de TEENS · Resensi

Aku Menunggumu – Devi Eka

20150322_205942

Judul: Aku Menunggumu
Penulis: Devi Eka
Penyunting: Ambra
Penerbit: de TEENS
Tebal: 216 halaman


“Masih menunggu? Menanti hal yang sama?”
“Siapa Anda?”
“Aku juga si penanti.” (hlm. 204)

Selain kehilangan mama, Kalea juga kehilangan hula dan ukulele dalam hidupnya. Ditambah Dad memaksanya hidup bersama mama tiri yang tidak bisa Kalea terima. Belum lagi tidak ada yang mau berteman dengan Kalea, si gadis aneh. Hidup Kalea selalu sepi. Dia menikmati hidupnya dengan merekam berbagai macam hal menggunakan camcorder atau mengintip kelas musik.

Begitulah Kalea menjalani harinya. Hingga camcorder-nya merekam seseorang yang tengah memetik ukulele. Seseorang bernama Ruka yang esoknya muncul di depan kelas Kalea.

Ruka mengajak Kalea kembali menekuni ukulele, alat musik yang selalu mengingatkan Kalea pada sang mama. Ruka mendaftarkan paksa nama Kalea di kelas musik, yang secara tidak langsung membuat Kalea kembali menari hula dan berkenalan dengan Konane (pemuda idaman Kalea yang selama ini hanya bisa dia tatap dari jauh).

Aku Menunggumu adalah novel kedua Devi Eka yang saya baca. Pertama kali bekenalan dengan Devi Eka itu lewat Morning, Gloria. Dan menurut saya, penulis belum berubah.

Satu, gaya penulisannya masih suka berpuitis-ria. Banyak dialog-dialognya yang justru berakhir cheesy meski penulis sebenarnya berniat membangun kesan romantis. Tapi, well, begini:

“Wajahmu terkena pantulan sinar bulan. Lebih terang dari biasanya.” (hlm. 113)

terdengar … err banget, kan? -_-“

Dua, alurnya masih berantakan. Pembaca diberikan banyak informasi dalam adegan tapi tidak berkaitan ke adegan berikutnya. Ada adegan yang tidak sinkron. Misal, ketika Ruka memperkenalkan dirinya, Kalea terlihat terkejut. Tapi, ternyata tidak ada apa-apa (hlm. 15-16). Ada juga adegan yang sangat tidak berhubungan. Habis Kalea datang ke ruang musik bersama Ruka, kok adegan selanjutnya Kalea tertidur sih (hlm. 24-25)? Ada juga adegan yang seperti terpisah-pisah dan begitu memasuki adegan baru, adegan yang lama tidak terlihat sama sekali. Setelah Ruka memainkan lagu untuk Kalea dengan ukulele, tidak ada apa-apa dalam perjalanan kehidupan Kalea selanjutnya (hlm. 104).

Banyak. Tidak hanya sekali saya menemukannya. Membaca Aku Menunggumu ini menjadi … tersendat-sendat. Kalo diibaratkan sinyal, ini bentuknya nilai-nilai diskrit yang tidak menyambung antara satu sama lain. #cukup #analogiapaini

Bagi saya pribadi, membaca Aku Menunggumu menjadi melelahkan karena alurnya yang tidak karuan dan fakta yang saling tumpang-tindih atau tidak berkaitan.

Tiga, tidak ada perbedaan ketika narasi dibawakan oleh Kalea maupun Ruka. Keduanya terasa sangat sama. Saya harus selalu mengecek permulaan tiap bagian untuk tahu ini dari sudut pandang orang pertama siapa.
Nah, yang bikin bingung, kadang kala, adegan satu sama yang lain itu dinarasikan oleh orang yang sama tapi tiap perubahan adegan itu tidak diberikan keterangan di bagian atas adegan. Keterangan siapa yang menarasikan hanya diberikan ketika narasi berpindah dari Kalea atau Ruka. Jadi, kan bingung.

Empat, saya tidak mengerti karakter-karakter dalam Aku Menunggumu. Saya tidak bisa bersimpati atau meraskaan perasaan siapa pun di sini.

Kalea yang di awal membenci mama tirinya, eh, simsalabim, hubungan mereka lalu menjadi baik-baik saja (begitu juga hubungan Kalea dan Faya). Kalea juga kok bisa menghibur Konane yang kehilangan ibu seperti dirinya, padahal Kalea belum berhasil menerima kepergian sang mama. Konane yang mendekati Kalea, mengajak kencan dan makan malam, eh tapi ternyata tidak menganggap Kalea seperti yang diharapkan. Ruka yang ramah dan baik tapi tidak bisa berusaha lebih keras untuk menggapai Kalea. Belum lagi Malia yang stereotipe karakter wanita antagonis (yang saya masih tidak mengerti kenapa dia membenci Kalea padahal punya segala hal yang diinginkan Kalea).

Saya tidak merasakan alasan-alasan di balik semua tindak-tanduk tokoh dalam novel ini. Mereka semua terasa sangat jauh dan tidak terjangkau. Emosi dan perasaan mereka yang seharusnya dieksplorasi dengan dalam, sama sekali tidak saya rasakan.

Jadi, seperti Morning, Gloria, saya tidak bisa menyukai Aku Menunggumu. Menurut penilaian saya, Devi Eka belum berhasil meningkatkan kemampuan menulisnya meski tidak bisa dipungkiri ini karya ketiganya. Sangat disayangkan, karena idenya cukup unik.

Ada yang tahu kisah cinta young-adult belatar Hawai? Saya kenal Hawai hanya sebatas tempat liburan yang sering diucapkan atau lewat kartun Lilo & Stitch. Ukulele dan hula, anyone? Kebudayaan yang belum pernah dieksplorasi sebagai bagian kisah roman, kan?

Lalu, konsep “menunggu” yang digunakan sebenarnya juga menarik. Sayang, hanya muncul di bagian paliiiiiiing akhir. (Dan saat itu saya rada-rada bingung sama latar waktu dalam novel ini.)

Untungnya ada banyak kutipan yang membuat novel ini masih lumayan.

“Seperti bulan, hidup itu berfase. Ada kalanya sedih, senang, atau terpuruk.” (hlm. 53)

“Kita harus bisa membuktikan kalau kita bisa sukses meski telah ditinggalkan.” (hlm. 78)

“Kau mengaku kalah sebelum bertanding?” (hlm. 98)

“Akan ada yang indah setelah hitam dan hujan. Sesuatu seperti bulan.” (hlm. 114)

“Menunggu dengan hati akan membuatmu belajar percaya dengan kemauan hati kecilmu, dan akan membuatmu lebih jernih dalam berpikir, sampai hati memutuskan apakah harapan itu akan timbul atau musnah.” (hlm. 178)

“Kau selalu punya pilihan setiap hari, Sayang.” (hlm. 196)

Novel ini akan jauh lebih menyenangkan jika dieksekusi dengan lebih baik. Adegan-adegan tidak penting dipangkas. Peningkatan cerita dibuat lebih halus. Dan tindakan-tindakan karakter dituliskan dengan lebih bersimpati.

Yah, selamat membaca!

Advertisements

One thought on “Aku Menunggumu – Devi Eka

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s