Lukisan Dorian Gray – Oscar Wilde

20150220_102825

Judul: Lukisan Dorian Gray
Penulis: Oscar Wilde
Penerjemah: Diyan Yulianto
Penyunting: Addin Negara
Penerbit: Laksana
Tebal: 276 halaman


The Picture of Dorian Gray atau Lukisan Dorian Gray bukanlah judul yang tidak pernah saya dengar. Judul-judul novel klasik selalu menggugah keinginan saya untuk membaca—sebagian besar karena penasaran akan pengaruhnya dalam dunia literatur—tapi terkadang saya lebih memilih menghabiskan waktu dengan karya-karya populer yang meringankan kepala.

Novel ini menjadi wajib saya baca ketika membaca naskah novel seorang teman yang sebentar lagi akan terbit (congrats again, Dear!). Dalam naskahnya, Lukisan Dorian Gray mengambil porsi yang cukup penting—seperti layaknya karya-karya klasik lainnya yang sering dipetik dalam karya-karya yang lebih baru. Dari naskah itu, saya juga tahu jalan cerita Lukisan Dorian Gray secara garis besar, bahkan karakter-karakternya. Akan tetapi, jika belum membaca sendiri novelnya, pemahaman yang dimiliki pasti belum menyeluruh. Oleh sebab itu, ketika tahu Diva Press Group akan menerbitkan Lukisan Dorian Gray, saya secara pribadi request untuk meresensi novel ini (yang tidak disangka-sangka ternyata dikabulkan XD).

Lalu, di sinilah saya, telah merampungkan Lukisan Dorian Gray dan hendak mengulasnya. Mari kita mulai dari kover.

Sejujurnya saya tidak suka kover novel ini. Penggambaran Dorian Gray-nya tidak cukup memukau seperti sosok Dorian Gray dalam novel ini. Coba lihat bagaimana Oscar Wilde menggambarkan Dorian Gray dalam salah satu bagian yang saya kutip:

Benar, anak muda itu benar-benar luar biasa tampan, dengan bibir melengkung yang berwarna kemerahan, mata birunya yang polos, rambut keemasannya yang agak bergelombang. Ada sesuatu dalam wajahnya yang dapat membuat orang lain langsung memercayainya. –hlm. 35

Oscar Wilde menuliskan “luar biasa” setelah penekanan “benar-benar”. Selain itu, “sesuatu” yang dituliskan dalam kutipan di atas tidak berhasil ditunjukkan oleh gambar di kovernya.

Atau coba lihat kutipan ini:

Dia memang tercipta untuk dipuja. –hlm. 35

Entah kenapa saya jadi teringat Nabi Yusuf. Bukannya hendak menyama-nyamakan, tapi, mungkin Dorian Gray yang ingin digambarkan Oscar Wilde sejenis sosok seperti itu. Sosok dengan ketampanan luar biasa yang sanggup membuat seisi dunia tunduk di bawah wajahnya yang rupawan.

Meski, desain kovernya sendiri memang menggambarkan keseluruhan novel Lukisan Dorian Gray ini sih.

Lukisan Dorian Gray sendiri menceritakan kehidupan Dorian Gray, seorang pemuda tampan yang mendewakan rupa dan mengabaikan hal-hal yang merusak jiwa. Awalnya, Dorian Gray adalah seorang pemuda yang polos dan tidak (atau belum) terpikir bahwa waktu akan merenggut keindahan rupa yang dimilikinya saat ini. Rupa yang membuatnya diagungkan oleh begitu banyak orang.

Kesadaran itu disuntikkan oleh Lord Henry, sahabat Basil Hallward. Pertemuan mereka bertiga di studio Basil saat itulah yang menjadi titik balik perubahan seorang Dorian Gray. Meskipun Basil sudah memperingatkan Lord Henry untuk tidak berusaha memengaruhi Dorian, pada akhirnya Dorian sudah terlanjur terjerat perkataan Lord Henry.

“Kau mungkin tersenyum sekarang, tapi kau tidak akan tersenyum seperti itu kalau kau sudah tidak lagi tampan.” –hlm. 45

Kutipan di atas adalah sepenggal kecil dari ceramah panjang lebar Lord Henry kepada Dorian yang tengah menjadi model lukisan Basil. Sebuah ceramah yang membuat Dorian tertarik pada pemikiran Lord Henry. Sebuah ceramah yang membuat Dorian memanjatkan permohonan agar waktu memakan kemudaan paras lukisan dirinya dan bukan dirinya yang sebenarnya.

Dan ternyata permohonan Dorian terkabul. Sejak saat itu, dirinya tidak pernah sekali pun bertambah tua. Lukisan dirinya yang menanggung semua beban usia. Bukan hanya beban usia, lukisan dirinya juga menanggung segala perbuatan buruk yang dilakukan Dorian, segala dosa atas kekejaman dan kejahatan yang dilakukan Dorian Gray untuk menghidupkan hidupnya seperti pesan Lord Henry.

“Hiduplah, hidupkan kehidupan luar biasa yang ada dalam dirimu! Jangan melewatkan kesempatan apa pun. Cobalah untuk terus mencari hal-hal yang baru. Jangan takut pada apa pun.” –hlm. 47

Membaca buku ini saya jadi paham mengapa Lukisan Dorian Gray menjadi salah satu novel klasik yang harus dibaca. Oscar Wilde berhasil menggambarkan dengan sangat baik sosok manusia yang manusiawi dalam tokoh Dorian Gray. Tentu saja dengan gaya bahasanya yang indah—membaca Lukisan Dorian Gray lebih mirip membaca naskah drama—dan patut dijadikan renungan bahkan hingga saat ini.

Meskipun Lord Henry terlihat seperti tokoh antagonis dalam novel ini, tapi bagi saya pribadi, Lord Henry hanyalah pemicu. Sebuah pemicu yang membuat seorang manusia mempertanyakan banyak hal, sekaligus mungkin terjerumus pada kegelapan (seperti Dorian). Dan pemicu bisa hadir dalam bentuk apa pun, bukan hanya dalam bentuk manusia seperti Lord Henry.

Untuk bagian ending-nya sendiri sungguh luar biasa. Oscar Wilde berhasil menyajikan novel penuh pesan moral dan akhir yang tragis. Saya sangat-sangat suka bagaimana kisah Dorian Gray ditutup dalam novel ini. Beginilah sebuah tragedi seharusnya. Sederhana, tapi begitu menyayat. Silakan baca sendiri jika penasaran, tidak seru jika saya kutip bagian akhir Lukisan Dorian Gray dalam resensi ini, kan? 😀

Akhirnya yang sangat saya suka itu mengaburkan bagian pertengahannya yang kurang. Di bagian tengah, Oscar Wilde tidak menceritakan dengan gamblang perbuatan tercela apa saja yang dilakukan Dorian Gray—setelah kekejiannya yang pertama. Oscar Wilde hanya menuliskan terjadi perubahan pada lukisan Dorian dan banyak gosip miring seputar Dorian. Sudah, begitu saja. Padahal saya penasaran apa yang dilakukan Dorian dan bagaimana bentuk gosipnya. Ini merupakan satu kekurangan yang membuat novel ini cukup membosankan di pertengahan.

Akan tetapi, secara keseluruhan, Lukisan Dorian Gray adalah sebuah karya yang patut dibaca. Selain sebagai pembelajaran, juga sebagai renungan bagi kita semua.

Sebelum saya menutup resensi ini, saya harus mengagumi penerjemahnya. Lukisan Dorian Gray diterjemahkan dengan bahasa yang asyik (bukan berarti sederhana dan mudah dipahami seperti novel-novel masa kini, lho). Penerjemah berhasil membungkus Lukisan Dorian Gray dengan terjemahan yang tetap terasa indah lengkap dengan kosakata yang kaya (sampai membuat saya membuka kamus). Memang saya belum pernah membaca versi aslinya, tapi versi terjemahannya ini tidak terasa kurang. Dorian Gray tetap berhasil hidup dengan penuh keindahan dan tragedi dalam Lukisan Dorian Gray. Keren. 🙂

Sayangnya, novel ini mungkin akan memancing kebosanan karena paragrafnya yang panjang seperti gerbong kereta atau percakapannya yang tidak juga berhenti seperti uap dari cerobong asap. Akan tetapi, jika ingin sejenak melambat dalam kehidupan dan berusaha mencerna salah satu karya terbaik sepanjang masa, Lukisan Dorian Gray sangat direkomendasikan.

Dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang patut direnungkan (saking banyaknya saya sampai tidak bisa memuatnya karena nanti resensi ini akan terlalu panjang), Lukisan Dorian Gray adalah bacaan klasik yang cocok menemani akhir pekan.

Selamat membaca! 😀

Diikutkan dalam New Author Reading Challenge 2015.

Advertisements

17 thoughts on “Lukisan Dorian Gray – Oscar Wilde

  1. Lol, padahal cerita ini dianggap sebagai cerita “imoral”, lho, pada zamannya (mengingat ini ngegambarin banget kebangkrutan moralnya Victorian era lololol.) But yeah, endingnya sesuatu sekali, ya =). Kayaknya terjemahannya bagus, ya (…) aku bacanya versi asli sih =)) Pace terakhir rada…draggy emang, dengan deskrip yang ‘wow’ dan emang bagian tengah yang kerasa ‘lubang’ banget itu? Tapi emang kayaknya enggak mungkin ditulis apa yang terjadi mengingat…era waktu itu masih ketat banget “etika”nya hahah =)).

    Aku mikirnya lebih bagus dijadiin skrip drama, tbh.

    • Ah, iya juga ya, mungkin karena ditulis di zaman dulu yang belum serba terbuka kayak sekarang ya jadi emang kecipta “lubang” gitu. Mungkin kalo ditulis sekarang, lubangnya ga ada ya. :))

      Dan, yah, saya juga ikut setuju jika novel ini lebih cocok jadi skrip drama. Percakapannya aja sepanjang-panjang itu. Pakai bahasa yang indah baget pula.

      • Oscar Wilde emang lebih sering nulis skrip drama sih, dan keliatan banget di Dorian Gray wakakak =)). Dialognya witty bangeeet orz, apalagi dialognya Lord Henry.

  2. Kover terjemahannya itu aku curiga pakai model Ben Barnes yang jadi Dorian Gray di adaptasi film 2009-nya, soalnya ada pose poster yang muiriiiiiip banget sama pose di kover itu. XD

    Kalau terjemahannya bagus, beli deh. Tapi aku udah pesen yang versi asli (dan mahaaaaal) di salah satu lapak impor. hiksu. Tapi pertanyaannya: homosubtlety novel ini diterjemahkan dengan baik nggak? #eaa

    • Wah iya kah? Aku baru tahu, Kak. Yang pasti buatku pribadi kovernya jelek. #ditendang

      Aku ga baca versi aslinya sih, jadi ga bisa bener-bener membandingkan. Tapi, secara keseluruhan bagus (imo). Ga terasa aneh (meski emang omongannya Lord Henry itu kan semuanya ga bisa ditelan mentah-mentah) atau gimana. Kalo soal homosubtlety-nya, well … aku ngerasa banget, apalagi di Basil, haha. Tapi gimana ya…. *bingung jelasinnya(

  3. Uap cerobong asap bukannya berhenti di waktu-waktu tertentu, ya? #eh #malah-ini-yang-dikomentari-pertama xD

    Aku baru tahu lho kalau nama asli Mas Dion itu Diyan, dari resensi ini, heheh.

    Buku klasik adalah genre ketiga favorit saya setelah fantasi/sific dan komedi, jadi sudah barang tentu (?) novel ini masuk dalam wishlist saya. Apalagi penasaran sama “lubang” yang dimaksud. Apa mungkin lubang itu memang ada di edisi aslinya, atau lubang itu dihilangkan karena kena gunting sensor?

    Ini komentar atau ngajak spekulasi? :))

    Yang jelas, aku akan membatja buku ini :)))

    • Di Gramedia ada kok 🙂
      Atau coba langsung ke penerbitnya, cari aja Penerbit Diva Press di google nanti muncul

  4. Wow. Lagi menjelajahi blog nya kak wardah dan ngestuck di resensi yang satu ini. Aku punya bukunya kak, tapi belum kubaca, malahan kakak ku yang baca duluan xD

    Dari awal udah tertarik dengan covernya, walaupun ga sesuai dengan gambaran seperti kata kak wardah. Tapi covernya lucu, ditambah dengan tulisan ‘Kisah pria yang menjual jiwanya’ membuat buku ini semakin menarik buatku. Jujur, aku kurang tertarik sama sastra (apalagi ini buku udah super jadul :D), tapi terdapat pengecualian untuk buku ini.

    Namun sebelum aku mulai membaca, kakak ku bilang buku ini ngebosenin, dan aku jadi kurang tertarik. Apalagi setelah melihat dialognya yang super panjang kaya gitu. Waduh, aku jadi takut ga sanggup baca buku ini. Eh tapi, aku baca review nya kak wardah deh. Daaaan, aku jadi tertarik lagi! Melebihi sebelumnya malahan. Aku penasaran dengan jalan cerita pria yang menjual jiwanya kepada lukisan itu (eh, ke lukisan bukan sih?). Disertai embel-embel endingnya luar biasa, aku jadi makin penasaran, aw! Ya intinya itu deh, review kakak mampu membuat semangatku untuk membaca novel ini muncul kembali. Makasih kak! ^^

  5. Versi aslinya udh direvisi karena dianggap terlalu vulgar pada era Victoria. Mungkin itu yg mbak maksud dengan ‘hole in the middle’. Wilde sendiri seorang homoseksual ‘terlambat’, karena udh menikah dan punya anak baru dia menyadari orientasi seksualnya ternyata berbeda. Saya rasa hidup Wilde sendiri lebih tragis dari tokoh yg diciptakannya.

  6. Sebagai tambahan, Wilde pernah diadili gara-gara homoseksualitasnya itu. Putus asa, miskin, ditinggalin istri karena kasus itu (btw istrinya mengganti nama belakang anak-anak mereka, dari Wilde menjadi Holland krn malu punya suami seperti itu), kena syphilis, dan kemudian mati muda akibat menderita symptom dari penyakit itu. Menurut mbak, siapa yang lebih menyedihkan?

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s