Runaway – Kezia Evi Wiadji

20150322_205853

Judul: Runaway
Penulis: Kezia Evi Wiadji
Penerbit: Grasindo
Tebal: vi + 145 halaman


Sengatan pedas di lidah membuat kepalaku mendadak pening, tetapi ini yang aku harapkan. Pening karena pedas lebih baik daripada pening karena masalah. –hlm. 7

Amy sudah lama lelah pulang ke rumah. Yang ditemui di rumah hanya Mama yang senang mengurung diri di kamar, Papa yang pulang cuma untuk membentak, dan adik yang memilih menghabiskan waktu di tempat teman. Sudah lama rumah menjadi tempat yang paling dihindari Amy sejak kedua orang tuanya bertengkar. Amy semakin enggan pulang ke rumah setelah mendengar sang Papa memiliki anak dengan perempuan lain dalam keluarga mereka. Dia ingin menghilang. Makanya dia lebih memilih pulang ke gereja daripada pulang ke rumah.

Berada dalam gedung tua beratap tinggi dan terawat ini, membuat diriku merasa nyaman dan aman—ini serasa benar-benar di rumah. –hlm. 9

Gereja selalu menjadi tempat pelarian Amy hingga seorang cowok bernama Reno mendadak muncul di hadapannya. Reno yang blak-blakan. Reno yang ceria. Reno yang pintar bermain piano. Reno yang disenangi banyak orang. Reno yang (sayangnya) sangat menyebalkan di mata Amy. Dan Reno yang membuat Amy tidak menikmati saat-saat di gereja.

Meski demikian, Reno tetap getol berteman dengan Amy. Reno juga menjadi teman pertama Amy yang dikenal keluarganya—saat sang Mama dirawat di rumah sakit. Bahkan Reno jugalah yang membuat hidup Amy tidak lagi terasa kelabu.

Tapi ternyata ketenangan dalam hidup Amy tidak berlangsung lama. Mama dan Papanya kembali bertengkar hebat. Kali ini, bahkan, Amy menemukan ceceran darah di kamar Mama yang berantakan sepulang sekolah. Sebuah peristiwa yang membuka kenyataan bahwa pecahnya rumah tangga kedua orang tuanya bukan hanya karena Papa berselingkuh dengan wanita lain. Sang Mama juga bersalah.

Sebuah kenyataan yang membuat Amy lari dari rumah. Pergi. Lari dari kenyataan.

Aku tidak ingin berhenti. Aku harus pergi. Aku harus lari. –hlm. 105

Lalu, di tempat persembunyian favorit Amy, gereja, Reno menemukannya. Lagi. Kali ini untuk mengantarkan Amy pada fakta kedua orang tuanya menyayangi Amy.

“Seburuk-buruknya orang tuamu, mereka tetap menyayangi kamu dan adikmu, ‘kan?” –hlm. 118

Begitulah kisah dalam novel berjudul Runaway ini. Sejujurnya, sinopsisnya tidak cukup menggambarkan ceritanya.

Dari sinopsis, saya pikir sejak awal Amy sangat aktif di gereja (dari kalimat: Bertahun-tahun Amy merasa tidak bahagia. Gedung gereja dan kesibukannya sebagai panitia Natal selalu menjadi pelariannya.), eh, ternyata tidak. Amy justru seorang antisosial. Dia memang sering kabur ke gereja, tapi lebih banyak menghabiskan waktu seorang diri.

Lalu, pertemuan Amy pertama kali dengan si cowok menyebalkan alias Reno bukanlah ketika dia kabur seperti kata sinospsis. Amy sudah pernah bertemu sebelumnya. Bahkan Reno menjadi ketua divisi kepanitiaan Natal yang diikuti Amy.

Jadi, sinopsis yang tidak singkron dengan ceritanya membuat minus pertama novel ini di mata saya. Well, biar bagaimana pun ekspektasi pertama dibangun dari sinopsis bukan? Karena dari sinopsis Runaway ini, saya pikir akan lebih banyak cerita ketika Amy dalam pelarian—seperti juga judulnya—tapi ternyata hanya beberapa lembar yang tipis.

Beralih dari keterkaitan sinopsis dan isinya, sekarang mari membahas karakter-karakternya.

Ada Amy, yang sering ditemui di novel-novel remaja atau dewasa muda. Gadis pendiam yang lebih suka sendiri dan menanggung masalah—serta kekhawatirannya seorang diri. Lalu, ada Reno, cowok (kelewat) ramah yang cakep dan disukai banyak orang—serta sangat menyenangkan. Formula cewek pendiam dan cowok keren (ditambah Reno cukup tenar di kalangan cewek, berpikiran dewasa, dan too perfect—that’s why I don’t like Reno like others do) yang bersatu. Well, selain formula ini sudah terlampau sering ditemui, rasanya tidak mungkin terjadi (meski dikatakan Amy cantik, tapi harusnya Amy punya sesuatu yang membuat Reno tertarik, kan?).

Ditambah lagi karakter Mama dan Papa Amy yang … terlalu sinetron. Saya sudah banyak menemukan karakter seperti kedua orang tua Amy ini. Mama yang hanya bisa pasrah dan jatuh ketika suaminya memilih hidup dengan wanita lain (tidak kah dia sadar bahwa anak-anaknya tersiksa?). Papa yang memberikan perhatian lewat materi saja (meski saya paham kenapa lelaki itu melakukannya, dia sengaja menghindari anaknnya setelah tahu kenyataan itu, mungkin).

Saya tidak suka fakta bahwa Mama, Amy, dan Tasya hanya bisa diam. Terlepas dari fakta bahwa sang Mama ikut memiliki andil dalam kehancuran rumah mereka, bukankah lebih logis jika ketiganya bertahan bersama? Atau memang ketiganya harus lari dari kenyataan (dengan caranya sendiri) agar cerita Runaway bisa berjalan seperti ini?

Untungnya ada Tasya. Iya, saya suka karakter Tasya. Gadis kecil yang jauh lebih dewasa dari usianya. Gadis kecil yang tabah, kuat, dan tegar. Dari ketiga perempuan dalam rumah tangga itu, saya rasa Tasya yang melewati dengan paling baik. Dia tetap bisa berteman, tidak seperti Amy. Dia tetap bisa tersenyum, tidak seperti Mama. Dan dia tetap berusaha hidup—walaupun dia belum bisa menghidupkan kakak dan Mamanya.

Ide Runaway sendiri sebenarnya cukup berbeda (meski premis dasar ceritanya sudah banyak dipakai—well, itu keniscayaan, sih). Soal darah Mama berceceran itu hal pertama yang paling membuat saya tertarik pada Runaway. Soal Amy yang melarikan diri dan bertemu seseorang (yang sudah bisa ditebak akan mengubah hidupnya) itu juga saya suka (meski ternyata pelarian Amy tidak seperti “pelarian” yang saya harapkan). Soal keberadaan Tasya (yang tidak saya perkirakan karena tidak diungkit dalam sinopsis) justru menjadi kejutan tersendiri. Dan soal kesibukan panitia Natal itu juga jarang saya lihat di novel remaja, biasanya menggunakan kesibukan klub atau kesibukan hobi (kesiukan Natal yang saya artikan sebagai kegiatan sosial dalam kehidupan remaja itu masih jarang dieksplor).

Jadi, bagi mereka yang mencari bacaan remaja dengan eksplorasi pada hal-hal sosial, Runaway bisa menjadi pilihan.

Untuk alurnya sendiri rapi. Penulis berhasil menyajikan dengan tertata dan apik. Saya tidak menemukan kejanggalan dalam rentetan kejadian yang dialami Amy di Runaway. Semuanya mengalir dengan kecepatan yang konstan. Great job!

Di sisi lain, Runaway tidak memberikan kesan yang mendalam ketika saya baca. Entah karena saya sudah lebih dahulu skeptis ketika Reno muncul atau saya sudah merasa “duh ini si Mama lemah banget sih” begitu membaca bagian Mama. Yeah, saya tidak suka karakter cowok almost perfect dan wanita lemah. Jadi, bagi mereka yang seperti saya, sebaiknya tidak memilih Runaway sebagai bahan bacaan.

Tapi, bagi mereka yang suka karakter cowok baik, perhatian, cakep, pintar, murah senyum, menyenangkan, populer, dan yah Reno banget, Runaway bakal jadi bacaan menyenangkan. Mayoritas pembaca ternyata menyukai Reno (saya tahu dari komentar pembaca yang ikut kuis #selfieRUNAWAY di fb Kak Kezia). Karakter Reno pada dasarnya memang masih favorable di kalangan perempuan, nyatanya novel roman banyak dibaca memang untuk memuaskan mimpi ideal seorang perempuan, kan? (Ini berdasarkan pengalaman saya sendiri sebagai pembaca novel roman. XD)

Secara keseluruhan, Runaway adalah bacaan yang menyenangkan. Gaya bahasa yang digunakan juga sederhana, cocok buat bacaan remaja atau bacaan ringan. (Meski saya menemukan kesalahan yang selalu sama, yaitu tidak memberikan tanda koma sebelum “dan” untuk menyambungkan tiga atau lebih hal sejajar. Ini kok bisa, ya? Bukan hemat tinta, kan? -_-)

Selain itu, Runaway juga mengajarkan banyak hal tentang memaafkan, serta menghargai.

Karena aku pernah melakukan kesalahan, kini aku lebih mengerti arti kata maaf dan mengampuni. Karena aku pernah merasakan kesepian, kini aku lebih bisa menghargai kebersamaan. Karena aku pernah merasakan kesedihan, kini aku lebih bisa menghargai kebahagiaan. –hlm. 140

Selamat membaca! 😀

Diikutsertakan dalam New Author Reading Challenge 2015, Young Adult Reading Challenge 2015, dan 100 Days of Asian Reads Challenge.

Advertisements

7 thoughts on “Runaway – Kezia Evi Wiadji

  1. wah ini novelnya mba Kezia yg ke berapa ya? saya baru baca yg terbaru perfect scenario 😀
    sinopsis memang kadang ada yg tidak sesuai dengan isi cerita, di luar ekspektasi kita, tapi kadang itu juga menjadi kejutan buat pembaca, apalagi kalau cerita lebih menarik dari sinopsisnya hehe 😀

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s