Soba Ni Iru – Yoana Dianika

20150312_111834

 

Judul: Soba Ni Iru Yo
Penulis
: Yoana Dianika
Penyunting: Dila Maretihaq Sari
Penerbit: Bentang Belia
Tebal: viii + 156 halaman


Pernah membaca shoujo manga? Iya, yang kovernya (biasanya) cowok atau cewek cantik (bagi yang tidak jeli sering keliru) dengan mata besar bling-bling itu. Nah, buat yang terbiasa mengonsumsi manga jenis ini, atau paling tidak pernah, Soba Ni Iru Yo bagaikan cerita manga yang dituangkan dalam novel.

Ide ceritanya tentang Mika yang harus pindah ke Tokyo karena orang tuanya. Tak disangka, di Tokyo Mika bertemu sahabat semasa kecilnya, keluarga Takayama—si kembar Ren dan Ayumi serta Kak Kenji. Di Tokyo ini pun mereka kembali bertetangga. Tapi, keluarga Takayama tidak seperti yang terakhir kali Mika ingat. Ren bukan lagi bocah, dia pemuda tampan dengan rambut dicat cokelat terang yang bergelar ouji (pangeran). Ayumi bukan hanya sering bekata pedas, dia sekarang sangat judes—terlepas dari penampilannya yang modis. Dan Kak Kenji … jauh lebih dewasa, dengan wajah teduh, jabatan Ketua OSIS, pintar, pokoknya cowok idaman banget!

Dalam Soba Ni Iru Yo ini ada kisah kehidupan sekolah, lengkap dengan gejolaknya, sosok Ketua OSIS yang menjadi idaman, teman semasa kecil yang tidak berhenti mengganggu, penindasan di sekolah karena cowok populer lebih tertarik pada sang tokoh utama kita, dan ouji.

Konsep manga dengan ouji, tokoh cowok utama yang menjadi cowok populer sesekolah, bukanlah hal baru dalam dunia shoujo manga. Dengan tingkah yang angkuh, selalu bertindak sesuka hati, dan senang melakukan kompetisi bodoh (mengukur jarak rok dengan lutut, misalnya) untuk memilih pacar (hlm. 36-39).

Ditambah lagi, ada selipan fakta soal tokoh utama yang suka Indonesia (lucu juga pas tahu alasan sukanya) yang tidak dieksplor dan mirip tempelan. Gadis pertukaran pelajar dari Indonesia yang mucul mendadak begitu saja. Lalu, band yang diciptakan oleh keempat tokoh utama dalam novel ini, band yang semakin tenar dan punya penggemar (tapi saya tidak membaca narasi soal perjuangan pembangunan band ini atau kesulitan akademik setelah sibuk di band).

Soba Ni Iru Yo ini menjadi … sangat sesak. Penuh. Terlalu penuh.

Bagi saya sendiri, membaca Soba Ni Iru Yo itu seperti segala jenis ide atau hal-hal yang umum ditemui di shojou manga atau bahkan teenlit (band, anyone?) itu ditumpahkan semua dalam novel setebal 156 halaman ini. Jadi, ada banyak sekali hal yang semakin lama semakin menjadi tidak berarti.

Kenangan masa kecil yang hanya ada di bagian awal, lalu tidak ada lagi. Lenyap. Perihal ouji yang terdengar membahana, ditambah fakta bahwa Ren, sang ouji, awalnya berkata ingin menjadikan Mika kekasihnya, mendadak surut digantikan masalah band. Lalu, band itu juga dengan cepat populer, tidak terdengar perjuangannya dalam novel ini. Kemudian, ada kisah cinta yang serba salah paham (dan aneh bagi saya karena jika Ren tahu Mika suka Kak Kenji, ya kenapa juga dia harus merasa terluka melihat mereka berdua? Dia bukannya sudah tahu?) yang diakhiri dengan sangat buru-buru lewat kepergian sang tokoh utama cowok untuk sekolah ke luar negeri. Nah lho.

Merasa bingung atau terlalu banyak hal? Memang. Begitulan Soba Ni Iru Yo ini. Penuh. Sesak.

Saya pikir dari sinopsisnya akan lebih fokus pada cerita masa kecil, ouji, dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sejak dulu. Eh, lalu entah penulis tidak bisa menahan diri atau saat novel ini diterbitkan hal-hal seperti band itu sedang naik daun atau fakta lain yang saya tidak tahu, Soba Ni Iru Yo ini justru dipenuhi hal-hal baru.

Lompatan-lompatan waktu yang terjadi di novel ini jadi terasa sangat … cepat dan tergesa-gesa. Sayang sekali padahal penulisannya sudah oke. Lebih lagi, saya suka desain isinya. Cantik. Banget. Ada ilustrasi kecil yang cakep di tiap halaman.

Lalu, banyak juga kutipannya yang bagus.

“Kalau kita bergandengan, kita tidak akan terpisah.” (hlm. 83)

“Menyukai seseorang membuat kita menjadi kuat. Semuanya terasa berwarna, Niichan. Ada hal-hal yang bisa membuat hati kita terasa hangat.” (hlm. 87)

“Saat kamu mencintai dengan senyuman, suatu saat kamu harus rela untuk melepaskannya dengan tangisan.” (hlm. 92)

“Aku selalu bisa menemukanmu walaupun kamu tersesat di tempat yang belum kutahu.” (hlm. 110)

“Aku tahu kita sama-sama salah. Kita berpikir dengan emosi, bukan dengan logika.” (hlm. 127)

“Senyum bukan hanya memberikan gambaran ceria, tapi juga bisa menghangatkan hati orang lain.” (hlm. 135)

“Micchi, aku tidak berharap menjadi segalanya untukmu. Tapi, aku berharap bisa menjadi sesuatu yang istimewa untukmu.” (hlm. 138)

“Kalau gagal menjadi yang terbaik untuk orang lain, menjadi terbaiklah untuk diri sendiri, dengan jujur pada perasaan sendiri.” (hlm. 143)

Tiap area yang kami lewati selalu menyisakan tawa dan senyum di antara kami. Bagaimana aku sering tersesat dan bagaimana Ren selalu bisa menemukanku. (hlm. 148)

Well, selamat membaca!

Advertisements

3 thoughts on “Soba Ni Iru – Yoana Dianika

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s