Yunani, di Gerbang Parthenon – Marianne Andre

20150118_110106Judul: Yunani, di Gerbang Parthenon
Penulis: Marianne Andre
Penerbit: PING!!!
Tebal: 404 halaman


 

Tidak terlihat seorang pun yang mengenakan kaus, celana, jin, topi, kacamata hitam, dan kamera yang menggantung di leher. Tidak ada.

Blue menyandarkan dirinya pada satu tiang Parthenon, meletakkan telapak tangan kanan di dahi. “Aku tidak demam, berarti aku tidak sedang mengigau.” Kemudian, Blue mencubit tangannya sendiri dan meringis. “Aduh, sakit! Artinya, aku tidak bermimpi. Ini nyata. Tapi, kenapa orang-orang ini tampak berbeda. aku juga. Dengan mudahnya, aku berbicara bahasa asing yang baru sekali ini kudengar. Ada yang aneh di sini. Tapi, apa?” –hlm. 73

Benar, Blue telah tersesat ke masa lampau. Kejadian itu bermula ketika Blue ikut saudara-saudaranya berlibur ke Athena, Yunani. Saat mereka sedang mendaki reruntuhan Kuil Parthenon, Blue terjatuh dan tidak sadarkan diri. Saat itulah roh Blue terlempar ke masa lalu.

Di saat Blue menjelajah Athena ribuan tahun lalu dengan kemegahannya yang masih utuh, tubuhnya tak sadarkan diri di masa kini—masa Blue benar-benar hidup. Gadis itu seakan tertidur lelap karena tidak ada keanehan pada hasil pemeriksaan kesehatan.

Kecelakaan yang dialami Blue terdengar Red, kakak lelaki kembar Blue yang telah meninggal. Red, yang saat itu berada di padang rumput hijau di alam sana (mungkin maksudnya surga gitu ya :D). Red yang saat itu sudah berupa roh pun turun ke Bumi dan berusaha mencari roh Blue yang tersesat.

“Aku sudah mencarinya di setiap jengkal Parthenon, berkali-kali mengelilingi Acropolis hingga ke kaki bukit. Tapi, Blue tidak ada di sana.” –hlm. 125

Di saat seluruh keluarganya berharap matanya segera terbuka, Blue justru sedang menikmati Athena bersama keluarga Klaimaskos. Ada sang ibunda, Ione Klaimaskos yang menganggapnya sebagai anak sendiri. Serta keempat anaknya, Arkos sang anak pertama yang sangat memenuhi tipe lelaki kesukaan Blue, Demos yang baik hati serta hangat, Aeros yang diam-diam sangat senang mendapat kakak perempuan, dan Theona yang jahil tapi sangat bahagia memiliki kakak perempuan.

Selain masalah bagaimana cara untuk pulang, ada masalah baru yang dihadapi Blue. Masalah itu bermula ketika topik pernikahan diajukan.

“Kamu lebih tua dariku, Blue. Tentu saja kamu harus segera menikah, tentu saja sebelum aku. Benar kan, Ibu?”

Ione memandang Blue. “Ya, Theone benar. Sudah seharusnya Blue menikah. Tapi, Blue bukan penduduk asli Athena. Dia tidak diizinkan menikah dengan laki-laki Athena.”

Theone kembali mengendikan bahu. “Jika  Ibu mengakui Blue sebagai anggota keluarga kita yang sementara ini tinggal di luar Athena, maka Blue bisa menikah dengan laki-laki Athena.” –hlm. 143-144

Begitulah kisah petualangan Blue di Athena dalam novel Yunani, di Gerbang Parthenon ini. Sejujurnya, begitu membaca bab 1, saya sama sekali tidak menyangka bahwa sang tokoh utama akan terlempar ke masa lalu—ah, tapi sinopsis di belakang buku sudah menyiratkan sih sebenarnya, saya saja yang tidak membaca sinopsisnya.

Bahkan, bab 1 itu dihilangkan pun sepertinya tidak masalah. Karena tidak berisi apa pun yang penting selain adegan Alex, sepupu Blue, memaksa gadis itu ikut berlibur ke Yunani. Menurut saya pribadi pun, bab 1 tidak memancing keinginantahuan pembaca dan justru sekadar berisi obrolan seputar biaya liburan ke Yunani yang mahal dan tabungan Blue yang bisa habis jika ikut berlibur.

Selain bab 1, bab-bab selanjutnya tersusun dengan baik dan rapi. Sehingga membaca Yunani ini menyenangkan. 🙂

Satu kelebihan yang saya temui adalah persoalan Blue terlempar ke masa lalu. Saya sama sekali tidak mendapatkan gambaran akan dibawa ke mana cerita ini begitu Blue terjebak di masa lalu. Apa masalah penting dan klimaks utama dalam novel semacam ini nantinya? Perihal roh Blue yang tidak bisa kembali ke masanya sendiri, kah? Atau masalah-masalah yang justru timbul karena Blue terjebak?

Saya masih belum mendapatkan gambaran hingga mencapai bagian topik pernikahan di angkat. Ah, sepertinya masih bermain di zona roman. Saya pikir Blue tersesat karena dia adalah seseorang yang dipanggil ke masa lalu gitu, haha, setipe cerita the chosen one deh. Saya jadi teringat drama korea Rooftop Prince deh. Mirip-mirip, tapi beda. 😀

Anyway, bagi saya, karakter Red itu muncul terlalu terlambat. Pada akhirnya, Red punya peran penting dalam kepulangan Blue. Tapi, dia muncul terlalu terlambat. Saya bahkan tidak pernah berpikir akan ada karakter Red. Saya pikir mungkin justru Alex atau Theo—teman Alex di Yunani—yang memacu kepulangan roh Blue ke masanya sendiri.

Ada beberapa poin yang cukup membuat logika cerita dalam Yunani ini saya pertanyakan.

Satu, jika roh Blue terlempar ke masa lalu, kenapa di masa lalu dia tidak berwujud roh dan justru punya tubuh yang nyata? Tubuhnya kan tertinggal di masa kini. Seharusnya hanya rohnya yang ada di masa lalu, seperti Red yang menyusulnya dalam bentuk roh maka hanya tidak punya tubuh fisik.

Dua, tidak ada penjelasan yang jelas bagaimana Blue bisa berkomunikasi di masa lalu itu. Bahkan kenapa gadis itu bisa mengenakan peplos, gaun khas zaman itu, pun tidak jelas. Apakah rohnya berganti baju ketika melewati portal waktu?

Tiga, kenapa tidak ada yang mempertanyakan Blue? Memangnya fisik orang Indonesia tidak berbeda dengan orang Yunani, kah? Tidak adakah petugas pemerintah, penjaga, atau apa lah lainnya yang mempertanyakan keberadaan Blue dalam keluarga Klaimaskos? Bahkan tetangganya pun tidak ada yang bertanya.

Empat, kenapa Red tidak ada di sisi Blue ketika Blue melewati portal untuk kembali? Bahkan … kenapa Arkos dan Demos bisa tidak tersesat ketika melewati portal itu padahal saat Blue yang lewat Red mewanti-wanti? Saya jadi bingung. :/

Terlepas dari itu semua, Yunai ditulis dengan baik. Penulis banyak menyisipkan petuah-petuah berharga dari kehidupan Athena di masa lalu.

“Ya, memang, tapi seorang perencana terhebat sekalipun membutuhkan para pelaksana hebat untuk mewujudkan rencana-rencananya.” –hlm. 211

“Berbeda sekali dengan para pemimpin militer di tempat asalku. Para jenderal, petinggi militer, atau pemimpin lain hanya memberi perintah dari tempat teraman dan terlindungi. Mereka mengirim prajurit-prajurit baru dan tidak berpengalaman ke medan perang, tidak peduli jika para prajurit itu terlalu muda dan belum siap mental melihat kekejaman perang.” –hlm. 219

Tapi, kehidupan nyata membuktikan bahwa kesempurnaan fisik tidak berbnding lurus dengan keindahan batin.—hlm. 283

“Tapi, sebagai seorang pemimpin dia seharusnya lebih berhati-hati dengan kehidupan pribadinya. Karena, rakyat biasa melihat dan menjadikan kehidupan pribadinya sebagai panutan.” –hlm. 306-307

Ada juga beberapa kutipan yang menyentil, biasalah, soal perasaan, hati, dan keluarga. :”D

“Tentu saja Red akan senang jika Blue di sini bersamanya. Tapi, Red akan lebih bahagia jika Blue menjalani kehidupan yang bahagia.” –hlm. 127

“Seiap orang memerlukan waktu dan proses untuk memulihkan diri. Hanya saja, sebagian orang tidak mengakui perasaan mereka, lebih memilih berpura-pura agar dianggap orang-orang yang hebat.” –hlm. 194

“Tersenyumlah, Blue. Walaupun kakakmu idak di sini bersamamu, tapi kami semua di sini bersamamu.” –hlm. 233

“Arkhos, kamu selalu ada setap kali aku membutuhkan bantuanmu. Karena itu, aku akan ada setiap kali kamu membutuhkanku. Itu arti keluarga, iya, kan?” –hlm. 316

“Aku mempunyai beberapa keinginan, tapi di antaranya tidak mungkin aku dapatkan, walaupun aku sangat menginginkannya.” –hlm. 355

Satu poin lebih yang saya salut dengan penulisnya adalah bagaimana penulis memasukan unsur realita yang jarang ditemui dalam cerita terlempar ke masa lalu seperti ini. Unsur yang melibatkan kepercayaan. Dalam novel ini, Blue sama sekali tidak mengikuti kegiatan beribadah penduduk Athena, bahkan Blue dikatakan masih rajin melakukan ibadah agama yang dianutnya (meski saya bingung bagaimana Blue bisa menentukan waktu sholat lima waktu yang tepat ._.). Blue juga tidak minum air yang telah dicampur anggur, seperti kebiasaan penduduk Athena lainnya. Banyak sisi-sisi realis yang cukup ditampilkan penulis sehingga menambah nilai plus novel ini di mata saya.

Terakhir, meskipun novel Yunani, di Gerbang Parthenon ini berakhir sebagai kisah roman alih-alih petualangan tersesat di masa lalu yang melibatkan penyelamatan dunia ala Sang Terpilih, banyak hal-hal kecil yang justru membuat saya menikmatinya. Cocok sekali sebagai teman berliburan bagi yang menyukai sejarah atau mitologi Yunani—dan tentu saja karakter laki-laki yang rupawan hehe.

Selamat membaca! 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Yunani, di Gerbang Parthenon – Marianne Andre

    • Yup, roman, Kak. Kalo nyari kisah penuh petualangan fantasi, sebaiknya buku ini dikeluarin dari list daripada kecewa (kayak saya *sigh*).

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s