On a Journey – Desi Puspitasari

20150216_094546

Judul: On a Journey
Penulis: Desi Puspitasari
Penyunting: Laurensia Nita
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: vi+266 halaman


 Apa itu hidup? Boleh sesekali minggat. Minggat seharusnya bisa menjadi salah satu petualangan besar. –hlm. 35

Rubi, seorang penulis yang patah hati memutuskan melakukan sesuatu yang tidak sesuai karakternya selama ini. Gadis itu menyiapkan ransel, sepeda bututnya, dan berbekal nama kota yang tak pernah didengar, pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan kenangannya akan sosok Stine, sahabat baik sekaligus laki-laki yang kemudian dicintainya.

Saya sudah tahu bahwa Rubi patah hati dan akan melakukan perjalanan, semua tertulis di bagian sinopsis. Akan tetapi, saya baru tahu Rubi adalah seorang penulis. Dari bagian sinopsis, saya pikir tokoh utamanya itu jelas bukan mbak-mbak kantoran, malah saya pikir cukup muda. Mungkin mahasiswa? Yang jelas tidak tertera keterangan bahwa Rubi seorang penulis. Padahal informasi sebagai penulis ini berdampak besar dalam On a Journey. Saya tidak mengerti kenapa informasi Rubi seorang penulis tidak dicantumkan.

Well, perkara sampulnya juga sepertinya saya mengira On a Journey ini young-adult. Meski saya memang suka sampulnya, tapi ternyata tidak cukup mencerminkan isinya.

On a Journey adalah novel Desi Puspitasari yang pertama kali saya baca. Novel ini sudah menumpuk di rak sejak Juni 2014 lalu. Saya membelinya karena merasa tertarik dengan sinopsisnya, petualangan Rubi yang hanya berbekal tas kumal dan sepeda rongsok. Waw, terdengar sangat menantang. Ah, tetapi ternyata petualangan Rubi dimulai dengan naik bus. Sepeda itu dibawa untuk sarana transportasi pribadi di kota tujuan. Duh, saya sedikit kecewa.

Rubi menaiki bus menuju Diavanre. Malangnya, bus yang ditumpanginya berhenti sebelum sampai karena rusak. Oh, saya jadi ingat bus-bus kecil sempit yang menipu penumpang di terminal-terminal sekitar ibukota. Rubi sendiri merasa tertipu, tapi saya tidak menemukan kejanggalan dalam pengamatan Rubi soal bus yang ditumpanginya. Maksud saya, biar bagaimana pun agen bus yang tukang tipu itu jelas punya ciri khas, kan? Bus yang sempit, pendingin udara bobrok, kursi jelek, atau yang lain. Tapi  saya tidak mendapati hal ini dari Rubi.

Setelah kejadian itu, Rubi melanjutkan perjalanan dengan sepedanya. Tanpa peta, tanpa tahu arah, dia melaju begitu saja. Di perjalanan itu, dia bertemu Dave, seorang pengendara motor yang mengajaknya berpacu dengan angin. Dave ternyata seorang dokter yang bekerja di pedalaman. Mereka berpisah di persimpangan dan melanjutkan perjalanan masing-masing.

Lalu, masuklah bagian paling saya suka. Saya paling suka bagian ketika Rubi berada di kedai Pak Sam. Bukan cerita tentang petualangan Rubi, melainkan cerita latar belakang orang-orang yang Rubi temui. Orang-orang tua (ada seorang yang muda sih) yang berkumpul dalam kedai makan yang Rubi singgahi. Ros yang merindukan anak gadisnya yang telah tiada, Pak Sam tua yang ditinggal anaknya untuk berkeluarga, Pak Oto yang menyesal belum meminta maaf sebelum napas istrinya habis, dan Jim yang sebatang kara sejak kecil.

“Ada jutaan orang lain di luar sana, kami hanya beberapa dari jutaan orang itu, yang juga sedang merasakan kepahitan hidup yang kurang lebih sama. Dengan perihal yang berbeda tentunya. Mereka juga sedang berjuang melawan kesedihannya sama seperti dirimu.” –hlm. 120-121

Pertermuan Rubi dengan mereka itu ikut mengajarkan saya banyak hal, terutama menyinggung saya tentang orang tua dari cerita kehidupan Ros (yang saya tulis terpisah di blog pribadi saya). Serta tentang hidup itu sendiri.

“Bahwa hidup manusia sebenarnya tidak lebih dari sekadar bertemu dan berpisah.”

“Tidak seperti itu. Tidak hanya sekadar. Pertemuan dan perpisahan adalah salah satu bagian penyusun hidup.” –hlm. 123

Petualangan Rubi pun berlanjut. Nah, petualangan yang dialami Rubi setelah inilah yang tidak bisa saya nikmati. Yah, saya masih menikmati ketika sepeda Rubi dicuri dan saya bisa menebak siapa kira-kira yang mencuri sepeda itu. Tapi, saya tidak suka Sofi yang seperti meletakkan urusan pribari Rubi sebagai bulan-bulanan atau Bili yang berengsek dan meremehkan masalah orang lain.

Bagi saya pribadi, masalah Rubi bukan sepele, karena Rubi yang mengalami, bukan Bili. Setiap orang tentu memiliki caranya sendiri untuk mengatasi masalah. Meski, Bili memang benar ketika berkata Rubi kabur dari masalahnya, hanya saja saya tidak bisa menikmati interaksi Rubi dengan Sofi dan Bili, terasa menjengkelkan.

Setelah bagian itu, perjalanan Rubi masih berlanjut. Tidak lama, karena ketika Rubi melakukan perjalanan yang lebih jauh bersama penghuni motel yang baru dikenalnya, mendadak dia merasa dia harus pulang.

“Seorang pejalan tahu kapan waktu tepat berangkat! Tahu kapan waktu tepat berhenti! Untuk kembali pulang!” –hlm. 212

Oh, saya tidak pernah mengira bahwa akhir perjalanan Rubi adalah hal sesederhana ini. Keinginan untuk pulang.

Minggat mungkin bis amenjadi alternatif, dengan melakukan perjalanan panjang atau pendek. Namun, aku tidak bisa minggat selama-lamanya. –hlm. 213

Selanjutnya yang terjadi tidak begitu bisa saya pahami. Tingkah laku Stine dan tingkah laku Rubi, saya tidak bisa mengerti keduanya. Apakah Stine seplin-plan itu? Apakah Rubi segengsi itu?

Mungkin perjalanan Rubi memang telah mengajarkan banyak hal, bahwa Rubi harus menerima patah hatinya dan melangkah maju. Tapi, bukankah perjalanannya juga mengajarkan untuk menghargai hal-hal lain dalam hidupnya termasuk perasaan Stine? Atau perasaan Rubi terhadap Stine itu sebenarnya hanya selintas karena dia belum pernah merasa dekat dengan laki-laki?

Ah, tapi sikap Stine yang meninggalkan Rubi begitu saja di halte itu juga tidak bisa saya mengerti. Stine yang … pengecut. Stine yang plin-plan. Tapi, bukankah Stine begitu berarti bagi Rubi dulunya? Maksud saya, kehilangan seseorang yang sangat dekat itu berdampak pada keduanya, kan? Apakah perjalanan Rubi telah membuatnya menjadi seseorang yang tidak lagi merasa kehilangan keberadaan Stine?

Saya paling tidak bisa mengerti bagian akhir dari novel ini. itu saja yang membuat saya tidak bisa benar-benar menyukainya. Saya tidak benar-benar mengerti jalan pikiran Rubi di bagian akhir dalam menyikapi Stine.

Untuk gaya bahasa sendiri, saya cukup suka. Ringan dan khas novel terjemahan luar-negeri. Oh, benar-benar seperti novel terjemahan, justru. Meski sampai selesai saya masih tidak tahu sebenarnya Rubi ini tinggal di mana.

Novel yang menyenangkan dibaca. Saya rekomendasikan bagi mereka yang senang membaca novel roman dengan bumbu kehidupan tapi tidak sinetron dan gaya yang berbeda. Silakan ambil On a Journey. 🙂

Selamat membaca!

Novel ini diikutsertakan dalam New Author Reading Challenge 2015.

Advertisements

6 thoughts on “On a Journey – Desi Puspitasari

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s