GagasMedia · Resensi · Young Adult

Tomodachi – Winna Efendi

20150128_123734 Judul: Tomodachi
Penulis: Winna Efendi
Penyunting: Gita Romandhona & Ayuning
Penerbit: GagasMedia
Tebal: xiv + 362 halaman


Membaca Tomodachi itu seperti membuka kenangan masa-masa berseragam sekolah. Kenangan itu menyerbu dalam kepala saya begitu selesai menghabiskan Tomodachi. Pertengkaran dengan teman, dimarahi guru, datang terlambat, ujian sekolah, perlombaan antarkelas, merisaukan masa depan, hingga kisah cinta. Tomodachi merangkum semua pahit-manis di sekolah, yang sedang atau sudah dilewati para pembacanya.

Lalu, seperti pengakuan Winna Efendi di Ucapan Terima Kasih, Tomodachi berusaha menggambarkan kompleksitas kisah dan karakterisasai lewat keseharian yang tampak sederhana. Bagi saya, Winna berhasil melakukannya. Penggemar anime atau manga shoujo pasti tak asing dengan Kimi ni Todoke. Iya, Tomodachi dibawakan sangat mirip dengan Kimi ni Todoke. Penulisnya sendiri pun mengakui bahwa Kimi ni Todoke adalah inspirasi Tomodachi.

Berbeda dengan Kimi ni Todoke yang berakarakter utama gadis pendiam dan dijauhi, karakter utama Tomodachi adalah seorang gadis penuh semangat, Tomomi namanya. Bersama sahabatnya Chiyo, Tomomi mendaftar Katakura Gakuen. Di sekolah barunya itu, Tomomi bertemu Tomoki, seorang pemuda yang awalnya terus bersitegang dengannya hingga mereka berakhir sebagai sahabat baik setelah dikerjai semasa kegiatan ekstrakurikuler. Juga ada Ryu, pemuda pendiam yang lebih senang mengamati (btw, karakter Ryu di sini mirip sama Ryu di Kimi ni Todoke, hanya karakternya ya tapi :D). Serta seorang gadis bernama cukup aneh, Tabitha, yang judes tapi ternyata berhati lembut.

Tomodachi yang berarti ‘teman’ ini memberikan sebuah kejutan bagi saya, kisah keluarga. Saya pikir novel ini hanyalah kisah semasa sekolah yang berisi persahabatan dan kisah cinta terpendam dalam persahabatan itu, eh, ternyata Winna mengejukan saya dengan latar keluarga Tomomi yang tanpa ayah. Winna lebih mengejutkan saya dengan latar keluarga Tomoki, pemuda yang selalu ceria itu. Genre family selalu membuat saya terenyuh, dan Winna berhasil membuat saya terenyuh dengan sisi-sisi keluarga dalam Tomodachi.

“Lumayan ada sosok yang selalu tersenyum hangat, membuatkan masakan yang enak-enak, setelah sedemikan lama kami semua makan tak teratur. Lumayan ada sosok ibu yang mengambilkan rapormu di sekolah, dan membelikan buku-buku pelajaran pada hari pertama tahun sekolah baru dimulai. Ada orang tua yang mendengarkan keluh-kesahmu, dan menjaga kami sepenuh hati. Otō-san pun tak lagi sering mengurung diri di ruang kerjanya. Lama-kelamaan, lumayan itu berkembang menjadi sesuatu yang lain—rasa bahagia, dan syukur.” –hlm. 222

Bagian lain yang paling saya suka dari Tomodachi adalah cara Winna menggambarkan Tomoki ketika berlari. Seperti seorang pemuda dengan sayap di kakinya. Ah, ini deskripsi yang shoujo manga banget. Saya jadi kangen Kimi ni Todoke selepas menghabiskan Tomodachi. Saya juga kangen masa-masa sekolah, hihi. :’)

Terlepas dari idenya yang klasik, karakternya yang umum, dan konfliknya yang remaja, Tomodachi terasa utuh dan menyentuh. Winna berhasil menghidupkan karakter-karakternya, perasaan Tomomi, semangat Tomoki, kebaikan Chiyo, perhatian Ryu, hingga kegigihan Tabitha. Mereka seakan hidup dan mengajak saya menjelajah masa sekolah. Sayang, Chiyo yang berperan sebagai sahabat kurang tergali latarnya. Saya bahkan tidak mendapatkan informasi apa pun soal keluarga Chiyo, berbeda dengan karakter yang lain.

Alur Tomodachi sendiri tergolong lambat. Disuguhkan dengan gaya bahasa Winna Efendi yang sudah tak perlu dipertanyakan, Tomodachi merupakan bacaan yang menyenangkan. Hanya saja, bab pembukaan novel ini terlalu membosankan. Winna terlalu banyak menceritakan tentang sakura, sakura, sakura, sehingga saya harus mempercepat tempo membaca hingga menemukan bagian yang menarik, yaitu olok-olokan Tomomi dan Tomoki di upacara penerimaan siswa baru.

Akan tetapi, alur beginilah yang memberikan kesan manis, jujur, dan lembut dalam Tomodachi. Untung saya tidak berhenti membaca karena deskripsi panjang-panjang di bab pembuka. XD Yah, tentu saja Tomodachi dibanjiri banyak kutipan seputar masa depan, pertemanan, hingga kebahagiaan. Beberapa kutipan saya rangkum di bawah ini:

“Masa depan adalah sesuatu yang sulit diprediksi.” –hlm. 156

“Menerima pertolongan dari teman tidak berarti kau lemah, lho.” –hlm. 217

“Kebahagiaan tak pernah jauh dari jangkauanm, Tomo. Kalau kau percaya, ia akan datang dengan sendirinya.” –hlm. 222

Dengan kelebihan (yang saya ceritakan tidak runtut di atas gomenasai orz), Tomodachi menyimpan beberapa hal yang membuat saya heran.

Satu, adegan halaman 122-124, ketika Tomomi menatap Hasegawa (well, jika penasaran pada Hasegawa silakan ambil dan baca novel ini :P) bersama Tabitha dari kejauhan itu membuat saya bingung. Bukankah Tabitha itu manajer klub? Lantas, kenapa dia ada bersama Tomomi di saat klubnya berlatih? -_-

Dua, pada halaman 147, ketika perlombaan lari, Tomomi mengumpulkan informasi tentang lawannya. Saya heran, kenapa baru ketika akan bertanding Tomomi melakukan hal itu? Mereka punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri sebelum pertandingan, termasuk waktu untuk menganalisis lawan, bukan?

Tiga, ada kesalahan penulisan pada halaman 194. Kata “teradang” di sana seharusnya “terkadang”. Sebuah kesalahan penulisan yang tidak pada tempatnya untuk novel terbitan GagasMedia, bagi saya pribadi.

Empat, pada halaman 325 dikatakan Hasegawa mengambil kuliah kedokteran, padahal di bagian sebelumnya (halaman 156) diceritakan bahwa pemuda itu ingin berkuliah hukum. Nah, lho, kok tidak sinkron ya? Sebuah kesalahan penulisan, penyuntingan, atau kelalaian proofreader, hm?

Terlepas dari empat poin di atas, saya sangat menikmati Tomodachi. Bagian paling saya suka jelas bagian Tomomi mengisahkan bagaimana Tomoki berlari. Saya selalu suka bagian itu.

“Orang-orang di sekolah lama kami menjulukinya Ace—jagoan ulung.”

Ace. Ah. Rasanya aku mengerti.

Karena saat Tomoki beralri, dia begitu cepat, seolah-olah memiliki sepasang sayap. –hlm. 98

Novel ini sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang menikmati shoujo manga, novel remaja yang manis, atau siapa saja yang merindukan masa sekolah. Selamat membaca! 😀

Advertisements

4 thoughts on “Tomodachi – Winna Efendi

  1. Arghh Mba Winda Effendi 😀
    Seri School yang belum kupunyai ::D Genre family bikin nyesnyes di hati 🙂
    Tomomi….Hasegawa….kalian seperti apaaaaaa? *ngencesin Tomodachi*

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s