Kata Kota Kita

20150420_131757Judul: Kata Kota KIta Penulis: Penulis GWP Batch 1 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tebal: 272 halaman Sinopsis: Dalam Kata Kota Kita, kita dibawa singgah dari Central Park di New York, purnama di Ankara, kemacetan di Jakarta, hingga indahnya Pantai Ora di Ambon. Dan seusai penjelajahan, kita dibuat tersenyum dan menyadari betapa kayanya kita sebagai manusia. Kota-kota dalam kumpulan cerpen ini memberikan suaranya, menguarkan aroma, dan menunjukkan pemandangan yang ditulis dengan beragam tema, ditulis dengan beraneka gaya, mulai dari yang lincah ala MetroPop hingga mencekam ala novel horor. Tujuh belas cerpen mengenai kota-kota yang berbeda ini menyajikan senyap dan riuh, tawa dan tangis, cinta dan kehilangan… Dan pada akhirnya membawa kita menuju kota yang menjadi tujuan pulang.


Kata Kota Kita adalah kumpulan cerpen karya penulis Gramedia Writing Project batch 1. Dalam buku setebal 272 halaman ini ada tujuh belas cerpen. Dari sinopsis di belakang kover, kita bisa tahu bahwa kumcer ini tidak disatukan oleh satu tema cerpen yang sama. Kumcer ini disatukan oleh “kota” yang menjadi semacam tema utama dalam Kata Kota Kita. Saya pribadi langsung jatuh cinta dengan kover Kata Kota Kita. Dengan jalan-jalan yang diisi nama penulis dan ilustrasi gedung serta pohonnya, saya merasa bahwa kover Kata Kota Kita ini sangat cantik. Manis sekali. Terasa sekali bahwa kumcer ini bertujuan mengedepankan latar kota dalam tiap cerpennya. Judulnya sendiri, bagi saya, terdengar seperti permainan kata yang lucu—sekaligus manis. Tersusun oleh empat kata yang dimulai dengan huruf “K” dan diakhiri suku kata “ta”, ada “Kota”, “Kata”, dan “Kita”. Sayangnya, tidak ada kata “Keta” dan “Kuta” dalam KBBI, sehingga permainan kata “K…ta” dalam judul kumcer ini tidak lima sempurna. (Kata “Kuta” mungkin ada, tapi jika ikut dicantumkan dalam judul jelas sebuah diskriminasi terhadap nama tempat yang lain, kan?) ORA Bercerita tentang perjalanan Dirga menemui Shanna di Pantai Ora, sebuah pantai indah yang jauh dari kepadatan Ambon. Di sana Dirga sadar bahwa Shanna tidak bahagia dengan pernikahannya. Shanna yang dia kenal adalah permpuan cantik yang berkilau di tengah gemerlap metropolitan. Sayang, Dirga tidak punya hak untuk menculik Shanna dari pedalaman Pantai Ora. BERLARI KE PULAU DEWATA Ada Thira yang kabur ke Bali untuk melupakan Evan. Di tengah keindahan khas Pulau Dewata, lewat seorang pemuda Bali bernama Made, Thira sadar bahwa tindakan yang dia lakukan hanyalah menyiksa diri sendiri dan tidak berguna. “Yang jelas sakit hati itu cuma buang-buang waktu. Nggak ada gunanya.” (hlm. 37) DITELAN KERUMUMAN Ini hari ketiga Raga menunggu bus jalur dua Yogyakarta bersama seorang gadis bernama Lindung. Bagi Lindung, bus adalah segalanya. Gadis itu merasa jauh lebih hidup di tengah kerumuman manusia yang berjuang untuk hidup. Bagi Raga, bus adalah siksaan. Pemuda itu sudah muak dengan sopir yang menaikkan penumpang tanpa kenal waktu, penumpang yang aromanya membuat ingin muntah, kemacetan jalan yang harus dilalui, dan kemiskinan yang memaksanya menjalani ini semua. CINTA DAN SECANGKIR COKELAT HANGAT “Apakah mimpi bersama itu masih berlaku, padahal sudah tidak ada lagi kita, Gil?” (hlm. 65) Larisa dan Ragil bertemu kembali di sudut Malang setelah resmi tidak menjadi sepasang kekasih lagi. Dua tahun hubungan jarak jauh tidak bisa mengalahkan perasaan yang diagungkan keduanya. Tapi, mereka masih harus bertemu karena memegang mimpi yang sama, mengabadikan kisah cinta mereka dalam buku dan membaginya pada dunia. Namun, impian indah itu tidaklah terlihat seindah ketika sudah berpisah. “LET THE GOOD TIMES ROLL!” Maddie membenci pacar ayahnya. Dan Maddie semakin membencinya saat tahu wanita itu akan ikut serta ke New Orleans merayakan Mardi Gras dengan mereka. Menuruti Lucas, cowok manis yang dikenalnya di dunia maya, Maddie menyabotase acara itu dengan menjelajahi Bourbon Street—sebuah wilayah yang berisi bar, aroma rokok, dan perempuan seksi—agar ayahnya tahu betapa Maddie membenci wanita itu. Meskipun awalnya takut, karena Lucas berjanji akan melindungi Maddie, gadis itu akhirnya masuk dalam remang-remang Bourbon Street. Sayangnya, janji Lucas hanya sebuah janji yang manis di mulut. SPARKS Ayuna berusaha mengalihkan dunianya dengan berlari di Central Park New York. Berharap taman besar di tengah Pulau Manhattan dan suara Chris Martin bisa meredakan benak Ayuna yang terus-menerus dipenuhi ajakan Eren. Ajakan yang seharunya Ayuna nantikan tapi ternyata perempuan itu justru gamang memberikan jawaban. Hingga, secara tiba-tiba dan tidak terduga, Eren mewujud di depan Ayuna dan mengajukan pertanyaan sederhana. “Will you marry me?” (hlm. 96) MAMON, CINTAKU PADAMU Seharusnya mereka memberitahuku kalau terkadang akar segala kejahatan adalah ketiadaan uang. (hlm. 117) Tidak seperti cerpen-cerpen sebelumnya yang mengusung tema roman, cerpen ini lebih gelap. Sinta bersama kedua orang anaknya pulang ke rumah orang tuanya di Semarang, setelah Anwar—suaminya yang senang berjudi—dibunuh di meja judi. Pulang berarti Sinta berusaha mendapatkan haknya sebagai anggota keluarga Lestari. Sebuah keinginan yang membuatnya harus memilih antara hal-hal paling berharga dalam hidupnya. SUNFLOWER Di tengah hiruk-pikuk upacara adat Saparan Bekakak, Rei, seorang fotografer freelance, bertemu Amon, seorang manajer yang tengah menikmati liburan di Yogyakarta. Perkenalan itu membawa keduanya menikmati keindahan Yogyakarta—Amon yang meminta karena jelas pemuda itu butuh guide untuk bisa memaksimalkan liburannya. Dan seperti namanya, Amon—Dewa Matahari—menjadi matahari dalam hidup Rei. Sekarang aku bagai bunga matahari. Selalu setia menatap ke arahmu, sang dewa matahari, tapi tidak pernah mendapat balasan. (hlm. 133) FRAU TROFFEA Elisa dan Rika pergi ke Strasbough untuk menyelesaikan pekerjaan dari klien mereka. Pekerjaan yang berkaitan dengan sebuah lukisan wanita menari. Sudah menjadi tugas Elisa menghentikan keadaan aneh siapa pun yang menyentuh lukisan itu. Namun, Elisa justru ikut dikutuk! Gadis itu menari tanpa henti seperti Frau Troffea dalam lukisan. ASING Pernikahan hal yang terlalu sakral untukku.” (hlm. 154) Allen lagi-lagi memaksa Fendy untuk segera melamarnya. Akan tetapi, Fendy masih tidak bisa membayangkan hidup berpuluh-puluh tahun bersama gadis itu. Lalu, di tengah keindahan musim dingin Milan, Fendy bertemu Daniel, seorang pria yang menyimpan sebuah foto kekasih dengan wajah mirip Allen. BUKAN SEBUAH PENYESALAN Novia datang begitu saja dalam hidup Ivan. Ivan selalu berusaha menghindari Novia, namun Novia adalah penyewa kamar kost di rumah Ivan, dan menghindari gadis itu tentu sangat sulit. Terlebih, Novia selalu punya cara untuk mendekati Ivan. Membuat Ivan menemukan alasannya untuk terus hidup di ibukota yang hanya terkesan mewah. Ironis, kamu menemukan alasan untuk hidup saat kamu tahu hidupmu takkan lama lagi. (hlm. 174) POHON DAN CINTA “Perhatiin dong, dari jauh, pohon ini bentuk hati. Terus kalau kita nulis nama kita dan nama pasangan kita di dahan pohon ini, katanya bakal langgeng.” (hlm. 184) Begitulah yang Rere percayai tentang hubungan cintanya dengan Rifan, akan abadi selamanya. Namun, Rifan justru mencampakkannya. Dan Dirga terpaksa menemani Rere menuju Pulau Kemaro, Palembang. Misi Rere hanya satu, menghapus nama Rere dan Rifan di salah satu dahan Pohon Cinta. DI BALIK TIRAI KERINDUAN Malam itu adalah malam perayaan pernikahan Nisa dan Derry. Dengan setia, di kegelapan Bandung, Nisa menanti kedatangan Derry, suaminya yang dikekang sang ibu karena kecewa pada kenyataan Nisa tak mungkin bisa memberikan cucu. Nisa sudah menghancurkan persiapan makan malam romantis mereka di rumah karena lelah menanti Derry, ketika suami tercintanya itu datang. “Kau tahu besarnya kebahagiaanku ketika menjumpaimu tadi? Itu rasa syukur terbesar yang pernah kurasakan seumur hidupku.” (hlm. 204) BULUNGAN Dalam perjalanan menuju tempat rapat bersama klien, di Jalan Bulungan, Tono bertemu Om Suroso, ayah almarhum Maulana. Toni yang hanya punya waktu sempit untuk menembus kemacetan Jakarta justru menghentikan mobil dan menghampiri Om Suroso. Di sana, Toni mengenang masa ketika Maulana, sahabat baiknya, masih hidup. Di sana, lagi-lagi, Toni menyesal telah melibatkan Maulana dalam perkelahiannya. Perkelahian yang mencabut nyawa Maulana dan membuat Om Suroso marah besar pada Toni. Sekarang, ayah Maulana akhirnya mulai memafkan Toni. “Tetaplah jadi anak baik, jadi suami yang baik, jadi ayah yang baik.” (hlm. 222) ANKARA DI BAWAH PURNAMA Wina selalu menantikan kehadiran Erdem. Lelaki itu berjanji akan menceraikan istrinya dan menikahi WIna. Oleh sebab itu, Wina rela tinggal di Ankara, kota yang sangat jauh dari kampung halamannya, Jakarta. Hanya saja, Erdem tak pernah datang ke sisi WIna di saat gadis itu sangat membutuhkan. Memaksa Wina melabuhkan kerinduan pada tiga sosok yang disebutnya sebagai Kopi Jantan, Aroma Rempah, dan Mata Maskulin. Tiga sosok yang sangat mengingatkan Wina pada Erdem. Dan Erdem hanya bisa melihat dengan pilu. JAKARTA “Lukisan itu tentang apa?” “Anak jalanan yang gembira karena menggambar.” “Lalu, kenapa anak itu terlihat sedih?” “Karena dia tidak tahu kapan bisa menggambar lagi.” (hlm. 243-244) Lewat lukisan, Randy berkenalan dengan Dista, seorang gadis yang tinggal di Bali. Dalam diri Dista, Randy menemukan kenyamanan. Kenyamanan yang tidak ditemukan di Nissa, pacarnya. Dan sekarang sudah saatnya Randy membuat keputusan. AMERTA Ed sedang berusaha menyelesaikan kasus pembunuhan beruntun mengerikan yang terjadi di Banjarnegara. Semua korban adalah laki-laki dan hatinya dimakan pelaku ketika nyawa korban telah melayang. Kasusnya benar-benar mirip dengan kejadian 60 tahun yang lalu. Dengan bantuan Erlyn, seorang anggota tim forensik brilian dari Polda, Ed berusaha mengejar bayang-bayang sang pembunuh. Ed akhirnya berhasil mendapatkan identitas sang pelaku, sayangnya, Ed sudah terlambat karena sebuah pisau menembus tubuhnya. “Ini bukan tentang ritual pemujaan, melainkan tentang hobi. Sama sepertimu yang hobi memancing.” (hlm.265)


BUKAN 17 KOTA Dari sinopsis di bagian belakang dan pembukaan oleh Tim GWP, saya pikir 17 cerpen dalam buku ini akan menyajikan kota-kota yang berbeda. Namun, saya langsung kecewa ketika mendapati kota Yogyakarta untuk kedua kalinya. Disusul dengan Jakarta yang menjadi latar tiga cerpen. Kekecewaan lain terasa ketika saya mendapati bahwa apa yang dibesar-besarkan di pembukaan tidak benar-benar saya dapatkan dalam buku ini.

Kumpulan cerpen Kata Kota Kita dirancang dengan menonjolkan setting tempat sebagai tema utama. (hlm, 7)

Saya hanya merasakan “kota” benar-benar dieksplorasi dan berusaha dihidupkan sebagai latar belakang dalam beberapa cerpen (yang jelas-jelas memiliki keterbatasan halaman) di buku ini. Ora, Let The Good Times Roll!, Spark, Bukan Sebuah Penyesalan, dan Ankara di Bawah Purnama adalah beberapa judul yang berhasil menonjolkan latar tempat dalam cerpennya. Tidak sempurna, memang, hanya saja saya merasakan latar tempat yang dipilih dalam cerpen-cerpen tersebut nyata dan melebur dalam cerita. Sedangkan untuk cerpen yang lain, saya kurang merasakan greget kotanya. Ditelan Kerumuman sebenarnya melakukan dengan cukup baik, sayangnya, karena saya tinggal di Yogyakarta, saya merasa penulis belum berhasil membawa kehidupan dalam bus-bus Yogyakarta dalam cerpennya. Aroma Yogyakarta yang sangat Jawa dan rendah hati tidak saya dapatkan. MENGUSUNG HAL YANG NYARIS SAMA Terlepas dari latar tempat yang menjadi tema utama, nyaris semua cerpen dalam buku ini membawa hal yang seragam, kisah cinta. Dan nyaris semua kisah cinta yang ada, berakhir dengan tidak bahagia. Apakah sekarang sedang tren sad ending dalam roman? Untungnya, ada Ditelan Kerumuman, yang mengisahkan kejemuan pengguna bus umum. Kemudian, ada Let the Times Roll! yang menjadikan family sebagai genre utama. Lalu, ada Mamon, Cintaku Padamu, berisi cerita kehidupan yang lebih gelap. Atau Frau Troffea dengan sentuhan horor yang satu-satunya. Juga Bulungan, yang berisi kehangatan dari sebuah kisah persahabatan. Dan Amerta, kisah menegangkan yang sangat sempurna menutup kumcer Kata Kota Kita ini. Selain enam cerpen itu, cerpen-cerpen yang lain berisi kisah cinta. Meski, semua cerpen berusaha memberikan twist yang tidak pernah disangka. Twist paling mengejutkan justru diberikan oleh cerpen-cerpen dengan unsur roman paling kental. Ada Asing, Di Balik Tirai Kerinduan, dan Ankara di Bawah Purnama yang menyajikan twist paling tidak tertebak. Tentu saja cerpen-cerpen nonroman juga memberikan twist tidak terduga. Misalnya saja dalam Mamon, Cintaku Padamu atau Amerta. Ah, setelah melihat judul-judul cerpen yang saya cantumkan di atas, sepertinya cerpen-cerpen dengan twist paling mengejutkan bagi saya itu cerpen yang berakhir … tidak bahagia. Hm, “tidak bahagia” bukan pilihan kata yang tepat, sebenarya. Namun, saya rasanya kata itu cukup menggambarkan. Maksud saya, yang membuat cerpen itu tidak terlupakan jelas terletak pada twist yang diberikan di penghujung cerita, kan? Dan entah kenapa, daripada twist yang membawa pada kebahagiaan, twist yang membuat perasaan pembaca tercerabut (bisa dengan akhir yang menyedihkan atau fakta yang tidak seperti nyata) yang menghasilkan kesan lebih mendalam di hati pembaca. Secara keseluruhan, Kata Kota Kita adalah buku yang menyenangkan. Beberapa penulis menghadirkan cerpen dengan gaya penulisan yang berbeda. Seperti Cinta dan Secangkir Cokelat Hangat yang ditulis dari sudut pandang benda mati berupa kedai dan Bukan Sebuah Penyesalan yang dibawakan dengan sudut padang orang ke-2. Dengan rasa yang berbeda dari tiap penulis, aroma kota yang berbeda, dan twist-twist yang berusaha dihadirkan, cerpen dalam Kata Kota Kita merupakan kumpulan yang layak dibaca di akhir pekan. Selamat membaca!

Advertisements

2 thoughts on “Kata Kota Kita

tinggalkan catatan....

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s