhatian dan sempurna.

“Walaupun memoriku menjadi kekasihmu telah hilang, aku akan berusaha menjadi kekasih terbaikmu.” –hal. 50

Segalanya berjalan begitu indah bagai dongeng dalam hidup Astilbe hingga Miyana, pekerja sampingan di toko bunga Silke, dan Mikkel, teman baik Villads semasa di Amerika, muncul. Perlahan demi perlahan, segala kebohongan Astilbe mulai menguak ke permukaan.

Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Begitulah pepatah yang cocok dengan kisah Astilbe. Akan tetapi, sejujurnya, Astilbe tidak sepandai itu juga berbohong. Gadis itu hanyalah nekat mengaku sebagai kekasih Villads. Gadis itu hanya menuruti hasrat terdalamnya karena selama ini terlalu terpuruk, sebuah hal yang sangat manusiawi.

Ide cerita romantis berupa cinta pada pandangan pertama, amnesia, orang ketiga, dan segala yang ada dalam novel ini sebenarnya sangat klasik. Hanya saja, satu hal yang cukup berbeda adalah penulis berani menjadikan tokoh utama sebagai tokoh antagonis—meskipun menurut saya, well, karakter Astilbe yang lemah itu sebenarnya tidak cocok dengan peran antagonis. Seandainya saja Astilbe lebih kuat, nekat, dan tidak cengeng, cerita ini mungkin akan lebih menawarkan konflik serta intrik.

Apakah aku jahat? Jika ya, maafkan aku. Karena… orang berbuat jahat itu pasti ada alasannya. Ia mungkin tak pernah bahagia. Seperti aku. –hal. 46

Sayangnya, semua tokoh dalam Astilbe ini tipe yang … mendekati sempurna. Astilbe ramping dan cantik, Villads bertubuh ideal dan tampan, Miyana tinggi dan menarik, serta Mikkel menyenangkan dan ramah. Cara penulis mendeskripsikan fisik keempat tokoh utama itu terlalu mirip satu sama lain, sehingga entah kenapa saya sulit bersimpati kepada siapa pun di antara mereka. Bahkan kadang saya merasa keempatnya seperti melebur ketika tengah bertemu.

Lalu, penulis juga terlalu sering membuat tokohnya mengambil kesimpulan begitu saja. Misalnya, Astilbe mendadak menyimpulkan bahwa dia mencintai Villads atau Astilbe memutuskan untuk berteman dengan Miyana padahal selama ini gadis itu tergolong antisosial. Rasanya semua tindakan Astilbe itu kurang dieksplor supaya berjalan logis, saya tidak merasakan gejolak dalam diri Astilbe sebelum ia mengambil tindakan tersebut.

Oh ya, novel ini juga dipenuhi kutipan yang patut direnungkan, terutama soal tindakan yang akan kita ambil.

“… Dari situ aku belajar bahwa jangan suka mengambil risiko untuk sesuatu yang belum kita ketahui.” –hal. 81

Penulis juga menyelipkan pandangannya yang menarik soal takdir. Bahwa takdir telah ditentukan untuk menciptakan keseimbangan.

Jika semua orang dapat memilih takdirnya, dunia ini tak akan seimbang, bukan? –hal. 142

Sedangkan kutipan di bawah ini adalah yang entah kenapa saya suka. Penuh realita, yang memang membuat terpuruk tapi begitulah adanya.

Karena seperti musim, perasaan akan berubah. –hal. 170

Ada kutipan yang sebenarnya sudah sangat mainstream, tapi tidak akan pernah lekang oleh waktu. Karena, sejatinya dalam hidup kita tidak akan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Seperti kisah Astilbe ini.

Ya, mencintai itu tak harus saling memiliki. Bukankah mencintai adalah rela melihat orang yang dicintainya bahagia bersama orang lain? –hal. 215

Secara keseluruhan, Astilbe merupakan novel roman yang menawarkan tokoh utama berbeda dari kebanyakan. Bagi yang ingin mencoba merasakan novel roman dengan tokoh sentral orang ketiga, cobalah membaca Astilbe.

Selamat membaca! 😀

Advertisements

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s