Bentang Belia · Resensi · Young Adult

Kira – Dhian Gowinda

20150301_191035

Judul: Kira
Penulis: Dhian Gowinda
Penyunting: Starin Sani
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: viii + 152 halaman
Sinopsis:
Waktu mempertemukan
Waktu memisahkan
Waktu mengingatkan
Waktu melupakan

Tak mudah bagi Rangga untuk melepas kepergian Kira, seseorang yang sangat berarti baginya. Untuk melupakan Kira, Rangga pergi ke Seoul, kota yang sangat ingin dikunjungi Kira. Ia ingin memulai hidup barunya di sana.

Saat Rangga mulai menata hidupnya, banyak kejadian janggal yang melanda dirinya. Tanpa diketahui pengirimnya, ia menerima barang-barang yang berasal dari masa lalunya bersama Kira. Di sini, rasa penasaran dan keteguhan hati Rangga dipertaruhkan. Siapakah pengirim misterius itu dan apa motif dibalik ulahnya yang membuat Rangga kembali bimbang?


Sudah lama saya tidak mencantumkan sinopsis buku yang saya review. Saya menghentikan aktivitas ini karena biasanya saya menceritakan isi buku tersebut sebelum mulai mengulas. Akan tetapi, untuk buku ini saya perlu menyertakan sinopsisnya. Karena, sinopsis inilah yang membuat saya memboyong Kira ke rumah.

Dari sinopsisnya, saya langsung penasaran pada paragraf kedua. Siapa yang mengirimkan Rangga barang-barang Kira? Ada misteri apa sebenarnya di balik peristiwa datangnya barang-barang KIra, yang jelas dari masa lalu, ke Rangga?

Bagi saya pribadi, sinopsis ini sangat menarik. Saya lantas mengekspektasikan novel ini menjadi novel roman-misteri. Saya bahkan mengira bahwa semua kejadian itu berhubungan dengan Kira yang asli—well, katakan saja entah semacam hantu Kira atau gadis itu memang sudah merancang agar Rangga menerima barang-barangnya di masa setelah kematiannya. Siapa yang tahu?

Akan tetapi, ternyata semua ekspektasi saya keliru.

Meskipun memang ada misteri di balik semua kiriman itu pada Rangga, novel ini lebih banyak bercerita kisah masa lalu Rangga bersama Kira. Ketika keduanya masih musuh bebuyutan di SMA yang lalu saling jatuh cinta dan resmi menjadi kekasih. Ketika keadaan masih baik-baik saja dan hari-hari mereka lewati bersama dengan gembira. Ketika kecelakaan tak terelakan merenggut nyawa Kira.

Kira lebih banyak berisi kisah semasa SMA mereka, sekitar setengah halaman novel ini sendiri. Dan itu sebenarnya yang membuat saya banyak melompat. Karena saya merasa jengah dengan kisah SMA mereka, terlalu anak-anak, terlalu teenlit, terlalu tidak pas dengan usia saya, terlalu mainstream.

Kisah masa lalu mereka sendiri standar. Sangat disayangkan penulis tidak lebih mengembangkan soal “bintang” yang disukai Kira dan menjadi arti nama gadis itu. Penulis juga kurang banyak menceritakan kejadian pascakecelakaan. Padahal, bagian depresi Rangga adalah salah satu bagian penting yang bisa merebut hati pembaca dengan simpati.

Penulisan Kira ini terasa sangat terburu-buru. Saya baru mulai bersimpati dengan Rangga yang kehilangan Kira, eh, waktu sudah melompat hingga Rangga bersekolah di Korea. Saya baru akan terjerumus pada kegelisahan Rangga yang diteror kenangan masa lalunya akan Kira, eh, mendadak Rangga sudah lebih baik. Saya baru saja menikmati bagaimana cara Rangga mengatasi pelaku di balik kiriman barang-barang Kira, eh, mendadak semuanya sudah selesai.

Yang tersisa di akhir hanya perasaan tanggung yang datar. Apalagi latar tempatnya terkesan seperti hiasan saja.

Lalu, begitu saya menutup novel ini, saya tersadar bahwa sasaran novel ini memang remaja. Berarti segalanya memang sudah cukup baik, hanya saja Kira memang belum dieksekusi dengan cukup. Banyak bagian yang terasa tidak perlu (khususnya kejadian di masa lalu). Banyak kejadian yang kurang digali sehingga emosi karakter tidak sampai ke pembaca. Banyak hal-hal yang bisa dikembangkan (termasuk di dalamnya bagian yang paling membuat saya penasaran, yaitu kiriman barang-barang dari masa lalu).

Terlepas dari itu semua, pesan yang dibawa novel ini sangat baik. Saya jarang menemukan teenlit yang berakhir bukan dengan adegan “keduanya hidup bahagia selamanya” layaknya dongeng.

Bukankah waktu mahahebat yang akan melepasnya dari dunia kenangan ini? –hlm. 90

Kira bercerita tentang kenangan, memaafkan, dan menjalani hidup—meski tanpa orang yang paling kamu sayangi. Sebuah bacaan ringan yang cukup saya nikmati.

Selamat membaca! 😀

Buku ini diikutsertakan pada:

Advertisements

7 thoughts on “Kira – Dhian Gowinda

  1. Untuk novel setebal 150-an halaman, biasanya memang masih ada perasaan kurang ‘sreg’ entah di bagian mana. Kebanyakan karena alur/penulisan yang terasa terlalu cepat. Ini pengalaman saya aja sih, hehe. Tapi kalau dilihat-lihat, dan setelah baca beberapa review di goodreads, rasanya ini memang novel teenlit yang pasnya dibaca anak SMA (seumuran saya xD) dan mungkin dibikin poin plus di bagian ending.
    Jadi pengin adopsi Kira..

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s