de TEENS · Resensi

#TheSomplakLife – Ayra

20141231_124207

Judul: #TheSomplakLife, Naskah Gue Masih Jomblo, Gue Juga
Penulis: Ayra
Penerbit: de TEENS
Tebal: 184 halaman
Terbit: November 2014


Kapan terakhir kali saya membaca buku yang ngocol, ya? Hmm, mungkin yang terakhir itu You’re Not Funny Enough karya Jacob Jullian. Ah, tapi itu novel fiksi, bukan seperti buku yang baru saja saya selesaikan sore tadi. Iya, buku berjudul #TheSomplakLife ini.

Awalnya, saya pikir buku ini merupakan sebuah novel fiksi yang lucu. Eh, ternyata ketika saya membacanya saya justru mendapatkan kesan seperti membaca buku-buku personal literature sejenis karya Raditya Dika. A bit unexcpected. Dan saya masih belum mendapatkan penjelasan lebih lanjut apakah buku ini sepenuhnya pelit atau ada unsur fiksi di dalamnya dari sang penulis, Ayra. *menunggu balasan mention twitter* :3

Baiklah, buku ini berkisah tentang Ayra (iya, Ayra seperti nama penulisnya). Ayra adalah seorang mahasiswi kedokteran gigi yang terobsesi menjadi penulis meski sampai saat ini naskahnya belum ada yang diterima penerbit.

Motto gue adalah… naskah ditolak, lemparan bertindak. Gue kirim ke perbit lain maksudnya. –hal. 7

Buku setebal 184 halaman ini sendiri tidak cocok jika dikategorikan sebagai cerita yang berkesinambungan. Setiap bab yang menyusun buku ini lebih mirip cerita-cerita pendek dengan konfliknya sendiri, tapi kesemuanya sama-sama menunjukkan betapa somplak hidup Ayra. Ini salah satu kenapa bagi saya buku ini tidak bisa dikategorikan novel dan lebih cocok disebut pelit.

Ada total tiga belas bab dalam buku #TheSomplakLife karya Ayra ini. Jika ditanya bagian mana yang paling saya suka maka saya akan bingung menjawabnya. Membaca #TheSomplakLife ini benar-benar seperti mengikuti aliran sungai, mengalir begitu saja dan menyenangkan. Apalagi gaya bahasanya itu ringan dan, yah, somplak. Khas buku-buku pelit yang bikin perut sakit.

Jika bab satu bercerita tentang naskah Ayra yang ditolak, bab dua bercerita juga sesuai judulnya, Gue Mau Balas Dendam!!! Di bab dua ini, muncul karakter Byan, mantan pacar Ayra yang mengganggu kehidupannya yang tenang dan membuat Ayra ingin balas dendam. Eh, tapi balas dendamnya Ayra ini beda banget. Gadis itu membalaskan dendam dengan menulis.

Intinya, keuntungan jadi penulis itu kalau marah sama orang, tinggal masukin aja dia jadi tokoh cerita dan siksa sesadis mungkin di plotnya. Beres perkara. –hal. 34

Pada bab empat, Jatuh Bangun Writers Wannabe, penulis (sekaligus tokoh Ayra) memberikan pandangan yang sangat menarik soal penulis serta buku yang sedang marak di pasar.

Gue nggak pengen punya banyak novel solo, tapi kualitas teri. Gue nggak gila sebutan jadi novelis. Gue sekadar gila nulis. Heran sama beredarnya writers wannabe sekarang >,<. Write is’nt only how to being novelist… but how much you love it #plakk. –hal. 55

Juga soal tulisan dan plagiarisme yang marak di dunia maya.

Kalau memang nggak mau karyanya di-copas ya jangan di-share di dunia maya dong, Kakaaak^^. Tulisan di duna maya nggak punya dasar hukum yang kuat. Dan, kurang kerjaan banget kalo marah sama plagiat di dumay. –hal. 59

Nah, pada bab ini juga muncul karakter baru, Mas Ardi. Senior Ayra di kampus yang almost perfect dan seorang penulis sukses! Karakter yang justru membuat jalan cerita di bab tiga dan bab empat (judulnya GALAU = God Always Listening and Understanding) saling bersinggungan.

Dari judul bab empat saja sudah tertebak bukan inti masalah di bab ini apa? Iyap, benar sekali, masalah hati. :3

“Mantan itu masa lalu. Ibarat kertas yang sudah kelewat banyak coretan, ya lempar ke tempat sampah.” –hal. 76

Pada bab tujuh yang berjudul Gue, Mas Chun n’ Korea, penulis menceritakan pandangan Ayra tentang demam korea. Serta tentang idolanya, Park Yoochun alias Mas Chun. (Anyway, saya juga suka Yoochun, ganteng sih, wkwk.) Yang paling saya suka adalah, penulis dengan sangat berhasil menusuk-nusuk pembacanya dengan kritik sosialnya.

Gue nggak harus depresi kayak pasien rumah sakit jiwa yang lepas karena nggak ketemu mereka. Nangisin dosa gue sama Tuhan aja jarang, malu dong kalo gue jejeritan karena itu. –hal. 100

Kalau menurut pengamatan gue yang amat sangat subjetif ini, sih, mereka suka Korea sebatas ikut tren, bukan murni suka dari hati. Orang Indonesia kan masih gitu, ikut tren mulu dan belum jadi pencipta tren dunia. –hal. 106

Nah, kira-kira itulah ulasan sekilas saya tentang buku #TheSomplakLife. Tentu tidak seru jika saya menceritakan banyak hal di dalamnya, nanti pembaca jadi tidak bisa menikmati lagi. 😀

Tapi, sebelum saya menutup resensi yang entah kenapa berakhir somplak juga ini #uhuk, saya mau menuliskan kesalahan yang terdapat dalam buku ini.

Satu, pada halaman 21, ada typo berupa salah penulisan nama Rara menjadi Ayra. Mungkin baik editor maupun penulisnya sudah lelah sehingga tidak sadar. Dua, letak halaman 142 yang tertukar dengan halaman 130 (entah pada buku milik saya seorang atau semua cetakan). Pantas saja saya merasa bingung ketika mencapai halaman 130, kok tidak nyambung? Eh ternyata memang tertukar dengan yang ada di halaman 142.

Selanjutnya, saya mau berbagi kutipan tentang pemikiran yang menarik dalam buku ini.

Hidup, kan, nggak kayak di drama Korea favorit gue, di mana cowok semprna selalu jatuh cinta sama cewek biasa. –hal. 16

Kebanyakan teori bikin gue nggak paham. Memangnya kalau sudah lulus dan buka praktik, gue harus bicara teori dengan bahasa medis banget gitu sama pasien? –hal. 20

Hidup kebanyakan negative thinking malah bikin hati cepat busuk. –hal. 59

Heran gue, kenapa masih ada aja orang yang ibadah doang masih nawar? Padahal, mereka disodorin barang mahal nggak pernah nego. Nggak ingat banget kalo duit itu juga dari Tuhan. –hal. 78

Pemimpin yang baik, kan, bukan pemimpin yag selalu bilang iya sama bawahan. Tapi, pemimpin yang mampu memaksimalkan kinerja yang dipimpinnya. –hal. 88

Gila, ada gitu anak yang makan nasi sama garam doang di tengah negara yang menjadi salah satu penghasil tambang terbesar. Duitnya ke mana semua, tuh? –hal. 89

Ah… kapan pendidikan di Indoensia bisa terjangkau semua lapisan? Negara gue tercinta, mungkin karena di sini banyak tikus sama tuyulnya kali. –hal. 131

“Banyak orang yang berpikir mereka tahu yang terbaik untuk diri sendiri. Tapi, faktanya sering kali mereka terjatuh karena keputusannya. Kenapa? Karena mereka nggak mau mendengar pendapat orang lain yang peduli sama mereka.” –hal. 175

Serta banyak kutipan yang nge-jleb banget soal menulis, penulis, atau, yah, seputar itulah. :”D

“Gue pengen jadi penulis yang menginspirasi dan melahirkan karya yang bicara, bukan sekadar buku bacaan yang habis dibaca, ditelantarkan begitu aja.” –hal. 61

“Sadar nggak, sih, lo kalau masalahnya bukan di Yoga, tapi di hati lo? Lo bisa, kok nggak berenti nulis kalau memang elo punya niat kuat di dalam hati.” –hal. 148

“Kalau kamu kena writer’s block, kamu akan melakukan pekerjaan itu setengah hati.” –hal. 153

Menulis itu bukan apa, kenapa, atau pun siapa, tapi masalah komitmen diri sendiri akan apa yang ingin diraih. –hal. 154

“Penulis itu nggak butuh menghasilkan puluhan judul novel untuk menyandang sebutan penulis. Mereka tidak terbatas media atau apa pun untuk menuangkan imajinasinya. Sementara, novelis harus menghasilkan minimal satu novel untuk disebut seperti itu.” –hal. 181

“Percaya atau tidak, mereka yang tidak tulus akan menimbulkan begitu banyak celah pada tulisannya.” –hal. 181

Mendekati akhir tulisan ini, saya ingin berbagi dua dari sekian banyak bagian yang bikin saya tertawa di buku #TheSomplakLife ini.

Gue jatuh cinta sama Rain alias Jung Ji Hoon a.k.a Bi. Nama aliasnya banyak banget, saingan sama teroris, deh. –hal. 102-103

Keluarga gue nggak punya keturunan darah biru karena darahnya warna merah. –hal. 124

Dan masih banyak lagi yang membuat saya tertawa dalam buku ini. terlalu banyak hingga jika saya beritahu semuanya bisa-bisa saya memindahkan isi buku itu di sini. :))

Well, saya sangat merekomendasikan #TheSomplakLife ini bagi yang ingin mencerahkan harinya dengan bacaan yang ringan tapi juga berisi kritik dan penuh pesan nge-jleb. Apalagi jika buku itu ditutup dengan kalimat seperti ini:

Bukankah yang memulai dari titik terbawah akan lebih bertahan lama ketika meraih sebuah kesuksesan dan yang instan juga akan jatuh semudah mereka meraihnya? –hal. 183

Selamat membaca! 😀

Advertisements

4 thoughts on “#TheSomplakLife – Ayra

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s