Erau Kota Raja – Endik Koeswoyo

20150118_110132

Judul: Erau Kota Raja
Penulis: Endik Koeswoyo
Penyunting: Diaz
Tebal: 204 halaman
Penerbit: PING!!!
Cetakan: I, 2015
Harga: Rp 40.000,00


Satu hal yang terlintas di benak saya ketika melihat sampul Erau Kota Raja adalah buku ini berisi petualangan dengan unsur misteri atau paling tidak balutan cerita budaya yang kental. Itu ekspektasi saya begitu melihat sampulnya—yang sama dengan poster film yang telah beredar. Karakter tokoh dengan topeng dan mahkota itu sepertinya yang jadi penyebab.

Akan tetapi, segala ekspektasi saya langsung pupus begitu mengintip sinopsisnya. Duh, sepertinya unsur roman bakal lebih mendominasi dalam novel ini. Kenyataannya? Begitulah adanya.

Erau Kota Raja ini bercerita tentang petualangan Kirana, gadis wartawan dari Jakarta yang ditugaskan meliput Festival Erau di Kutai Kartanegara. Kirana pergi menjalankan tugasnya dengan perasaan galau. Bagaimana tidak, sebelumnya dia baru saja mengakhiri hubungannya dengan Doni, lelaki yang menjadi pacaranya selama empat tahun karena Doni tidak juga siap menyanggupi permintaan menikah Kirana.

Lalu, di Kutai Kartanegara, Kirana bertemu Reza. Seorang pemuda lulusan Kedokteran yang memilih bekerja sebagai pengantar kerajinan tangan khas daerah untuk dipasarkan. Karena suatu sebab, Kirana pun berakhir senantiasa ditemani Reza selama di sana. Mereka menjelajahi sudut-sudut alam dan menikmati Festival Erau bersama. Kedekatan yang berujung masalah Reza dengan ibundanya semakin mengangga.

Begitulah garis besar cerita Erau Kota Raja. Pembaca akan disuguhkan dengan cerita beralur maju. Endik Koeswoyo menuliskan novel ini tanpa usaha menimbulkan rasa penasaran pembaca. Sejak awal, pembaca langsung disuguhkan kisah yang membuat sang tokoh utama Kirana galau perihal jodoh.

“Kapan sebenarnya dua orang itu disebut berjodoh? Apakah ketika mereka mulai jatuh cinta, lalu pacaran? Terus, kalau putus, berarti mereka bukan jodoh?” –hlm. 21

Semua kejadian dalam novel ini ditulis berurutan, seperti mengeja alfabet. Menurut saya pribadi, alur ini membuat Erau Kota Raja sangat monoton.

Alurnya yang datar ini diperparah dengan cara penulis menceritakan tempat-tempat dalam novel ini. Terasa hambar dan tidak membuat imajinasi saya langsung melayang untuk membayangkannya. Penulis terlalu tergesa-gesa untuk mengatakan tempat ini indah dan tidak berusaha memainkan imajinasi pembaca.

Mata Kirana tertuju pada kapal-kapal besar di tengah sungai. Kapal-kapal tongkang yang mengangkut batu bara layaknya bukit-bukit yang berjalan di atas air. Indah. –hlm. 72

Penulis juga terlihat tidak berusaha menggambarkan lebih detail tempat-tempat dalam Erau Kota Raja ini. Padahal ada banyak tempat yang terdengar menarik tapi karena dideskripsikan dengan minim justru membuat saya bingung bentuknya seperti apa. Terlalu minimalis.

Mereka menuju museum yang tak jauh dari Waduk Sukarame. Museum Kayu Tuah Rimba namanya. Di sana, tersimpan banyak kerajinan dari kayu dan rotan. Kursi, meja, dan alat-alat rumah tangga. –hlm. 111

Festival Erau sendiri yang menjadi judul dan alasan pekerjaan Kirana tidak diceritakan dengan detail. Padahal saya penasaran seperti apa bentuknya. 😐

Mungkinkan deskripsi yang minim ini karena Erau Kota Raja diangkat dari film? Jadi, pembaca novel ini diharapkan sudah melihat film tersebut. Atau justru ditulis dengan minim deskripsi supaya penasaran dan pergi menonton filmnya? Hmm….

Tokoh-tokoh dalam Erau Kota Raja sendiri tidak cukup hidup. Okelah, perasaan galau Kirana cukup dieksplor, tapi pandangan perempuan itu perihal pekerjaan yang dilakukannya itu terasa dipaksakan. Kirana sering berpikir atau berkata bahwa dia mengerjakan pekerjaanya dengan terpaksa.

“Beruntunglah mereka yang bekerja dengan hati, mereka yang mencintai pekerjaan, dan bekerja dengan bahagia. Nggak kayak gue.” –hlm. 31

Eh, tapi dalam deskripsi juga diceritakan bagaimana dia berusaha mencari berita sebaik mungkin—dengan deskripsi bagaimana dia mengambil gambar, mewawancarai orang-orang, hingga menuliskan berita. Bahkan saya tidak merasakan kesan “terpaksa” dalam tulisan ketika menceritakan aktivitas Kirana sebagai wartawan di Kutai Kartanegara.

Kirana berputar ke sana-kemari, mencari sudut terbaik untuk mengambil gambar dalam berbagai posisi. Kadang ia berdiri, berlutut, sampai berjongkok. Raut mukanya pun berubah-ubah. Kadang tersenyum ketika melihat hasil tangkapan gambarnya, kadang juga mukanya dilipat-lipat. –hlm. 83

Yang pastinya, saya tidak merasakan gejolak perasaan Kirana. Gadis itu hanya ditulisakan sedih, galau, sudah begitu saja. Tidak ada kalimat-kalimat yang membuat pembaca ikut terlarut dalam perasaannya. Pun dalam perasaan tokoh-tokoh yang lain.

Lain lagi dengan karakter Reza. Pada pertemuan pertama, Reza digambarkan dengan pemuda berwajah angkuh—begitu juga kesan Kirana pada pemuda itu. Lalu, Reza muncul sebagai pemuda yang gigih melestarikan budaya, seseorang dengan nasionalisme yang tinggi. Eh, tapi, saya tidak habis pikir dengan sikapnya terhadap sang ibu. Ketika berhadapan dengan sang ibu, Reza langsung berubah seperti pemuda labil yang senang memberontak dan tidak hormat pada orang tua. Dia juga menjadi laki-laki tidak tegas mengenai perkara Alia. Atau mendadak terlihat melankolis ketika bersama Kirana. Duh, Mas.

Karakter Pak Camat sendiri itu too good to be true. Pejabat yang sederhana, baik hati (mau saja menerima Kirana yang tidak dikenalnya menginap di rumahnya), sabar, pengertian, bijak, pokoknya orang baik banget. Istrinya juga. Their character just too perfect.

Btw, yang saya herankan itu, kenapa Pak Camat memanggil istrinya dengan Bu Camat? Bukan “Sayang” atau “Istriku” atau panggilan lain? Jadi sangat-sangat terlihat bahwa karakter mereka itu tidak diberikan nama.

Lalu, saya menemukan kesalahan penulisan yang cukup fatal di halaman 183. Harusnya itu “jawab Kirana” bukan “jawab Alia”. Selain kesalahan ini, saya tidak menemukan kesalahan lain. entah karena tidak fatal sehingga saya tidak sadar atau memang tidak ada.

Terlepas dari berbagai macam kekurangan yang saya beberkan di atas, Erau Kota Raja juga memiliki nilai lebih. Salah satunya adalah pemikiran-pemikiran Reza yang menyenangkan sekali jika ada di diri semua orang. (Utopis banget ya xD)

“Ini tuh warisan leluhur! Tradisi yang harus dilestarikan! Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau peduli, Bu? Ini tanda pengenal kita, Bu, simbol kebangkitan kebudayaan daerah kita!” –hlm. 60

“Hidup susah itu menjadi tanda kalau manusia kurang bersyukur. Udah enak dikasih udara tiap detik tanpa bayar, kok dibilang susah?” –hlm. 82

“Tapi, emang harus dapat untung? Yang penting, hati seneng. Itu udah keuntungan gede.” –hlm. 88

“Hidup bukan selalu soal duit, Bu. Ada yang lebih penting….” –hlm. 93

“Kalau semua orang pinter seperti Alia meninggalkan kampung ini, masyarakat desa nggak bisa maju, Bu. Siapa lagi yang bisa menolong masyarakat desa kalau nggak masyarakat desa ini sendiri.” –hlm. 101

Erau Kota Raja sendiri menyimpan kutipan makjleb tentang “jodoh”, yang tentu saja dari sudut Kirana.

“Aku hanya datang sebagai ujian buat kamu supaya nggak salah memilih.” –hlm. 187

“Jodoh itu adalah orang yang bertahan dengan kita, apa pun keadaannya.” –hlm. 191

Untuk ending, sebenarnya cukup menyimpan kejutan. Saya sama sekali tidak terbayangkan akan kehadiran tokoh satu itu. Hanya saja, lantas saya bingung, dari mana tokoh itu kenal Reza? Duh, membingungkan sekali karena tidak ada penjelasannya. Reza kayak nongol begitu aja mirip hantu terus berusaha menghibur. -_-

Bagian penutupannya juga cukup manis. Sayang, unsur kebetulannya terlalu kental jadi, yah, saya tidak bisa memberikan selain it’s okay untuk Erau Kota Raja.

Bagi mereka yang membutuhkan cerita ringan sekali baca dengan latar tempat yang tidak biasa, maka Erau Kota Raja adalah salah satu pilihan. Bagi mereka yang lelah dengan kisah cinta di mana kedua tokoh utama bertemu lantas jadian, maka Erau Kota Raja bisa dijadikan bacaan. Tapi, bagi mereka yang menikmati drama dan perasaan roller-coaster dalam novel, maka sebaiknya tidak mengambil Erau Kota Raja.

Well, selamat membaca! 🙂

Advertisements

4 thoughts on “Erau Kota Raja – Endik Koeswoyo

  1. well … Saya pribadi agak kecewa dengan pemilihan Judul dan isi dari filmnya, setelah lihat filmnya bukan hanya saya bahkan teman2 yang memang asli suku Kutai merasa kecewa. Ekspekstasi saya sama seperti kamu wah pasti akan sisi kebudayaannya akan lebih diangkat tapi nyatanya kisah cinta lebih mendominasi justru acara2 penting dari upaca Erau itu sendiri jarang diliput seperti ritual Merangin, Beluluh, Bepelas, Menjamu Banua dll. harusnya sih judulnya lebih tepat Cintaku Bersemi di Kota Raja, tanpa perlu membawa nama Erau. Nadine pun kurang maksimal memerankan perannya, logat yang dipakai aseli berbeda jauh dengan logat bahasa kutai. Tapi apapun itu, terimakasih telah berkontribusi memperkenalkan Kutai Kartanegara 🙂

    • Sungguh hal ini memang sangat disayangkan, ya. 😦

      Saya padahal penasaran sama aspek budaya yang dijadikan latar dalam novel ini. Dan ternyata di film pun ternyata tidak ditampilkan. 😦

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s