Mimpi Bayang Jingga – Sanie B. Kuncoro

20150301_183938

Judul: Mimpi Bayang Jingga
Penulis: Sanie B. Kuncoro
Penyunting: Imam Risdiyanto
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: vi + 194 halaman


Dalam Mimpi Bayang Jingga, ada tiga cerita—terlalu panjang disebut cerpen tapi terlalu pendek disebut novel. Masing-masing cerita terdiri dari tiga puluh halaman (kurang-lebih). Cerita dengan rentang sepanjang ini sering kali disebut novelete atau novela.  Karena saya lebih suka kata novela, jadi mari kita sebut novela. 😀

Ketika novela dalam Mimpi Bayang Jingga ini menghadirkan hal yang sama, realita—nyata. Sanie B. Kuncoro mengisahkan cerita-cerita yang berjalan layaknya kehidupan, belum tentu semua berakhir bahagia.

Novela pertama berjudul The Desert Dreams. Novela ini yang justru paling akhir saya baca, karena, sejujurnya cukup sulit untuk masuk dalam ceritanya (bukan terletak dalam ceritanya, tapi penulisannya yang bagai puisi). The Desert Dreams bercerita tentang perselingkuhan seorang pria, Baron, dengan gadis lajang, Orien, yang ditemuinya di suatu hari. Cerita klise, memang.

Namun, penulis menghadirkan hal yang berbeda lewat sosok istri sang pria, May. May dikisahkan bisa “melihat”. Iya melihat dengan tanda kutip. Tapi, perempuan itu tidak bisa melihat orang yang berhubungan emosional dengannya, seperti sang suami. Jadi, dia tidak pernah tahu suaminya berselingkuh hingga seorang klien datang ke rumah untuk berkonsultasi (May memang menerima tamu untuk dibantu dengan penglihatannya).

Akhirnya sendiri yang tidak bahagia mengajarkan bahwa rencana-rencana kita seringkali terlambat untuk dilaksanakan.

Novela kedua berjudul Jingga. Judul yang sekaligus menyusun judul buku ini. Selain itu, ternyata novela ini adalah pemenang Juara III Lomba Tabloid Nyata. Yang satu ini bercerita tentang Jingga dan Bentang. Keduanya bersama, menjalin cinta, tapi Jingga tak bisa mendapatkan ikatan “pernikahan” dari seorang Bentang.

“Pernikahan bisa jadi hanya selembar surat berharga untuk melegalkan hubungan seks atau mengubah status.” –hlm. 98

Oleh sebab itulah, Jingga pergi dari hidup Bentang. Kepergian yang justru menjatuhkan gadis itu pada bayangan mimpinya, memiliki rumah di tepi pantai.

Novela ini mengajarkan bahwa memiliki semuanya belum tentu bisa mewujudkan apa yang sebenarnya membuatmu hidup.

Yang ketiga, berjudul Mimpi Bayang. Novela ketiga ini adalah favorit saya—dan saya rasa cukup banyak yang paling suka Mimpi Bayang daripada yang lain. Mimpi Bayang masih berkutat di hal yang sama, sepasang kekasih, Jati dan Fragi, serta orang ketiga, Jasmine—maupun Bambu. Yang paling terasa beda adalah mimpi bayang yang dialami Frangi.

“Serupa mimpi. Mengalami sesuatu dalam tidur, melihat berbagai peristiwa dan bertemu dengan orang-orang yang melintas bagai bayangan.” –hlm. 184

Berbeda dengan novela pertama dan kedua, yang terasa sangat sinetron, novela ketiga ini terasa “baru”. Memang ceritanya masih sama-sama klise (yah, pada dasarnya cerita roman semuanya memang klise, kan?), tapi saya suka ide yang digunakan penulis untuk membuat Frangi mencapai “kesadaran” atas hubungannya yang semakin lama semakin retak dengan Jati.

Lalu, tidak seperti The Desert Dream dan Jingga, novela ketiga ini mengandung unsur “bahagia”. Well, kebanyakan pembaca novel roman memang mengharapkan dapat bermimpi di dalam novel-novel tersebut, jadi tak heran akhir bahagia adalah sesuatu yang paling disuka. Mimpi Bayang menghidupkan hal yang riil di dalamnya, tapi tak lupa tersisipkan harapan akan akhir yang bahagia. Itu salah satu poin yang saya suka.

Beranjak dari ide ceritanya yang saya papar diatas, semua isi buku ini ditulis dengan gaya bahasa berbunga. Keindahan yang bagi sebagian orang membuat jengah (saya mencapai titik ini ketika pertama kali membaca novela pertama, makanya langsung loncat ke novela berikutnya dengan harapan kejengahan itu akan hilang). Keindahan yang juga membuat karakter satu sama lain tidak tampak berbeda (contohnya dalam The Desert Dream yang dituturkan orang pertama secara berganti-ganti tapi tidak kentara karakter mereka beda jika tidak dibubuhkan nama narator). Keindahan yang indah, bahkan dalam percakapannya, tapi terasa ganjil (memangnya ada orang-orang yang bercakap dengan gaya puisi begitu?).

Meski demikian, Mimpi Bayang Jingga bisa menjadi salah satu referensi untuk belajar pemilihan kata—diksi. Sanie B. Kuncoro menghadirkan diksi-diksi yang puitis. Cakep.

Mimpi Bayang Jingga bisa menjadi salah satu pilihan jika ingin membaca cerita yang nyata dan tentunya, belum tentu berakhir bahagia (kadang kala, kita butuh kepahitan dalam hidup, bukan?).

Yah, selamat membaca! 😀

—————-
entah kenapa gaya penulisan resensi ini terpengaruh oleh gaya penulisan Mimpi Bayang Jingga
well, maafkan diri saya yang gampang terpengaruh ini ^^;;
sekaligus novel ini diikutsertakan dalam 100 Days of Asian Reads Challenge

Advertisements

3 thoughts on “Mimpi Bayang Jingga – Sanie B. Kuncoro

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s