Fangirl – Rainbow Rowell

20150301_183758Judul: Fangirl
Penulis: Rainbow Rowell
Penerjemah: Wisnu Wardhana
Penyunting: NyiBlo
Penerbit: Spring
Tebal: 456 halaman


 

“Rasanya menyenangkan menulis di kamarnya sendiri, di tempat tidurnya sendiri. Terhanyut dalam Dunia Mage dan terus begitu, tidak mendengarkan suara apa pun di dalam kepalanya kecuali suara Simon dan Baz. Bahkan tidak juga suaranya sendiri. Ini sebabnya Cath menulis fanfiksi.” –hlm. 102

Cath Avery adalah seorang penulis fanfiksi, ah, bukan, Cath Avery adalah seorang penulis fanfiksi terkenal. Fanfiksi Simon Snow-nya yang berjudul Carry On ditungguh ribuan orang di seluruh dunia. Tidak peduli Cath baru masuk perguruan tinggi, diabaikan Wren sang kembarannya, harus tinggal di kamar dengan orang asing bernama Raegan, punya tugas kelas Penulisan Fiksi yang banyak, harus menghadiri janji menulis rutin dengan Nick, atau mulai didekati cowok cakep yang dia pikir pacar teman sekamarnya bernama Levi.

Penggemar-penggemar Cath tidak akan ada yang peduli. Yang mereka pedulikan hanya Cath rutin meng-update Carry On di internet dan memberikan lebih banyak cerita Simon dan Baz di internet.

Seperti judulnya, novel ini bercerita tentang seorang fangirl. Sebuah judul yang—bagi seorang fangirl seperti saya—sangatlah menarik. (Selama ini hidup sebagai fangirl tapi saya tidak pernah memikirkan ide seperti ini, hiks. TwT)

Secara personal, novel ini memiliki cukup banyak keterkaitan dengan saya. Fakta Cath seorang fangirl dan gadis itu menulis fanfiksi, membuat saya bisa dengan mudah “menyamakan” posisi dengan Cath. Well, bahkan saya juga mengalami masa sulit di perguruan tinggi dan lebih senang hidup di dunia maya seperti Cath. Haha.  XD

Jadi, untuk ide ceritanya, saya suka. Suka banget. Ini sedikit bias karena saya seorang fangirl dan penulis fanfiksi seperti Cath. Akan tetapi, sejujurnya ide ceritanya memang tidak biasa. Meski ide berupa gadis nerd sudah sering digunakan dalam fiksi, tapi gadis nerd yang menyebut dirinya fangirl sekaligus mengupas fanfiksi itu tidak biasa.

Terlebih saya suka ketika Profeso Piper—dosen Cath dalam mata kuliah Penulisan Fiksi—itu memperkarakan tugas yang dikumpulkan Cath. Pasalnya tugas itu adalah sebuah fanfiksi, dan bagi sang Profesor sebuah fanfiksi adalah tindakan plagiasi. Saya mengerti sudut pandang Profesor Piper  yang mengatakan Cath “mencuri” karakter dalam serial Simon Snow, tapi seperti Cath, saya tidak setuju jika fanfiksi dibilang plagiasi. Selama fanfiksi tidak dikomersialkan, saya rasa sah-sah saja adanya. Makanya saya sedih pas beberapa tahu lalu ke toko buku dan menemukan banyak novel fanfiksi di rak buku.

Karakterisasinya sendiri cukup saya suka. Saya suka bagimana Rainbow Rowell membangun latar keluarga Cath yang cukup bermasalah. Saya selalu suka kisah family, jadi mendapatkan novel Fangirl dengan aspek keluarga yang banyak, terasa sangat menyenangkan. Keluarga dan tempat tinggal keluarga Avery juga membuat saya maklum mengapa Cath tumbuh menjadi gadis introvert yang insecure—meski kelewatan insecure sampai kadang saya merasa annoying.

Lalu, ada Wren, sang kembaran, juga menarik—meski sangat menyebalkan di paruh awal karena saya bertanya “memangnya seperti itu sikap kepada kembaran sendiri?” dalam hati. Tapi, yah, namanya juga baru lepas dari sangkar dan memasuki proses menuju dewasa, saya rasa hal itu wajar. Saya (sebagai seorang saudara dari saudara-saudara perempuan saya) juga menjadi sosok menyebalkan seperti Wren, haha.

Karakter-karakter lain juga menarik. Saya suka Raegan yang ceplas-ceplos tapi peduli. Saya suka Levi yang pastinya tampan itu baik hati, bersinar seperti matahari, dan selalu tersenyum. Saya suka pada Nick—meski saya tidak suka pada fakta bahwa dia bukan seorang gentleman. Yah, Levi terlihat terlalu sempurna sih, sebenarnya, tapi, yah, maafkanlah karena ini novel yang memicu fantasi anak muda. XD #lho

Alurnya sendiri terasa sangat penuh. Bagi saya pribadi Fangirl sangat tebal, nyaris 500 halaman (456 halaman tepatnya). Meski demikian, ketika pertama kali membacanya versi asli berbentuk ebook, saya tidak pernah berpikir bahwa Fangirl akan setebal ini dan segalanya berjalan begitu saja. Membaca versi terjemahannya saya cukup tersendat karena terasa sangat banyak dan penuh dan sedikit membosankan (atau mungkin karena saya sudah lebih dahulu nyaman dengan versi aslinya?). Novel ini baru terasa menarik ketika memasuki bagian interaksi Cath dan Levi yang semakin intens serta persoalan keluarga Cath. Setelah itu, saya tidak melepaskan Fangirl sebelum berhasil menyelesaikannya.

Meski hal-hal di atas menarik, yang sebenarnya paling menarik bagi saya justru adalah Simon Snow. Seperti yang bisa kita semua tebak, Simon Snow terinspirasi dari Harry Potter. Akan tetapi, Rowell menyajikan kisah yang berbeda dalam Simon Snow. Kisah yang secara garis besar akan bisa pembaca tangkap lewat cuplikan berupa laman situs-semacam-wikipedia, berita online, penggalan novel Simon Snow, hingga fanfiksi-fanfiksi Cath. Hanya sebatas garis besar saja dan justru menyajikan rasa penasaran dalam diri saya.

Segala informasi seputar serial Simon Snow yang tenar di dunia Cath itu disajikan di tiap awal bab. Kadang pendek, kadang panjang. Tapi semuanya sangat saya nikmati—sekaligus saya sukai. Bahkan Rowell memberikan satu fanfiksi yang ditulis Cath utuh dalam novel ini, meski penceritaannya sepenggal-sepenggal sih. Tapi, tetap menyenangkan. Entah kenapa, saya justru lebih naksir pada kisah dalam kisah di novel ini, yaitu kisah Simon Snow.

Secara keseluruhan, Fangirl sangat menyenangkan untuk dibaca, baik oleh fangirl atau bukan. Kisah coming-of-age yang disajikan Rainbow Rowell ini menarik dijadikan bacaan ringan. 🙂

Akan tetapi, berhubung latar novel ini di Amerika, tidak semua budayanya cocok dengan budaya kita. Saya kicep sendiri pas baca terjemahan di sini:

“Cather tidak berencana untuk tetap menjadi perawan selamanya.” –hlm. 308

Atau halaman-halaman ketika intensitas kedekatan Cath dan Levi semakin tinggi. Saya tidak merasakan masalah ketika membaca versi aslinya, tapi setelah diterjemahkan, entah kenapa rasanya … tidak banget. Bukan pada terjemahannya, tapi mungkin pada apa yang terjadi disajikan dalam Bahasa Indonesia. (Semoga yang membaca paham maksud saya. *sweatdrop*)

Yah, biar bagaimana pun, saya merekomendasikan novel ini bagi mereka yang tenggelam—entah pernah, sedang, atau akan—di dunia fangirl dan fanfiksi seperti Cath! Selamat membaca! 😀

Diikutsertakan dalam Young Adult Reading Challenge 2015.

Advertisements

6 thoughts on “Fangirl – Rainbow Rowell

  1. maaf sebelumnya, ada typo sedikit pada “Ini sedikit bias karena saya seorang…” kata ‘bias’ seharusnya ‘bisa’ tapi gak apalah, nobody is perfect! 🙂

    sebenarnya kesan pertama liat covernya dan baca judulnya gak begitu tertarik, biasa-biasa aja, tapi setelah dipikir-pikir lagi kok rasanya recomen bgt buat dibaca gegara penulisnya, Rainbow Rowell, setelah googling singkat, ternyata dia penulis yang cukup terkenal, wah aku baru tau hehe. Apa ini novel fiksi dewasa ya?

    • Err itu engga typo kok, saya emang pakai kata “bias”. Coba aja cari di kbbi ada kok. 🙂

      Ini genre-nya young adult kok, bukan adult. Cuma karena setting luar jadi ya gitu.

  2. Aku juga dulu waktu masih jaman belum stabil suka banget baca fanfic. Cuman makin ke sini, makin banyak yang bikin fanfic yang sayangnya rata-rata punya plot itu-itu aja dan malah yang lebih parah, ambil ide cerita dari novel indie yang belom terkenal terus diplintir dikit. Sedih banget. *sigh*

    Awesome review! 🙂

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s