Laksana · Misteri Detektif · Resensi

Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kosong – Sir Arthur Conan Doyle

20150118_110142

 

Judul: Sherlock Holmes: Petualangan Di Rumah Kosong
Penulis: Sir Arthur Conan Doyle
Penerbit: Laksana
Terbit: November – 2014
Tebal: 320 Halaman
Harga: Rp 45.000


Saya memang sudah cukup banyak membaca novel detektif maupun misteri, tapi ini kali pertama saya berjumpa Sherlock Holmes lewat tulisan. Selama ini, saya mengenal detektif mahsyur itu lewat seri Detective Conan, karakter yang diperankan Robert Downey Jr., dan versi modern yang dibawa Benedict Cumberbatch. Saya pribadi, paling suka versi Benedict, logatnya dapat, ekspresinya dapat, karakternya dapat (padahal saya belum pernah bertemu Sherlock yang asli tapi sudah bisa bilang bahwa versi Benedict yang paling canon ya, lol). Cakep pula. ❤

Nah, di buku Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kaca ini, terdapat delapan cerita petualangan Sherlock. Membaca ini saya baru tahu bahwa kebanyakan kisah Sherlock memang disajikan lewat cerita-cerita pendek, bukan novel berhalaman-halaman seperti Poirot-nya Agatha. Kedelapan cerita tersebut dinarasikan oleh John Watson, sang sobat baik Sherlock yang juga tenar.

“Sebenarnya aku agak waswas karena harus mengajakmu malam ini. Tugas kali ini benar-benar berbahaya.”

“Apakah keberadaanku bisa membantu?”

“Keberadaanmu akan menjadi bantuan yang sangat berharga.”

“Kalau begitu aku harus ikut.” —hlm. 40

Meskipun Watson tidak membantu banyak dalam kegiatan berpikir Holmes (selayaknya side-kick dalam cerita detektif atau petualangan manapun). Akan tetapi, keberadaannya sendiri memegang peran lain yang lebih penting dalam kehidupan sang tokoh utama.

Cerita pertama merupakan misteri keluarga bangsawan Roylott dengan judul Misteri Pita Berbintik-bintik. Saya sendiri bisa menebak sebenarnya misteri apa yang melingkupi keluarga tersebut. Cukup mudah ditebak juga bagi mereka yang senang berdeduksi seperti Holmes. 😀

Well, bukan hanya cerita pertamanya saja sebenarnya yang cukup bisa ditebak. Bagi siapa pun yang akrab dengan misteri—atau sederhananya sering menjadi pengamat—misteri yang dipecahkan Sherlock bisa tertebak. Saya pribadi lebih sulit memecahkan misteri Poirot, sebagian karena banyak hal yang ditulis samar-samar (fakta-fakta yang disembunyikan, misteri lain yang menjadi pengalih). Sedangkan metode penyelidikan versi Sherlock ini, dia selalu mengungkapkan dengan gamblang ada apa saja di tempat perkara atau menunjukkan cukup banyak fakta yang ada.

Yah, beberapa misteri juga bisa dipecahkan jika pernah menonton film (atau drama) Sherlock Holmes. Petualangan Sherlock Holmes yang disajikan di novel ini merupakan petualangan-petualangannya yang tenar. Selain itu, judul setiap cerita juga sangat membantu untuk meluruskan sebenarnya di mana sang akar misteri.

Delapan cerita pendek tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Misteri Pita Berbintik-bintik
  2. Pengendara Sepeda yang Misterius
  3. Misteri Kamar Tertutup di Copper Beeches
  4. Skandal Raja Bohemia
  5. Kasus Terakhir
  6. Petualangan di Rumah Kosong
  7. Perserikatan Orang Berambut Merah
  8. Misteri Noda Kedua

Dalam cerita-cerita pendek ini, karakter sang detektif (yang digambarkan Watson dengan kata nyentrik), cukup terlihat. Sherlock Holmes yang tenar itu memang cerderung pongah dan memiliki gaya berpikir yang berbeda. Saya paling suka dengan cara SIr Arthur Conan Doyle menggambarkan Sherlock lewat pendapatnya soal rumah-rumah yang berjarak di pedesaan.

“Ketika kau memandang rumah-rumah yang terpencar-pencar di sana itu, kau akan terkesan oleh keindahannya. Ketika aku memandang rumah-rumah tersebut, satu-satunya yang terlintas dalam pikiranku adalah posisi mereka yang jauh dari mana-mana, serta besarnya peluang terjadinya tindak kejahatan di tempat ini.” —hlm. 104

Pendapat sang sobat karib tentang Sherlock lebih menunjukkan bahwa detektif kita ini tidak suka hal-hal berbau asmara—perasaan. Bagi mereka yang mengutamakan logika, terpengaruh perasaan jelas bukan hal yang menyenangkan. Saya setuju.

Dia, menurut saya, merupakan mesin pemikir dan pengamat terbaik di dunia yang pernah ada, akan tetapi bila sudah mengenai asmara, ia selalu sinis. Bagi seorang rasionalis sepertinya, hal-hal seperti itu hanya akan mengacaukan pikirannya. —hlm. 131

Satu kekurangan yang terasa ketika membaca novel ini adalah formatnya yang cerita pendek! Cerita pendek ini jadi terkesan penuh karena berisi penjabaran kasus, fakta yang ada, kondisi tempat kejadian perkara, hingga proses penyelidikan. Memang tidak lengkap karena dituliskan dari sisi Watson, tapi satu aspek yang bagi saya cukup penting tidak ada, yaitu aftertaste.

Beberapa cerita pendek yang tertulis di Petualangan di Rumah Kosong ini tidak menceritakan bagaimana keadaan korban setelah Sherlock memecahkan misterinya. Padahal, hal-hal tersebut yang membuat saya penasaran. Deduksi Sherlock memang mengagumkan, tapi perubahan yang terjadi dalam hidup korban juga penting. Beberapa memang diceritakan, tapi banyak juga yang tidak.

Akan tetapi, secara keseluruhan, saya menikmati petualangan Sherlock Holmes. Perkenalan pertama yang terasa sangat akrab (karena saya sudah mengenal Sherlock lewat media yang lain). Perkenalan pertama yang tidak mengecewakan. Sherlock Holmes memang detektif ulung. 🙂

Terakhir, satu hal yang membedakan Sherlock Holmes dengan manusia lain terangkum dalam kutipan yang diucapkan Sherlock sendiri dalam novel ini.

“Kamu melihat, tapi tidak mengamati. Perbedaannya besar sekali.” —hlm. 135

Selamat bertualang dengan Sherlock Holmes! 😀

PS. Akan sangat menyenangkan jika kamu ikut mencoba memecahkan misteri yang dihadapkan pada Sherlock Holmes. Saya sudah mencobanya sendiri, hanya butuh ekstra kesabaran (hal yang biasanya tidak ada ketika membaca novel misteri, haha).

Buku ini diikutsertakan dalam tantangan: New Author Reading Challengen 2015

 

 

Advertisements

11 thoughts on “Sherlock Holmes: Petualangan di Rumah Kosong – Sir Arthur Conan Doyle

  1. Neng, udah baca buku2nya agatha christie belum?
    Tetiba inget temen yg fans nya Holmes dan bilang kalo bukunya Doyle lebih enak buat dibaca daripada series detektifnya agatha.. Baru aja baca tiga bukunya dan ternyata emang lebih asik baca Holmes.. Apalagi om benedict-nya ngganteng *oke, ini salah fokus, ahaha

    1. Udah mba, aku malah kenal Agatha dulu daripada Doyle.

      Kalo buatku sih enakan Agatha, mungkin karena naksir banget-nget sama And Then There Were None yang super keren itu, wkwk.
      Holmes itu … banyak yang mustahil, imo. Tapi, Benedict emang cakep. ❤ ❤

      1. Ahaha. Klo dr segi kasus sih emg kesannya wah bgt yg Doyle. Tapi aku lebih suka penuturan versi Doyle sih, hehe. Eh tapi kalo baca engver agatha ama doyle belum pernah coba. Jadi gatau juga kalo dapet versi bahasa tutur awalnya langsung. Kalo udah terjemahan kan pinter2nya selera penerjemah juga sii 😀

        1. Bukan “wah” sih, tapi lebih ga mungkin. Masa Sherlock yang tinggi itu bisa nyamar jadi perempuan. -_-”
          Agatha itu unsur dramanya ada, mba, jadi ceritanya lebih lengkap. Kan kalo Doyle suka ga diceritain habis kasus selesai lalu ada apa. Tapi baru baca karya Doyle yang ini sih, jadi gatau juga. XD

          1. Kalo aku liatnya emg kasus yg dikarang Holmes emg agak wah. Agatha lebih sederhana dan masuk akal. Macem selidiki si lady a yg menghilang ternyata cuma ke klinik x buat ngurusin badan, dkk XD. Cuma kalo dr segi penuturan versi terjemahan aku prefer doyle *ini apa deh pada banggain favo msg2, wkwk*. Ada buku agatha, judulnya Pembunuhan ABC tapi rasanya ‘rasa holmes’ susunan kata per katanya, hehe

            1. Wkwk aku baca Doyle baru satu sih, beda ama Agatha. XD

              Ah, Pembunuhan ABC emang ga terlalu bagius, mba. Mungkin terasa penuturannya beda karena terjemahan ya?

              Kalo mau baca Agatha yang bagus itu ya, And Then There Were None. Sumpah itu keren banget-nget misterinya. ><

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s