Remedy – Biondy Alvian

20150322_210548

Judul: Remedy
Penulis: Biondy Alvian
Penyunting: Katrine Gabby Kusuma
Penerbit: Ice Cube
Tebal: vi + 209 halaman


Well, rezeki memang tidak ke mana, ya. Setelah gagal ikutan giveaway, eh, lalu, begitu menjadi anggota BBI ada buntelan Remedy—yang akhirnya mendarat di rumah, hihi. So happy. ♥

Remedy bercerita tentang Tania yang menemukan sebuah dompet. Dalam dompet itu, Tania mendapati dua kartu identitas dengan dua nama yang berbeda. Satu dimiliki Navin Naftali, sang anak baru di sekolahnya, dan satunya dimiliki Budi Sanjaya. Akan tetapi, kedua nama tersebut memiliki wajah yang sama.

Pada awalnya, Tania tidak berniat mengembalikan dompet itu. Namun, karena penasaran pada Navin—yang memiliki identitas ganda—Tania pun mengembalikan dompet itu diam-diam. Sayangnya, Navin memerogoki Tania. Dan sejak saat itu, karena Navin khawatir identitas gandanya terbongkar, Navian mulai menghantui kehidupan Tania.

Navin mengajak Tania berteman. Navin menemani Tania makan di kafe dan mal. Navin memaksa Tania bergabung dalam panitia Porseni lewat Viki, teman sekelas Tania. Navin mulai mengunjungi rumah Tania dan sering bersamanya. Bahkan Navin mulai membagi rahasia KTP gandanya pada Tania. Dan Navin pun mengetahui kegelapan dalam hidup Tania.

“Tan, gue tahu apa yang lo rasa sekaranng ini. Lo takut. Takut kalau orang-orang nge-judge lo kalau mereka tahu soal lengan lo.” –hlm. 157

Novel ini merupakan pemenang ketiga dari lomba Young Adult Realistic Novel (YARN) yang diadakan Penerbit Ice Cube. Dan seperti nama lombanya, Remedy berhasil memberikan kesan realistic yang jarang saya temui dalam novel-novel young adult. Penulis berhasil menyelipkan latar belakang yang berat dan rumit dan tragis dalam ceritanya.

Satu hal yang paling saya suka dalam Remedy adalah karakterisasinya. Saya suka bagaimana penulis membangun latar keluarga Tania yang menyebabkan gadis itu menjadi pelaku self-harm. Saya suka karakter Navin yang memiliki masa lalu bermasalah tapi bertekad memperbahrui hidupnya. Khususnya, saya suka Viki, gadis yang digambarkan khas karakter gadis sosialita (suka berdandan, populer, cantik, dll.) ternyata bercita-cita menjadi makeup artist sekaligus ketua tim acara Porseni sekolah. Keren! Penulis berhasil mengubah stereotip karakter setipe Viki (yang biasanya hanya tahu bergaya) dalam Remedy ini. 🙂

Idenya sendiri cukup sering ditemui dalam novel YA, cewek tidak punya teman yang bermasalah dengan keluarga yang dihadirkan oleh Tania. Tapi, saya suka rahasia besar (sekaligus kegelapan) yang tersimpan di hidup Tania. Masalah Tania ternyata tidak sesederhana ditinggal wafat sang ibu atau tidak dekat dengan sang ayah. Dan kenyataan inilah yang paling bikin saya suka sama Remedy.

“Kalau keluarga lo seperti itu, berarti lo butuh keluarga baru.” –hlm. 189

Remedy dibawakan dari sudut pandangan orang pertama lewat Tania dan sudut pandang orang ketiga lewat Navin. Kedua sudut pandangn ini tidak cukup berbeda, sehingga entah kenapa dalam kepala saya keduanya seperti bergabung menjadi satu-kesatuan. Di satu sisi membacanya jadi terasa menyenangkan, tapi di sisi lain berarti penulis belum cukup berhasil dua sosok yang berbeda dalam Remedy.

Cara penceritaannya sendiri sangat ringan, khas novel YA. Kejadian demi kejadian dituliskan dengan perlahan-lahan hingga segalanya pecah di satu titik dengan (bagi saya) sangat dramatis. Saya tidak menyimpan curiga apa pun pada keluarga Tania. Makanya ketika segalanya terkuak itu saya syok dan sedih dan merasakan derita Tania—juga Navin.

Padahal awalnya saya pikir Navinlah yang akan menyimpan rahasia lebih banyak—dengan KTP-nya yang dobel itu. Akan tetapi, ternyata rahasia hidup Navin cukup biasa dan banyak ditemui. Atau terkesan biasa karena Navin telah berhasil melalui masa-masa paling sulit dalam hidupnya dan sekarang tengah menempuh hidup yang baru? Mungkin saja.

Bagian yang paling saya suka (sekaligus menjadi bagian yang selalu bikin saya getir dan sedih dan terharu dan emosional) itu di halaman 162.

“Nav,” kata Tania, “goresan di lenganku ini menolongku agar tetap hidup.”

“Ma-maksud kamu?”

“Aku mungkin sudah melakukan hal yang sama dengan yang kamu lakukan dulu, andai saja aku tidak pernah melukai diriku sendiri.”

Navin tidak mengerti. Bagaimana bisa luka di lengan gadis itu justru menolongnya untuk terus hidup? Luka itu justru membuat Tania selalu hidup dalam ketakutan. Rasa takut kalau orang lain mengetahui rahasianya.

Tania kembali mulai menangis. Di antara air matanya, dengan suara yang begitu halus seperti berbisik, dia berkata. –hlm. 162

Yap, sengaja tidak saya tulis karena apa yang dikatakan Tania itu adalah misteri terbesar dalam Remedy. Sebuah perkataan yang membuat emosi saya diaduk-aduk. :””)

Terlepas dari itu, saya merasa Navin bakal lebih heroik (sekaligus gentleman) kalau dia yang mengusulkan pada Papanya bahwa dia akan ikut menanggung biaya itu. Yah, biar Navin terlihat makin superhero. XD

Secara keseluruhan, saya suka Remedy. Sudah lama saya tidak membaca novel YA dalam negeri yang bagus. Saya bahkan tidak bisa melepaskannya sebelum benar-benar menyelesaikan Remedy. Memang cukup tipis, hanya 200an halaman tapi rasanya Remedy pas. Seperti makan bakso yang nikmat dengan porsi dan rasa yang pas.

Yang paling penting, Remedy juga mengajarkan bahwa selalu ada kesempatan kedua. Selalu ada remedy dalam hidupmu. Selalu ada masa depan.

“Menyelesaikan urusan masa lalu itu modal yang baik untuk maju ke depan.” –hlm. 85

Selamat membaca sekaligus menyelesaikan masa lalumu! 😀

Diikutkan dalam New Author Reading Challenge 2015, Young Adult Reading Challenge 2015, dan 100 Days of Asian Reads Challenge.

Advertisements

12 thoughts on “Remedy – Biondy Alvian

  1. ada banyak sekali yang bilang kalau novel-novel YARN itu bagus. sudah lama juga pingin nyicip, tapi list buku yang mau dibeli masih banyak juga, susah nyelipinnya haha
    well~ ini untuk pertama kalinya saya nemu review REMEDY yang sedalam ini, atau mungkin ada tapi saya nggak tahu ya hehe~ jadi makin penasaran lah buku ini lengkapnya seperti apa. pingin tahu juga kalimat Tania yang dipotong sama mbak Wardah, yang membuat dia justru merasa berterima kasih pada luka yang dimilikinya.
    Duh~ semoga bisa ada kesempatan nyelipin salah satu novel YARN di list buku yang dibeli dalam waktu dekat!

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s