PING!!! · Resensi · Romance

Pameran Patah Hati – Mini GK

20150421_154135Judul: Pameran Patah Hati
Penulis: Mini GK
Penyunting: Diaz
Penerbit: PING!!!
Tebal: 204 halaman


Sesuai judulnya, Pameran Patah Hati ini diisi oleh tokoh-tokoh yang patah hati. Ada Ode dan Yosinta yang menyukai orang yang sama dan lalu sama-sama patah hati. Ada Enko yang dikhianati sahabat dan kekasihnya. Ada Atlas yang harus mengubur masa lalunya bersama Sanju. Dan ada Ever yang terjebak di semua kekacauan ini.

“Jika kita tidak bisa melupakan mantan, itu bukan karena kita tidak mampu melakukannya, melainkan karena kitalah yang masih berusaha mengingatnya.” (h. 198)

Tokoh utama dalam novel ini adalah kelima orang tersebut. Lima orang yang tidak disadari ternyata terpaut. Ever adalah penggemar Enko, seorang penulis dan penerjemah—dan Ever tidak tahu Ode adik Enko. Atlas adalah guru les Ode dan Yoshinta—dan keduanya tidak ada yang tahu bahwa Atlas adalah kakak Ever. Atlas juga tidak tahu bahwa Enko itu kakak Ode.

Penulis membocorkan semua rahasia itu kepada tokoh-tokohnya di bagian akhir. Semua tokoh baru saling menyadari satu sama lain di paruh akhir cerita. Sayangnya, penulis juga berusaha merahasiakan keberadaan Atlas dari pembaca di awal bagi saya berakhir kegagalan.

Pertemuan Ever dan Atlas di awal (h. 23, h.26-27) dituliskan sebagai pertemuan Ever dan pemuda bermata sipit. Saya bingung pada alasan apa penulis menyembunyikan identitas Atlas ketika berhadapan dengan Ever? Saya tidak akan keberatan jika penulis menyembunyikan identitas Atlas di hadapan Enko atau Ode atau karakter lain. Tapi, ini di hadapan adiknya sendiri? :/

Lalu, karakternya. Ever menyebutkan Ode sebagai karakter yang absurd dan sok dewasa (h.44-45), tapi saya tidak menemukan sikap sok dewasa Ode dalam novel ini (kecuali fakta dia menyukai gurunya sendiri). Lalu, Ever bisa-bisanya mengambil kesimpulan Ode itu kasar karena kejadian di TBY (h. 156) dan bukannya penasaran kenapa bisa Ode bersikap kasar seperti itu. Yang paling bikin saya mengerut itu Yosinta yang terlalu … antagonis. Saya jadi kasihan sama karakter Yosinta yang dibikin supaya tidak suka Ode oleh penulis. 😦

Kemudian, ada satu fakta yang aneh. Jika Puspa (sahabat Enko) adalah pemilik toko bunga tempat Atlas membeli anggrek (h. 51-52), kenapa Puspa tidak bertemu Atlas? Keduanya justru baru berkenalan belakangan, di kunjungan kedua Atlas di toko itu (h. 109). Puspa bahkan bertanya pada Enko yang mengobrol dengan Atlas di kunjungan pertama Atlas di toko bunga (h. 61) soal identitas Atlas? Lha, harusnya Puspa punya kesempatan bicara dengan Atlas juga kan sebagai pemilik toko?

Oya, menurut saya, karakter di novel ini terlalu banyak. Terlalu banyak dan terlalu saling tidak mengenal. Aneh banget jika Ode tidak tahu Puspa sebagai sahabat Enko, kakaknya sendiri, kan? Aneh juga jika sudah berteman lama tapi Yosinta tidak tahu Ever punya kakak, kan? Aneh lagi adalah hubungan Enko dan Yosinta yang tidak berakhir baik (saya kasihan banget sama karakter Yosinta yang dibuat antagonis banget gini L Yosinta kan masih SMA, masa akhir baginya itu semenyedihkan itu sih?).

Untuk alur ceritanya sendiri, penulis belum berhasil menyajikannya dengan mulus. Saya masih merasakan guncangan-guncangan(?) ketika membaca novel ini. Mungkin karena penulis berusaha menyimpan hubungan antarkarakternya hingga akhir? Atau mungkin karena banyak kejadian yang tidak mengahasilkan kejadian baru?

Idenya sebenarnya cukup seru, terlebih soal fakta Ode dan Yosinta yang jatuh cinta sama guru mereka sendiri. Hal-hal seperti ini jarang diangkat ke dalam cerita YA lokal dan saya rasa ini merupakan hal baru (terlepas dari fakta sebenarnya saya meragukan perasaan mereka itu benar cinta atau sebatas kagum), saya suka petuah yang diberikan sang guru yang disukai kepada Ode. (Yup, Ode mengakui perasannya. Silakan baca kalau penasaran bagaimana mungkin dia berani mengaku, wkwk.)

“Ode, kepada siapa cintamu kamu berikan, cinta tidak pernah salah. Karena, pada kenyatannya memang tidak ada yang salah dalam cinta. Hanya saja, waktu yang kamu punya belumlah tepat untuk mengartikan sebuah cinta. Hati dan pikiranmu masih perlu didewasakan agar paham arti meletakkan cinta.” (h. 87-88)

Secara keseluruhan, ini novel yang menyenangkan. Dari novel ini kita bisa mendapatkan kepercayaan bahwa akan ada cinta yang baru setelah patah hati. 🙂

Selamat membaca! Selamat menemukan cinta yang baru!

Advertisements

3 thoughts on “Pameran Patah Hati – Mini GK

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s