Friendship · Indiva · Misteri · Resensi

Rengganis Altitude 3088 – Azzura Dayana

20150309_225119

Judul: Rengganis Altitude 3088
Penulis: Azzura Dayana
Penyunting: Mastris Radyamas
Penerbit: Indiva
Terbit: Agustus 2014
Tebal: 232 halaman


Rengganis Altitude 3088 bercerita tentang pengalaman mendaki Pegunungan Yang delapan orang, Dewo, Fathur, Rafli, Dimas, Acil, Ajeng, Nisa, dan Sonia. Perjalanan mereka di mulai dari Baderan, salah satu rute awal untuk memulai pendakian di Agropuro. Trek Baderan ini akan berakhir di Bermi—desa yang di kalangan pendaki lebih dikenal dengan Bremi. Sebuah perjalanan yang penuh tantangan, menyenangkan sekaligus menegangkan.

Satu hal yang akan terlintas ketika membaca sinopsis novel ini adalah unsur mistiknya. Selayaknya pegunungan—atau tempat-tempat yang masih liar—banyak mitos yang mengiringi, begitu juga dengan Agropuro ini. Mitos yang terdengar dari pegunungan ini seputar Dewi Rengganis, putri Majapahit yang keberadaannya juga masih diragukan, dan istananya.

“Membayangkan ada sebuah komplek istana Rengganis di tempat seterpencil, seluas, sedingin, dan seindah itu, sungguh luar biasa!” –hlm. 112

Sejak awal membaca sinopsisnya, saya sudah mengira bahwa itu penggalan dari dalam novel, tapi baru di halaman 172 (hanya tersisa 58 halaman sebelum novel ini berakhir), penggalan di sinopsis itu muncul. Meski beberapa halaman awalnya sudah mulai diceritakan hal-hal yang mistisnya, tapi hal yang berhasil membuat penasaran (yaitu sinopsisnya) rasanya datang terlalu lama. Saya sampai merasa bosan karena pertanyaan siapakah yang meninggalkan tenda itu tak juga terjawab.

Rengganis Altitude 3088 sendiri cukup menarik. Penulis berhasil menghidupkan pendakian delapan orang ini dalam novel setebal 230 halaman. Dan bukan hanya berisi deskripsi tentang keindahan alamnya, penulis juga berhasil menyisipkan berbagai pengetahuan seputar legenda, mitos, kabar burung tentang trek pendakian Pegunungan Yang. Kerennya lagi, penulis berhasil menyindir lewat interaksi tokoh-tokohnya dalam melihat keindahan alam yang jauh dari sentuhan manusia tetapi tetap berakhir memprihatinkan.

“Lihat saja, di dekat dua struktur persegi itu bungkus mi instan bertebaran. Tulisan-tulisan di batu atau permukaan dataran kapur ada di mana-mana, sekadar mengumkan nama-nama individu maupun komunitas yang berhasil menjejakkan kakinya di sini.” –hlm. 113

“Mereka mendaki karena mengaku mencintai alam. Tapi mereka sendiri yang mengkhianati cinta itu. Sesungguhnya bukan alam yang mereka cintai, tapi diri mereka sendiri.” –hlm. 113

“Apa jadinya tempat bersejarah ini kalau terus-menerus ditumpuki sampah?” –hlm. 115

“Lebih tepat namanya kini adalah Arca yang Menangis. Arca ini telah diperlalukan secara kejam sekali.” –hlm. 135

Selain 5 cm, Rengganis Altitude 3088 adalah novel pendakian yang saya baca. Akan tetapi, novel ini adalah novel pertama yang berisi sepenuhnya perjalanan pendakian, tidak ada cerita di luar perjalanan mereka. Dan sebuah cerita perjalanan yang bertemu alam (bukan manusia) itu bisa memicu kebosanan. Well, bagaimana tidak jika seisi novel itu isinya tulisan tentang pemandangan?

Saya rasa ini salah satu alasan kenapa tokoh dalam novel ini cukup banyak, ada delapan orang. Biasanya sebuah novel berfokus bada satu, dua, atau tiga orang tokoh inti. Dalam novel ini, semua tokoh seperti tokoh utama, memiliki porsi yang seimbang dan dieksplorasi dengan sama rata oleh penulis. Salut untuk penulisnya yang berhasil menghidupkan delapan orang sekaligus di novel ini. 🙂

Meski demikian, novel ini dibuka dengan tidak-banget. Daripada pembukaan sebuah novel, Rengganis Altitude 3088 ini lebih mirip reportase. Pembukaan novel ini bisa diganti dengan kalimat berikut: Ada Dewo, Fathur, Rafli, Dimas, Acil, Ajeng, Nisa, dan Sonia. Mereka berdelapan akan melakukan pendakian di Pegunungan Yang.

Penulis langsung memperkenalkan kedelapan tokoh itu dalam paragraf awal lengkap dengan asal mereka. Jadinya tidak memicu ketertarikan. Telebih dengan jumlah yang tak sedikit itu pembaca akan kesulitan untuk mengingat semua langsung di awal cerita. Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk tidak ambil pusing dan lanjut membaca, berusaha mengenal mereka lewat cerita yang bergulir.

Selama perjalanan pun, novel ini terasa cukup datar. Hanya berisi interaksi kedelapan tokoh dalam melewati berbagai trek pendakian, yang dilengkapi pengetahuan berbagai macam hal, entah seputar selada air, tumbuhan jelantang, landasan pacu peninggalan Belanda, kata petilasan, dan lainnya. Semuanya berupa informasi baru bagi saya, tapi jadinya mirip buku pengetahuan.

Konflik baru mulai muncul di pertengahan, sekitar halaman 150an. Konflik itu pun tampak dengan samar-samar (mungkin karena tokohnya banyak ya?). Tapi, ketika konflik itu benar-benar pecah dan penggalan di kover belakang novel ini muncul, emosi saya benar-benar ikut terseret.

Saya ikut merasa kehilangan ketika Rafli hilang di Danau Taman Hidup. Saya ikut merasa penuh harap ketika ketujuh temannya mencari. Saya ikut merasa terharu melihat perjuangan Dewo. Saya ikut merasa penuh syukur ketika segalanya berakhir baik-baik saja.

“Aku cuma kehilangan secuil daging kaki karena disayat batu. Sementara yang sedang kita cari ini adalah satu tubuh utuh dari seorang sahabat. Mana yang lebih penting?” –hlm. 189

Meskipun rasanya terlalu baik dan indah ketika segalanya berakhir (padahal kenyataannya banyak juga kisah memilukan dalam pendakian), tapi tidak mengapa. Yang ingin disampaikan dalam novel ini bukan sebatas keindahan Agropuro atau kisah mistinya yang melingkupi atau alam yang harus dihormati, melainkan kegigihan dalam mencapai tujuan sebelum berserah diri kepada Allah (entah dalam perjalanan pendakian mereka maupun dalam kasus hilangnya Rafli).

Ah, serta tentang persahabatan. :’)

“Selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah dan musibah.” –hlm. 216

Secara keseluruhan, saya cukup suka dengan novel ini. Memang bukan tipe novel yang menyeret-nyeret emosi, tapi ada banyak wawasan serta adegan persahabatan yang saya nikmati. Meski saya harus banyak-banyak beristigfar ketika mencapai bagian-bagian penuh dengan unsur mistisnya (saya mirip Nisa, LOL). Sebuah bacaan yang menyenangkan. 🙂

Selamat membaca!

———————
Diikutsertakan dalam Lomba Resensi Buku FLP, New Author Reading Challenge 2015, dan 100 Days of Asian Reads Challenge.

Advertisements

9 thoughts on “Rengganis Altitude 3088 – Azzura Dayana

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s