MAZOLA · Resensi

[review] The Doctor

20150118_110154

Judul: The Doctor
Penulis: Rahadi W. Pandoyo
Penyunting: Itanov
Penerbit: MAZOLA
Cetakan: Pertama, 2015
Tebal: 291 halaman

Apa yang ada dalam pikiran kita ketika mendengar kata “dokter”? Saya cukup yakin, mayoritas akan berkata bahwa itu profesi yang prestise. Entah dari mana, kita juga pasti akan langsung berkata bahwa seorang yang menjadi dokter pastilah kaya—entah hanya orang-orang kaya saja yang dapat bersekolah kedokteran atau seorang lulusan kedokteran pasti akan kaya.

Dokter dianggap tak butuh tidur karena tidak punya rasa capek. Dokter harus selalu mementingkan kepentingan orang lain karena seperti halnya malaikat, mereka sendiri tidak punya kepentingan sama sekali. Bila dokter bicara soal jasa medis atau harga obat, pandangan orang terhadapnya bisa langsung berubah, bukan lagi terlihat seperti malaikat, melainkan setan. –hlm. 171

Segala stereotipe yang melekat kuat dalam otak kita itu, dibantah oleh Rahadi W. Pandoyo dalam novel The Doctor ini.

Novel ini menceritakan kisah seorang dokter muda yang baru memulai karirnya. Dilahirkan dari orang tua buruh pabrik tahu, tidak menyurutkan langkah Adib menggenggam pendidikan dokter. Dengan usaha keras dan penuh perjuangan, Adib telah bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Bekasi. Hidupnya sebagai dokter muda disempurnakan dengan keberadaan Nirmala, istrinya yang tengah mengandung.

Akan tetapi, kadang kita tidak tahu cobaan apa yang diberikan oleh Tuhan kepada hamba-Nya. Dalam satu kedipan mata, kehidupan indah yang dijalani Adib lenyap seketika. Dia diberhentikan sebagai dokter, bekerja sebagai dokter jaga apotek di malam hari hingga menyambi sebagai tukang parkir.

Bila wajah sial sedang menyapamu, seluruh dunia akan meninggalkanmu. Itu sudah hukum alam. Suka ata tidak suka, telanlah. –hlm. 16

Hidup Adib sangat berat hingga Mitha, pujaan hatinya semasa menjadi mahasiswa, hadir dalam hidupnya. Pertemuan dengan Mitha memang memberikan Adib pekerjaan dengan penghasilan lebih banyak (meski ilmu kedokterannya berakhir tidak digunakan). Akan tetapi, ternyata cobaan tidak berhenti juga menimpa Adib hingga rumah tangganya berada di ujung kehancuran.

Novel The Doctor menunjukkan sisi perjuangan menjadi seorang dokter. Penulis dalam novel ini juga mengungkapkan suka dan duka menjadi dokter muda, mulai dari senioritas yang tinggi, rekan dokter yang hanya memikirkan karir sendiri, hingga pasien yang menuntut ganti rugi atas kesalahan yang belum tentu disebabkan obat resepannya. Penulis berhasil menunjukkan bahwa dokter itu tidak seindah persepsi yang melekat kuat di masyarakat kita.

Dalam novel ini juga, penulis menyelipkan ironi-ironi yang mewabah di sekitar kita. Ironi yang terkadang kita ketahui tapi memilih untuk menutup mata.

“Tuh, semua pejabat juga disumpah, Dok, tapi masih korupsi juga, memang kenapa kalau udah disumpah?” –hlm. 31

“Babe gue ngerokok. Guru di sekolah gue ngerokok. Temen gue bapaknya dokter, ngerokok juga. Terus kenapa?” –hlm. 61

“Siapa bilang kita tidak mengutamakan pasien? Memang kepentingan pasien adalah utama, tapi kepentingan pasien bukan cuma sembuh thok! Mereka juga ada level-levelnya.” –hlm. 92

Dokter tidak pernah diajari cara mencari uang. Kebanyakan dokter akan menjadi buruh, menerima gaji, dan bekerja di bawah perintah majikan, baik sebagai pegawai negeri sipil maupun karyawan swasta. –hlm. 98

“Pengabdian juga ada titik jenuhnya. Apalagi kalau tidak ada yang peduli pada pengabdian kita. Pemerintah tak peduli, masyarakat pun tahunya hanya menuntut.” –hlm. 236

Ditulis dengan alur maju (yang sesekali berisi sedikit cerita di masa lalu, pertemuan Adib dengan Nimala dan pertemuan Adib dengan Mitha), The Doctor juga berisi banyak bagian-bagian yang menjadi renungan.

“Aku mengajakmu ke sana bukan untuk mengajari kamu jadi buruh pabrik tahu! Cukuplah bapakmu yang kerja macam begini, asal kamu tahu bagaimana beratnya kerja jadi buruh, supaya kamu bisa mengambil pelajaran.” –hlm. 167

“Kadang-kadang, ada orang yang tidak sebaik yang kita kira.” –hlm. 207

Saat paling tidak menyenangkan bagi seorang dokter adalah tatkala ia bersama seseorang yang masih menjejakkan satu kakinya di dunia fana, sementara kaki sebelahnya telah diangkat untuk melangkah ke sisi lain, alam baka. –hlm. 257

“Di dunia ini, banya orang menyebalkan, seolah-olah misinya di dunia hanya menyusahkan kita. Tapi, percayalah, orang-orang baik juga ada dan banyak.” –hlm. 264

Meski demikian, saya paling suka kutipan di bawah ini:

“Realistis itu membosankan.” –hlm. 235

Adib dalam novel ini digambarkan sebagai tokoh yang memiliki semangat tinggi untuk menjadi dokter ketika masih menjadi mahasiswa. Akan tetapi, harapan itu seakan lenyap ketika dia telah ditimpa berbagai macam musibah. Adib menjadi karakter yang sangat realistis. Begitu realistis hingga apa pun yang dilakukannya berorientasi pada uang.

Bagi saya pribadi, pergolakan dalam karakter Adib-lah yang paling menyenangkan untuk diikuti dalam novel ini. 🙂

Meski, sejujurnya, affair yang timbul dalam hati Adib ketika bertemu Mitha itu terasa “err banget”. Bukannya dia sudah beristri, kok begitu melihat Mitha langsung semacam salting sih? Okelah, dia sudah lama tidak berjumpa istrinya, tapi kan tetap saja. -_-

Satu hal lagi yang mengganjal adalah kenyataan Adib semasa menjadi mahasiswa menerima order mengerjakan tugas teman-temannya untuk menambah penghasilan. Rasanya itu sedikit di luar karakter Adib yang berpegang teguh pada prinsip (terbukti dari dia tidak ingin melanggar sumpah dokter untuk menjadi calo aborsi). Bukankah dengan menerima order itu berarti Adib semacam memberikan contekan kepada temannya?

Kemudian, kover The Doctor ini justru terlihat sebagai novel misteri. Awalnya saya pikir novel ini akan bercerita tentang kisah pembunuhan atau sesuatu yang mengerikan tentang dokter, eh ternyata begitu menengok sinopsisnya, novel ini justru lebih cocok disebut novel drama.

Terlepas dari itu semua, moral paling penting dalam jatuh-bangunnya hidup Adib sebagai dokter muda dapat disimpulkan dalam kutipan berikut:

Setelah kini tak lagi berada di rumah sakit, tidak bekerja sekadar dalam rangka mengumpulkan fee itu saja, jadi lebih terasa bahwa apa yang dilakukannya ternyata sangat berart bagi orang lain. –hlm. 266

Ah, jika harta tidak menjadi tolak ukur untuk berbagai macam hal dalam hidup, saya pikir akan lebih menyenangkan….

Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin mengetahui sisi lain dari profesi dokter. Sekaligus bagi mereka yang percaya bahwa kerja keras akan membuahkan hal yang manis. 🙂

Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “[review] The Doctor

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s