Between Me and Your Horse of Steel – Sianida

20150220_102603

Judul: Between Me and Your Horse of Steel
Penulis: Sianida
Penyunting: Avifah Ve
Penerbit: Senja
Cetakan: Pertama, 2013
Tebal: 224 halaman


 

“Kau diminta. Catat ini, Cyanite, diminta. Kau diminta untuk menulis biografi.” –hlm. 6

Cyanite adalah seorang penulis novel roman misteri tekenal yang menyembunyikan identitas aslinya sebagai seorang gadis bernama Rena. Karena permintaan manajer Zac Zuares—seorang pembalap MotoGP muda yang sedang naik daun—Rena terpaksa meninggalkan kehidupannya yang sepi, sunyi, dan tidak dikenal serta berbagi identitas aslinya (yang dulu hanya diketahui oleh Jay, sahabat sekaligus manajernya).

Berbekal kontrak menuliskan biografi Zac Zuares, Rena pun pergi ke setiap negara di mana kompetisi MotoGP diadakan. Pertemuan pertamanya dengan Zac sendiri terjadi di Sirkuit Sachsenring di Jerman. Pertemuan pertama yang … berbuntut kekacauan karena Zac salah mengenali Rena sebagai gadis panggilan yang menjadi taruhannya dengan pembalap lain. Untungnya, kekacauan itu bisa teratasi dan Rena mulai melakukan aktivitasnya untuk mendapatkan bahan tulisan biografi Zac Zuares.

Pembawaan Zac yang ramah dan supel pun membuat Rena gampang akrab dengan pemuda itu. Keduanya sering terlihat bersama hingga alasan yang dikarang Stanwell (manajer sekaligus paman Zac) agar Rena bisa berkeliaran bebas di sekitar Zac sebagai asisten Stanwell terdengar tidak masuk akal—karena semua orang yang melihat Zac dan Rena menyangka mereka sepasang kekasih!

Kedekatan keduanya pun berimbas pada masa lalu Rena yang coba ia kubur dalam-dalam. Masa lalu yang ingin dihapuskan dari bagian dirinya perlahan menguak ke permukaan dan menggoyangkan kehidupan Rena yang “baik-baik” saja.

Between Me and Your Horse of Steel menyajikan ide klasik untuk novel roman dalam latar belakang yang tidak biasa. Saya tidak pernah mengira akan membaca novel dengan tokoh utama lelaki sebagai pembalap MotoGP! Selain itu, latar belakang Rena juga membuat novel ini tidak berisi kisah roman saja.

Sejak awal, sudah sangat tertebak bahwa Rena akan bersama Zac. Tentu saja, begitulah semua novel roman. Yang membuat novel roman selalu dibaca justru peningkatan hubungan antara tokoh-tokohnya dan konflik apa yang timbul di antara persentuhan mereka. Bagi saya, Betweet Me and Your Horse of Steel ini menyajikannya dengan menarik.

Sianida, sang penulis, berhasil menuliskan peningkatan hubungan Rena dan Zac dengan bertahap. Disajikan dengan bahasa yang menyenangkan, ringan, dan tidak betele-tele, kedekatan keduanya jadi menarik untuk diikuti. Ditambah karakter humoris Zac yang adorable, hubungan Rena dan Zac di novel ini membuat saya sering kesemsem sendiri.

“Aku tahu, makanya aku akan mengajakmu makan di luar.” Zac menangkupkan kedua tangan di satu tangan Rena yang mungil. “Kau mau, kan?”

“Makan di luar hospitality unit maksudmu?” tanya Rena, masih dengan nada sebal.

“Iya. kita makan di… rerumputan di sebelah lintasan balap.” Zac tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya dan membuatnya menjadi lebih muda dan jenaka. –hlm. 67-68

Sayangnya, karakter Zac ini sendiri terlalu sempurna. Penulis menggambarkan Zac sebagai pemuda dengan tubuh atletis, tampan, berwajah menarik, yah, semua kriteria “idaman” yang nyaris ada di benak semua wanita. Di samping itu, Zac juga romantis, humoris, menyenangkan, adorable, dan tidak punya celah!

Di sisi lain, Rena adalah gadis yang lebih senang menyendiri, tidak memperdulikan penampilan, tidak pernah berhubungan dengan laki-laki, lebih banyak hidup dalam dunianya sendiri, dan senantiasa merasa insecure terhadap sekelilingnya karena masa lalunya. (Konsep ini mengingatkan saya pada novel Fangirl sih, tapi hanya sebatas konsepnya.)

Lalu, keduanya bertemu, dan… Zac mencintai Rena yang, oke, bisalah kita katakan biasa-biasa saja. Ini semua… too good to be true in reality. (Meski, terkadang hal-hal yang penuh impian inilah yang membuat novel roman selalu digandrungi.)

Sayangnya lagi,penulis tidak berhasil menghidupkan latar luar negeri yang digunakan. Saya baru tahu belakangan bahwa Rena tinggal di London—itu pun karena penulis menyebutkan kata “London”. Atmosfer luar negerinya tidak terasa, termasuk ketika Rena berpindah-pindah tempat untuk menonton balapan Zac. Awalnya saya bahkan mengira Rena itu orang Indonesia karena nama Rena cukup umum ditemui di negeri ini.

Terlepas dari itu, saya suka sekali bagian family yang membangun salah satu momen penting dalam novel ini. Pada dasarnya saya memang pecinta family dan menemukan kenyataan bahwa masa lalu yang disembunyikan Rena itu tidak sedangkal punya pacar gonta-ganti atau bullying di sekolah, tapi lebih karena keberadaan keluarga, membuat saya menyukai novel ini.

“Karena tidak ada orang tua yang tidak mencintai anaknya dengan sepenuh hati.” –hlm. 165

Saya suka sekali momen family dalam novel ini. Salut sama penulisnya yang telah berhasil membuat saya terenyuh, lalu terharu, dan, yeah, menangis haru. Silakan baca sendiri jika penasaran. XD

Meski demikian, ada satu hal yang mengganjal dari latar belakangan kehidupan Rena. Jika empat tahun lalu gadis itu tergolong gadis yang senang hura-hura, lantas kenapa dia seperti tidak biasa dengan lelaki (tergambar dalam pertemuan pertamanya dengan Zac). Berhubung latar novel ini luar negeri, yang memiliki budaya bebas yang memang tidak sesuai dengan budaya negeri ini, saya rasa hal ini tidak klop. Bukankah wajar jika dulu, sebelum bersembunyi di bahwa nama Cyanite, Rena adalah seorang playgirl—atau bahkan pencandu atau sesuatu yang lebih mengerikan lainnya.

Penulis sendiri tidak terlalu menggambarkan dengan jelas alasan apa yang membuat Rena terpaksa meninggalkan rumah dan keluarganya. Entah saya yang kurang teliti membacanya atau masa lalu itu memang tidak diceritakan dengang detail. Penulis hanya menceritakan Rena dulu begini lalu dia meninggalkan rumah lalu dia menggunakan nama samaran Cyanite. Penulis juga tidak menceritakan bagaimana Rena bisa bangkit. Hanya sebatas dikatakan saja. Padahal saya penasaran.

Selain itu, aspek keluarga yang berbuntut pada sebuah konflik penting di paruh akhir novel ini tidak terasa sama sekali di paruh awal. Begitu mencapai halaman 120, ketika Zac dan Rena bersatu saya pikir “lha ini masih sisa lebih dari 120 halaman isinya apa kalo mereka sudah resmi kekasih gini?”, eh ternyata saya justru disuguhkan hal-hal seputar family yang keren. Sayang sekali penulis tidak menyelipkan lebih banyak masa lalu Rena di paruh awal untuk memancing rasa penasaran pembaca.

Di samping kekurangan yang saya ungkapkan di atas, ada beberapa catatan soal kepenulisan yang saya temukan.

Satu, kalimat “Dagu dan pipinya terlihat bersih dan licin pagi ini, yang menandakan bahwa sudah ia baru saja bercukur” pada halaman 10. Bagian yang saya tebalkan jelas itu aneh. Entah terlewat ketika diperiksa atau terjadi kesalahan lain.

Dua, pada halaman 49 terdapat penggunakan kata yang berlebihan pada kalimat “Ketika menekuni olahraga ini, umur Zac empat belas tahun saat itu.” Dua kata yang saya tebalkan itu berarti sama, bukan?

Tiga, kalimat “Jujur saja, aku sangat berat hati saat mendengar bahwa aku harus mengasuh anak dari adik perempuanku.” juga berlebihan. Terlalu banyak “aku” dan penggunaan kata “bahwa” di sana menjadikan kalimat ini tidak langsung pada intinya.

Selain tiga hal di atas, saya tidak menemukan hal-hal lain seputar penulisan yang mengganjal. Meski demikian, saya masih tidak mendapatkan arti “Mijnliefde” yang diungkapkan Zac di halaman 68 hingga novel ini berakhir.

Terlepas dari kekurangan yang saya beberakan, secara personal saya sangat menikmati Between Me and Your Horse of Steel. Karakter Zac yang adorable, masalah-masalah keluarga yang merupakan favorit saya, hingga jalinan cerita yang disajikan. Saya sering kali skeptis dengan penulis yang baru saya kenal karyanya, apalagi novel yang saya baca adalah karya pertamanya, tapi Sianida berhasil menghanyutkan saya dalam kisah Rena dan Zac ini. Sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. 😀

Ah, sebelum mengakhiri resensi ini, saya ingin memberikan beberapa kutipan yang nge-jleb atau bisa meningkatkan semangat dalam novel ini.

“Rasanya selalu sama. Tidak pernah berubah. Tidak pernah membuatku bosan. Itulah kenapa aku bisa terus mencintainya.” –hlm. 100

“Rena, kita semua bisa kehilangan nyawa kapan saja. Tidak hanya saat berada di lintasan balap.” –hlm. 110

“Aku punya masa lalu yang ingin sekali kutinggalkan. Tapi, tidak akan pernah bisa karena itu bagian dari hidup kita.” –hlm. 129

“Kita tidak bisa mengentikan setiap orang untuk berbicara apa pun tentang kita. Yang bisa kita lakukan hanyalah tidak peduli pada mereka dan menjalani hidup sebaik mungkin.” –hlm. 170

Akan tetapi, percakapan favorit saya justru yang satu ini, antara Rena dan adiknya, Grace.

“Sepertinya banyak hal baik selama aku pergi.”

“Ya. Dan kini semakin baik setelah kau kembali.” –hlm. 195

Well, selamat membaca Between Me and Your Horse of Steel! Semoga kamu juga menemukan dirimu terhanyut oleh kisah Rena serta unsur keluarganya. 🙂

Novel ini juga diikutsertakan dalam New Author Reading Challengen 2015.

 

Advertisements

4 thoughts on “Between Me and Your Horse of Steel – Sianida

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s