DIVA Press · Realistic Fiction · Resensi

Insya Allah, Aku Bisa Sekolah – Dul Abdul Rahman

20150322_210006

Judul: Insya Allah, Aku Bisa Sekolah
Penulis: Dul Abdul Rahman
Penyunting: Misni Parjiati
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 276 halaman
Sinopsis:
“Anakku, kebodohan akan mendekatkan seseorang pada kemiskinan. Lalu kemiskinan akan mendekatkan seseorang pada kekafiran.”

Itu nasihat Daeng Marewa, ayah Samadin. Semangat itulah yang membuat Samadin, anak nelayan ini belajar giat. Ia berniat mengubah nasib lewat pendidikan.

Bersama temannya, Sapril, mereka belajar giat di mana pun. Bahkan, di sela-sela mereka memancing di Sungai Jeneberang atau Pantai Barombong, mereka tetap memanfaatkan waktu untuk belajar. Tak pernah bosan, bahkan seru. Mereka memperdalam bahasa Inggris dengan cara belajar otodidak. Bahkan keduanya selalu menggunakan bahasa Inggris bila bertemu di Sungai Jeneberang atau Pantai Barombong. Hingga akhirnya masyarakat sekitar memberi sebutan “bule” Pantai Barombong kepada mereka.

Malang tak dapat ditolak. Masa depan Samadin pun seolah suram tatkala ia harus kehilangan ayahnya yang meninggal. Samadin terancam tak dapat melanjutkan sekolah. Apa yang akan dilakukan Samadin untuk mengatasi persoalan ini? Siapkah ia menjadi tulang punggung bagi adik-adiknya dan ibunya yang lumpuh sepeninggal sang ayah?

Membaca novel ini, Anda akan tertular semangat Samadin dalam menempuh pendidikan. Novel yang menuturkan pendidikanlah yang menjadi lentera bagi individu maupun sebuah bangsa.


Dari sinopsis dan judulnya, saya langsung berkesimpulan bahwa novel ini adalah novel inspirasi setipe Laskar Pelangi. Well, sejak Laskar Pelangi meledak di pasaran, saya memang sering melihat novel-novel sejenis. Meski, secara personal, saya kurang suka dan kurang bisa menikmati novel selain tetralogi Laskar Pelangi (sebagian besar alasan saya menamatkan tetralogi itu adalah fakta Belitung yang menjadi tempatnya).

Saya tidak tertarik novel-novel inspirasi setipe Laskar Pelangi karena formula yang digunakan selalu itu-itu saja, seorang anak kampung yang berusaha sekolah untuk memperbaiki kehidupan diri dan keluarganya dan menjadi lebih modern. Yang berbeda hanya tempat tinggal sang tokoh utama, yang berarti segala adat, budaya, kebiasaan, nama-nama, kepercayaan, dan sebangsanya yang menjadi pilar-pilar penting dalam novel itu berbeda. Memang berhasil memberikan perbedaan yang cukup signifikan, tapi formula utamanya masih tetap sama.

Insya Allah, Aku Bisa Sekolah juga menggunakan formula yang sama. Tentang Samadin, anak seorang nelayan miskin, Daeng Marewa, yang tinggal di pesisir Makassar. Dulu, keluarga Daeng Marewa termasuk keluarga kaya, sayangnya karena Daeng Marewa tidak disekolahkan oleh sang ayah, lelaki itu tidak bisa mengelola dengan baik kekayaannya dan berakhir menjadi nelayan kecil. Oleh sebab itu, Daeng Marewa senantiasa menginginkan dan mengingatkan anaknya untuk bersekolah yang tinggi.

“Anakku Samadin! Pendidikan adalah nomor satu buatmu. Ayah berjanji akan mewariskan pendidikan kepadamu.” –hlm. 21

Samadin sendiri adalah siswi kelas 2 SMP. Bersama dengan Sapril, sahabatnya yang baru mulai melanjutkan sekolah setelah sang ayah dinasehati Daeng Marewa, mereka menjalani hari-harinya untuk meraih cita-cita. Keduanya belajar otodidak Bahasa Inggris sambil membantu di laut. Keduanya juga berinisiatif membentuk komunitas Save Jeneberang River, sebuah komunitas yang rutin membersihkan sungai yang mulai berpolusi. Keduanya juga senantiasa belajar dengan giat agar bisa sekolah semakin tinggi.

Begitulah kurang lebih cerita dalam Insya Allah, Aku Bisa Sekolah. Ide yang digunakan sudah sangat sering ditemui dalam novel-novel inspirasi yang menjamur. Perbedaannya hanya Samadin tinggal di Makassar, dan tidak banyak novel yang menjadikan pesisir Makassar sebagai latar belakang tempat. (Atau saya yang tidak tahu?)

Penilaian saya pribadi, novel ini kaya akan budaya, adat, dan kepercayaan nelayan yang melaut dari Pantai Barombong. Saya mengetahui cerita tentang La Galigo, mitos Syekh Yusuf, Sawiregading, dan banyak lagi. Ada juga kelong Makassar, nama panggilan khas, hingga budaya masyarakatnya. Untuk urusan pembangunan latar tempat, saya rasa novel ini sudah cukup berhasil.

Hal yang paling gagal dalam novel ini justru pengemasan kisah inspirasi Samadin. Seharusnya novel ini bisa memantik semangat untuk terus menimba pendidikan, akan tetapi, saya justru merasa aura roman dalam novel ini terlalu kental. Samadin dikisahkan jatuh cinta pada Fauziah, anak seorang terpandang di desa mereka. Dan buat saya pribadi, kisah cinta Samadin ini jauh lebih banyak (dan lebih ditunjukkan) daripada kisah perjuangan Samadin menempun pendidikan.

Herannya, Samadin mengatakan di awal bahwa dia hanya memiliki ketertarikan pada Fauziah dan dia belum yakin pada perasaannya. Eh, tapi lalu di halaman-halaman berikutnya, dia mengatakan bahwa dia mencintai Fauziah. Nah, ini novel inspriasi atau novel roman remaja galau, ya? Lagi pula, bukankah Samadin itu siswa SMP di pedalaman, kok udah mengerti tentang pacar-pacaran (sekaligus berpikiran layaknya orang dewasa) gitu? -_-

Selain itu, konflik paling penting, yaitu kematian sang ayah, juga baru muncul di halaman 224 (padahal total halaman novel ini 276 halaman). Semuanya dituliskan dengan sangat cepat, penderitaan Samadin, rasa kehilangannya, keterpurukan keluarganya, dsb. Saya tidak merasakan emosi yang seharusnya menjungkir-balikkan seluruh kehidupan Samadin. Saya tidak mendapatkan titik balik dalam perjuangan Samadin—seperti yang saya harapkan ketika membaca sinopsisnya. Segalanya ditulis dengan lempeng.

Bukan itu saja, penyelesaian yang dilakukan oleh Samadin juga terlalu mudah dan instan. Tindakan yang dilakukan Samadin untuk mengatasi hilangnya tulang punggung dalam keluarga itu … sulit dipercaya bisa menjadi sumber pencarian baru bagi keluarga. Semuanya terasa sangat ajaib jika hanya dengan hal sesederhana itu masalah keluarga mereka selesai. Saya tidak mendapatkan logika yang kuat dalam konflik utama di novel ini.

Sayang sekali. Padahal bagian inilah yang biasanya menjadi hal paling penting dalam novel-novel inspirasi setipe ini. Bagian titik balik kehidupan sang tokoh utama. Meski sering kali saya tidak bisa benar-benar bersimpati karena terasa terlalu mengenaskan.

Terlepas dari itu, karakter-karakter yang hadir dalam Insya Allah, Aku Bisa Sekolah juga terlalu unbelievable. Marewa yang jelas-jelas tidak mengenyam pendidikan tapi begitu bijak layaknya filsuf ulung. Sapril yang lebih banyak menghabiskan waktu di laut justru pemuda berpikiran visioner. Atau karakter-karakter lain. Rasanya semua karakter diciptakan untuk memenuhi semua keadaan tanpa benar-benar menggambarkan kehidupan yang selama ini mereka jalani.

Lalu, saya juga menemukan banyak kesalahan dalam novel ini. Mulai dari kesalahan penulisan (contohnya pagandeng di halaman 201), kurang/lebih tanda baca (tanda petik dua ( “ ) di halaman 160), hingga kalimat berlebihan (penggunaan “cuma” dan “saja” pada kalimat “… sebab Sapril tidak mengatakan bahwa cuma akulah seorang diri saja…”). Ada beberapa yang lain, dan tidak sedikit kalimat yang ambigu saya temukan dalam novel ini.

Kemudian, yang paling membuat saya tidak nyaman adalah penyampaian novel ini yang terlalu menggurui. Lewat kalimat-kalimat Daeng Marewa, saya merasakan penulis dengan sangat getol dan terang-terangan mengatakan bahwa pendidikan itu penting. Saya bukannya menganggap pendidikan tidak penting, hanya saja saya tidak suka bagaimana penulis mengemas pendapatnya soal pendidikan itu penting karena dengan pendidikanlah seseorang akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari nelayan, khsususnya menjadi pegawai negeri.

Saya tidak sepakat dengan, satu, bahwa seseorang harus “mendapatkan” pekerjaan. Kenapa tidak membuat pekerjaan? Dua, bahwa pekerajaan nelayan itu tidak penting (dan menjadi polisi lebih penting—atau lebih prestise?). Bukankah nelayan itu pemasok hasil laut? Berarti keberadaan mereka sangatlah penting. Apa yang salah dengan menjadi nelayan yang sukses? (lihat halaman 12-13 untuk referensi alasan saya menyinggung profesi polisi di sini) Tiga, kenapa harus pegawai negeri? Apakah menjadi wiraswasta tidak lebih baik?

Yah, masih ada lagi, tapi jika saya mengungkapkan hal-hal yang tidak saya sepakati dengan pendapat penulis di novel ini, resensi ini akan menjadi sangat-sangat panjang. Jadi, mari singkirkan. 🙂

Sebelum menutup resensi ini, saya punya beberapa kutipan yang cukup mengena di hati dari novel ini. Kutipan yang saya sepakati.

“Hanya binatanglah yang suka berkelahi.” –hlm. 41

Ternyata untuk maju seseorang bukan hanya butuh teman, tapi juga butuh lawan. –hlm. 45

“Ketika kita mencontoh untuk mengetahuinya maka itu namanya belajar, tetapi kalau kita mencontoh karena kepepet dengan tujuan agar tugas kita selesai, atau pada saat ujian, maka itu namanya menyontek.” –hlm. 115

“Siapa sebenarnya buaya-buaya Sungai Jeneberang? Kita atau orang-orang yang suka membuang sampah tersebut?” –hlm. 146

“Manusia saja yang punya akal kadang kala emosi, apalagi binatang.” –hlm. 156

Well, selamat membaca!

 

Advertisements

8 thoughts on “Insya Allah, Aku Bisa Sekolah – Dul Abdul Rahman

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s