Bentang Pustaka · Resensi · Romance

Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh – Dee Lestari

20150303_210559

Judul: Supernova: Kesantria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dee Lestari
Penyunting: Dhewiberta
Penerbit: Bentang Pustaka
Tebal: x + 354 halaman


Supernova: Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh (setelahnya akan saya singkat Supernova: KPBJ atau KPBJ) bercerita tentang Dimas dan Reuben yang sedang menciptakan karya masterpiece mereka. Sebuah masterpiece yang berusaha menjembatani semua percabangan sains dan mampu menggerakan hati banyak orang.

Di saat yang bersamaan dengan proses menciptakan masterpiece itu (berupa roman berjudul Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh), ada kejadian nyata yang berlangsung persis seperti karya mereka. Seolah-olah cerita yang mereka tulis itu dihidupkan oleh individu dalam dunia yang sama dengan Dimas dan Reuben. Ferre sebagai Kesatria, Rana sebagai Putri, dan Diva sebagai Bintang Jatuh.

Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh itu sendiri adalah sebuah dongeng yang dulu pernah dibaca Dimas. Dongeng itu berkisah tentang kisah cinta Kesatria pada Putri Bidadari. Untuk mencapai cintanya yang ada di langit, Kesatria meminta bantuan Bintang Jatuh. Sayangnya, Bintang Jatuh justru mengkhianati Kesatria dan merebut Putri. Sebuah dongeng berakhir sedih yang juga ada dalam masa kecil Ferre. Dongeng yang membuat Ferre bermimpi menjadi Kesatria serta berjanji tidak akan bergantung pada Bintang Jatuh untuk mencapai Putri.

KPBJ dituliskan dengan banyak kosakata yang tidak pernah terdengar, bahkan di telinga saya. Telebih ketika percakapan Reuben dan Dimas berlangsung. Saat itu, saya memasuki zona serba tidak tahu. Padahal yang dibicarakan Reuben itu seputar fisika dan rasanya segala yang sudah saya pelajari selama ini seperti butiran debu dibandingkan pengetahuan Reuben—sekaligus pengetahuan penulisnya. Untungnya Dimas ada untuk menerjemahkan penyampaian Reuben yang bikin pusing kepala dengan bahasa yang jauh-jauh lebih sederhana.

Well, tapi, Reuben dan Dimas menjadi outsider dalam inti cerita dalam KPBJ ini. Mereka seolah dua orang yang sedang menjelaskan apa yang terjadi di antara Ferre, Rana, dan Diva. Itu saja. Keduanya tidak memegang peran penting dalam cerita, meski saya cukup suka interaksi antar mereka. Fakta bahwa mereka gay juga tidak terlalu berpengaruh. Pun Reuben dan Dimas bukan gay, hanya sepasang sahabat, atau malah diganti perempuan, atau pasangan hetero, tidak akan ada yang berubah.

Inti cerita dari KPBJ sendiri adalah kisah roman. Di balik segala penjelasan Reuben yang ilmiah atau dongeng yang menjadi awal segalanya, KPBJ adalah novel roman dewasa. Bercerita tentang perselingkuhan Ferre dengan Rana. Apa yang terjadi pada Ferre dan Rana tidak mirip dengan dongeng KPBJ, karena Diva—yang melambangkan Bintang Jatuh—tidak muncul seperti Bintang Jatuh dalam dongeng. Ini salah satu poin yang membuat dongeng tersebut tidak cukup terkait dengan kehidupan Ferre seperti yang awalnya dia ungkapkan.

Menariknya, KPBJ disajikan dengan gaya yang tidak biasa. Penggalan-penggalan interaksi Reuben dan Dimas, menurut saya, merupakan salah satu hal paling berbeda dalam penyajian cerita mainstream seperti ini. Meski sangat disayangkan bahwa keberadaan mereka berdua tidak lebih penting dalam kisah yang terjadi. 😦

Selain itu, gaya penulisan Dee sendiri membuat novel ini sangat-sangat menyenangkan untuk dibaca. Keren. Sumpah keren banget. Saya harus akui bahwa Dee merupakan salah satu penulis dengan gaya bahasa yang ciamik.

Satu kekurangan lagi adalah terlalu banyak kebetulan dalam novel ini. Bahkan Dee menyajikan segala kebetulan itu seperti keajaiban, mirip dengan kisah dongeng, dan cukup terang-terangan. Tentang kupu-kupu di kantor Ferre, misalnya.

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati novel ini. Semua ini karena gaya bahasa Dee yang menawan. Akan tetapi, ketika saya telah selesai membaca, lalu meninggalkannya dan mencoba menuliskan poin-poin untuk penulisan ulasan KPBJ, saya sadar bahwa segala yang ada dalam novel ini sebenarnya biasa saja.

Poin lebihnya terletak pada gaya bahasa Dee. Dan buat saya sendiri, pada interaksi Reuben dan Dimas—meski saya tidak mendukung keduanya sebagai pasangan gay sih, keduanya sangat-sangat saling melengkapi, bahkan jadi sahabat soulmate saja cukup. u_u

Anyway, keberadaan Supernova sendiri sangat keren. Saya cukup percaya pada hal-hal yang disampaikan sosok Supernova, keren. Saya suka bagaimana cara Supernova memandang dunia. Hanya saja, kelebihannya untuk saling terhubung dengan seluruh orang—bahkan bisa tahu email Reuben dan Dimas—itu tetap saja tidak mudah diterima logika.

Well, Supernova: KPBJ ini akan sangat asyik jika dijadikan bacaan, tapi, sebaiknya siapkan diri untuk tahan dengan kosakata yang asing dan percakapan berbahasa ilmiah. Selamat membaca! 😀

————
Diikutsertakan dalam 100 Days of Asian Reads Challenge

Advertisements

5 thoughts on “Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh – Dee Lestari

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s