Walking After You – Windry Ramadhina

20150202_055753

Judul: Waliking After You
Penulis: Windry Ramadhina
PenyuntingGita Romadhona & Ayuning
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 328 halaman
Tahun Terbit: 2014


An dan Arlet akan bercerita kepada kalian tentang impian, toko kue kecil di suburban, hujan setempat yang sendu, kenangan, dan penyesalan. –hlm. vi

Begitu tulis Kak Windry Ramadhina dalam Tanpa Mereka sebelum An mengambil alih lembar-lembar berikutnya dalam Walking After You. Pada kali pertama membaca bagian itu, saya hanya menarik kesimpulan bahwa novel berlatar belakang toko kue. Lalu, akan aada hujan—Kak Windry sudah terlalu sering berteman dengan hujan dalam novel-novelnya yang lain. Terakhir, ada kenangan dan penyesalan—sesuatu yang masih abstrak dalam kisah di novel ini.

Kemudian, ketika An mulai bercerita kepada saya dalam Walking After You, saya jadi tahu maksud penyesalan itu. Penyesalah itu pasti berhubungan dengan ketiadaan Arlet bahkan hingga bab satu berakhir.

Pada awalnya, saya tidak menyangka bahwa An punya kembaran. Dalam cuplikan-cuplikan di blog Kak Windry yang berlabel Afternoon Tea, saya mendapati An sebagai seorang gadis tunggal—bukan seorang gadis kembar. Akan tetapi, begitu Walking After You mulai naik cetak, saya baru tahu bahwa ada Arlet. Arlet yang tidak terlihat. Arlet yang menjadi bayangan. Arlet yang membuat saya kurang merasakan sentuhan “kembar” dalam novel ini.

Banyak alasannya, yang paling jelas adalah karena Arlet telah meninggal. Meski ini pulalah yang membuat konflik paling penting dalam diri An. Alasan lain adalah karena Arlet terlalu … baik. Arlet yang diceritakan dari sisi An itu lebih mirip malaikat daripada kembaran An, rasa-rasanya sulit dipercaya. Saya tidak mendapatkan sisi egois Arlet. Mungkin karena dia lebih sering mengalah pada An? Entahlah, saya juga tidak tahu.

Lepas dari karakter Arlet, saya suka An. Saya suka An yang membawakan Walking After You dengan campuran sendu, lincah, sekaligus manis. Terlebih saya suka An yang tengah berada bersama Julian, gadis itu terasa lebih menikmati hidup dan Ju terasa lebih manis.

Karakter Julian sendiri cukup membuat saya kaget. Pasalnya, saya belum pernah bertemu karakter cowok tsundere dalam novel! Ju adalah tsundere pertama dengan tampang bak artis Korea yang saya dapati dalam novel roman. Saya pikir cowok pemalu akan membuat novel roman tidak berisi impian gadis-gadis lagi, tapi ternyata salah besar ketika saya membaca Walking After You ini. Ju manis sekali dan membuat hati saya ikut terjatuh.

Bagian paling saya suka adalah bagian ketika An dimaafkan sang ibu. Sentuhan keluarga dalam sebuah novel selalu membuat saya terharu. Bagian-bagian masa lalu An dan Arlet juga saya suka, manis. Meski bagian paling membuat saya terenyuh, ya, ketika sang ibu memeluk An. :’)

Selain bagian itu, yang saya suka adalah ketika Julian menghampiri meja An dan menyerahkan macaron pelangi. Bagian itu rasanya dada saya ikut penuh sesak oleh emosi seperti An.

“Kau juga. Sudah saatnya kau melepaskan masa lalu.” –hlm. 282

Seperti tulisan kak Windry yang lain, Walking After You ditulis dengan sangat baik. Deskripinya terasa semanis kue-kue di dalamnya. Alurnya terasa pas dan mengalir, tanpa ada bagian mengganjal atau berlubang. Peningkatan hubungan An dan Ju juga sangat bertahap dan menyenangkan sekaligus menegangkan untuk diikuti. Rasanya sangat komplet.

Akan sangat komplet jika saja Ayu tidak muncul. Walking After You meninggalkan pertanyaan sangat besar tentang Ayu dan Gilang. Sangat-sangat. Seandainya tokoh di sana bukan Ayu, yang sudah lebih dulu saya kenal dari London, mungkin perasaan kecewa tidak akan semenggebu-gebu ini. Sumpah, saya sangat-sangat pensaran pada mereka berdua. 😦

Secara keseluruhan, seperti apa yang tertulis dalam Tanpa Mereka, Walking After You benar-benar mengajarkan untuk memaafkan diri sendiri dan melangkah dari masa lalu. Sangat menyenangkan melalui perjalanan ini bersama An.

Selamat membaca!

————–
resensi terlambat untuk buku yang telah dibaca sejak Januari

Advertisements

6 thoughts on “Walking After You – Windry Ramadhina

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s