DIVA Press · Realistic Fiction · Resensi

Pasir Pun Enggan Berbisik – Taufiqurrahman Al-Azizy

20150322_210034

Judul: Pasir Pun Enggan Berbisik
Penulis: Taufiqurrahman Al-Azizy
Penyunting: Aya Sophia
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 356 halaman


Sejak Ayat-Ayat CInta booming dan lahir begitu banyak novel yang mengangkat hal sejenis, saya tidak lagi berminat mengonsumsi novel religi setipe ini. Saya punya kecenderungan menghindari novel yang lahir karena mengikuti tren pasar, termasuk novel religi yang terbit setelah AAC.

Pasir Pun Enggan Berbisik memang tidak diterbitkan setelah tren pasar novel religi meningkat, tapi novel ini jelas menggunakan formula yang sama—dan banyak digunakan. Bercerita tentang Agus, anak keluarga Atmojo yang suka mabuk-mabukan, pesta narkoba, hingga seks bebas. Perilaku Agus yang seperti itu dipicu kurangnya kasih sayang seorang ibu (ibunya meninggal ketika melahirkan Agus) dan minimnya perhatian ayah (Atmojo lebih sering memanjakan Agus dengan materi sedari kecil dan lebih peduli pada perusahaan).

Atmojo dan Mbok Mirah (pelayan keluarga mereka yang sudah mengabdi sangat lama) kehabisan cara untuk menyadarkan Agus dari perbuatan buruknya. Teguran, perkataan, nasihat, kesabaran, segalanya telah diberikan untuk membuat Agus menjauhi dunia kelam itu, tapi hasilnya nihil. Hingga Atmojo mendapatkan ide untuk membuat Agus jatuh cinta pada gadis baik-baik. Bukankah cinta bisa mengubah seseorang?

“Inneke adalah gadis yang diutus Allah ke dalam hidupku, Mbok. Agus membutuhkan kehadiran seorang gadis dalam hidupnya.” (hlm. 46)

Setelah mencari, Mbok Mirah pun menemukan Reni. Seorang gadis berjilbab dengan paras manis yang berasal dari Karawang. Dengan dalih meminta Reni mengajari membaca Al-Quran, Reni pun hadir di rumah Atmojo. Tak butuh waktu lama bagi Reni dan Agus untuk saling bertemu dan berkenalan. Sebuah peristiwa yang diharapkan Atmojo dan Mbok Mirah untuk mengubah diri Agus.

Sayang, Agus justru menghancurkan hidup Reni. Agus menghancurkan masa depan Reni yang calon dokter dengan menodainya. Reni hamil.

Tidak cukup sampai di situ saja, Reni juga ditolak oleh keluarganya. Atmojolah yang akhirnya merawat Reni dan bayinya, lelaki baya itu membawa Reni ke Pantai Carita. Tempat di mana dia berharap Reni bisa membesarkan bayinya dengan baik dan tanpa gangguan masyarakat yang senang mencela.

Kehidupan Agus sejak itu pun menjadi berubah. Dia dituntut dan harus mendekam di penjara. Akan tetapi, penjara justru terasa seperti neraka karena semua tahanan juga menghujatnya. Bukan hanya kata-kata kasar yang diterima Agus, siksaan fisik pun harus ditanggungnya.

“Karena pemerkosa tak layak hidup menurut mereka.” (hlm. 146)

Formula umum yang digunakan novel ini—dan pada banyak novel religi lain—adalah tentang pertaubatan. Setelah dipenjara, Agus akhirnya mendapatkan hidayah dan menjadi lebih baik. Lelaki itu bahkan menjadi seorang ustadz begitu keluar dari penjara. Sayangnya, titik balik perubahan diri Agus tidak diceritakan. Ujug-ujug, ketika Mbok Mirah menjenguk Agus di lapas, majikan mudanya itu telah berubah. Sayang. Padahal pergolakan batin Agus itu bisa lebih dieksplorasi.

Formula umum lain yang digunakan novel ini adalah perihal perkosaan. Saya jadi penasaran, adakah novel religi pertaubatan diri yang tidak melibatkan unsur perkosaan? Ada yang tahu?

Ini alasan pertama saya tidak bisa menikmati Pasir Pun Enggan Berbisik. Alasan lain adalah terlalu banyak deskripsi tidak penting. Penulis juga tidak segan-segan menggunakan pengulangan kata beberapa kali di dalam satu kalimat yang sama. Saya tidak tahu apa tujuan penulis membuat narasi seperti itu, tapi saya jadi sering melewati bagian deskripsi tempat atau latar waktu karena terlalu banyak informasi yang tidak ada sangkut pautnya atau terlalu sering pengulangan (maupun penekanan) dalam satu kalimat.

Pasir-pasir putih yang lembut itu seakan menggeliat-geliat terpanggang terik mentari. Laut biru membentang, dan angin menderu-derukan ombak ke tepi pantai, membasahi kaki-kaki kecil beberapa anak yang tengah bermain-main. (hlm. 9)

Itu saya sertakan contoh. Silakan membayangkan novel setebal 356 halaman ini dengan banyak deskripsi seperti itu. Meski semakin ke belakang semakin berkurang sih.

Terlepas dari gaya penulisannya, ada beberapa fakta yang menurut saya aneh dalam novel ini. Masa kecil Agus itu jelas terlalu dipaksakan. Penulis mengatakan tabiat Agus sudah aneh sejak kecil (hlm. 22) tapi maksud “aneh”nya gimana? Tidak ada penjelasan. Apakah Agus itu menderita penyakit (maaf) mental? Atau sederhana, hanya anak orang kaya yang terlalu manja?

Lalu, Agus kok bisa-bisanya tidak tahu bahwa Mbok Mirah bukan ibunya (hlm. 23)? Lha, memangnya Atmojo tidak bilang apa-apa kepada Agus? Mungkin saja Atmojo tidak bilang apa-apa, itu kalau lelaki itu mencintai Mbok Mirah skandal majikan dan pembantu yang banyak di sinetron-sinetron itu tapi kan Atmojo jelas-jelas dikatakan sangat mencintai istrinya, Inneke.

Si Reni ini juga aneh. Sudah tahu malam sudah larut dan teman-teman Agus bisa dilihat dari tampangnya itu bukan golongan baik-baik, tapi kok dia bisa nyaman? Dia juga mau-maunya ikut naik ke lantai atas (meski dia memang benar-benar suka Agus tapi kan harusnya dia tidak sebodoh itu) dan bergabung dalam pesta Agus dkk? Lha, ini kejadian perkosaan berarti bukan sepenuhnya salah si Agus dong, wong si Reni juga bukannya pergi malah betah aja di rumah yang isinya gitu. (hlm. 68-69) -_-

Reni yang ditolak keberadaannya oleh keluarganya juga terasa … err banget. Saya memang hanya pernah kenal masalah pemerkosaan dari buku, koran, atau televisi, tapi memangnya setega itu kedua orang tua Reni menghapuskan keberdaan anak mereka hanya karena menjadi korban pemerkosaan? (hlm.92) Terus, kok bisa-bisanya keluaganya sendiri tidak berusaha menolong Reni? Reni jelas butuh dukungan dari keluarga setelah peristiwa buruk seperti itu menimpanya, kan? Eh, ini malah Atmojo dan Mbok Mirah yang merawat Reni (hlm. 94).

Lha, katanya Reni ini gadis yang manis dan berakhlak mulia (hlm. 52) tapi kok ayahnya justru tak sudi menganggap Reni sebagai anaknya (hlm. 93) jika Reni tidak menggugurkan kandungannya. Bukannya aborsi itu sama saja sama membunuh, ya? Ini akhlak mulia Reni (yang harusnya juga dimiliki keluarganya, secara logika, ya) kok cuma ada dalam tulisan. Reni juga bilang mau membunuh anaknya sendiri (hlm. 16). Aneh.

Masih ada lagi, tapi berhubung semakin ke tengah itu saya semakin pusing, jadilah saya tidak terlalu memerhatikan.

Lalu, hal lain yang tidak saya suka adalah novel ini terlalu menggurui. Penulis bahkan tidak segan memberikan hadits atau ayat dalam Al-Quran. Saya paling tidak suka novel semacam ini. Rasanya seperti menjadikan agama sebagai komoditas jualan dalam cerita (meski maksud penulisnya mungkin tidak seperti itu). Penulis juga tidak segan mengatakan apa yang benar menurutnya dan tidak mengembalikan kepada pembaca (perihal yang berhubungan dengan agama ini). Daku jadi lelah, Kakanda. #mulaierror

Nah, terlepas dari itu. Moral dalam novel ini jelas bagus. Kita harus bisa mengambil hikmah dari kehidupan Agus ini, kan? 🙂

Lalu, bagian akhirnya itu juga sebenarnya bagus. Menggantung dan membiarkan pembaca yang menebak sendiri akhirnya. Good job.

Hanya saja, sebelum menjelang akhir itu, saya heran-seheran-herannya, kok Agus bisa menikahkan anaknya tanpa tahu siapa nama orang tua si calon lelaki? Lha, itu ijabnya gimana coba? Masa ibunya Muhammad (pacar anaknya yang bernama Reni) itu juga tidak diundang dalam pernikahan? -_-

Nah, yah, selamat membaca. Semoga kamu lebih menikmati novel ini ketimbang saya. 🙂

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Pasir Pun Enggan Berbisik – Taufiqurrahman Al-Azizy

  1. assalamu’alaikum wr.wb …
    maaf numpang tanya, apakah novel ini ada season 2 nya?krn saya berharap ada season 2 untuk novel ini…
    terimakasih
    wassalamu’alaikum wr.wb

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s