Cine Us – Evi Sri Rezeki

20150212_093956

Judul: Cine Us
Penulis: Evi Sri Rezeki
Penyunting: Dellafirayama
Penerbit: teen@noura
Tebal: 304 halaman
Cetakan: I, Agustus 2013


Sudah lama saya menghindari teenlit, bukan apa, di akhir masa sekolah saya, teenlit sedang sangat-sangat menjamur tapi rasanya semua sama. Saya terlalu sering menemukan teenlit dengan format yang sama, cewek biasa-cowok idola atau cowok-cupu-yang-ternyata-keren atau musuh-jadi-kekasih atau atau-atau yang lain.

Sebagian lagi, karena saya sudah meninggalkan usia teen. Bacaan saya mulai berubah, bergeser menjadi young adult atau bahkan adult. Meskipun demikian, kadang-kadang saya tetap menemukan teenlit yang apik tanpa terduga, seperti Cine Us yang baru saya rampungkan kemarin.

Satu kejutan yang saya temukan dari sampul Cine Us, ternyata bagian depannya bisa diangkat! Lalu, di bagian dalam sampul depan, saya menemukan ilustrasi dua orang sedang duduk bersama. Saya tidak terlalu memikirkan siapa mereka (jawabannya akan ditemukan begitu selesai membaca, jangan khawatir :D), tapi entah kenapa saya suka kejutan ini. Tidak terduga dan tidak mengganggu aktivitas membaca—karena tidak menjadikan halaman sampul tebal atau seperti bungkus di seri flavor Bentang yang cakep tapi tidak berguna dan harus dikorbankan jika mau menyampul bukunya. Great job! ©

20150212_09401120150212_094025

Cine Us bercerita tentang petualangan Klub Film SMA Cerdas Pintar. Klub tersebut bermula dari tiga sahabat baik, Lena, Dania, dan Dion, siswa kelas XI. Setelah mengantongi izin resmi dari sekolah, mereka pun mulai beraktivitas  dan memiliki anggota baru kelas X. Mereka terus berjuang menghasilkan film meski dicap “aneh” oleh seantaro sekolah.

“Kalian itu sekelompok anak geek yang jadi pusat perhatian, tahu! Kalian itu kayak alien di sekolah.” –hlm. 78

DI saat bersamaan, Adit, mantan pacar Lena yang bossy dan nyebelin, menantang Lena dalam Festival Film Remaja. Tantangan yang membuat Lena kenal dengan Rizki, cowok misterius yang awalnya dikira hantu karena muncul dari balik semak-semak dekat ruang Klub Film. Tak disangka, Rizki ternyata pembuat web series favorit Lena! Setelah mengetahui hal itu, Lena memaksa Rizki untuk bergabung dalam Klub Film, hal yang akhirnya menghancurkan usaha yang selama ini Lena, Dania, dan Dion bangun bersama untuk Klub Film.

Klub Film semakin terdesak. Bukan hanya anak-anak kelas X keluar, tapi mereka juga merebut paksa basecamp Klub Film dengan bantuan anak kelas XII yang disegani sesekolah! Mereka bukan hanya menggusur Lena, Dania, dan Dion (serta Rizki dan Ryan—partner Rizki dalam membuat web series), tapi juga membuat Movie Club dan ikut Festival Film Remaja yang sama! Tidak tanggung-tanggung, ide mereka pun dicuri oleh Romi sang kompor Movie Club. Di sisi lain, mantan Lena yang menyebalkan itu semakin sering menerornya di sosial media hingga membuat sakit kepala.

Untuk ukuran teenlit, Cine Us menyajikan latar yang unik, sekumpulan anak yang membuat film. Ide ceritanya sendiri bukan hal baru, persahabatan, kesalahpahaman, asmara. Namun, Cine Us memberikan porsi yang berimbang antara roman dan persahabatan, ini yang membuat saya menikmatinya. J

Akhirnya sendiri cukup tertebak. Bagaimana perasaan Lena pada Rizki atau sebaliknya juga sudah sangat terlihat jelas. Meski, saya tidak cukup menyangka bahwa ada twist seperti itu. Saya pikir malah si Rizki yang bakal bertindak seperti kesatria bagi Lena di taruhan itu. Ternyata saya salah, haha.

Anyway, Lena dan teman-temannya itu siswa kelas berapa sih sebenarnya? Saya merasa mereka siswi kelas XI, tapi Rizki mengaku sebagai siswa kelas XII. Kalau mereka seumuran harusnya Lena dkk. juga kelas XII, tapi (lagi) kok segitu takutnya sama siswa kelas XII?

Satu kejanggalan lagi, yang ini berkaitan dengan ruang rahasia Rizki dan Ryan. Okelah jika ada bunker di sekolah mereka, tapi … gimana caranya coba mengangkut berbagai macam barang (komputer dan teman-temannya itu) jika ada penjaga sekolah dan yang pasti mereka tidak bisa melakukannya tanpa benar-benar tidak kelihatan orang lain! -_-

Di sisi lain, karakternya sendiri terasa hidup. Meski Rizki masih cenderung gary stu, seperti kebanyakan tokoh cowok dalam teenlit. Pintar, cool, kaya, hebat (terbukti dari web series-nya), punya kekuasaan—bukan penguasa sekolah untungnya hanya anak pengusaha kaya. Meski demikian, saya suka pada pembawaannya yang santai dan humoris.

“Sudah saya bilang, ini tempat persembunyian Ultraman. Saya, kan, Ultraman!”

“Ultraman enggak punya tempat persembunyian tahu?!”

“Kalau gitu, ini tempat persembunyian robot Power Ranger. Sebenarnya, saya Ranger Putih!” –hlm.90

Saya juga suka fakta karakter-karakter di Cine Us itu punya kekurangan. Dion yang menderita ADHD, Ryan yang sangat ceplas-ceplos, hingga Dania yang terlihat serba sempurna tapi ternyata menyimpan rasa untuk seseorang yang tidak terkira. Mereka jadi lebih manusiawi, khas remaja. Makanya membaca Cine Us terasa sangat menyenangkan.

Lalu, seperti selayaknya novel remaja, Cine Us mengajarkan mimpi, sportifitas, kehilangan, dan persahabatan. Kebanyakan disampaikan oleh Rizki yang paling tenang dan berkepala dingin.

“Jangan jadikan tujuan pribadi seolah-olah tujuan bersama!” –hlm. 92

“Bersyukurlah kalau kalian dapat kritikan, berarti karya kalian diapresiasi. Kalau sebuah karya sudah dilempar ke masyarakat, karya itu bukanlagi milik kalian. Sudah jadi milik publik.” –hlm. 110

“Tindakan yang diambil dalam keadaan emosi akan sia-sia dan cenderung merugikan.” –hlm. 171

Begitulah, ketika kita merasa kehilangan. Segalanya terlihat berbeda, atau barangkali cara pandang kita yang berubah. –hlm. 180

“Saya juga make a wish tiap hari, biar terkabul hari itu juga.” –hlm. 205

Sahabat sejati selalu punya tempat di hati, kehilangan mereka akan menyisakan ruang kosong yang tak bisa ditambal lagi. –hlm. 215

“Kau tahu, sebanyak apa pun kamu mencari pengakuan dari orang lain, kamu tidak akan pernah bisa memuaskan dirimu sendiri! Karena kepuasanmu bukan berasal dari hatimu sendiri!” –hlm. 226

Bagi saya sendiri, hal penting yang saya ambil dari buku ini diucapkan oleh sang tokoh utama, Lena. Sungguh, perkataan Lena itu seperti menenggelamkan saya pada air sedingin es sampai-sampai saya tidak bisa menutup mata. *perumpamaan apa pula ini?*

“Malasnya ngobrol sama orang dewasa, tuh, kalian terlalu realistis. Tapi, yeah, aku juga belum dewasa. Jadi, enggak tahu gimana rasanya di posisi kalian. Kenapa enggak kejar impian dari sekarang? Kenapa harus tunggu kaya? Itu juga kalau kaya. Kalau enggak?” –hlm. 250

Cine Us mungkin sebuah novel untuk remaja, tapi novel ini tetap menyenangkan dibaca oleh mereka yang telah meninggalkan masa remajanya—seperti saya. Penulis berhasil menuliskannya dengan bahasa yang ringan dan menyenangkan. Berkenalan dengan Klub Film SMA Cerdas Pintar ini merupakan momen yang berkesan bagi saya.

Well, selamat membaca!

Diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge 2015.

Advertisements

7 thoughts on “Cine Us – Evi Sri Rezeki

  1. Novel yang gapernah jadi aku beli gara-gara ragu, sekarang malah nyari eh ketemu revewnya di seru 😀 Elah tambah bikin pengin bacaaaa nih kak :((( Apalagi Novel Teenlit *yeeshh*

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s